Resensi

Tactics (1)

Tactics (1)

Rancangan Permainan untuk Mendiskusikan Keyakinan Nilai-Nilai Kristen Anda

Pengarang : Gregory Koukl

Penerbit : Zondervan

Penerjemah : Literatur SAAT

Tahun : 2019

Halaman : 248

Siapakah Gregory Koukl?

Gregory Koukl adalah seorang asisten profesor dalam bidang Apologetika Kristen di Biola University (Amerika Serikat). Koukl menerima gelar Magister Filsafat Agama dan Etika dari Talbot School of Theology dan Magister Apologetika Kristen dari Simon Greenleaf University. Koukl juga mendirikan Stand to Reason, yaitu sebuah organisasi yang melatih orang-orang Kristen untuk berpikir lebih tajam mengenai imannya dan juga bertujuan membuat pembelaan-pembelaan yang adil, tajam, namun ramah untuk nilai-nilai kekristenan secara publik. Stand to Reason didirikan pada tahun 1993 dan dia menjabat sebagai presiden di sana (www.str.org). Koukl telah berbicara di lebih dari 70 kampus dan universitas di AS dan luar negeri dan telah menjadi tuan rumah acara radio selama 27 tahun.

William Lane Craig memberikan komentar mengenai Gregory Koukl dalam buku Tactics milik Koukl, “Greg Koukl adalah ahli taktik.” Selain dia, tidak ada orang lain yang lebih tekun berusaha mengomunikasikan iman Kristennya secara efektif dan menarik. Dalam buku ini, Greg berbagi metode-metodenya yang teruji dan keterampilannya yang disempurnakan oleh latihan dan perbaikan yang berkelanjutan. Menguasai taktiknya akan menjadikan Anda duta yang makin efektif bagi Kristus.

BAGIAN SATU: STRATEGI

Bab 1: Diplomasi atau D-Day?

Dalam bab pertama ini, Koukl menjelaskan secara singkat tentang apa itu apologetika. Secara sederhana, definisi apologetika dari para ahli adalah pembelaan iman. Bagaimana maksudnya pembelaan iman? Yaitu dengan pekerjaan menaklukkan gagasan-gagasan yang salah dan menghancurkan spekulasi-spekulasi yang melawan pengenalan akan Allah. Sederhananya adalah menyatakan pandangan Alkitab itu seperti apa tentang Allah, manusia, dan seluruh ciptaan Allah. Waktu kita melihat kembali pekerjaan-pekerjaan itu, kita akan menyadari bahwa pekerjaan tersebut bukanlah pekerjaan sederhana yang tanpa persiapan ataupun tanpa pengetahuan. Itu adalah pekerjaan orang yang siap bertempur. Seperti sebuah negara menaklukkan negara musuhnya dan juga seperti seseorang menghancurkan bunker musuh dengan menembakkan bazooka. Ya, itu adalah istilah perang. Seperti seorang prajurit mengisi peluru, memasang bayonet, bersiap, membidik, dan menembak. Jadi apologetika memang sangat berkaitan dengan konflik.

Para pembela iman bukan berdialog, melainkan bertarung. Hanya saja, pertempuran dalam theologi ini tidak boleh seperti pertempuran di hari kiamat (D-Day[1]), melainkan pertempuran yang harus tampak seperti diplomasi. Buku ini dibuat Koukl agar orang-orang menjadi diplomatis, tetapi mau mengarahkan pikiran lawan kepada kebenaran. Metode yang diperkenalkan Koukl adalah Model Kedutaan. Pendekatan ini lebih menggunakan keingintahuan dalam suasana persahabatan—sejenis diplomasi santai—daripada konfrontasi. Inilah dasar yang perlu dimiliki oleh para apologet (seseorang yang berapologetika). Koukl ingin mengajak pembacanya agar bisa memegang kendali dalam pembicaraan dengan cara-cara yang bijaksana, tanpa menimbulkan konfrontasi yang memperbesar jarak dan pengertian di antara kedua pihak. Inilah yang dimaksudkan dengan “taktik”. Apologetika memerlukan taktik agar lawan berhasil dimenangkan tanpa kebencian dan sakit hati. Taktik seperti apa? Yaitu menggunakan percakapan yang baik: tidak ada ketegangan, kecemasan, dan kecanggungan. Tidak ada konfrontasi, pembelaan diri, dan ketidaknyamanan. Diskusi mengalir dengan mudah, lancar, dan alami. Kita dapat memegang kendali percakapan yang memunculkan kebenaran-kebenaran. Koukl mau agar setiap orang Kristen menjadi duta yang efektif bagi Kristus, sebab setiap orang Kristen memiliki panggilan berapologetika sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Bagaimanakah agar kita dapat berapologetika di tengah-tengah abad ke-21 ini? Koukl menyebut orang Kristen yang hidup di abad ke-21 ini sebagai “Duta-Duta Abad 21”. Seorang duta Kristus memerlukan tiga keterampilan dasar:

1.Pengetahuan dasar bagi tugas itu. Pengetahuan tentang Kerajaan Allah dan bagaimana menanggapi hambatan-hambatan yang mereka temui dalam misi diplomatik yang mereka jalankan. Pengetahuan tersebut menolong agar memperoleh pemikiran atau ide yang tepat.

2.Hikmat untuk menjadikan pesan yang dimiliki jelas dan persuasif. Ini merupakan metode yang penuh seni yang membutuhkan praktik dan jam terbang.

3.Karakter yang membuat misi kita berhasil. Perilaku yang menarik. Karakter yang saleh, baik, dan berprinsip.

Koukl kemudian menjelaskan mengenai perbedaan antara strategi dan taktik. Strategi merupakan sebuah gambaran besar, skala luas, penempatan posisi sebelum maju berperang. Secara strategis, sebenarnya orang Kristen memiliki keuntungan yang besar dilihat dari dua bidang ini:

1.Apologetika Ofensif. Orang Kristen dapat mengajukan pertanggungjawaban yang meyakinkan bagi kekristenan dengan cara memberikan. Misal: Membuktikan keberadaan Allah, kebangkitan Kristus, dan iman Kristen melalui nubuat-nubuat yang digenapi.

2.Apologetika Defensif. Orang Kristen menjawab tantangan-tantangan bagi kekristenan seperti serangan terhadap otoritas dan reliabilitas Alkitab, menjawab masalah kejahatan, menghadapi teori makro-evolusi Darwin[2].

Sedangkan taktik, taktik adalah seni menata (arti kata secara literal). Taktik adalah seni untuk menata pembelaan iman orang Kristen. Jadi, taktik berfokus pada situasi langsung yang dihadapi, bukan situasi yang belum terjadi. Situasi yang belum terjadi adalah unsur strategi. Taktik melibatkan koreografi aktif tertata dari setiap bagian yang berperan. Contohnya adalah kita mungkin memiliki pengalaman pribadi mengenai bagaimana Injil dapat mengubah hidup seseorang, akan tetapi bagaimana kita dapat merancang tanggapan tertentu kepada orang tertentu sehingga kita dapat mulai memberi dampak pada situasi-situasi tertentu? Taktik ini dapat menolong dalam memberikan manuver ketika percakapan berubah menjadi sulit. Taktik menolong kita menata perlengkapan dengan efektif dan menawarkan pendekatan yang lebih persuasif.

Ketika kita melakukan pendekatan taktis, kita memerlukan pendengaran yang teliti dan tanggapan yang bijak. Kita perlu awas dan penuh perhatian sehingga dapat beradaptasi dengan informasi yang baru. Taktik bukan trik manipulatif atau akal bulus. Taktik bukan cara licik mempermalukan orang lain dan memaksa mereka untuk tunduk pada cara pandang Anda. Hugh Hewitt mengatakan, “Bukan kehidupan Kristen namanya jika ia melukai, mempermalukan, atau berlomba dengan kenalan, teman, atau bahkan musuh, namun ke dalam pencemaran seperti itulah umumnya orang mudah jatuh.”

Peringatan tentang menggunakan taktik adalah taktik-taktik ini bisa disalahgunakan. Sebab orang dapat terlihat bodoh jika menggunakan taktik ini. Jadi taktik ini jangan sampai menyerang dan menjatuhkan orang lain. Sasaran dari taktik adalah mengelola bukan memanipulasi, mengendalikan bukan memaksa, dan bermanuver bukan berkelahi. Kiranya kita dapat menyatakan kebenaran dengan lebih jelas dan lebih baik.

Ilustrasi-ilustrasi dalam buku ini merupakan catatan ringkasan pengalaman berapologetika Koukl. Fokus utama dari buku ini adalah hikmat taktis untuk dapat berapologetika dengan baik kepada orang yang belum mengenal Allah dengan baik.

Vik. Nathanael Marvin Santino

Hamba Tuhan GRII Semarang

Sumber:

Tactics: Rancangan Permainan untuk Mendiskusikan Keyakinan dan Nilai-Nilai Kristen Anda, Gregory Koukl, Malang: Literatur SAAT, 2019.

- https://www.str.org/greg-koukl.

Endnotes:

[1] D-Day adalah sebutan salah satu pertempuran di Perang Dunia II, yaitu serangan di lima pesisir (Utah, Omaha, Gold, Juno, dan Sword) pada 6 Juni 1944.

[2] Makro-Evolusi adalah perubahan alam yang terjadi pada tingkatan spesies; alam memberikan spesies baru.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pelayanan Tim Aksi Kasih (TAK) GRII untuk COVID-19 yang telah melayani pembagian Alat Pelindung Diri (APD) untuk 213 rumah sakit/puskesmas dan pembagian sembako di 31 provinsi di Indonesia. Berdoa kiranya melalui pelayanan ini, gereja dapat menjadi saluran kasih.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲