Resensi

Tactics (2): Rancangan Permainan untuk Mendiskusikan Keyakinan dan Nilai-Nilai Kristen Anda

Pengarang : Gregory Koukl

Penerbit : Zondervan

Penerjemah : Literatur SAAT

Tahun : 2019

Halaman : 248

Bab 2: Keraguan

Koukl menjelaskan bahwa mempertahankan iman dengan model kedutaan bukanlah hal yang sederhana. Meskipun ada janji dalam model ini bahwa orang-orang Kristen dapat masuk dengan nyaman ke dalam percakapan yang mendalam mengenai keyakinan orang Kristen, ada satu titik yang akan terjadi dalam prosesnya, yaitu titik keraguan. Keraguan karena apa? Karena adanya perbedaan-perbedaan argumen.

Percakapan dan diskusi sederhana bisa membawa kita kepada bahaya yang ditimbulkan oleh perbedaan-perbedaan argumen. Perbedaan-perbedaan argumen ini dapat membawa kepada pertengkaran. Di dalam pertengkaran ada saling menyerang, saling bertahan, dan juga perdebatan yang tidak membangun melainkan menghancurkan. Itu semua bukanlah tujuan apologetika. Bahkan Koukl mengatakan bahwa hal-hal tersebut jarang menghasilkan sesuatu yang baik. Seseorang yang meninggikan suara, menaikkan alis, memotong perkataan lawan bicara, ini adalah perilaku yang buruk dalam relasi. Mengenai jenis percakapan yang menghancurkan ini, Koukl punya aturan umum: jika ada yang marah dalam diskusi, Anda kalah. Kemarahan tidak pernah meyakinkan orang bahkan ketika kita berhasil membuat lawan bicara kita bungkam. Lalu bila lawan bicara menjadi memanas padahal kita dingin, ini juga salah karena akhirnya orang tersebut menjadi defensif. Orang yang defensif tidak berada dalam situasi yang baik untuk berpikir soal kebenaran. Hal-hal seperti inilah yang membuat kita sebagai orang Kristen ragu untuk menyatakan kebenaran yang kita imani.

Koukl memberikan nasihat yang baik bagi orang-orang Kristen yang sedang berapologetika, “Selalu jaga percakapan Anda tetap bersahabat. Kadang hal itu tidak mungkin. Jika ekspresi pemikiran Anda yang berprinsip dan penuh kebaikan membuat seseorang marah, hanya sedikit yang dapat Anda perbuat. Ajaran Yesus membuat beberapa orang marah. Hanya saja, pastikan bahwa pemikiran Andalah yang menyerang mereka dan bukan Anda, bahwa keyakinan Andalah yang menyebabkan perdebatan itu dan bukan perilaku Anda.”[1]

Di satu sisi, ada kebahayaan dalam argumen. Di sisi yang lain, argumen itu sendiri merupakan sebuah kebajikan. Dunia tanpa argumen berarti dunia yang tanpa pencarian hal-hal yang benar dan baik. Dunia yang tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah adalah dunia yang bahaya, dan manusia tidak mungkin dapat bertahan hidup di dalamnya. Sebagai orang Kristen, argumen kita berbeda dengan argumen dunia. Kita tahu bahwa yang menjaga manusia untuk hidup dalam dunia yang berdosa adalah firman Tuhan. Firman Tuhan adalah otoritas kebenaran. Akan tetapi, firman Tuhan ini memerlukan satu hal lain agar efektif diterima oleh orang. Apakah itu? Akal budi. Koukl mengatakan akal budi adalah garis pertahanan paling depan yang Tuhan berikan bagi kita untuk melawan kesalahan-kesalahan. Di sini kita bisa melihat bahwa Tuhan menjunjung tinggi firman Tuhan, tetapi juga memakai akal budi agar manusia bisa mengerti firman Tuhan. Memang untuk memahami firman/Alkitab kita memerlukan akal budi. Yesus berkata, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (Mrk. 12:30). Akal budi menolong kita untuk mengerti Allah dan dunia yang diciptakan oleh Allah. Akal budi menolong kita untuk memisahkan fakta dari fiksi. Rasionalitas adalah salah satu alat yang Tuhan berikan kepada kita untuk memperoleh pengetahuan. Selain itu, Koukl menyatakan bahwa untuk mengetahui kebenaran, umumnya tidak bisa dilakukan seorang diri. Ini proses yang dilakukan bersama-sama sebagai manusia. Kita saling berargumen untuk memperoleh kebenaran. Argumen itu adalah kebajikan karena ia menolong kita untuk menentukan mana yang benar dan membuang mana yang salah. Argumen yang baik akan memisahkan gandum dari lalang dan kebenaran dari kesalahan.

Ada beberapa alasan kenapa ada orang-orang yang jengkel dan takut bila ada yang menemukan kebenaran melalui argumen dan pertentangan. Apa alasan yang membuat orang jengkel dan takut itu? Perpecahan.[2] Beberapa orang takut perpecahan. Mereka takut kekacauan yang memecah-belah persatuan yang ada. Karena itu, sebagian orang tidak tertarik bahkan malas untuk berargumen. Mereka berpikir bahwa bila ada orang yang bebas mengungkapkan pendapat mereka yang berbeda, terutama dalam topik theologi, kesatuan terancam. Akan tetapi, Koukl mengatakan bahwa pertentangan yang ada tidak perlu mengancam kesatuan yang sejati. Kesatuan yang alkitabiah bukan berarti semua orang harus berpendapat sama, tetapi kesatuan alkitabiah berarti kesatuan pikiran dalam persahabatan yang hangat, yang berlandaskan persekutuan dengan Kristus di tengah-tengah perbedaan.

Bukan hanya perpecahan yang menjadi alasan takut untuk berargumen, melainkan juga pandangan bahwa setiap penentang adalah seorang musuh, dan juga pandangan bahwa mempertanyakan pendapat dari orang yang diagungkan berarti kurang ajar. Orang Kristen perlu belajar bagaimana berpendapat dengan cara yang benar, indah, beralasan, dan penuh kasih karunia. Kita perlu mengembangkan kemampuan menyatakan ketidaksetujuan dengan cara yang elegan tanpa membuat pertengkaran yang tidak berarti. Orang Kristen tentu menentang orang yang bersilat kata dan bertengkar tentang spekulasi-spekulasi bodoh (2Tim. 2:14, 23), dan sangat mendorong agar orang Kristen menjadi pekerja yang rajin dan memberitakan perkataan kebenaran dengan baik (2Tim. 2:15). Paulus menasihati, bila perlu kita menyatakan kesalahan, menegur, dan menasihati (2Tim. 4:1-2). Pada dasarnya berargumen itu baik dan perdebatan itu sehat. Keduanya memperjelas kebenaran dan melindungi kita dari kesalahan dan tirani religius.

Sekarang kita melihat apakah betul dengan menggunakan argumen, kita bisa berhasil meyakinkan orang tentang kebenaran-kebenaran Kristen? Koukl menjawab “iya”. Hanya saja, perlu ada penjelasan untuk jawaban ini. Koukl menjelaskan melalui Kisah Para Rasul 17:2-4, bahwa Paulus menjelaskan dan berargumen kepada orang-orang sehingga mereka menjadi yakin dengan penjelasan Rasul Paulus. Intinya, kita bisa membuat orang menjadi warga Kerajaan Allah dengan argumen kita. Koukl menjelaskan bahwa kebanyakan orang ingin mengabarkan Injil dengan ungkapan kasih, kebaikan, dan penerimaan yang tulus, dipadukan dengan presentasi Injil yang sederhana. Akan tetapi, dia berkata, “Anda tidak dapat menjadikan seseorang warga kerajaan dengan kasih Anda.” Koukl sangat menghargai penggunaan argumen dalam pemberitaan kebenaran. Bahkan Injil sederhana itu tidak cukup. Mungkin bagi kita ini adalah perkataan yang mengejutkan. Mengapa hal itu bisa terjadi? Sebab, melihat realitas yang ada, banyak orang yang diperlakukan dengan kasih dan kebaikan yang penuh pengorbanan oleh orang-orang Kristen nyatanya tidak pernah menyerahkan diri kepada Sang Juruselamat.

Koukl memberikan solusi untuk membawa orang ke dalam Kerajaan Allah, yaitu pekerjaan Allah Tritunggal. Dengan kuasa Allah Bapa, Injil mengubahkan. Dengan karya Yesus, argumen meyakinkan orang. Melalui karya Roh Kudus, kasih memersuasi orang. Jadi kita bisa melihat bahwa Allah menggunakan argumen yang baik dan ungkapan kasih yang hangat. Kasih dan akal budi ini sama-sama konsisten dengan karakter Allah sendiri. Jika kita mengerti dua hal ini, ini akan mempermudah tugas kita sebagai duta Allah. Tugas kita adalah mengomunikasikan Injil dengan jelas, penuh kasih, dan persuasif. Tugas Allah memberikan kuasa di dalamnya supaya berhasil. Koukl memberi nama pada prinsip ini, yaitu “100% Tuhan dan 100% manusia”. Argumen yang efektif memerlukan Roh Allah. Tanpa karya Roh, maka tidak ada argumen yang efektif. Tanpa karya Allah, tidak ada usaha apa pun yang berhasil. Namun dengan karya Allah, banyak hal akan berhasil.

Dengan pengertian ini, Koukl mengajak agar orang-orang Kristen bergantung kepada pribadi Allah yang berdaulat. Kita sebagai manusia melakukan tugas dan tanggung jawab yang bisa dilakukan oleh manusia. Sedangkan Tuhan melakukan tugas yang hanya bisa dilakukan oleh Tuhan. “Saya tidak pernah berusaha mempertobatkan seorang pun. Tujuan saya bukanlah memenangkan seseorang bagi Kristus, melainkan hanya menyelipkan kerikil di dalam sepatu orang.” Koukl ingin memberi seseorang sesuatu yang berharga untuk direnungkan, sesuatu yang tidak dapat diabaikannya karena terus-menerus mengganggunya dengan maksud baik. Kita bukanlah orang yang harus mencetak nilai besar. Bagikan Injil yang sederhana, jika orang itu tidak merespons, itu tidak masalah. Kebaskan debu dan terus berjalan. Setiap perjumpaan ada porsinya masing-masing. Tidak harus di setiap perjumpaan kita sampai pada kaki salib Kristus. Tidak harus di setiap perjumpaan ada kesepakatan atau janji kepada Kristus.

Koukl menjelaskan dua alasan kenapa tidak semua percakapan harus sampai kepada salib. Pertama, tidak semua orang Kristen adalah penuai yang baik. Ada yang memang efektif dalam membuat orang mengambil keputusan untuk percaya Yesus. Akan tetapi, mayoritas kita bukanlah penuai yang baik. Mayoritas kita sebagai orang Kristen adalah petani-petani biasa yang bisa menanam tumbuhan, tetapi belum tentu bisa menuai dengan baik. Kedua, banyak buah yang belum masak. Hampir dalam setiap situasi, buahnya belum masak, sehingga memang tidak bisa dituai. Orang-orang tidak percaya memang belum siap. Tuhan menyentuh hati seseorang dalam suatu periode waktu tertentu, tidak dengan paksaan dan tidak dengan kekejaman. Ada sebuah proses, ada sebuah perenungan, selangkah demi selangkah.

Vik. Nathanael Marvin Santino

Hamba Tuhan GRII Semarang

Sumber:

Tactics: Rancangan Permainan untuk Mendiskusikan Keyakinan dan Nilai-Nilai Kristen Anda, Gregory Koukl, Malang: Literatur SAAT, 2019.

Endnotes:

[1] Halaman 34.

[2] Di bagian akhir bab ini, Koukl menjelaskan bahwa ketika orang Kristen menghindari konflik akan prinsip penting karena takut perpecahan, orang itu melumpuhkan tiga hal dalam gereja: 1) Alkitab memerintahkan supaya kita menjaga kebenaran dalam barisan kita; ketika argumen yang baik dan benar itu sedikit, kesesatan dapat merebak. 2) Orang-orang percaya kehilangan kesempatan untuk belajar bagaimana berargumen di antara mereka sendiri dengan cara yang adil, beralasan, dan penuh kasih karunia. 3) Hasil dari gereja yang takut perpecahan/perselisihan bukanlah persatuan yang sejati, tetapi suatu keseragaman yang disengaja, perasaan tenteram yang dangkal dan palsu.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk acara Global Convention on Christian Faith and World Evangelization dan Seminar Reformasi 2020 yang telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2020.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲