Resensi

The Mortification of Sin

Judul : Mematikan Dosa: Suatu Pengajaran Alkitabiah Praktis
Pengarang : John Owen
Penerjemah : Ina Elia Gani
Penerbit : Momentum
Tahun : Mei 2013 (Cetakan keempat)
Tebal : v + 121 halaman

Orang Kristen sering kali jatuh ke dalam pengertian yang salah tentang karya penebusan dan keselamatan yang Tuhan Yesus kerjakan. Seorang Kristen mungkin akan berpikir bahwa karya penebusan Kristus di atas kayu salib telah menebus seluruh dosanya sehingga tidak ada lagi dosa yang perlu dikhawatirkan selama hidup di dunia ini. Kesalahan lain yang bisa dilakukan adalah berpikir bahwa kita hanya perlu meminta dijauhkan dari pencobaan dan jika terlanjur berdosa, maka kita hanya perlu datang kepada Tuhan untuk memohon ampun dan kemudian menjalani kehidupan seperti biasa lagi. Di dalam buku Mematikan Dosa ini dengan tegas dijelaskan bahwa setiap orang Kristen dituntut untuk secara aktif menekan dan mematikan setiap kuasa dosa yang masih tersisa di dalam diri setiap pribadi.

John Owen memulai tulisannya dengan membahas sebuah ayat yang menjadi dasar buku ini ditulis. Ayat tersebut diambil dari Roma 8:13. Owen menuliskan bahwa hanya orang percaya yang berada di dalam Yesus Kristus yang mampu melakukan tindakan mematikan dosa. Namun yang perlu diingat adalah tindakan tersebut hanya dapat dilakukan dengan pertolongan Roh Kudus. Mematikan dosa dengan kekuatan dan pikiran sendiri akan menghasilkan pembenaran diri. Mematikan dosa lewat mematikan perbuatan tubuh berarti menundukkan natur manusia lama kita ke hadapan Roh agar kuasa dan kekuatannya dapat dihilangkan. Mematikan dosa membawa kita kepada satu janji hidup bahwa kita akan menjalani kehidupan rohani yang baik dan sehat selama hidup di dunia ini dan mendapatkan hidup kekal pada akhirnya.

Pada bagian kedua Owen memberikan alasan-alasan mengapa mematikan dosa harus menjadi perjuangan seorang Kristen sepanjang hidupnya. Selama kita hidup, sisa dosa akan terus ada dalam diri kita dan berupaya untuk menghasilkan perbuatan-perbuatan dosa. Jika sisa dosa ini tidak dimatikan, maka kehidupan kita akan dikuasai oleh sisa dosa ini. Namun, Allah telah menjanjikan pertolongan dari Roh Kudus dan natur baru yang menjadi dorongan bagi kita untuk berjuang mematikan dosa. Jika kita mengabaikan kewajiban ini, maka kita akan mengalami kemunduran rohani. Apalagi, tanpa melaksanakan kewajiban ini, tugas-tugas lain dari iman Kristen tidak akan tercapai. Mengabaikan tindakan mematikan dosa akan menghasilkan dua macam kejahatan. Pertama, kejahatan yang berpengaruh pada diri orang percaya itu sendiri. Orang yang tidak mematikan dosa berarti meremehkan kuasa dosa sehingga dosa selalu hidup dalam dirinya. Kesalahan terbesar yang dapat dilakukan orang percaya adalah menganggap anugerah dan belas kasihan Allah mengizinkannya untuk mengabaikan dosa sehari-hari sehingga akhirnya menjadi alasan untuk terus berbuat dosa. Kedua, kejahatan yang memengaruhi orang lain. Apabila seorang Kristen tidak mematikan dosa-dosanya, maka orang-orang yang tidak percaya akan menganggap kehidupan orang Kristen sama saja kualitasnya dengan kehidupan mereka sehingga mereka tidak ingin menjadi seorang Kristen.

Di bagian ketiga buku ini, Owen menekankan karya Roh Kudus dalam mematikan dosa. Segala usaha yang dilakukan untuk mematikan dosa di luar pertolongan Roh Kudus adalah kesia-siaan, baik ritual-ritual gereja maupun tindakan menyiksa diri. Mematikan dosa hanya dapat dilakukan dengan pertolongan Roh Kudus karena Allah berjanji bahwa Roh Kuduslah yang dipercayakan pekerjaan ini. Selain itu, kemungkinan untuk mematikan dosa adalah anugerah karya keselamatan yang dikerjakan oleh Kristus, maka Roh Kudus sebagai Roh Kristus melanjutkan karya tersebut lewat mematikan sisa dosa kita. Roh Kudus melakukan ini dengan memberikan buah Roh dalam hidup kita dan buah Roh melawan dan menekan perbuatan daging. Sekalipun pekerjaan mematikan dosa hanya dapat dilakukan oleh Roh Kudus, Allah tetap menuntut respons pribadi manusia karena Roh Kudus menuntut ketaatan kita dan menjadikan kita sebagai rekan yang bekerja sama dalam pekerjaan ini.

Pada bagian keempat, Owen menjelaskan nilai atau manfaat dari mematikan dosa. Sebelumnya, Owen mengingatkan kita bahwa mematikan dosa tidak pasti menjanjikan kehidupan yang penuh damai sejahtera. Hal ini terlihat dari Mazmur 88 yang ditulis oleh Heman. Selain itu, mematikan dosa juga tidak menjadi sumber kekuatan dalam kehidupan rohani kita melainkan memberikan kesadaran – bahwa kita telah diangkat menjadi anak-anak terang – yang memberikan kekuatan dalam kehidupan rohani. Manfaat pertama dari mematikan dosa adalah menghindarkan kita dari kehilangan semangat dan sukacita. Manfaat kedua, mematikan dosa sangat membantu dalam menumbuhkan anugerah Allah di dalam hati manusia. Terakhir, mematikan dosa bisa menjadi sarana Allah untuk memberikan damai sejahtera kepada jiwa.

Bagian kelima, Owen menjelaskan hal-hal negatif atau yang bukan makna dari mematikan dosa. Mematikan dosa bukanlah tindakan menghancurkan dosa sama sekali dan mencabutnya dari dalam hati. Mematikan dosa juga bukan berarti menyamarkannya. Mematikan dosa bukanlah suatu upaya untuk mengubah natur menjadi lebih tenang dan sabar. Mematikan dosa tidak akan berhasil jika kita hanya mengalihkan dosa tersebut. Kita harus mematikannya dengan tindakan terus-menerus, bukan hanya sesekali saja.

Selain itu, Owen juga membahas hal-hal positif dalam mematikan dosa. Pertama, mematikan dosa menjadi suatu kebiasaan untuk melemahkan keinginan jahat. Ketika kita menyalibkan manusia lama kita, maka pada awalnya akan terjadi perlawanan yang besar untuk melepaskan diri. Namun, ketika darah manusia lama kita mulai tercurah habis, maka perlawanan tersebut semakin lama semakin berkurang hingga akhirnya niat jahat dalam diri kita menjadi sangat lemah. Hal kedua, mematikan dosa berarti terus-menerus memerangi dan melawan dosa. Seperti seorang prajurit yang membutuhkan strategi untuk melawan musuhnya, demikian juga kita harus memiliki strategi dalam mematikan dosa. Kita harus mengenali musuh kita dan bertekad sekuat tenaga untuk menghancurkannya. Kemudian, kita juga harus mengetahui strategi dan waktu ketika musuh menjadi sangat kuat. Terakhir, kita harus menggunakan segala perlengkapan yang telah disediakan oleh Allah untuk mengalahkan musuh tersebut. Akhirnya, bukti dari tindakan mematikan dosa adalah keberhasilan dalam perlawanan kita mematikan dosa di dalam hati. Berhasil berarti kita telah menang atas dosa tersebut dan berniat menindaklanjuti sikap mematikan dosa ini.

John Owen memberikan dua hukum umum dalam mematikan dosa, yaitu:

  1. Hanya orang percaya, yakni orang yang benar-benar dipersatukan dengan Kristus yang sanggup mematikan dosa.
  2. Anda tidak akan bisa mematikan dosa apa pun jika Anda tidak dengan tulus dan tekun berusaha menghadapi semua dosa.

Selanjutnya, Owen memberikan beberapa hukum khusus dalam mematikan dosa, yaitu:

  1. Perlu dilakukan diagnosis yang tepat tentang keinginan berdosa yang harus dimatikan.
  2. Berjuanglah untuk mengisi akal budi dan hati nurani kita dengan kesadaran yang jelas dan terus-menerus akan kesalahan, bahaya, dan kejahatan dari keinginan berdosa yang sedang mengganggu.
  3. Usikkanlah hati nurani dengan kesalahan dari keinginan jahat tersebut.
  4. Berjuanglah mengembangkan suatu kerinduan yang terus-menerus untuk membatasi kuasa keinginan berdosa.
  5. Belajarlah untuk mengenali bahwa sejumlah keinginan berdosa itu berakar dalam natur diri manusia sendiri.
  6. Waspadailah dan jagalah jiwa terhadap segala sesuatu yang bisa mendorong keinginan berdosa.
  7. Perangilah keinginan berdosa sesegera mungkin sejak keinginan itu mulai ada.
  8. Renungkanlah tentang keagungan Allah yang hebat.
  9. Berjaga-jagalah terhadap tipu daya hati.

Mematikan dosa merupakan tanggung jawab setiap orang Kristen, sehingga apa yang dipaparkan oleh Owen sangat esensial bagi kehidupan kerohanian kita. Kiranya melaluinya kerohanian setiap kita dapat dipertumbuhkan dan kehidupan kita dapat menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita dan zaman kita. Soli Deo Gloria.

Deddy Welsan
Pemuda GRII Bandung

Deddy Welsan

Agustus 2016

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menurut saya artikel yg membingungkan...terakhir dinyatakan iman dan perbuatan baik tidak dapat dipisahkan.....awal...

Selengkapnya...

Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲