Resensi

This is War

Judul: This is War
Penerbit: Momentum
Penulis: Paul David Tripp
Tebal: 332 halaman
Cetakan: Ke-1 (2004)

Kata-kata sangat signifikan dalam hidup kita. Di mana pun dan kapan pun kita berada, sejak kita bangun sampai kita tidur, kata-kata tidak bisa dipisahkan dari diri kita. Begitu gampangnya kata-kata keluar dari mulut kita, sehingga seringkali tanpa disadari kita mengucapkan kata-kata yang kurang bijaksana. Kata-kata yang seharusnya menjadi berkat dan membawa kasih dan damai sejahtera malah sering mendatangkan kepahitan dan luka bagi orang-orang di sekitar kita. Tidak jarang kita pun menyesal karena kata-kata yang keluar tidak dapat ditarik kembali.

”Orangtua saya tidak pernah berbicara kepada saya kalau saya tidak menimbulkan masalah.”
”Ya, dia memohon maaf, tetapi sulit bagi saya untuk menghilangkan luka itu. Apa yang dia katakan begitu kejam.”
”Adakalanya saya merasa lebih baik kalau kita sama sekali tidak berbicara.”

Adakah kata-kata di atas terdengar familiar di telinga anda? Siapa di antara kita yang belum pernah dilukai oleh orang lain? Siapa yang belum pernah menyesali kata-kata yang kita sendiri ucapkan? Siapa yang tidak pernah melerai suatu pertengkaran? Kata-kata di atas menunjukkan betapa besarnya pergumulan kita untuk dapat berkata-kata dengan benar!

Untuk itulah Paul David Tripp menulis buku ”Perang dengan Kata-kata”. Dengan gamblang ia menjelaskan kepada kita mengenai persoalan sesungguhnya dari pergumulan berkomunikasi. Dosen teologi praktika di Westminster Theological Seminary ini menegaskan bahwa tips-tips, teknik, prinsip, dan kemampuan berkomunikasi secara efektif hanya mampu membantu untuk memperbaiki komunikasi kita secara superfisial namun tidak dapat memuaskan kebutuhan rohani kita yang mendalam. Ini karena masalah kata-kata adalah masalah kerohanian yang sangat kental—masalah hati manusia.

Dalam satu bagian, Paul menambahkan bahwa perang dengan kata-kata sebenarnya adalah buah dari perang yang lebih serius dan dahsyat. Mengutip Efesus 6:12, Paul menjelaskan bahwa peperangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia yang gelap, dan melawan roh-roh jahat di udara. Dengan satu pengamatan alkitabiah yang sangat baik, Paul memaparkan bahwa kita tidak perlu takut akan peperangan yang dahsyat ini, karena kita mempunyai harapan yang besar di dalam Firman yang telah datang dalam daging. ”Harapan terbesar bukan di dalam diri atau potensi kita, melainkan di dalam diri Sang Firman dan penyertaan-Nya, kuasa-Nya, dan janji-Nya. Karena Kristus telah datang untuk hidup, mati, dan dibangkitkan bagi kita, ada harapan bagi kita untuk berbicara menurut rancangan Allah” (hal. 51). Firman itulah yang telah memberi kita setiap sumber daya yang kita perlukan untuk berbicara sebagaimana kita harus berbicara.

Yang membuat buku ini berbeda dengan buku komunikasi yang lain bukanlah besarnya perbendaharaan hikmat dan pengalaman dari penulis buku, tetapi karena buku ini menjelaskan satu-satunya jalan keluar dari permasalahan komunikasi yaitu Injil. ”Injil mengubah sama sekali cara kita memahami dan melakukan perang dengan kata-kata yang merupakan bagian terbesar dari pergumulan manusia. Injil menghindarkan kita dari model komunikasi kekuatan independen yang mengasumsikan bahwa masalah kita dapat diselesaikan dengan pemahaman dan ketrampilan yang benar. Injil memaksa kita untuk menghadapi ketidakmampuan kita. Injil juga menghindarkan kita dari model komunikasi lemah dan tidak mampu yang membuat kita melihat target Tuhan dan mengatakan, ’Kalau saja kita sanggup!’ Di dalam Kristus kita merangkul ketidakmampuan dan kemampuan. Firman datang dan memenuhi kita dengan kuasa-Nya karena kita begitu lemah. Tetapi di dalam Kristus, kita yang dulunya tidak sanggup berdiri, sekarang sanggup berdiri!”(hal. 59)

Di akhir pembahasan buku ini, Paul kembali menekankan bahwa ketika kita berkata-kata, secara sadar atau tidak sadar, kita terlibat dalam perang yang berusaha memperebutkan hati kita, dan kita harus mengambil keputusan siapa yang akan kita biarkan bertakhta di atas kata-kata yang kita ucapkan. ”Lidah dapat membakar habis seluruh kehidupan atau dapat dipakai untuk memberikan kasih karunia kepada mereka yang mendengarkan. Lidah dapat membongkar dengan paksa atau membangun dengan penuh kasih. Lidah dapat mengutuk atau memberi hidup. Lidah dapat menjadi sumber kebenaran atau sumber kepalsuan yang tercemar. Lidah dapat menciptakan damai atau menimbulkan perang. Lidah dapat mengutuk atau dapat memuji”(hal. 328). Kata-kata dapat membunuh atau memberi hidup; kata-kata dapat merupakan racun atau buah; dan semua itu kitalah yang menentukan. Paul mengingatkan para pembaca bahwa sudah saatnya bagi kita untuk tunduk kepada klaim Tuhan, Raja dan Penebus kita, atas lidah kita. Kita perlu berkomitmen untuk berbicara bagi Dia!

Adanya refleksi pribadi di akhir setiap topik ikut melengkapi keunggulan buku yang terdiri dari 13 bab ini. Dalam refleksi pribadi ini pembaca disodorkan dengan beberapa pertanyaan untuk menolong pembaca menguji dan mengevaluasi diri masing-masing dengan menilai kata-kata yang diucapkan dengan jujur. Refleksi ini juga bertujuan untuk membantu pembaca agar kebenaran yang telah diperoleh dari sepanjang bab tersebut dapat dihidupi.

Secara keseluruhan, buku ”Perang dengan Kata-kata” adalah buku yang sangat penting dalam memperlengkapi kita untuk berperang dengan kata-kata. Buku ini juga penuh dengan ilustrasi yang mengena, realisitis, dan jujur yang membantu kita dalam mengerti kebenaran yang disampaikan. Dengan membaca buku ini, kita dapat semakin ditantang, diinsafkan, dicerahkan, dan didorong dalam aspek yang begitu penting dari hubungan kita dengan Allah dan sesama. Kiranya melalui buku ini, setiap orang percaya dapat menjadi alat yang indah di tangan Tuhan, yang mendatangkan berkat dan damai dari setiap kata-kata yang kita ucapkan dan membawa kemuliaan hanya kepada Bapa di sorga.

“Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi” (Yak. 3:5, 9-10).

Yenny Djohan

April 2006

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲