Resensi

Total Truth

Judul: Total Truth: Liberating Christianity from Its Cultural Captivity (Study Guide Edition)
Penulis : Nancy R. Pearcey
Penerbit : Crossway Books
Tebal : 514 Halaman
Cetakan : Pertama (Tahun 2004)

Permasalahan mendasar yang dialami banyak orang Kristen saat ini adalah tidak dapat melihat bahwa kekristenan adalah kebenaran di seluruh aspek kehidupan dan bukan hanya dalam bidang spiritual saja[1]. Hal ini mengakibatkan banyak orang Kristen kehilangan imannya ketika berhadapan dengan worldview yang “kelihatannya” lebih kuat dan komprehensif dalam menjawab realitas dunia. Serangan yang terus-menerus dari kaum humanis-materialis semakin membuat banyak orang Kristen mengabaikan dan menjauhi realm intelektual. Hal ini membuat kekristenan semakin terdesak wilayahnya ke bidang spiritualitas saja, sedangkan kaum “sekuler” dengan leluasa menguasai banyak bidang dan memiliki posisi untuk berbicara di mata dunia.

Sebuah worldview haruslah dapat menjawab realitas dunia dan worldview Kristen mempunyai tools yang paling tepat untuk melihat realitas dunia. Di dalam worldview Kristen, dunia pada mulanya adalah baik karena diciptakan oleh Pencipta yang sempurna. Manusia telah berdosa sehingga ia membawa seluruh dunia jatuh di bawah kutukan dosa. Kristus telah mati untuk menebus manusia dan manusia yang tertebus memiliki panggilan untuk mengembalikan seluruh ciptaan ke dalam rencana Allah semula. Pola ini disebut Creation-Fall-Redemption (CFR)[2] yang bisa digunakan terhadap seluruh realitas dunia. Dengan menggunakan pola ini, ketika kita berhadapan dengan suatu realitas kita harus menanyakan tiga pertanyaan: Bagaimana rancangan Allah mula-mula terhadap hal tersebut? Di mana letak unsur dosanya? Bagaimana cara merestorasi hal tersebut kembali ke keadaannya semula?

Worldview non-Kristen menolak pola CFR karena sejak awal mereka menolak adanya Tuhan yang menciptakan segala sesuatu, akibatnya naturalisme dipakai sebagai fondasi worldview mereka. Tuhan yang personal digantikan dengan hukum alam yang impersonal, proses penciptaan yang teratur digantikan dengan proses evolusi yang probabilistik[3], moralitas direduksi sebagai hasil kecenderungan mekanis suatu gen. Cara berpikir seperti ini terlihat masuk akal bagi dunia, tetapi apabila kita melihat dengan lebih mendetail maka ada banyak lubang dan lompatan iman, khususnya di dalam mekanisme evolusi yang menjadi landasan utama cara berpikir mereka. Pola berpikir seperti ini juga menciptakan jurang yang sangat besar antara dunia materi dan konsep nilai. Akibatnya, dualisme dalam kehidupan sehari-hari merupakan sesuatu yang tak terhindarkan.

Cara berpikir dualisme sudah dimulai sejak filsafat Gerika, tetapi menjadi sangat populer saat German idealism dimulai, yaitu sejak idealisme Kant membagi dunia menjadi dua kategori[4]. Pemikiran ini mencapai puncaknya ketika dunia menggunakan dua worldview yaitu scientific naturalism dan postmodernism. Celakanya, banyak orang Kristen juga menggunakan dualisme seperti ini untuk hidup di dalam dunia berdosa ini. Doktrin mulai dibuang dan kekristenan hanya menjadi sebuah spiritualitas yang mengandalkan perasaan.

Selain serangan dari filsafat Kant, serangan skeptisisme dari Hume terhadap kekristenan juga memberikan kontribusi dalam perkembangan pemikiran dualisme di dalam kekristenan. Thomas Reid berusaha melawan Hume dengan mempertahankan kemampuan manusia mengetahui kebenaran dengan menggunakan common sense[5]. Pemikiran ini pada akhirnya mempengaruhi Gerakan Evangelical yang berusaha mempertobatkan banyak jiwa melalui KKR[6] dan kurang berfokus pada pertumbuhan iman. Akibatnya, gereja menghasilkan orang-orang Kristen yang cenderung berpikir dualistis dalam kehidupannya.

Spiritualitas sejati yang ditawarkan kekristenan bukan hanya menyelesaikan masalah rohani semata, tetapi juga mampu memberikan jawaban terhadap realitas dunia dan solusi etika-moral terhadap relasi antar manusia. Spiritualitas sejati tidak dapat dihasilkan dari pertobatan sesaat, melainkan harus melalui proses yang terus-menerus menuju kesempurnaan. Banyak orang Kristen tidak bisa melihat hal ini dan ditipu oleh kekristenan palsu yang materialis. Kekristenan semakin lama semakin terpojok dan tidak dapat lagi menjalankan tugas panggilannya sebagai garam dan terang dunia. Pada saat yang bersamaan, dunia dibutakan oleh ilah-ilah zaman[7] dan tidak mempunyai arah untuk berjalan. Maka, kita yang telah mengetahui bahwa dunia ini adalah ciptaan Allah yang sudah jatuh dalam dosa harus berani menantang zaman dan merestorasinya kembali kepada rencana Allah yang semula. Tugas panggilan kekristenan terlalu banyak dan sangat mendesak, sedangkan dunia tidak akan tinggal diam membiarkan gereja menggenapkan tugas panggilannya dan akan terus menerus melawan kita[8]. Kiranya kita sebagai Gereja Tuhan terus bergantung pada Tuhan untuk menjalankan dan menggenapkan rencana-Nya dengan kekuatan dari Tuhan untuk senantiasa taat kepada pimpinan-Nya.

Hendrik Sugiarto

Pemuda GRII Singapura

1 Mungkin banyak juga yang melihat hal ini tapi tidak bisa mengintegrasikannya atau juga mengaplikasikannya.

2 Pola CFR (creation-fall-redemption) ini sering kali dikenal sebagai CFRC (creation-fall-redemption-consummation) dalam buku lain.

3 Dapat dikatakan bahwa evolusi telah menjadi batu penjuru worldview non-Kristen untuk memberikan jawaban terhadap realitas-realitas utama manusia. Manusia ada karena suatu proses alamiah yang kebetulan dan karena itu tidak bermakna.

4 Immanuel Kant membedakan hal-hal yang ideal dan yang real. Keduanya terpisah sangat jauh, pemikiran ini disebut transcendental idealism.

5 Gerakan ini disebut Scottish realism. Menurut Pearcey, gerakan ini juga mempengaruhi munculnya neo-calvinisme yaitu Abraham Kuyper kemudian dilanjutkan oleh Herman Dooyeweerd.

6 KKR biasanya menekankan pertobatan secara drastis dengan menggunakan perasaan tanpa pengertian doktrin yang cukup.

7 Ilah-ilah ini terkenal juga dengan sebutan roh zaman, dan telah menarik umat manusia berproses tanpa arah.

8 Kekristenan dapat dikatakan telah menjadi musuh dunia, mulai dari new-atheism yang menolak supranaturalitas, lalu kaum postmodern yang menolak moralitas Kristen, gerakan Islam yang ingin menguasai dunia (baik melalui kekerasan ataupun penyusupan), sampai pada new-age movement yang ingin membaurkan Allah Kristen dengan ilah lain, bahkan kekristenan juga digerogoti dari dalam oleh banyak teologi yang tidak jelas.

Hendrik Sugiarto

November 2010

2 tanggapan.

1. astrid dari jakarta berkata pada 6 June 2012:

saya mau bertanya jadi kita harus bagaimana melawan arus tantangan zaman dengan Christian Worldview kita. dengan cara apakah kita tidak boleh terbawa arus zaman dunia ini atau apa? thanks

2. Hendrik dari Surabaya berkata pada 30 June 2012:

setiap manusia mempunyai worldview tertentu entah mereka sadar atau tidak. Dan dalam worldview tersebut pasti memiliki lubang yang berkontradiksi pada dirinya sendiri. Tapi manusia dalam keberdosaannya tidak punya cara lain selain tetap menggunakan worldview tersebut untuk memaknai hidup mereka. Christian worldview memiliki kekonsistenan yang dapat menjawab segala permasalahan hidup manusia. Oleh karena itu kita bisa menggunakan worldview kita untuk menantang balik dunia. Tantangan ini tidak harus bersifat intelektual, tapi juga cara hidup, dll. Ketika muncul tantangan baru dari dunia (entah itu berbentuk film, musik, filsafat lain, agama lain, kritik sosial, trend, gaya hidup, dll) tugas kita adalah menganalisanya dengan worldview kita. Pasti ada latar belakang yang membuat munculnya tantangan tersebut dan bagaimana kita bisa bijaksana menyikapinya dan meresponinya. Banyak orang kristen ketika mendapat tantangan ini, mereka berespon dengan berusaha mengadopsinya dan malah menyesuaikan kekristenan mereka dengan tantangan tersebut. Cara ini sangat berbahaya karena mengkompromikan beberapa bagian kekristenan mereka (misalnya musik ato firman) dan malah mereduksi kelimpahan kehidupan kristen kita. Cara terbaik adalah menantang balik tantangan dunia dengan menggunakan worldview kita dan menunjukan kalo sistem yang kita miliki lebih berharga daripada sistem dunia

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲