TKB November 2008

Pietism

Pietism merupakan suatu gerakan pada akhir abad ke-17 hingga abad ke-18. Gerakan ini sangat mempengaruhi gereja Protestan dan Anabaptis, misalnya: Methodist, Wesleyanism, Brethren, Holiness Movement, dan Pentecostalism. Pietism pada awalnya diprakarsai oleh Philipp Jacob Spener dengan tujuan untuk melakukan pembaharuan di dalam gereja Lutheran yang sudah mulai melemah. Beliau mengajukan metode-metode untuk mengobarkan gereja, antara lain:

1. Ecclesiolae in ecclesia (gereja di dalam gereja), perlu adanya pendalaman Alkitab secara pribadi ataupun suatu kelompok kecil di dalam gereja.

2. Semua orang Kristen adalah imam sehingga orang awam perlu berbagian di dalam menjalankan fungsinya di dalam gereja.

3. Penekanan practice (pelaksanaan) terhadap pengertian keKristenan yang sudah diperoleh sebagai satu kesatuan pelaksanaan dan pengertian.

4. Bukan dengan serangan, seruan, dan tantangan terhadap orang-orang belum percaya, melainkan orang-orang belum percaya harus diperlakukan dengan simpati sehingga mereka baru bisa percaya kepada Kristus.

5. Penekanan aspek devotional di dalam universitas.

6. Pendekatan baru di dalam berkhotbah, di mana bukan dengan teguran keras ataupun retoris, melainkan menekankan iman dan praktika di dalam kehidupan.

Gerakan ini sangat mementingkan devotional life secara pribadi kepada Tuhan, sehingga aspek individualisme tersebut secara tidak langsung mempersiapkan zaman Pencerahan (Enlightenment). Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa gerakan ini juga ikut bersumbangsih menggairahkan gereja pada zaman itu dan menekankan peran kaum awam di dalam gereja.

Referensi:

http://en.wikipedia.org/wiki/Pietism