Transkrip

Doktrin Roh Kudus (Bagian 1)

Turunnya Roh Kudus ke dunia adalah pemberian terbesar Allah bagi Gereja. Hidup kekal adalah janji terbesar Allah. Hidup kekal diberikan melalui Roh Kudus yang membawa kita untuk taat kepada Kristus. Inilah definisi orang Kristen sejati menurut 1 Petrus 1:2, yang mencakup karya Tiga Pribadi Allah Tritunggal: i) dipilih oleh Allah; ii) dikuduskan oleh Roh Kudus; dan iii) taat pada Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Satu ayat yang mengungkapkan doktrin Predestinasi, Tritunggal, Kesela­matan, dan Karya Roh Kudus dengan begitu tepat, singkat, dan sempurna. Orang-orang dari segala bangsa, segala tempat, segala zaman yang dipilih oleh Allah Bapa dan digerakkan oleh Roh Kudus dari pasif menjadi aktif, dari tak mengerti menjadi mengerti, dari membangkang menjadi taat pada Yesus Kristus, menerima percikan darah-Nya, dan dikumpulkan menjadi Gereja yang kudus (sifat gereja) dan Am (universal).

Di segala zaman, selalu ada orang yang sulit untuk mengerti doktrin Allah Tritunggal, Kristologi, Soteriologi, terlebih lagi doktrin Roh Kudus. Juga terdapat banyak orang yang tidak mengerti dengan benar, tetapi berani untuk bersuara lantang dan berbicara seperti orang yang mengerti. Orang-orang yang tak mau mempelajari doktrin dengan sungguh-sungguh, secara sadar atau tidak sadar telah menanamkan benih salah-mengerti di dalam diri jemaat yang mengakibatkan perpecahan gereja yang tak pernah ada habisnya. Sejak 30 tahun silam, pernyataan: “Jangan ke Gereja Protestan, GRII, Katholik... karena di sana tidak ada Roh Kudus” terus menjalar, membuat orang tidak mau mendengar khotbah yang penting dan benar. Di tempat dan pada saat seseorang menyampaikan berita Injil yang murni, menelaah Alkitab secara akurat dan mendalam, membawa orang kembali pada firman Tuhan, ada suara yang mencegah orang Kristen untuk mendengar. Mungkinkah suara itu berasal dari Tuhan? Tentu tidak! Roh Kudus yang sudah mewahyukan kebenaran kepada nabi-nabi di Perjanjian Lama dan kepada rasul-rasul di Perjanjian Baru untuk menulis Alkitab, tentu ingin agar manusia mengerti kebenaran dan beriman. Suara seperti itu bertentangan dengan suara Roh Kudus.

Pekerjaan Roh Kudus terbesar adalah:

1. Roh Kudus Menurunkan Firman Tertulis

Firman harus menjadi dasar agar kita mengerti, beriman, dan beroleh hidup. Firman sebagai dasar karena melalui firman yang Allah wahyukan di Kitab Suci, kita dapat mengenal Allah dengan benar. Jadi, bentuk pertama dari firman yang diturunkan oleh Roh Kudus dari sorga ke dunia adalah Alkitab, dan iman datang dari mendengar firman Tuhan yang sejati. Firman itu tertanam di hati kita sebagai benih yang hidup, yang berakar ke bawah, dan berbuah ke atas. Jadi, iman bukan datang dari diri kita sendiri. Kalau ada seseorang yang sakit dan memerlukan banyak dana lalu mendengar ada orang mengatakan, “Ayo ikut kebaktian, kau akan sembuh,” dia akan pergi. Saat diminta untuk beriman, dia mengatakan, “Tuhan, aku beriman, sembuhkan aku.” Imannya adalah iman ingin sembuh, ini tidak sesuai dengan prinsip Alkitab bahwa iman datang dari mendengar Firman. Tentu bukan maksud saya untuk mengatakan bahwa manusia sendiri tak mungkin punya iman. Karena tertulis di Alkitab, orang datang pada Tuhan karena percaya ada Tuhan dan percaya Dia memberi pahala pada orang yang mencari Dia. Itu berarti bahwa manusia punya iman natural, yang oleh Theologi Reformed disebut anugerah umum. Anugerah umum berasal dari Tuhan namun anugerah umum harus disusul dengan anugerah keselamatan. Jadi, mengapa dikatakan “orang yang datang kepada Tuhan karena ingin sembuh tak sesuai dengan prinsip Alkitab?” Karena menuntut berkat, kaya, lancar, sukses, dan makmur terdapat di semua agama. Itu sebabnya orang pergi ke Gunung Kawi, Sam Po Kong, kelenteng, kuil-kuil, dan lain-lain. Mengapa orang menuntut semua itu? Karena sifat egois manusia. Itu sebabnya orang melakukan korupsi, berbisnis curang, dan menipu untuk memperkaya diri. Maka kata Yesus, “Jika engkau tidak menyangkal diri, engkau tidak layak mengikut Aku.” Jadi, orang yang percaya hanya berdasarkan iman natural tidak bisa menjadi orang Kristen yang baik. Dia perlu mendengar Firman kebenaran. Firman kebenaran akan menerangi dia untuk mengoreksi diri, melepaskannya dari egoisme, belajar mengikuti Tuhan dengan taat, memikul salib, dan menjadi orang yang berkenan pada Tuhan yang di sorga. Jadi, iman yang kau dapat melalui mendengar Firman adalah kekuatan yang akan mengarahkanmu untuk memuliakan Tuhan dan hidupmu menjadi mulia.

Pekerjaan Roh Kudus yang terbesar adalah menurunkan Firman dari sorga dalam bentuk tulisan, satu-satunya kitab yang  diwahyukan oleh Allah. Mengapa Tuhan memberikan kita Alkitab? Karena Dia telah memberikan kita potensi untuk mengerti kebenaran. Jadi, Tuhan menciptakan manusia yang memiliki potensi untuk mengerti kebenaran, Tuhan juga menyatakan kebenaran pada manusia. Ini merupakan pengertian organik dan struktur epistemologi dalam iman Kristen. Jadi, di antara semua mahluk yang diciptakan oleh Tuhan, hanya manusia yang diciptakan seturut peta teladan-Nya, diberi potensi untuk menjalin hubungan dengan-Nya, mengerti kebenaran, dan diberikan kesempatan untuk mengerti kebenaran-Nya. Ada kebenaran yang tersimpan di dalam alam, ada juga kebenaran yang melampaui kebenaran alam – yang berkaitan dengan arti hidup, makna perjuangan, dan ke mana setelah kematian – yang tak mungkin kita dapatkan melalui penelitian ilmiah. Untuk itu Tuhan mewahyukan Kitab Suci untuk mengungkapkan rahasia-rahasia yang secara objektif berlaku di seluruh dunia; menggerakkan orang-orang untuk menerjemahkannya ke banyak bahasa supaya semua bangsa mengerti. Maka, selain memberi firman-Nya yang berbentuk tulisan di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Allah juga mendampingi, memberi pencerahan, memimpin orang yang membacanya, from literal to spiritual understanding, from written word to the truth of God. Jadi, biar kita renungkan dengan tenang, jangan terlalu percaya terhadap penilaian orang, “Ini ada Roh Kudus, itu tidak ada Roh Kudus.” Yang perlu kita ketahui adalah “What does the Bible say” dan biar Roh Kudus memimpin rasio kita untuk mengerti, bukan hanya isi tetapi juga metodenya agar kita tidak menjadi kacau.

2. Roh Kudus Menurunkan Kristus

Roh Kudus menurunkan Firman dari sorga dalam bentuk manusia. Yesus Kristus adalah satu-satunya orang yang menyatakan sifat ilahi dalam tubuh yang berdaging. Yesus Kristus hidup di sejarah. Itulah inkarnasi. Maka kedua hal ini: Firman yang tertulis dan Firman yang hidup dalam sejarah – sebagai Sang Kudus yang tidak berdosa, yang langsung memberitakan Firman dengan otoritas tertinggi – memimpin seluruh umat manusia melewati perjuangan dan tantangan filsafat di segala zaman; menjadi standar untuk memeriksa, mempertumbuhkan, dan melengkapi orang-orang beriman. Kita dapat membaca firman dan mengerti kebenaran yang diwahyukan Allah, juga dapat melihat teladan hidup yang Yesus berikan. Coba bandingkan Kitab Suci dengan semua buku lain, pasti kau akan menemukan wibawa yang tak ada pada buku lain. Di sana terdapat sekitar 7.800 kali pernyataan: “Beginilah Firman Allah....” Hal-hal dalam Alkitab sudah teruji ribuan tahun dan terbukti sebagai satu-satunya kebenaran yang tiada-taranya, yang kekal, dan tak mengenal kompromi. Jadi, pertama, bukan karena aku beragama Kristen maka kekristenan menjadi kebenaran. Kebenaran tak perlu melewati proses menjadi, kebenaran tak akan pernah berubah, dari sebelum dunia diciptakan sampai kesudahannya. Misalnya 2 + 2 = 4, tak perlu menunggu kau menyetujuinya baru menjadi kebenaran karena dari kekal sampai kekal 2 + 2 = 4. Saya percaya kebenaran Firman karena Firman diwahyukan oleh Allah dan tidak pernah berubah kebenarannya. Tidak ada seorang pun yang dapat mengubah kebenaran, justru kebenaranlah yang mengubah kita. Hal kedua, bukan karena sejak kecil aku percaya kepada Yesus maka Yesuslah yang terbaik. Karena aku menemukan tidak ada orang yang hidupnya sesempurna, sesuci, seadil Kristus, maka aku percaya kepada Dia. Pengertian seperti ini bukan didasarkan atas emosi yang meluap-luap atau karena khotbah seseorang yang begitu mahir dalam mempengaruhi emosi massa. Oleh sebab itu, setiap hamba Tuhan harus menguraikan kebenaran dengan penuh tanggung jawab, memohon Tuhan untuk menaklukkan rasio pendengar yang Dia ciptakan untuk kembali kepada kebenaran. Iman adalah rasio yang terhilang, yang mau kembali dan tunduk pada kebenaran yang mencarinya. Karena bukan rasio yang mencari kebenaran, tetapi kebenaranlah yang mencari dan menaklukkan rasio. Inilah titik-tolak Alkitab yang begitu berbeda dari semua agama, “Bukan kau yang mencari Aku, Akulah yang mengirim Anak-Ku ke dunia untuk mencari dan menyelamatkan orang yang tersesat.” Maka Yesus bukan lahir melalui hukum genetika melainkan melalui mujizat: Roh Kudus menaungi anak dara Maria. Mujizat yang tidak pernah dan tidak akan mungkin diulang: anak dara melahirkan anak laki-laki. Lalu, mengapa Alkitab mengatakan bahwa inkarnasi juga merupakan pekerjaan Roh Kudus? Karena Roh Kudus menaungi Maria yang masih perawan, meminjam kandungannya untuk menurunkan Firman dalam bentuk manusia. Jadi, karena Firman datang dengan bentuk literal yaitu Kitab Suci dan dalam bentuk manusia yaitu Kristus lahir dalam sejarah, maka dunia dapat mengenal kebenaran dari Alkitab dan menerima keselamatan dari Yesus Kristus yang merupakan pengharapan bagi dunia. Maka, salah satu tugas Gereja yang terpenting adalah mempelajari Firman dan mengerti Firman.

Orang mengatakan, “Gereja ini, pendeta ini tidak ada Roh Kudus, karena dia tidak bisa berbahasa roh, tertawa-tawa, melakukan mujizat.” Padahal mengenal Roh Kudus melalui fenomena yang dimutlakkan adalah suatu perkara yang mengerikan. Secara sadar ataupun tidak sadar, banyak orang telah tertipu oleh banyak pemimpin gereja yang tak bertanggungjawab sehingga mengalami kerugian seumur hidupnya.

Doktrin Roh Kudus sangat penting. Kita tidak boleh diselewengkan, ditipu, dan digeser dari kebenaran firman Tuhan tentang doktrin ini. Kita mengenal Allah melalui Kristus, mengenal Kristus melalui Roh Kudus, dan mengenal Roh Kudus melalui Kitab Suci. Jadi, Allah Bapa adalah Bapa yang suci, Allah Anak adalah Anak yang suci, Allah Roh Kudus adalah Roh yang suci, orang Kristen adalah kaum pilihan yang suci, dan Kitab Suci adalah kitab yang suci. Pusatnya adalah Roh Kudus yang mewahyukan Firman dan yang memuliakan Kristus; memperanakan orang Kristen dan membawanya kembali kepada Allah. Maka, salah mengartikan Roh Suci sama dengan salah menggunakan kunci yang akibatnya adalah salah mengartikan Kristus dan Kitab Suci. Itu sebabnya, Iblis senang mengganggu Gereja dengan cara mengacaukan pengertian orang Kristen terhadap doktrin Roh Kudus. Itu sebabnya, mungkin banyak orang tidak mengerti mengapa Stephen Tong terus menerus menyerang ajaran Kharismatik. Sebenarnya, kalau orang-orang Kharismatik mau rendah hati, dia akan menjadi berkat yang besar. Orang yang menerima urapan Roh Kudus, taat pada Firman, diperanakan pula, dan dipimpin oleh-Nya adalah orang yang berkarisma. Jadi, setiap orang Kristen sejati seturut sifatnya bisa disebut orang karismatik (orang-orang yang berkarisma). Sayangnya, orang-orang Kharismatik telah memutlakkan yang tak mutlak dan berubah menjadi ekstrim, menyimpang dari kharismatik yang asal lalu mulai menuding orang, “Kamu tidak punya Roh Kudus.” Tidak banyak gereja benar yang mereka serang, berani berbalik dan mendebat mereka. Maka Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) bangkit menjadi saksi Tuhan di antara kubu Liberal (yang secara sadar atau tidak sadar telah melawan Alkitab) dan kubu Kharismatik (yang begitu berapi-api tetapi salah menginterpretasikan Alkitab) untuk membawa mereka yang menyimpang agar kembali kepada ajaran yang sempurna dan sehat. Anda sendiri dapat membuktikan bahwa selama 20 tahun ini kami membahas Kitab Suci ayat per ayat, tidak satu pun yang dilewatkan, karena kita percaya bahwa kebenaran Alkitab adalah komprehensif dan dapat dimengerti. Juga tak ada satu pernyataan pun yang mengatakan bahwa ada satu ayat di Alkitab yang tak berkuasa. Rick Warren membandingkan puluhan jenis terjemahan Alkitab dan akhirnya memilih untuk memakai terjemahan yang lebih mudah diterima tanpa memedulikan ketetapan dan kesetiaan terjemahan itu pada naskah aslinya. Akhirnya, orang menjadi ambigu, tidak mengetahui yang benar atau salah.

Mengapa Roh Kudus diturunkan? Di Perjanjian Lama Tuhan berjanji dan janji itu digenapkan di Perjanjian Baru. Tuhan mengirim Yohanes Pembaptis untuk mempersiapkan kedatangan Kristus, Raja dari Kerajaan Allah. Dia berseru, “Bertobatlah kamu….” mengisyaratkan bahwa Kristus akan masuk ke dalam hatimu dan mendirikan Kerajaan-Nya yang mulia di bumi. Barangsiapa mau menjadi umat-Nya, ia harus bertobat. Berita ini bukan diserukan di Yerusalem atau di Bait Allah, tetapi di padang gurun. Alkitab mencatat bahwa Yohanes Pembaptis adalah orang yang dipenuhi Roh Kudus sejak di dalam rahim ibunya. Dia menyampaikan berita Allah dengan sangat berkuasa. Berita tersebut menggetarkan tentara Romawi yang ikut mendengarkan sampai-sampai ia bertanya apa yang harus diperbuatnya. Yohanes Pembaptis memintanya untuk menanggalkan senjatanya kemudian memberikan pengertian sistem politik sepanjang zaman, yaitu: i) cukupkan dirimu dengan apa yang kamu miliki; dan ii) jangan merugikan orang dengan senjatamu. Jawaban ini menunjukkan bahwa Yohanes Pembaptis sunguh-sungguh mengerti akan prinsip dan teladan hidup orang Kristen sepanjang zaman.

Meski sebagai manusia, Yohanes Pembaptis pernah ragu “Yesus adalah Mesias atau bukan”. Yesus tidak menegur dia atau menarik kembali tugas yang dipercayakan kepadanya. Yesus hanya mengatakan kepada utusan Yohanes, “Beritahu padanya, orang buta melihat, orang timpang berjalan, orang mati dibangkitkan....” – memintanya untuk mempertimbangkan sendiri. Yohanes Pembaptis adalah tokoh yang besar, tetapi dia tidak pernah melakukan mujizat satu kali pun, tidak pernah berbahasa roh. Jadi, apakah dia mempunyai Roh Kudus atau tidak? Roh Kudus memenuhi dia sejak di rahim ibunya dan sampai mati tak meninggalkan dia. Jika demikian, siapakah yang memberikan hak kepada seseorang untuk memvonis seseorang tidak memiliki Roh Kudus karena tidak bisa berbahasa roh atau melakukan mujizat?

Kapankah terjadinya penyelewengan pemahaman seperti itu? Di tahun 1901, di sebuah rumah di Azusa Street, Los Angeles, seorang yang baru pindah dari Topeca mengatakan, “Gereja sudah tidak beres, tidak bertumbuh.” Pada tahun 1905, orang yang menyetujui konsepnya bertambah menjadi lima orang kemudian membentuk persekutuan dan mulai memisahkan diri dari gereja, karena menemukan apa yang kemudian disebut dan terkenal sebagai Iman Apostolik. Apa itu “Iman Apostolik” atau “Iman Rasuli”? Itu adalah iman yang ditandai dengan berglosolalia (berbahasa lidah), melakukan mujizat, menyembuhkan orang sakit, dan mengusir setan. Ini disebut sebagai “Gejala Generasi ke-4”. Jemaat “disadarkan” bahwa selama 1.900 tahun, tak ada hal-hal itu di tengah-tengah orang Kristen. Maka, mereka berdoa, meminta Tuhan untuk mengembalikan gereja pada Iman Rasuli, tetapi tanpa pengakuan Iman Rasuli. Jadi, gereja terpecah menjadi dua, yaitu orang Liberal yang membuang Pengakuan Iman Rasuli: iman kepercayaan yang penting, yang diturunkan dari para rasul; dan membuang ketuhanan Kristus, hanya menerima moralitas Kristus saja. Maka, semua buku yang ditulis oleh orang Liberal tak ada sebutan “Tuhan Yesus”. Sementara orang Pentakosta dan Kharismatik menemukan Iman Rasuli yang dimengerti dari segi supranatural, terus menyebut “Yesus, Yesus” namun tidak menyebut Yesus sebagai Tuhan. Jika kita memperhatikan kunci di Alkitab, “Barangsiapa tak digerakkan oleh Roh Kudus, dia tak mungkin menyebut Yesus sebagai Tuhan”. Dan faktanya adalah baik Liberal maupun Kharismatik sama-sama tidak menyebut Yesus adalah Tuhan. Jadi, bolehkah Pengakuan Iman Rasuli diwakili dengan berbahasa roh, menyembuhkan, mengusir setan, dan melakukan mujizat? Perhatikan: Adakah Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita bahwa orang yang percaya kepada Dia harus bisa bahasa roh? Tidak. Alkitab justru memberikan kita satu peringatan: “Pada hari itu, bukan semua orang yang memanggil Aku ‘Tuhan, Tuhan’ boleh masuk sorga (Mat. 7:21-23). Lalu mengapa ada orang yang mengajarkan, “Sebutlah Yesus Tuhan, kau pasti diselamatkan.” Padahal kata Yesus, “Bukan semua orang yang menyebut-nyebut Aku: “Tuhan, Tuhan” masuk sorga. Hanya mereka yang melakukan kehendak Tuhan dapat masuk ke sorga?” Orang Liberal mengatakan, “Kami tidak percaya Yesus adalah Tuhan, tapi kami meneladani moral Yesus.” Orang yang belajar theologi tapi hatinya tak mau taat pada Tuhan, semakin belajar malah semakin jauh dari Tuhan. Sementara orang Kharismatik bukannya meneladani sifat moral Yesus, melainkan mendemonstrasikan kuasa dan menyatakan Roh Kudus ada di tengah-tengah mereka. Maka, tidak heran banyak pemimpin Kharismatik yang jatuh dalam perzinahan, menggunakan ayat-ayat Alkitab untuk memperkaya diri, maupun merampas perpuluhan jemaat menjadi milik pribadi. Kebangunan rohani hanya menekankan percaya kepada Tuhan maka segala penyakitmu akan disembuhkan dan menjadi kaya. Ini adalah doktrin “undian” yang mereka ciptakan untuk menarik banyak orang. Dan setelah menjadi banyak lalu mengatakan, “Jumlah kami banyak maka kami adalah Kristen yang benar. Kami mempunyai Roh Kudus.” Tipuan setan ini telah berlangsung selamar seratus tahunan ini dan membuat banyak orang semakin kabur dan bingung (blur), maka kita perlu sadar (blink). Rasul Petrus berkata, “Tuhan, aku tak pernah makan daging dari binatang yang haram.” Tuhan berkata, “Makan!” Itulah revolusi. Petrus menolak karena ia mengikuti rutinitas dan tidak mau berubah sehingga hidupnya jadi kabur (blur) dan disusul dengan kekosongan (blank). Itulah yang terjadi dengan gereja kalau membuang sifat ketuhanan Yesus.Hanya mau menerima sifat moral-Nya atau membuang sifat moral-Nya akan membuat gereja menjadi kosong ataupun bertumbuh pesat, tetapi moral pendetanya begitu bejat dan masih berani mengaku bahwa dirinya memiliki Roh Kudus karena bisa berglosolalia. Matius 7:21-23 memberikan gambaran yang jelas bahwa terhadap orang yang banyak bernubuat, mengusir setan, melakukan tanda ajaib dengan nama-Mu (nama Tuhan Yesus), Tuhan Yesus menjawab bahwa Ia tidak pernah mengenal mereka. Hanya mereka yang sungguh-sungguh menjalankan kehendak Allah saja yang berhak masuk ke dalam Kerajaan Allah. Firman Tuhan tidak bisa dimanipulasi.  

Roh Kudus memenuhi Yohanes Pembaptis dan katanya, “Aku hanya membaptis kamu dengan air.” Mengapa? Karena dia mengakui bahwa dirinya adalah manusia yang dicipta. Tidak mungkin ia menggunakan air yang dicipta untuk membersihkan dosa sesamanya yang juga dicipta. Jadi, dia membaptis orang hanya untuk menandai pertobatan seseorang. Dan sebenarnya, kau bertobat bukan kepadaku, melainkan kepada Tuhan. Gerakan “Pria Sejati” (serial seminar yang banyak diadakan saat ini) membuat orang yang tadinya malu mengaku dosa kepada sesamanya namun setelah melihat banyak orang, bahkan pendeta, majelis di kelompok itu melakukan hal yang sama, menjadi berani mengaku dosa sambil menganggap bahwa mengaku dosa adalah sesuatu yang mulia. Dan karena semua orang di sana ternyata sama lalu saling menghibur. Lambat-laun hal itu justru menjadi bahan tertawaan dunia, “Ternyata orang Kristen juga sama, selingkuh, hidup moralnya rusak.” Tuhan menginginkan kita menjadi kelompok orang yang suci. Tuhan tidak menginginkan kita untuk selingkuh lalu mengaku dosa tanpa merasakan malu yang mendalam. Tentu bukan maksud saya untuk mengkritik orang yang mau mengaku salah, bertobat, dan berjanji untuk tidak mengulanginya. Karena faktanya, setan akan membuatmu mengalami apa yang dikatakan pepatah Tionghoa “fan zui he qun gan, shou ku gu du gan”; waktu bersalah tak merasa tersendiri karena ada banyak orang yang senasib denganmu, sementara waktu menderita, merasa begitu tersendiri, orang yang paling susah di dunia. Itulah cara yang sejak dahulu dipakai oleh setan untuk merusak Gereja. Kiranya Tuhan memberikan saya kompas di hati, kepekaan yang luar biasa untuk menjadi pemimpin yang berdiri di atas menara pengawal untuk mengingatkan Gereja akan bahaya yang mengancam.

Kata Yohanes Pembaptis, “Aku hanya membaptismu dengan air (baptisan air tak menyelamatkan), tetapi Dia – yang datang sesudahku dan sebenarnya sudah ada sebelum aku – karena Dia adalah Sang Kekal maka Dia akan membaptismu dengan Roh Kudus. Jadi, baptisan Roh Kudus dilakukan oleh Allah yang menjelma menjadi manusia – yang kelihatannya sama seperti orang pada umumnya padahal Dia adalah Allah. Maka sejak tahun 1990, ketika GRII pertama kali membaptis, saya selalu mengatakan, “Aku membaptis engkau dengan air yang melambangkan Roh Kudus turun atasmu, membawamu bergabung ke dalam GRII, ke tubuh Kristus.” Air dicurahkan dari atas kepala sebagai lambang Roh Kudus yang turun dari atas. Maka saya percaya bahwa baptis percik lebih sesuai dengan Alkitab karena Roh Kudus dicurahkan dari atas dan kau harus dilahirkan dari atas. Maka, jangan ikut-ikutan atau ditakuti-takuti oleh orang yang mengkritik atau menyerang, “Jikalau engkau tidak dibaptis selam, engkau tidak diselamatkan.” Prinsip yang Alkitab berikan melampaui tafsiran manusia. Ketika Yohanes membaptis, adakah yang menyaksikannya? Ada banyak. Namun ketika Tuhan Yesus membaptis orang dengan Roh Kudus, adakah yang menyaksikannya? Tidak, karena Dia sudah naik ke sorga. Jadi, apakah bukti seseorang sudah menerima baptisan Roh Kudus? Ia akan menjadi semakin setia kepada Firman, semakin taat dan semakin menjalankan kebenaran firman Tuhan. Kiranya Tuhan memimpin setiap kita untuk hidup semakin dipenuhi oleh Roh Kudus, semakin mengerti Firman, semakin setia di dalam kebenaran Firman, dan hidup seturut kebenaran Firman.

Pdt. Dr. Stephen Tong

Oktober 2009

8 tanggapan.

1. Bram Philetas dari Batam berkata pada 5 January 2015:

Kepada Yth, Bpk Stephen Tong.

Dengan Penuh Hormat,

Mohon maaf , bram lagi taraf belajar dan tidak sekolah Theologi, profesi bram dokter di Batam .... Sepertinya hampir pasti bahwa baptisan yang diadopsi oleh para murid Yesus ketika membaptis seseorang menjadi pengikut Kristus adalah baptisan Yohanes, ritus yang pernah dialami oleh beberapa orang murid pertama Yesus dan bahkan oleh Yesus sendiri. Namun, ada unsur yang baru dan khas dalam baptisan kristiani perdana, yakni baptisan itu dilakukan “dalam nama Yesus” (Kis. 2:38; 8:16; 10:48; 19:5). Ungkapan, “dalam nama Yesus” berarti bahwa orang yang membaptis melihat tindakannya sebagai representasi dari Yesus yang mulia atau orang yang dibaptis melihat baptisannya sebagai ungkapan komitmennya untuk menjadi murid Yesus (bdk. 1Kor. 1:12-16). Rumusan baptisan yang bersifat trinitarian, “dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat. 28:19) dianggap sebagai perluasan yang muncul lebih kemudian dari rumusan baptisan yang lebih sederhana dan lebih awal, “dalam nama Yesus.” ***) teks ini bram ambil dr email yg bahas ttg baptisan.

Kita percaya Yohanes sejak di kandungan sdh kepenuhan Roh Kudus.. tentu saja Yohanes melakukan tata cara baptisan selam bukan kemauan diri sendiri tp kita percaya Yohanes melakukan apa yg Roh Kudus perintahkan yaitu baptisan selam (untuk keadaan normal). Bram setuju yg dikatakan Pak Pendeta Stephen Tong bahwa janganlah baptisan dgn cara tertentu menghalangi seseorang untuk di Baptis misalnya baptisan orang sakit ditempat tidur tentu dengan percik sudah lebih dari cukup, daerah padang pasir atau di medan perang yg sulit air atau dipuncak gunung atau bahkan keadaan darurat terkepung perang ada yg pakai pedang atau bendera "dalam nama Bapa Putra dan Roh Kudus, Amin".

Kita kembali ketopik keadaan situasi normal.. jika semua memungkinkan menurut bram ada baiknya kita ikuti baptis selam spt yg diteladani oleh Yesus Yaitu baptis selam yg Roh Kudus perintahkan kepada Yohanes.

Demikian mohon maaf bram yg kurang ngerti tentang Theologi. Sungguh tentang Theologi bram pribadi dan banyak orang Indonesia sangat mengandalkan tulisan bahasan Pdt.Stephen Tong, termasuk buku 7? Perkataan Tuhan Yesus diatas kayu Salib.

Tuhan Yesus memberkati Pdt Stephen Tong beserta segenap keluarga, Amin.

2. Martua Situmorang dari jakarta berkata pada 6 January 2015:

Bpk. Bram yang dikasihi Allah, saya sangat setuju dengan penjelsan bapak, kita harus mengikuti teladan yang diperlihatkan (yang diberikan) oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya (kepada dunia) dalam hal baptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis (Baptis selam).

Baptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis adalah baptisan dengan cara menyelamkan yang di baptis kedalam air bukan baptisan Roh Kudus, baptisan air adalah sebagai tanda pertobatan (meninggalkan cara hidup yang lama), sedangkan baptisan Roh Kudus adalah pengurapan Roh Allah kepada manusia oleh Tuhan Yesus Kristus. Jadi Baptisan Roh Kudus tidak manusia yang melakukannya, akan tetapi Allah sendiri, yaitu Tuhan Yesus Kristus ( baca Injil Lukas 3:16, Injil Markus 1:8, Injil Matius 3:11) Diluar itu adalah pengajaran bidat, atau pengajaran sesat.

Kita manusia tugasnya hanya mempersiapkan jalan bagi Tuhan dengan cara kita harus bertobat, dan mengajak orang lain agar bertobat. Dan sebagai tanda kita telah bertobat, maka kita harus memberi diri kita untuk di Baptis kedalam air (Baptisan selam itu artinya: kita menguburkan cara hidup kita yang lama dan bangkit kembali masuk kedalam cara hidup yang baru). Kita harus memperbaharui cara hidup kita, maka Allah akan mematereikannya dengan Roh Kudus-Nya. Hanya dengan pertolongan Allah sajalah kita dapat memperbaharui hati kita menjadi baru dengan kuasa Roh Kudus-Nya.

itulah pengertian yang saya dapat dari membaca Alkitab sebagai orang awam yang otodidak. Terima kasih Tuhan Yesus memberkati kita semua.

3. Yehezkiel dari Semarang berkata pada 25 January 2015:

Bpk Bram & Bpk Martua, Pdt Stephen Tong pernah membahas tentang baptisan, kalau tidak salah bukunya berjudul "Baptisan dan Karunia Roh Kudus".

Berdasarkan penelaahan Alkitab, baptisan yang dilakukan Yohanes adalah dengan cara mencurahkan air ke atas kepala orang yang dibaptis, bukan baptisan selam. Silahkan melihat di buku tersebut untuk penjelasan yang lebih detilnya.

4. Martua Situmorang dari Jakarta berkata pada 29 January 2015:

Bpk Yehezkiel, dalam halam 4 alinea ke tiga tulisan Bpk Pdt. Stephen Tong, dengan kalimat: Maka sejak tahun 1990, ketika GRII pertama kali membaptis, saya selalu mengatakan, "Aku membaptis engkau dengan air yang melambangkan Roh Kudus turun atasmu, membawamu bergabung ke dalam GRII, ke tubuh Kristus (kutipan transkrip "Doktrin Roh Kudus") yang ditulis di atas sepertinya tidak sesuai dengan pengajaran Alkitab, alias mengada-ada. Jikalau kita analisa kalimatnya itu mempunyai makna atau pengertian yang berbeda dengan Alkitab, yaitu: "Aku membaptis engkau dengan air yang melambangkan Roh Kudus turun atasmu". Dalam konteks Tuhan Yesus di baptis oleh Yohanes pembaptis, adalah: 1) Tuhan Yesus turun ke Sungai Jordan dengan konotasi Tuhan Yesus di tenggelamkan ke dalam air, tidak dipercik dengan air. jikalau tidak demikian, Yohanes Pembaptis tidak membawa mereka dan Tuhan Yesus turun ke sungai Jordan untuk di baptis, cukuplah Yohanes Pembaptis membawa gentong yang berisi air dan memercikkannya ke atas kepala mereka (yang bertobat) yang meminta kepadanya untuk di baptis. 2) Roh Kudus turun ke atas Tuhan Yesus adalah setelah Tuhan Yesus keluar dari air sesudah langit terkoyak, jadi apabila kita perhatikan dari konteks itu, kita tidak bisa mengambil kesimpulan bahwa, baptisan air (tanda pertobatan) sama dengan baptisan Roh Kudus.

Murid-murid Tuhan Yesus ketika menerima baptisan Roh Kudus adalah ketika mereka berkumpul berdoa bersama-sama di YERUSALEM untuk menantinantikan janji Tuhan, seperti yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis: "Aku membabtis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasutNya. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Dan kita bisa lihat di Kisah Para Rasul 1 ayat 4 dan 5. yang dicatat sebagai berikut: "Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan YERUSALEM, dan menyuruh mereka tinggal disitu menantikan janji Bapa, yang demikian kataNya- "telah kamu dengar dari padaKu. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan di baptis dengan Roh Kudus."

Dari kesaksian ayat firman Tuhan di atas dapat kita simpulkan bahwa: Sangat berbeda sekali baptisan sebagai tanda pertobatan dengan baptisan Roh Kudus. Baptisan sebagai tanda pertobatan dilakukan dengan baptisan di tenggelamkan ke dalam air sedangkan baptisan Roh Kudus di curahkan ketika kita sungguh-sungguh mau menyatu dengan Allah, contohnya murid-murid Tuhan Yesus berdoa bersama-sama selama sepuluh hari di YERUSALEM dengan tekun menantikan janji TUHAN, maka pada hari kesepuluh setelah Tuhan Yesus terangkat ke Sorga mereka semua di penuh dengan Roh Kudus, yaitu ketika nyala api yang bertebaran hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

Itulah sejarah singkat tentang pencurahan Roh Kudus kepada murid-murid Tuhan Yesus. Ame.!!!

5. Bram Philetas dari Batam berkata pada 10 February 2015:

maafkan saya sdh merepotkan saudara saudara didalam Tuhan kita Yesus Kristus.

Pak Yehezkiel yg diberkati Tuhan, sewaktu sekolah kedokteran banyak buku yg saya baca dan juga buku obat obatan, setelah sekian puluh tahun banyak kesimpulan buku lama yg terbantahkan dgn kenyataan saat ini bahkan obat obat yg dulu di yakini khasiat canggih dan efek samping minimal ditarik dari edaran oleh karena efek samping nya cukup berbahaya ditemukan/ diketahui setelah sekian puluh tahun.

Ada baiknya kita berpedoman bukan dgn buku saja tapi dengan Firman Allah.

Markus 1:9-11 Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan."

Disini dituliskan Pada saat Ia keluar dari air, bukan tertulis ketika Ia selesai diperciki air oleh Yohanes.

TAPI LEPAS DARI POLEMIK HAL INI TENTU TAK ADA GUNA BILA HANYA CARA BAPTIS SAJA YG BENAR TANPA PERTOBATAN HATI YG BENAR.

Untuk itu mari kita akhiri polemik ini biarlah Roh Kudus yaitu Roh Penolong yg memberi kita masing masing Hikmat yg terbaik buat kita, dan marilah kita lanjutkan hidup kita bagi kemuliaan-Nya, Amin.

6. Yehezkiel dari Semarang berkata pada 10 February 2015:

Bpk Bram & Bpk Martua yth. saya setuju bahwa kita harus selalu kembali kepada Alkitab.

Di Alkitab ditulis bahwa Yesus keluar dari air. Tapi tidak bisa begitu saja diartikan bahwa Yesus diselamkan. Bila orang masuk ke kolam selutut, kemudian keluar ke tempat kering, bisa juga disebut sebagai "keluar dari air" bukan?

Artinya kalimat "Yesus keluar dari air" tidak cukup untuk menyimpulkan bagaimana cara Yohanes membaptis Yesus. Diperlukan penelaahan ayat2 lain di Alkitab. Tetapi tidak mungkin penelaahan Alkitab tersebut ditulis disini bukan? Karena itu saya menganjurkan utk membaca buku Pak Tong tersebut karena di buku itu ada penelaahan Alkitab secara seksama yang sudah dilakukan oleh Pak Tong.

7. Bram Philetas dari Batam berkata pada 12 February 2015:

Ya ya .. Yehezkiel betul juga ya ... tapi Mengapa tak ditulis " ketika Yesus keluar dari danau atau dari kolam yaa... ?" hehehe sayangnya kita belum lahir waktu itu yaa dan belum ada video cctv.

Okelah tak apa kita sama sama tak faham hal ini, karena saya ingin awalnya tanya ke Beliau Pak Pdt.Stephen Tong, marilah sudahi polemik ini dengan kesimpulan yg saya dapat sbb : baptislah dengan cara yg Roh Kudus beri hikmat kepada anda anggap benar dan lebih dari itu sempurnakanlah dgn hidup dalam pertobatan total termasuk makan makanan halal ( tentang halal ini akan banyak yg ber komentar hehehe ) dan cara Perjamuan Kudus yang sesuai tuntunan Roh Kudus anda anggap benar.

Jesus LoVe you n family

8. Martua Situmorang dari Jakarta berkata pada 12 February 2015:

PERHATIAN!

"Jikalau kita mengaku bahwa kita adalah murid (pengikut) Tuhan Yesus, maka kita akan meniru apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dan melakukan perintah-Nya dengan sungguh-sungguh".

Amen!!! Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi yang telah menjangkau 17 kota di Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲