Transkrip

Pelayanan Penuh Waktu

Telah kita bahas sebelumnya bahwa pelayanan Tuhan memiliki dua elemen, yaitu pelayanan penuh waktu (full-time) dan pelayanan awam (part-time), yang keduanya saling melengkapi. Namun pelayanan awam tidak sama dengan pelayanan penuh waktu.

Banyak orang tidak tahu panggilan Tuhan untuk menjadi pelayan penuh waktu. Ada juga orang-orang yang takut menjadi pelayan penuh waktu. Mereka takut berpenghasilan kurang, takut menjadi miskin jika menjadi seorang pendeta. Mereka berpikir lebih enak jadi pedagang sukses lalu belajar theologi. Dengan demikian dia bisa berkhotbah sambil memberikan persembahan yang besar ke gereja. Hal ini dianggap lebih baik daripada berkhotbah lalu menerima uang, apalagi setelah itu dihina oleh majelis. Ini tidak benar. Bagaimana kalau Stephen Tong lebih memikirkan jadi pedagang lalu jadi pengkhotbah part-time saja? Apakah ini lebih baik daripada saya sepenuh hidup memikirkan pekerjaan Tuhan, berkhotbah, dan melayani gereja Tuhan dengan seluruh potensi dan talenta saya? Banyak orang ingin saya menjadi full-time (pelayan penuh waktu) tetapi ia sendiri tidak mau dipanggil. Ini sungguh tidak adil.

Ada anggapan bahwa Paulus adalah pelayan paruh waktu karena ia juga seorang pembuat tenda. Itu tidak benar. Paulus menjadi pembuat tenda karena dia tidak mungkin mendapatkan subsidi untuk seluruh biaya pelayanan dan hidup dari gereja induknya. Gereja di Yerusalem terlalu miskin, dianiaya luar biasa, sehingga tidak mungkin mempunyai biaya hidup yang cukup, hal ini mengakibatkan Paulus harus mencari nafkah sendiri. Dengan demikian ia tidak perlu memohon uang dari orang kafir, karena jika ia meminta uang kepada orang kafir sambil memberitakan Injil, pasti ia akan dihina. Oleh sebab itu, Alkitab tidak memberikan peluang satu rupiah pun untuk orang kafir berbagian di dalam pekerjaan Tuhan, sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan atau menghina pemberitaan Injil. Prinsipnya adalah hidup untuk melayani. Saya mencukupkan hidup supaya bisa menyambung kehidupan untuk bisa terus melayani. Tujuan Paulus bukanlah untuk menjadi pelayan paruh waktu (part-timer), tetapi justru untuk menjadi pelayan penuh waktu (full-timer). Dengan demikian ia ingin seluruh pelayanannya bisa memuliakan Allah dan benar di mata Tuhan. Ini namanya pelayanan “sepenuh hati” (full-hearted). Yang melayani sepenuh hati lebih baik daripada yang sepenuh waktu. Orang yang penuh waktu tapi bercabang hati, celakalah dia. Maka, setelah sepenuh hati baru menjadi sepenuh waktu. Ada tiga prinsip utama dalam mengerti panggilan pelayan sepenuh waktu.

Pertama, kesadaran bahwa menjadi hamba Tuhan itu susah dan berkewajiban berat (Flp. 2:13). Engkau harus rela menerima aniaya, rela menempuh kesulitan-kesulitan yang sulit ditanggung secara manusia. Engkau tetap menjalankan kehendak Tuhan sekalipun itu mendatangkan penghinaan, kesulitan, dan penganiayaan. Kalau sudah menyadari adanya kesulitan dan penderitaan tetapi tetap ada keinginan kuat untuk menjadi hamba Tuhan, maka kita bisa melihat bahwa ini adalah tanda panggilan Tuhan. Tuhan terus-menerus mendorong engkau untuk menjadi hamba-Nya. Engkau melarikan diri dan sadar bahwa melarikan diri adalah kegagalan. Orang tidak mau menjadi pendeta karena menjadi pendeta tidak mudah membela diri, sering dikritik dan dihina, termasuk oleh orang Kristen sendiri, sehingga orang Kristen tidak mau menjadi pendeta. Banyak orang Kristen mau menjadi part-timer sehingga bisa berkhotbah sambil mencari uang. Bagi saya, orang yang bisa bekerja hebat sehingga seharusnya mendapat gaji 100 juta tetapi karena menjadi hamba Tuhan dibayar hanya 20 juta, maka ia telah memberikan persembahan 80 juta setiap bulan. Tapi kalau orang yang tidak berkualitas, yang hanya digaji 2 juta di luar, lalu karena menjadi hamba Tuhan mendapatkan 10 juta, maka ia sudah mencuri 8 juta uang Tuhan. Tuhan berhak atas otak-otak yang terbaik, talenta-talenta terbaik, orang-orang yang berpotensi terbaik, dan mereka yang berkarakter paling baik untuk kemuliaan-Nya. Kekristenan sedang membawa kebenaran ke tengah dunia. Maka Institut Reformed harus mendidik dan melatih orang-orang yang berjuang untuk theologi Reformed dan iman yang sejati ini. Gereja Reformed harus sungguh-sungguh mengajarkan firman Tuhan dan memberitakan Injil ke mana-mana. Hal ini tidak boleh dikompromikan.

Kedua, jika sudah ada dorongan kuat di dalam diri, maka kemudian timbul damai sejahtera Tuhan di dalam diri yang akan mendorong seluruh langkah (Kol. 3:15). Biarlah sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu. Orang yang sudah dipanggil menjadi full-timer tetapi menolak dan melarikan diri, ia akan kehilangan damai sejahtera. Tuhan akan mengusik engkau. Ketika engkau taat, maka damai sejahtera Tuhan akan menyertai. Inilah tanda kedua Tuhan memanggil engkau.

Ketiga, jika kita tetap tidak mau taat, maka panggilan Tuhan di tingkat ketiga akan berupa pukulan yang membuat engkau gagal atau sakit atau seperti orang gila (Ibr. 12:10). Tuhan akan memukul sampai akhirnya engkau mau belajar taat. Ketika panggilan Tuhan tiba pada saya di usia 17 tahun, saya tetap tidak mau menyerahkan diri hingga usia 20 tahun. Selama tiga tahun itu saya telah berkhotbah 862 kali. Dan saya, yang part-timer berkhotbah, bisa sedemikian menyentuh dan mempertobatkan banyak orang; sedangkan yang full-timer kalau berkhotbah membuat orang mengantuk dan tertidur. Saya telah mengembangkan teknik pidato yang sangat sulit, yaitu no time-gap, sehingga orang akan terpaku dari awal hingga akhir. Kemampuan khotbah atau orator seperti ini tidak banyak dimiliki oleh para pemimpin dunia. Jadi saat itu saya tidak merasa perlu menjadi full-timer (penuh waktu). Tetapi Tuhan memukul saya dengan penyakit selama dua bulan hingga akhirnya saya menyerah. Saya merasa gaji saya di usia 17 tahun besarnya dua kali lebih besar dari gaji pendeta senior di gereja saya yang usianya sudah lebih dari 50 tahun dengan jemaat hampir 1.000 orang. Maka saya merasa tidak perlu menjadi full-timer. Tetapi Tuhan memukul saya begitu hebat. Ketika masuk sekolah theologi saya merasa apa yang diajarkan terlalu biasa karena saya merasa bisa mengembangkan pengertian itu jauh lebih dari apa yang diajarkan. Khotbah pertama saya di kampus menggemparkan seluruh kampus. Dosen homiletika saya mengatakan bahwa, “Engkau tidak perlu menyerahkan naskah khotbah terlebih dahulu untuk dikoreksi sebelum latihan khotbah.” Di usia 26 tahun saya telah berkhotbah kepada lebih dari 10.000 orang. Saya telah mengunjungi dan berkhotbah di lebih dari 1.500 gereja sebelum usia 40 tahun. Kita harus belajar taat kepada panggilan Tuhan. Jika tidak mau taat, Tuhan akan memukul kita dengan keras.

Jika ketiga hal di atas telah kita alami, maka kita tidak boleh lari lagi dari panggilan Tuhan. Dan ketika engkau masuk ke dalam gerakan ini, Gerakan Reformed Injili, engkau harus sungguh-sungguh belajar mematuhi kehendak dan perintah Tuhan. Berulang kali saya mengatakan, “Anda tidak datang untuk menolong atau berkontribusi. Anda datang untuk belajar dan untuk melayani. “Come to learn and come to serve.” Inilah prinsip yang benar. Kita adalah pelayan Tuhan. Kalau kita datang dengan semangat membantu, kita bukan menempatkan diri kita sebagai pelayan.

Gerakan Reformed Injili terus-menerus mencari pimpinan Tuhan yang berlainan dengan cara semua gereja lain. Kita terus mau kembali kepada prinsip-prinsip Alkitab yang sering kali tidak diikuti oleh banyak gereja. Unsur-unsur yang paling penting, yaitu otoritas dan kebenaran firman Tuhan; kerinduan untuk selalu mau mendapatkan pimpinan Roh Kudus dan menaatinya; merupakan hal-hal yang terus kita perhatikan. Banyak gereja dengan tradisi ratusan tahun memiliki banyak uang, organisasi yang kuat, tetapi lebih berjalan dengan pertimbangan manusia, tidak mengutamakan kerohanian dan otoritas Alkitab sebagai satu-satunya kebenaran di dalam hidup bergereja, sehingga akhirnya terus merosot. Gereja harus hanya menyenangkan hati Tuhan. Gereja harus hanya mempraktekkan prinsip kebenaran Alkitab. Gereja harus memiliki motivasi yang murni untuk kemuliaan Tuhan. Gereja harus menaati Tuhannya setiap menit dan setiap detik. Yang paling besar adalah Roh Kudus dan Firman, dan itu membawa iman dan pelayanan yang berapi. Saya berharap bisa mewariskan api pelayanan, api penginjilan, pengorbanan, kesetiaan, dan kemurnian motivasi pelayanan saya bagi generasi ini dan generasi berikutnya. Hingga saat ini, api saya tidak pernah padam. Api inilah yang saya harapkan terus ada di setiap hati yang mencintai Tuhan dan theologi Reformed. Api ini yang saya harap juga berada di setiap orang yang mengikuti gerakan ini. Bagi saya, yang terpenting adalah adanya pimpinan Tuhan, adanya semangat. Engkau tidak datang untuk menolong, tidak datang untuk menikmati, tidak datang untuk berkontribusi, tidak datang untuk mengkritik, tidak datang untuk menghakimi, tidak datang untuk minta dimanjakan. Gerakan ini bukan gerakan untuk menghibur. Gerakan ini adalah gerakan yang mau menjalankan perintah Tuhan.

Kita belajar dari Musa yang setelah studi begitu hebat, oleh Tuhan dibiarkan berkeliaran di padang selama 40 tahun sebelum Tuhan memanggil dan memakainya. Orang yang memiliki pengetahuan yang begitu banyak, punya talenta, dan kemampuan begitu banyak, oleh Tuhan disuruh mengurus kambing domba. Inilah cara Tuhan melatih seseorang. Tuhan bisa mengerjakan pekerjaan-Nya dengan cara yang begitu unik, yang tidak terpikirkan oleh manusia. Mungkin engkau adalah orang yang Tuhan pakai untuk meneruskan gerakan ini. Api seperti apa yang engkau miliki? Gerakan Reformed Injili merupakan wadah di mana kita bisa memberitakan dan mengajarkan kebenaran firman Tuhan tanpa perlu diundang dan diatur oleh gereja-gereja yang hanya mencari kesenangan, keinginan manusia, demi mendapatkan lebih banyak pengikut. Gerakan ini mengajar kita berdiri tegak menyatakan kebenaran dan ketaatan kepada Firman.

Yohanes Pembaptis adalah orang yang memilih padang belantara sebagai tempat ia berkhotbah. Jika ia berkhotbah di Bait Allah, dia akan mengalami kesulitan dan ditentang oleh para imam. Di situ ia bisa berteriak: “Bertobatlah kamu! Kerajaan Allah sudah dekat.” Tidak ada dukungan organisasi, tidak ada gedung, tidak ada mimbar yang kelihatan, tidak ada artis dan hiburan, tetapi ribuan orang datang dan mendengar firman Tuhan. Inilah kuasa firman Tuhan, inilah kuasa dari pekerjaan Roh Kudus. Gerakan ini adalah gerakan yang lain. Ketika saya mau mulai gerakan ini, ada orang datang menawarkan posisi menjadi gembala di sebuah gereja besar dengan imbalan yang cukup besar. Tetapi saya sama sekali tidak mau mempertimbangkan hal itu, karena panggilan Tuhan jelas untuk saya memulai gerakan ini. Kalau saya mau mencari keuntungan dan hidup nyaman, maka itu adalah pilihan yang menggiurkan. Juga kalau gerakan ini mempunyai cabang, tidak ada pusat mengirimkan uang ke cabang untuk mendukung mereka. Ini bukan cara GRII. Kita melatih setiap cabang untuk bisa berdiri sendiri. Jangan dibantu sebelum dilatih. Inilah prinsip gerakan yang berbeda. Setiap kita perlu dikirim ke medan peperangan, berani menghadapi musuh, berani mengalami sengsara dan aniaya, untuk bisa dipakai Tuhan. Saya sangat senang melihat para pendeta di gereja ini begitu bersemangat mau terus belajar, mau terus maju. Kita harus menyadari bahwa kita tidak cukup berkualitas untuk melayani Tuhan. Orang-orang kaya di GRII harus belajar baik-baik untuk melayani. Kita tidak memandang apakah engkau memiliki jabatan politik yang tinggi, atau memiliki kekayaan yang besar; jika engkau tidak sungguh-sungguh melayani, engkau tidak dihormati. Yang penting di sini adalah kesungguhan pelayanan yang mau mengabdi, mau berkorban, dan sikap sedemikian akan mendapatkan penghormatan dari setiap orang yang takut akan Tuhan. Setiap kita harus sangat berhati-hati. Pelayanan adalah mengerjakan pekerjaan Tuhan dan kita sedang melayani Tuhan. Mari kita belajar baik-baik, berjuang baik-baik, melayani baik-baik. Kiranya kita boleh mempersembahkan seluruh tubuh dan hidup kita menjadi persembahan yang kudus di hadapan-Nya. Amin.

13 tanggapan.

1. G. Dame T. Baringbing dari jakarta berkata pada 11 April 2012:

Saya sangat setuju sekali dengan tulisan ini. Biasanya orangtua sering sekali menomor duakan panggilan ini. Semoga banyak orang yang sadar, bahwa melayani Tuhan dengan sepenuh waktu adalah panggilan tertinggi dalam hidup ini.

Semoga dengan tulisan ini, mereka yang membaca bisa memahami betapa indahnya panggilan sepenuh waktu ini...

2. Aba dari Medan berkata pada 30 June 2012:

Terserah apa yang dikehendaki, penuh waktu, setengah waktu atau yang bagaimanapun boleh boleh saja, asal jangan mencari nafkah di dalam pekerjaan Tuhan. Ironisnya adalah banyak pendeta sudah menganggap pekerjaan Tuhan yang dilakukannya, merupakan sumber keuangan untuk memenuhi segala kebutuhannya sekeluarga. Banyak juga anak Tuhan yang tak bertitel pendeta juga menginjil dan mendoakan orang lain, ternyata mereka tak mau menerima sepeserpun dari pekerjaan ini. Untuk memenuhi kebutuhan mereka tetap bekerja atau berdagang. Apakah kita harus meminta bayaran untuk melakukan pekerjaan Tuhan? Seharusnya kita bersyukur kalau biaya pekerjaan Tuhan ini sudah ditanggung orang2 lain. Tak layak kita mengambil untuk memenuhi kebutuhan2 keluarga kita yang tak ada hubungannya dengan pekerjaan Tuhan. Seorang pendeta luar negeri pernah berkata "saya heran, kenapa banyak pendeta di sini tak bekerja mencari nafkah untuk keluarganya, dan mereka hanya mengharapkan persembahan untuk hidupi keluarga.

Semoga tulisan ini dapat menyadarkan pendeta yang belum bertobat.

3. Carlos dari Pontianak berkata pada 23 July 2012:

Halo Aba,

Bukan terserah apa yang kita kehendaki, tapi terserah apa yang Tuhan kehendaki. Jikalau seseorang dipanggil Tuhan menjadi full-timer, maka dia wajib berespon menjalani pelayanan full-timer, tidak boleh lari menjadi part-timer. Demikian juga jikalau seseorang dipanggil Tuhan menjadi pelayanan part-timer, maka dia wajib berespon menjalani pelayanan part-timer. Jikalau setiap hamba Tuhan harus bekerja mencari nafkah untuk keluarganya juga, maka secara tidak sadar kita menganggap panggilan part-timer lebih mulia daripada full-timer, padahal dua-duanya berasal dari Tuhan.

Saya tangkap salah satu point dari khotbah Pak Tong ini agar janganlah orang yang dipanggil menjadi pelayan penuh waktu malah melarikan diri menjadi pelayan awam, misal dalam kalimat kutipan ini : <i>"Ada juga orang-orang yang takut menjadi pelayan penuh waktu. Mereka takut berpenghasilan kurang, takut menjadi miskin jika menjadi seorang pendeta. Mereka berpikir lebih enak jadi pedagang sukses lalu belajar theologi. Dengan demikian dia bisa berkhotbah sambil memberikan persembahan yang besar ke gereja."</i>

<i>"Bagaimana kalau Stephen Tong lebih memikirkan jadi pedagang lalu jadi pengkhotbah part-time saja? Apakah ini lebih baik daripada saya sepenuh hidup memikirkan pekerjaan Tuhan, berkhotbah, dan melayani gereja Tuhan dengan seluruh potensi dan talenta saya?"</i>

Jadi aku baca maksud khotbah Pak Tong bukanlah agar semua hamba Tuhan harus bertobat bekerja mencari nafkah di samping melayani Tuhan =)

Klo pendapatku pribadi, seorang hamba Tuhan yang menyerahkan diri menjadi pelayan penuh waktu, sungguh-sungguh melayani Tuhan, kehidupan keuangan keluarganya beres (tidak mencuri uang gereja dll), kemungkinan ia dan keluarganya bergumul dalam hal keuangan. Namun toh ia dan keluarganya tetap rela bersama-sama menjalani panggilan Tuhan ini, meskipun bisa jadi hanya hidup sederhana, mungkin juga pas-pas-an di dunia, "hanya bergantung" pada penghasilan dari pelayanannya dan tidak bekerja karena pimpinan Tuhan jelas baginya untuk mempersembahkan segenap waktunya melayani Tuhan, aku akan sangat menghormati hamba Tuhan ini dan keluarganya =)

4. abi dari medan berkata pada 28 October 2012:

Pendeta yang punya anak seharusnya mencari pekerjaan atau bisnis untuk mempertanggungkan kewajibannya sebagai ortu. Tidak baik mencari keuntungan dari pelayanan kepada Tuhan memberi makan kepada anak. Kasihilah Tuhan, cukuplah persembahan dipakai untuk melaksanakan pekerjaannNya. Lihatlah Alkitab, tak ada pengikut2 Yesus yg mengambil keuntungan pelayanan dan mereka mengaku tidak mendapatkan apa2, bagaimana bisa lagi menafkahi keluarganya. 1 Petrus 5:2 Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. JANGAN DENGAN PAKSA, OK?

5. nyoman dari bali berkata pada 5 February 2014:

saya, mantan guide, skrg dipanggil mjd pelyan Tuhan/gembala sidang full timer di sebuah grj perintisan. and full heart tentunya..awalnya sempat khawatir dan cemas pd 5 bln pertama perintisan di desa krn sy punya 2 org anak yg msh sklh yg membutuhkan biaya. tapi ketika sy berdoa, Tuhan berbicara:'layanilah Aku, Akulah Tuanmu" dan sejak itu sy melayani Tuhan full timer, bljr mempercayakan hidup kami, masa depan kami, anak2,klrg dan pel.kpd-Nya. dan sejak itu Tuhan cukupkan kami dg cara-Nya yg ajaib, ada damai sjhtra, sukacita dan harapan yg hidup

6. Harsoyo dari sydney australia. berkata pada 24 February 2014:

Syalom.. Saya sangat ingin sekali belajar lebih dalam soal firman Tuhan ,dan sangat ingin sekali menjadi Hamba Tuhan. Adakah cabang reformed injili di Sydney.... Terima kasih .

Harsoyo

7. G. Dame T. Baringbing dari Jakarta berkata pada 20 August 2014:

Hi Aba, Saya sangat melihat semangatmu untuk membela pekerjaan Tuhan... dan Saya juga sangat melihat betapa gigihnya anda berharap supaya para hamba Tuhan tersebut tidak tersesat dalam pelayanannya. Harus tetap fokus dalam melihat pelayanan sehingga tidak mengharapkan ada uang dari pelayanan yang setiap kali merka berikan.

Tetapi kita perlu juga memberikan kesempatan dan ruang bagi kita untuk mengerti mereka dan segala pergumulan mereka. Dan cobalah melihat dengan lebih tenang... mungkin itulah cara Tuhan mencukupkan mereka.

Hati-hati, jangan terlalu cepat untuk menyikapi sesutau yang mungkin diluar dari bagian kita.

8. Budi dari Batam berkata pada 23 August 2014:

Saya sdh sering mengikuti kotbah pak Stephen Tong lwt UrbanTV diBatam.hal yg paling typical yg saya perhatikan;Pak Stephen sgt ideal utk jaman yg sdh maju spt sekarang.bukan hanya cerdas tapi juga punya pola yg jelas tentang kekristenan yg mau diajarkan.saya yakin keberanian mengkotbahkan pola yg clear sgt berkolerasi dg keberanian utk mempraktekkannya.kiranya Tuhan memakai pak Stephen Tong lebih widely.Gb us

9. SIMON BERHITU dari EUROPA berkata pada 22 March 2015:

Saya siap memberikan diri saya untuk melayani pekerjaan Tuhan dimana saja jika saya harus pergi. Saya tidak perlu biaya dari siapapun jika di utus. Saya ada mempunyai penghasilan tetap tidak perlu diragukan.

shalom

10. Gillian dari Tual-Maluku berkata pada 2 April 2015:

Terima kasih atas renungannya mengenai melayani Tuhan full time atau part time yang sungguh menarik karena sesuai dengan pergumulan saya secara khusus. Saya punya kerinduan untuk selalu melayani Tuhan karena saya adalah pelayan-Nya. Namun, saya dihadang dengan aturan gereja yang tidak memperbolehkan saya melayani di salah satu gereja hanya karena beda denominasi. Saya sudah menghadap pimpinan gereja, namun sampai sekarang tidak diperbolehkan hanya karena beda denominasi padahal surat keterangan dari gereja asal saya sudah saya berikan sebagai syarat yang diminta. Pertanyaannya kalau saya dihadang oleh aturan gereja yang tidak memperbolehkan saya melayani, lalu saya harus bagaimana? apakah saya harus berhenti dalam pelayanan Tuhan? Oh tentu saja tidak, aturan gereja tidak memperbolehkan saya melayani hanya karena beda denominasi saja tapi Tuhan tetap menginginkan saya melayani, dan saya pun menjadi seorang guru sekolah minggu saat ini. Bagi saya menjadi seorang guru sekolah minggu adalah sebuah pelayanan yang juga dihargai Allah karena kita melayani anak-anakNya yang adalah generasi penerus gereja. Tak masalah bagiku kalau saya seorang Pdt namun saat ini menjadi seorang guru sekolah...Saya tetap akan melayani-Mu Tuhan.

11. Paulus MaxMillian Vetter dari Tangerang berkata pada 28 October 2015:

Segala Kemuliaan hanya bagi Nama Tuhan yang Maha Tinggi, amin. Ada kalimat pak Pdt. Stephen Tong berikut "Come to learn, Come to serve" Puji Nama Tuhan, ini berita 2009 saya baru membaca di 2015, tak ada kata terlambat, api terus menjalar keberbagai pelosok dan biarkanlah api semangat tersebut ada dalam saya dan saudara. Pak Pdt. Stephen Tong, Kuatkanlah dan Teguhkanlah Hatimu, Haleluya!.

12. Lin dari Surabaya berkata pada 22 January 2017:

Dari pembacaan di atas saya binggung sebenarnya. Awal orang menjadi pendeta itu bagaimana? Kalo semisa di dalam lubuk hati ada panggian untuk melayani Tuhan penuh waktu tapi, belum ada penghasilan tetap setiap bulan, dan belum sekolah teologi. Step awalnya bagaimana?

Terimakasih

13. G. Dame T. Baringbing dari Jakarta berkata pada 26 January 2017:

Utk Sdri Lin di Surabaya.

Kalau mau jadi Pendeta: 1) Sekolah teologi (hal ini perlu, khususnya bagi beberapa gereja yang mainstream, sangat menekankan kepada semua calon pendetanya harus lulusan sekolah teologi.

2) Melamar di satu Jemaat untuk menjadi tenaga pengerja (Rohaniawan).

3) Ikutin sampai selesai semua tahap-tahap untuk dipendetakan. Selesai.

Melayani Tuhan dengan penuh waktu.... dapat dilakukan di berbagai bidang. Gak harus jadi pendeta. Jadi dokter, arsitek, guru, apa pun kegiatannya, yang penting hatinya, tujuannya untuk memuliakan Tuhan di muka bumi ini, hidup yang berdampak kepada sesama, itu sudah melayani Tuhan penuh waktu.

Tetapi jika anda mempunyai pergumulan khusus akan panggilan khusus... maka jalanilah dengan cinta.

Salam Damai.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲