Transkrip

Pengakuan Iman Rasuli – Bagian 1: Butir Pertama (1)

Pengakuan Iman Rasuli (PIR) merupakan dokumen pertama yang mengubah seluruh konsep alam semesta yang pernah dipikirkan manusia. Sebelum adanya PIR, pemikiran filsafat Yunani memonopoli studi alam semesta dan menjadi pikiran terpenting. Kebudayaan Tionghoa dan India menjelaskan alam semesta secara kabur dan tidak jelas. Sementara orang Yunani berpendapat bahwa manusia dapat menyelidiki alam semesta dengan pikirannya sendiri. Maka, mereka mulai melihat lebih dahulu daripada bangsa lain dalam hal mengetahui bintang-bintang yang ada di angkasa. Lalu Yunani menaruh bintang menjadi objek studi yang diasumsi, diamati, dan dicatat. Diamati dengan mata telanjang karena masih belum ada teleskop. Sampai hari ini dalam bangsa besar dan kebudayaan penting ada alat astronomi. Di Nanjing (Tiongkok) masih ada alat astronomi yang sangat rumit yang dibuat sekitar 650 tahun lalu di awal Dinasti Ming, Dinasti Sung, dan sebagainya. 

Kali ini saya ingin menekankan apa hubungan alam semesta dengan manusia, di mana manusia menjadi subjeknya dan alam semesta ini menjadi objek penyelidikannya. Manusia menyelidiki alam semesta, tetapi alam semesta menjadi tidak penting dan manusia itu yang menjadi penting. Dalam pemikiran seperti ini, diharapkan manusia bisa menguasai, atau paling tidak, mengerti alam semesta. Manusia ingin mengerti dan menguasai langit, bumi, alam, tumbuhan, hewan, dan semua makhluk lain. Memang manusia diciptakan lebih tinggi dari segala ciptaan dan manusia diciptakan paling mirip dengan Allah.

Ketika muncul PIR, terjadilah penerobosan besar. Yunani melihat alam semesta sebagai sistem tertutup (closed system). Dalam sistem tertutup, manusia adalah yang tertinggi dan menguasai alam semesta sebagai tuan di atasnya. Alam semesta sebagai lingkungan di mana kita ada dan menjelajah. Maka, sejak zaman pra-Sokrates hingga Aristoteles, penyelidikan alam semesta menjadi salah satu cabang filsafat terpenting, yang disebut kosmologi.

Jika Anda melihat lukisan besar, The School of Athens, karya Raphael, akan terlihat puluhan filsuf yang pada pusatnya hanya ada dua orang, yaitu Plato dan Aristoteles. Satu tangan Plato memegang buku dan tangan satunya menunjuk ke langit; satu tangan Aristoteles juga memegang buku dan tangan lainnya menunjuk ke bawah. Di sini mau diungkapkan bagaimana Plato menginterpretasi alam semesta berbeda dari Aristoteles. Plato mementingkan idealisme dan dunia kosmologi, maka ia memegang buku Timaeus (berarti menyelidiki alam semesta) dengan tangan menunjuk ke atas menyatakan ia mempelajari kosmologi. Raphael menggunakan Leonardo da Vinci sebagai model Plato. Plato mendirikan sekolah tinggi bernama Akademia, yang memiliki ratusan murid. Tetapi ada satu muridnya yang istimewa dari Makedonia, yaitu Aristoteles. Akhirnya Plato menyimpulkan, “Akademia terdiri dari dua unsur, yaitu badan semua murid dan otak dari seorang genius yang namanya Aristoteles.” Ini adalah kalimat besar dan terbukti karena Aristoteles seumur hidup menulis lebih dari seribu buku dalam berbagai bidang yang berbeda. Tiap buku yang bersifat otoritatif dan memiliki nilai yang sangat tinggi di zamannya. Ia menulis buku Meteorology yang membicarakan tentang berbagai bintang, buku Geology tentang lapisan-lapisan bumi, dan buku Movement of Animals tentang binatang dan geraknya. Buku-buku ini disimpan oleh muridnya di perpustakaan terbesar di dunia dan terpenting, yakni perpustakaan di Alexandria (Mesir, Afrika).

Ada yang mengatakan bahwa Sokrates, Plato, dan Aristoteles sudah memikirkan semua yang pernah dipikirkan manusia dari zaman ke zaman. Jadi, dari Adam sampai sekarang, semua yang pernah dipikirkan manusia, tidak ada satu pun yang tidak pernah tidak dipikirkan oleh tiga orang besar ini. Memang, Yunani sejak 2.500 tahun lalu telah menghasilkan tiga genius dari tiga generasi: guru, murid, dan cucu murid. Sebelum mereka memikirkan tentang alam semesta, buku yang ada cuma berkisar dua tema: On Principles dan On Nature. Semua orang yang berani menulis dua tema ini dipandang sebagai orang yang memiliki intelektualitas tinggi. On Nature tentang alam; On Principles tentang prinsip, yaitu memakai prinsip apa kita studi tentang alam dan mengajar, menyalurkan pengetahuan kepada dunia tentang alam.

Perkataan Sokrates yang revolusioner, “Yunani mau tahu apa pun, gunung, laut, padang, gurun, rimba, tanah, dan pulau, tetapi tidak mau tahu tentang diri sendiri. Apa gunanya?” Kalimat ini menggugah seluruh bangsa, bahwa mereka harus mempelajari diri sendiri. Belajar gnothi seauton (Yun.) artinya: know yourself. Pasca Sokrates, filsafat tidak berhenti di kosmologi, mulai menelusuri antropologi, etika, interpersonal relationship, metode masyarakat, maka pengetahuan bukan hanya yang di luar diri tetapi juga ke manusia sendiri.

Ketika PIR muncul, ia pertama kali langsung menerobos, sehingga manusia bukan menjadi subjek yang menyelidiki objek, yaitu alam semesta, tetapi mengaku bahwa di antara kita ada suatu kekuatan, rahasia, metode, prinsip, wahyu, hikmat dari atas kita, dan kita mengetahui pemiliknya bukan kita, tetapi Tuhan. Maka, selain dunia yang kita lihat, kita harus menemukan suatu penyebab di luar alam semesta, yang lebih tinggi daripada diri kita, sehingga dari situ kita mengerti dan memberikan hikmat pada kita. Hikmat itu membuat kita mengerti bagaimana mengetahui dan menyelidiki alam semesta.

PIR menjadi suatu terobosan besar di mana mitologi Tionghoa dan India masih kacau dalam menjelaskan tentang alam semesta. Orang India mengerti alam semesta sebagai suatu dataran besar di mana ada empat gajah yang menopang empat sudutnya, sehingga bumi yang rata ini bisa berdiri. Jika gajah itu bergoyang, terjadilah gempa bumi. Orang Tionghoa mengerti alam semesta berasal dari Pan-gu, seorang tua yang ada di dalam suatu telur. Telur itu membungkusnya, lalu memakai palu mengetuk ke atas, sehingga kulit telur itu makin besar dan makin tinggi. Akhirnya kulit yang di atas menjadi langit dan kulit yang di bawah menjadi bumi. Pemikiran seperti ini sama sekali tidak memiliki bukti dan dukungan ilmiah. Inilah cara dunia Timur mengerti alam semesta.

Sekitar tahun 585 SM, Thales, orang pertama di dunia filsafat Gerika berani mengatakan, “Pada tanggal 28 Mei 585, kalian tidak akan melihat matahari.” Orang-orang menertawakan, menyindir, dan menghina dia. Tetapi tepat pada hari itu, apa yang dikatakannya terjadi. Mereka terkejut dan bingung bagaimana Thales tahu hal itu. Ternyata Thales sudah berhasil menghitung gerakan matahari, bumi, dan bulan, sehingga bisa menduga terjadinya gerhana. Maka, gerhana sudah diketahui oleh manusia sejak kira-kira 500 tahun sebelum Yesus lahir. Tetapi ini adalah suatu pengertian, penelitian, dan penyelidikan dengan sistem tertutup.

Sampai di zaman Isaac Newton, ia masih menggunakan sistem tertutup untuk mengerti alam semesta. Barulah di abad ke-20 ada seorang filsuf, Thomas Kuhn, berkata, “Kita perlu paradigm shift, hingga ada metode dan konsep baru yang berbeda. Konsep dan paradigma yang berubah memerlukan sistem terbuka. Suatu sistem terbuka menyebabkan kita mengerti segala sesuatu dan tidak lagi diikat. Orang yang diikat oleh konsep Arminian tidak mungkin mengerti Alkitab; orang yang diikat oleh konsep komunisme tidak mungkin mengerti demokrasi; orang yang diikat oleh konsep feodalisme tidak mungkin mengerti dunia modern; orang yang diikat oleh pikiran Islam tidak mungkin mengerti Allah Tritunggal.

Sistem tertutup mengikat dan mematikan pikiran dan pengertian manusia, sehingga manusia menjadi budak dari sistem tertutup seumur hidupnya. Ketika masih muda, saya terus memikirkan gereja seharusnya bagaimana. Akhirnya saya mengetahui sebenarnya apa yang diajarkan Alkitab tidak sama dengan apa yang kita terima dari para pendeta tua. Untuk berani menerobos yang sudah terbiasa selama ini, perlu suatu paradigma kebebasan. Ketika saya mempelajari dan menyelidikinya, saya sangat terkejut. Sistem terbuka pertama bukan dari Thomas Kuhn, tetapi dari PIR.

Dengan butir pertama: “Aku percaya kepada Allah, Bapa yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi.” Dalam butir ini kita melihat terbukanya suatu sistem baru untuk manusia yang melampaui pemikiran Yunani. Orang Yunani berkata setelah melihat alam semesta, tidak ada yang lebih lagi dari itu. Tetapi saat orang Kristen melihat alam semesta, melihat ada Allah di atas yang menjadi Bapaku: Ialah Sang Pencipta, Sang Allah Bapa, yang memberikan hidup baru padaku, maka aku disebut anak-Nya. Jika dibandingkan dengan mitologi Tiongkok (Pan-gu) dan mitologi India (empat gajah), kita segera melihat dan perlu memaklumi bahwa mereka tidak memiliki wahyu Tuhan. Mereka bahkan tidak mengerti bahwa bumi ini bulat. Setelah Magellan mengitari bumi satu kali, atau ketika Columbus menemukan benua Amerika, barulah manusia mengetahui bahwa bumi ini bulat. Setelah Vasco da Gama, Columbus, dan Magellan, barulah orang percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Copernicus benar adanya. Bahkan kemudian Copernicus memberitahukan kita bahwa bumi yang mengitari matahari, bukan matahari yang mengitari bumi. Namun, semua ini baru bisa dimengerti setelah orang menerima dan mengerti Alkitab, mengerti Sang Pencipta sebagai unsur paradigma yang baru, unsur sistem terbuka yang dimungkinkan, “Aku percaya kepada Allah, Bapa yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi.”

Butir pertama ini berkata tentang Allah. Butir kedua dan ketiga berbicara tentang adanya batas antara yang dicipta (yang pasif) dan yang mencipta (yang aktif). Jika tidak ada inisiatif dari pencipta, maka tidak ada objek ciptaan yang jadi. Jika Allah tidak merencanakan dan memiliki tujuan dalam menciptakan segala sesuatu yang kemudian dilaksanakan dalam aktivitas penciptaan dan menerjunkan diri di dalam karya ciptaan-Nya, maka tidak ada sesuatu pun yang jadi. Segala sesuatu bisa ada karena Tuhan yang mengadakan, dari yang tidak ada menjadi ada. Ini semua seturut dengan rencana pertama Allah, yaitu penciptaan.

“Aku percaya kepada Allah” adalah satu pernyataan yang besar sekali. Dengan kalimat ini kita membagi manusia menjadi dua kelompok, yaitu: theis dan atheis. Atheis percaya tidak ada Allah, sementara theis percaya ada Allah. Ada yang berkata ada Allah di luar diri manusia, dan ada yang mengatakan tidak ada. Tetapi sebenarnya, Allah tidak mungkin menjadi ada karena kita percaya Dia ada, atau sebaliknya menjadi tidak ada karena manusia tidak percaya Dia ada. Jika tidak demikian halnya, maka kita memiliki subjek iman yang menjadi penentu untuk segala tujuan dan kekakuan menuju objek iman. Manusia dengan subjektivitasnya menyebabkan ia hanya dapat mengubah diri, tidak bisa mengubah fakta yang ada di luar dirinya. Allah bukan hasil proses menjadi. Ia tidak menjadi ada atau menjadi tidak ada. Istilah “menjadi” tidak tepat dan tidak layak dikenakan pada diri Allah yang kekal. Allah tidak mungkin “menjadi” ada, dan tidak ada unsur apa pun yang bisa menjadikan Ia ada. Allah ada pada diri-Nya sendiri, tanpa perlu penyebab.

Allah adalah yang ada pada diri-Nya sendiri, yang konsisten tidak berubah, kekal, tidak mengalami perubahan, tidak mengalami proses, dan tidak membutuhkan penyebab. Maka konsep “percaya kepada Allah” ditanamkan oleh Allah ke dalam diri manusia yang diciptakan menurut peta teladan Allah. Dengan demikian, setiap manusia tidak mungkin tidak memiliki konsep Allah di dalam dirinya. Semua orang mengetahui dan percaya ada Allah, karena Allah telah menanamkan konsep keberadaan diri-Nya di dalam manusia yang diciptakan menurut peta teladan Allah sendiri. Tetapi jika seseorang memiliki kepercayaan terhadap Allah kurang benar, bukan Allah yang kurang benar, tetapi mata, pandangan, pemikiran, dan konsep orang itu yang telah mengalami distorsi.

Misalnya, sebuah pena jika saya taruh di dalam gelas berisi air, maka seolah-olah pena tersebut bengkok. Tetapi pena itu sebenarnya tidak bengkok. Yang membuat pena itu terlihat bengkok adalah mata dan pikiran kita. Memang terlihat mata kita baik, tetapi pandangan mata kita tidak tahu bahwa ketika pena itu melewati air, mengalami pembiasan sehingga kita melihat pena itu bengkok. René Descartes, seorang filsuf Prancis mengatakan, “Dalam hal seperti ini terbukti ada distorsi yang dikerjakan setan.” Ini pertama kali di dalam sejarah filsafat, seorang filsuf memakai istilah “setan” untuk menjelaskan fenomena yang kita rasa tidak benar. Ia berkata tentang istilah di dalam ide yang disebut “clearness of idea”. Ide yang jelas di pikiran kita sering menjadi tidak jelas dalam fakta, maka kita bisa salah melihat fakta. Fenomena dan realitas selalu ada jarak, sehingga kita ditipu oleh fenomena (gejala yang kita lihat) dan tidak mengetahui dengan sesungguhnya realitas yang asli, tepat, akurat, dan yang tidak salah.

Pada saat engkau pergi ke sebuah desa yang belum pernah tersentuh pendidikan, lalu engkau bertanya: dunia mengelilingi matahari atau matahari mengelilingi bumi? Mereka akan menjawab matahari mengelilingi bumi. Orang yang tidak mengerti, akan mempertahankan sistem tertutup, lalu mencela dan memaki-maki orang yang mengerti dengan menggunakan sistem terbuka. Di sini kita melihat ada jarak antara fenomena dan realitas. Orang yang tidak mengerti selalu tertipu oleh fenomena.

Dengan pemikiran di atas saya membawa Anda memikirkan PIR:“Aku percaya kepada Allah.” Ada tiga macam orang, a) theis (aku percaya Allah dan Ia ada); b) agnostik (aku tidak percaya Allah, tidak peduli Ia ada atau tidak); dan c) atheis (aku percaya tidak ada Allah). Yang pertama, salah satunya adalah orang Kristen, percaya Allah dengan satu iman di dalam saya tentang Allah di luar saya. Orang kedua berkata, saya tidak percaya Allah, atau tepatnya tidak peduli Dia ada atau tidak, pokoknya aku tidak percaya. Ini adalah orang agnostik, karena ia beranggapan Allah tidak mungkin diketahui manusia, sehingga tidak mungkin berelasi dengan Allah. Orang ketiga berkata, saya tidak percaya ada Allah. Ini orang atheis.

Selain ketiga macam orang ini, masih ada yang disebut pantheis, yang percaya Allah ada di alam. Seluruh alam jika digabungkan, totalitas itu disebut Allah. Alam adalah Allah dan Allah adalah alam. Salah seorang pantheis terkenal di dalam sejarah adalah Benedict Spinoza, seorang Yahudi yang tinggal di Amsterdam, Belanda. Ia seorang pantheis, tidak percaya ada Yehovah yang menciptakan langit dan bumi, akhirnya ia dikucilkan dari sinagoge Yahudi. Saat dikucilkan, dalam upacara ekskomunikasi dengan memasang dua belas lilin yang mewakili setiap suku Israel, maka setiap lilin ditiup sambil orang berteriak, “Terkutuklah engkau. Engkau tidak mendapat bagian dalam suku Simeon.” Setelah semua lilin ditiup, pintu dibuka dan ia diusir keluar. Sejak saat itu, Spinoza di Amsterdam sampai mati, tidak seorang Yahudi pun boleh menyapanya. Ia tidak menikah dan menjadi seorang penggosok lensa optik. Tidak ada lagi orang Yahudi yang memesan lensa kepadanya. Ia hanya mendapat uang dan pekerjaan dari orang Belanda, sehingga sisa sedikit orang yang mengenal dia. Ia sering kelaparan, tidak cukup makan, susah sampai mati sebatang kara. Orang Yahudi percaya pada Allah, tetapi sampai pada butir kedua, “Aku percaya pada Yesus Kristus,” orang Yahudi sudah tidak mau percaya.

Menurut legenda, ketika dua belas rasul terakhir kali berkumpul di Yerusalem, sebelum pergi ke seluruh dunia menginjili, mereka menetapkan apa yang akan dikabarkan, apa yang harus dipercaya oleh orang Kristen di seluruh dunia dan segala bangsa. Pada saat itu, kedua belas rasul masing-masing memberi sumbangsih satu per satu, lalu dikumpulkan, diselidiki, disetujui, dan sepakat menjadi dokumen untuk seluruh dunia. Setelah mereka pergi, tidak satu pun yang kembali lagi, karena semua mati martir, kecuali Yohanes, rasul yang termuda. Pada saat itu, menjadi orang Kristen berbahaya, didiskriminasi, dianiaya, dibunuh. Sekarang di Indonesia menjadi orang Kristen terlalu mudah, enak, bebas, dan istimewa. Ketika engkau menikmati hak kebebasan sebagai Kristen, hendaklah engkau mengaku: pertama, Aku percaya pada Allah. Ia ialah Bapa yang Mahakuasa, Ia Pencipta langit dan bumi. Amin.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲