Transkrip

Pengakuan Iman Rasuli – Bagian 13: Butir Kedua (7) Dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita

Setiap kali Tuhan campur tangan di dalam sejarah, Ia ingin agar manusia tahu bahwa Dialah Allah. Selain Dia tidak ada ilah lain. Di zaman Musa, Allah berkata kepadanya bahwa kuasa-Nya melampaui kuasa raja. Di zaman Daniel, Allah pun memberi tahu warga Babel bahwa kuasa-Nya melampaui kuasa raja di sana. Saat kaisar Romawi menyebut diri sebagai tuhan, maka Allah mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal menjadi Tuhan bagi umat manusia.

Alkitab menyatakan bahwa Kristus adalah Anak Tunggal Allah. Banyak kaisar menganggap diri mereka sebagai anak dewa. Dewa-dewi Romawi diambil dari kebudayaan Yunani, kehidupan moral mereka sangat kacau, lebih buruk dari manusia. Ada iri hati, perselisihan, perzinahan, sampai pembunuhan. Mereka menganggap kaisar, yang sebagai anak tuhan, berkuasa melebihi sesamanya. Sekitar 300 tahun sebelum Kekaisaran Romawi dibangun, tahun 753 SM, di Kerajaan Makedonia, Alexander Agung pun menyebut dirinya sebagai anak dewa. Ibunya berkata bahwa ia telah bersetubuh dengan dewa lalu melahirkan Alexander. Allah mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal, dilahirkan di dunia menyatakan kepada manusia bahwa Anak-Nya yang Tunggal, Yesus Kristus, saja yang adalah Tuhan. Ada agama yang memiliki 360 juta dewa. Ada agama yang juga menyatakan bahwa allahnya tidak dilahirkan dan tidak melahirkan.

Yesus, Anak Tunggal Allah, telah dinubuatkan sebelumnya di dalam Perjanjian Lama. Meski di dalam Perjanjian Lama hampir tidak ditemukan istilah “Anak Allah” tetapi di beberapa bagian Perjanjian Lama terselubung tentang hal ini, seperti pada Amsal 30:4, “… Siapa yang telah menetapkan ujung bumi? Siapa namanya dan siapa nama anaknya?” Di sini terselubung berita tentang Allah dan Allah Anak. Di awal Perjanjian Baru, wahyu tentang Anak Allah lebih jelas lagi diberitahukan. Malaikat Gabriel datang kepada Maria dan berkata, “Yang akan engkau lahirkan akan disebut sebagai Sang Kudus, Anak dari Allah yang Mahatinggi.” Sang Kudus dan Anak dari Allah yang Mahatinggi adalah dua dari tujuh nama yang malaikat berikan kepada Yesus. Malaikat memberitahukan Yusuf bahwa anak yang dilahirkan akan diberi nama Yesus, Imanuel. Malaikat berkata kepada para gembala bahwa anak yang dilahirkan malam itu disebut Tuhan, Kristus, dan Juruselamat. Malaikat juga berkata kepada Maria bahwa Anak yang akan dilahirkan akan disebut Sang Kudus, Anak Allah yang Mahatinggi. Sampai pada zaman Bapa-bapa Gereja, Origen memperkembangkannya menjadi konsep diperanakkan dalam kekekalan.

Jika Yesus Anak Allah dan Allah itu Bapa dari Yesus, siapakah ibu-Nya? Allah bukan manusia, maka tidak bertubuh dan tidak perlu beristri. Allah itu Roh, maka ketika kita memikirkan tentang Allah, janganlah kita menggunakan konsep manusia kepada diri Allah, karena Allah adalah Pencipta, bukan ciptaan. Segala sesuatu diciptakan, hanya Yesus diperanakkan. Itu berarti Yesus memiliki esensi yang sama dengan Bapa. Yesus ialah Anak Allah, maka hidup Yesus sama dengan hidup Bapa. Yohanes 5:26 berkata, “Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.” Kalimat ini hanya muncul satu kali. Allah bukannya memakai eksistensi lain untuk menjadi fondasi bagi eksistensi-Nya, tetapi Allah ada pada diri-Nya sendiri dan kekal. Dan hidup yang ada pada diri-Nya sendiri dan kekal ini yang disebut sebagai Allah. Ketika Yesus lahir ke dunia, Allah berkata, “Sebagaimana Allah dalam diri-Nya sendiri memiliki hidup, Ia juga memberikan kepada Anak-Nya dalam diri-Nya ada hidup pula.” Hidup Bapa adalah hidup yang ada dalam diri-Nya sendiri, sementara hidup Anak itu diberikan Bapa.

Apakah hidup Anak adalah hidup yang untuk selamanya? Jika di dalam diri-Nya ada hidup, masih perlukah diberikan lagi? Hal ini berhubungan dengan perbedaan sifat ilahi dan sifat manusia. Anak keluar dari Bapa, sehingga sebelum Bapa memperanakkan Dia, Ia ada di dalam Bapa. Yohanes 17 mengatakan, “Bapa ada di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” Yesus berkata, “Milik-Mu adalah milik-Ku, dan milik-Ku adalah milik-Mu. Aku dan Bapa adalah satu.” Bapa dan Anak ada selamanya. Di dalam kekekalan Mereka sama-sama ada. Bapa memperanakkan Anak dalam kekekalan. Origen berkata, “Yesus diperanakkan Bapa di dalam kekekalan.” Tidak bisa dikatakan Bapa ada dahulu baru ada Anak, karena jika Bapa ada terlebih dahulu baru ada Anak, maka sama halnya engkau memakai hidup manusia yang dicipta lalu diletakkan di atas diri Allah. Allah itu kekal, dalam diri Allah tidak ada unsur ciptaan, maka tidak ada urutan siapa yang lebih dahulu maupun siapa yang terakhir. Istilah Origen untuk ini: generasi kekal (eternal generation).

Di Abad Pertengahan, seorang apologet menafsirkan Pengakuan Iman Athanasius. Allah diperanakkan Allah, terang diperanakkan terang, atau hidup diperanakkan hidup. Dengan ilustrasi yang sangat sederhana dan pemikiran yang sangat agung ia menjelaskan kondisi Sang Anak yang Kudus yang kita percaya. Ia berkata, “Ada satu obor, yang disebut obor pertama. Saat obor kedua mendekati obor pertama, api dari obor pertama menjalar ke obor kedua. Maka obor kedua ikut menyala. Kita mengatakan obor pertama yang pertama kali menyala, lalu menjalar ke obor kedua. Ia berkata, api obor kedua sebenarnya sudah ada sebelumnya di dalam obor pertama. Maka saat ia menjalar ke obor kedua, sebenarnya ia sudah ada terselubung dalam obor pertama. Demikian juga hidup Allah. Bapa dalam diri-Nya ada hidup, diberikan kepada Anak, dan sama halnya dalam diri-Nya ada hidup. Kita tidak bisa berkata, ada Bapa dahulu baru ada Anak. Tuhan tidak berada di dalam kerangka dan ikatan kronologi waktu. Allah adalah Tuhan Sang Pencipta, dan waktu pun Ia ciptakan. Di dalam kekekalan tidak ada waktu. Setelah Allah menciptakan waktu baru ada permulaan waktu. Allah di dalam kekekalan memperanakkan Anak; Bapa dan Anak di dalam kekekalan ada bersama-sama. Sulit bagi kita untuk mengerti hal ini. Dengan pengertian di atas, maka bisa disimpulkan barulah kita mengerti adanya Bapa jika ada Anak, karena sebelum ada Anak, tidak ada relasi Bapa-Anak. Dengan demikian tidak bisa dikatakan ada Bapa terlebih dahulu baru ada Anak. Demikian pula halnya ada Anak karena ada Bapa. Eksistensi Anak ada, maka Bapa ada; eksistensi Bapa ada, maka Anak ada. Pada saat Allah memperanakkan Anak-Nya, barulah kita mengerti bahwa ada Bapa yang memperanakkan Anak-Nya.

Konsep tentang Anak Allah ini harus melampaui waktu dan dilihat dari esensi Allah. Di dalam kekekalan, Bapa dan Anak ada bersama-sama. Dalam dunia ciptaan Allah telah menyatakan karya yang ajaib. Allah berkata, “Engkau Anak-Ku, hari ini Aku memperanakkan Engkau.” Hari ini adalah “sekarang”-nya kekekalan, kini yang bersifat kekal. Maka kita harus membedakan dua hal ini: diciptakan atau diperanakkan. Yang diciptakan bukan diperanakkan; yang diperanakkan bukan diciptakan. Demikianlah Yesus adalah Anak Tunggal Bapa.

Ada tiga hal yang bisa kita lihat, yaitu: 1) Ia memiliki hidup yang sama dengan Bapa, karena Ia adalah Anak; 2) Ia sama sekali berbeda dari semua makhluk yang diciptakan, karena segala yang lain itu diciptakan, sementara Yesus diperanakkan. Ini memberikan perbedaan kualitatif; dan 3) Tunggal, berarti tidak ada bandingnya, tidak ada seorang pun bisa disebut sebagai anak tunggal Allah, karena hanya Dialah Anak Allah yang Tunggal. Inilah iman kita. Selain Dia, tidak ada lagi Tuhan. Para raja, majikan, penguasa bukanlah Tuhan. Yesuslah satu-satunya Tuhan dalam dunia ciptaan ini, yang sendiri-Nya tidak dicipta. Kita semua dicipta, Yesus diperanakkan.

Roh Kudus memiliki sifat ilahi dan kekal. Dalam Ibrani 9:14 dikatakan, “Betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.” Di seluruh Alkitab, hanya satu kali saja di sini disebutkan Roh Kudus sebagai Roh yang kekal. Allah kekal, Kristus kekal, Roh Kudus juga kekal. Roh Kudus kekal dan bukan diciptakan. Yesus dalam kekekalan diperanakkan, maka Yesus kekal dan tidak berawal. Yesus dari dahulu sebelumnya sudah ada, sejak dalam kekekalan Ia sudah ada. Mikha 5:1 mengatakan, “Hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” Kristus bukan hasil dari waktu dan tidak bermula. Ia diperanakkan dalam kekekalan, maka Ia kekal. Inilah yang dinyatakan oleh Ibrani 9:14.

Alkitab tidak berkata Roh Kudus ialah Roh yang tunggal, maka Roh Kudus bukan diperanakkan. Allah yang ada dengan sendiri-Nya dan Anak yang diperanakkan dalam kekekalan. Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak. Kita harus sepenuhnya waspada memakai istilah ini. Alkitab berkata, Allah ada dengan sendiri-Nya, Yesus diperanakkan dalam kekekalan, Roh Kudus bukan dicipta dan juga bukan diperanakkan, Roh yang keluar dari Bapa dan Anak, yaitu Roh Bapa dan juga Roh Anak. Maka Roh Kudus ialah Roh Allah, Roh Kudus ialah Roh Yesus, Roh Kudus ialah Roh Kristus, Roh Kudus ialah Roh yang diutus dari Bapa dan Anak. Yang diciptakan, dilahirkan, diutus, memiliki eksistensi kekal dari Bapa; Anak diperanakkan dalam kekekalan, Roh Kudus diutus Bapa dan Anak. Theologi ini sangat agung.

Yesus ialah Anak Allah, Yesus juga adalah Allah. Anak Allah adalah Allah, Allah memperanakkan Allah. Manusia memperanakkan manusia. Tetapi manusia memperanakkan manusia menjadi dua manusia. Tetapi Yesus ialah Anak Allah, dan Yesus adalah Allah, yang esa, hanya satu. Bapa ialah Roh, Anak ialah Roh, Roh Kudus ialah Roh. Allah Bapa Pribadi pertama, Allah Anak Pribadi kedua, Allah Roh Kudus Pribadi ketiga. Bukan tiga Allah, melainkan satu Allah. Tiga Pribadi, Satu Hakikat, itulah Allah Tritunggal.

Orang Muslim berkata, “Allah tidak dilahirkan dan tidak melahirkan. Ia Esa.” Mari kita melihat dari pemikiran seperti ini: satu titik itu satu. Begitu titik itu digeser, ia akan membentuk garis. Ketika garis digeser akan membentuk bidang. Jika bidang digeser akan membentuk ruang. Maka kita melihat adanya: titik, garis, bidang, dan ruang. Ketika sudah menjadi bidang, maka titik itu hilang. Ketika titik sudah menjadi satu bidang, ia bukanlah titik lagi. Jika titik itu ada, maka ketika kita ingin membesarkan titik itu, kita akan kesulitan untuk mengetahui sebenarnya berapa luas titik itu. Bidang juga tidak ada, karena jika bidang itu memiliki ketebalan sehingga ia menjadi bidang, maka ia bukan lagi bidang, melainkan ruang yang sangat tipis. Maka, kesimpulannya, yang ada adalah: ruang. Dengan pemikiran setara, di dalam konsep kita Allah yang Esa itu tidak ada, karena dalam konsep pemikiran kita, jika kita mau mengerti Allah yang bukan ruang, maka itu pun juga tidak ada. Hanya Allah yang sejati ada, pasti dalam ketiga hal: Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus, barulah merupakan Allah Sejati yang sungguh ada.

Di Perjanjian Lama ada ruang yang 1 x 1 x 1 = 1, yaitu ruang yang panjang, lebar, dan tingginya sama, yaitu Ruang Mahakudus. Di Perjanjian Baru, dalam Kitab Wahyu, Kota Allah digambarkan panjang dan lebar dan tingginya sama, yaitu 1.400 mil. Ruang Mahakudus adalah tempat Allah bertakhta. Sama kuasa, sama mulia, sama kekal, sama berotoritas mengatur segalanya. Satu yang kekal, satu yang diperanakkan dalam kekekalan, satu yang diutus ke dalam sejarah. Inilah Allah Tritunggal, inilah Allah yang sejati.

Ketika memasuki Bait Allah, Yesaya melihat Allah duduk di atas takhta-Nya dan kemuliaan-Nya memenuhi tempat itu. Para serafim berdiri di sana mengelilingi Allah dengan masing-masing memiliki enam sayapnya. Dua sayap menutupi mukanya, berarti tidak menyatakan diri; dua sayap menutupi kakinya, berarti ia tidak menyatakan proses kemuliaan; dan dua sayap untuk melayang-layang, berarti mereka dengan rajin melayani Tuhan dan memuliakan Tuhan. Mereka saling berseru, “Suci! Suci! Suci!”

Allah yang kekal memperanakkan Anak dalam kekekalan, lalu Bapa dan Anak mengutus Roh Kudus. Allah yang kita sembah adalah Allah Tritunggal. Anak yang diperanakkan dalam kekekalan adalah Raja dan Penguasa alam semesta, Ia adalah Juruselamat Gereja-Nya. Allah ialah Kepala Kristus, dan Kristus adalah Kepala Gereja. Semua ordo (urutan otoritas) di alam semesta dibentuk di dalam Kristus. Inilah wahyu Tuhan, penyingkapan rahasia Tuhan kepada manusia. Wahyu adalah Tuhan membuka tudung rohani, sehingga kita bisa melihat apa yang sesungguhnya ada di dalamnya. Sebelum tudung rohani itu dibuka, kita tidak tahu apa yang ada di dalam. Ketika Roh Kudus mewahyukan kebenaran, kita baru mengerti. Dari semua misteri Tuhan, misteri yang terbesar adalah ketika Allah menyatakan diri-Nya dalam tubuh. Inilah yang disebut sebagai inkarnasi, Allah menjadi manusia. Amin.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan sehingga izin pendirian dan pelaksanaan Calvin Institute of Technology telah diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 18 Oktober 2018.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Akhirnya, kita harus sadar, semakin kita mencoba untuk menarik semuanya untuk diri kita, maka kita akan semakin...

Selengkapnya...

SHALOM, PAK TONG TERIMA KASIH SEKALI, SAYA SANGAT DIBERKATI SEKALI DENGAN PENGAJARANPAK TONG INI, KAPAN YA PAK TONG...

Selengkapnya...

Kisah yang membaharui pikiran saya. Perbandingan dua orang ini dan karakternya menyadarkan untuk lebih tunduk pada...

Selengkapnya...

Puji Tuhan, harapan saya terkabul, bisa mendengar secara langsung khotbah pendeta Dr. Sthepen Tong dan foto bersama...

Selengkapnya...

Mohon penjelasannya terkait "Etika hidup kita ditentukan oleh kebenaran Allah, bukan oleh diri kita...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲