Transkrip

Pengakuan Iman Rasuli – Bagian 15: Butir Kedua (9) Dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita

Iman merupakan suatu hal yang paling mendasar dan universal. Tidak ada agama yang kredonya lebih singkat, tepat, agung, dan sempurna dibandingkan dengan tiga butir tentang Allah di dalam Pengakuan Iman Rasuli. Yesus dilahirkan sebagai Tuhan atas manusia pada saat kaisar pertama Romawi mengangkat diri sebagai tuhan dan menganggap seluruh warga kekaisarannya sebagai miliknya. Ia mengklaim hidup, kebebasan, kekayaan, dan segala milik warganya sebagai miliknya. Mereka yang tidak memanggilnya sebagai tuhan dipenggal kepalanya. Yerusalem dan Yudea menjadi satu-satunya bangsa yang diberi kelonggaran untuk boleh tidak menyebut kaisar sebagai tuhan. Tetapi tidak lama kemudian, kelahiran Yesus mengubah situasi ini. Kini manusia Yesus yang dipanggil sebagai Tuhan. Maka pembunuhan berjalan lagi dan ratusan ribu orang Kristen dibunuh karena imannya. Tetapi hal ini tidak dapat menghentikan mereka untuk percaya kepada Yesus.

Dalam lima puluh tahun sejak Yesus lahir, sepertiga warga di dunia Barat percaya kepada Yesus. Dalam seratus tahun sejak Yesus lahir, di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi banyak yang menjadi orang Kristen. Iman Kristen begitu kuat dan besar pengaruhnya sampai Kekaisaran Romawi diguncangkan. Dalam sekitar tiga ratus tahun, Kekaisaran Romawi roboh ideologinya, dan hampir semua orang menjadi percaya Yesus adalah Tuhan. Supremasi tuhan yang diangkat manusia dengan memakai kuasa militer dan kekerasan untuk menaklukkan sesamanya telah runtuh. Tetapi Tuhan yang diutus dari sorga, rela menyangkal diri, menyerahkan nyawa, mengorbankan diri, dan memberikan hidup-Nya menjadi penebusan bagi manusia, menjadi Tuhan selamanya. Yang menjadi Tuhan adalah Allah yang menjadi manusia, Tuhan yang menjelma menjadi daging, Sang Pencipta yang masuk ke dunia ciptaan-Nya. Allah hadir dalam sejarah, Firman masuk dalam sejarah. Inilah titik temu antara yang kekal dan yang sementara, yang tak tampak dan yang tampak. Allah yang menjelma menjadi manusia menjadi jaminan ada jalan untuk manusia kembali kepada Allah.  

Telah dibahas sebelumnya, Ia disebut Anak karena memiliki hidup sejenis dengan Allah. Allah memperanakkan Allah, sama seperti manusia melahirkan manusia. Seorang manusia melahirkan seorang manusia menjadi dua manusia, tetapi Allah memperanakkan Allah tetap hanya satu Allah. John Locke, filsuf besar Inggris, memberikan pengertian tentang hal yang melampaui kategori rasional dan irasional, yaitu suprarasional. Suprarasional menerobos dan melampaui kategori rasional dan irasional. Orang yang terkurung logikanya tidak bisa memakai iman Kristen yang Tuhan wahyukan secara suprarasional. Dengan penerobosan dari atas, maka Allah memberikan kemungkinan beriman, sehingga kita tidak lagi terkurung di dalam benteng dan ikatan rasional-irasional.

Sebelum Yesus lahir, pengertian yang tertinggi saat itu adalah filsafat Yunani. Yunani telah menemukan rasio, logika, silogisme, metode deduksi-induksi, dan paradoks. Ini adalah pemikiran-pemikiran agung yang melampaui kebudayaan yang muncul berikutnya di Latin, Jerman, Prancis, dan lain-lain. Meskipun demikian, orang Yunani tidak bisa melampaui ikatan logika yang menjadikan kebudayaannya sangat mementingkan rasio. Di atas dan melampaui rasio hanya mungkin dipahami melalui wahyu Tuhan dalam Alkitab. Sistem Pengakuan Iman Rasuli telah memiliki kemungkinan melampaui semua itu.

Orang Yunani Kuno menyelidiki bahwa manusia meneliti dan mempelajari alam, mempelajari dalil-dalil alam, mencari asal-usul, dan mengerti kausalitas alam. Dari situ ditemukan ilmu-ilmu alam. Jika mereka ditanya, “Apa itu alam?” mereka akan menjawab, “alam itu seperti ini, dari dulu, sekarang, dan selamanya begini, tidak berubah.” Itulah static nature (konsep alam yang statis). Manusia ada di dalam alam, bagian dari alam, peneliti alam, dan penemu ilmu-ilmu alam. Dalam hal ini, alam mengurung dan membatasi manusia. Inilah konsep orang Yunani.

Kedatangan Tuhan Yesus ke dunia merupakan sesuatu yang lebih tinggi daripada logika orang Yunani. Yesus menerobos dari supra-alam masuk ke dalam alam. Pengakuan Iman Rasuli mengekspresikan kesadaran yang Tuhan berikan kepada manusia, percaya bahwa di luar alam ada Sang Allah yang adalah Pencipta, Khalik langit dan bumi, dan yang mengirim Kristus turun berinkarnasi. Di sini perbedaan penyelidikan sistem logika orang Yunani dibandingkan dengan pencerahan Kristus melalui inkarnasi dari supra-alam masuk ke alam. Ini adalah perbedaan sistem tertutup vs. sistem terbuka. Dalam pikiran Yunani, ilmu pengetahuan didapat melalui metode sistem tertutup yang mencoba menjelaskan tentang alam. Sedangkan Tuhan Yesus memberikan penerobosan, memakai sistem terbuka untuk mengerti. Pada abad ke-20, seorang filsuf pengetahuan yang terkenal, Thomas Kuhn, berkata tentang pergeseran paradigma (paradigm shift), yaitu perubahan paradigma yang dulunya memakai sistem tertutup sekarang menjadi sistem terbuka. Sejak era pra-Socrates sampai era Pencerahan, semuanya menjelaskan alam semesta menggunakan sistem tertutup, sedangkan Alkitab mengandung sikap terbuka, yaitu melihat alam semesta bukan ada pada dirinya sendiri. Sorga memuliakan Allah, menceritakan segala karya agung Allah. Seluruh alam semesta memamerkan rencana, desain, dan hikmat Allah Sang Pencipta. Hal ini dilakukan bukan melalui proses rasio mengerti alam, tetapi melalui iman mengenal Allah yang di atas alam. Di sini, kita bukan melalui rasio mengerti alam, tetapi melalui iman mengenal Allah yang mencipta dan di atas alam.   

Kita mengerti alam memakai sistem tertutup dan mengenal Allah memakai sistem terbuka. Kristus ialah Allah yang menjadi manusia, maka titik temu antara Allah dan manusia ada pada diri Kristus. Di titik awal, Allah menciptakan alam semesta, lalu berproses ribuan tahun hingga akhirnya Kristus akan datang untuk kedua kalinya. Di sepanjang garis yang menghubungkan titik alfa (titik awal) dan titik omega (titik akhir) ada titik inkarnasi. Titik inkarnasi berarti titik temunya yang kekal dan yang fana, yang tak tampak dan yang tampak, Pencipta dan ciptaan. Melalui cara Allah menjadi manusia melalui hikmat-Nya yang dijanjikan kepada manusia, dikerjakan dengan kuasa-Nya, dan melalui karya Roh Kudus, maka Pribadi Kedua bisa hadir dalam sejarah, lahir menjadi manusia berdaging dan berdarah.

Yesus dilahirkan melalui anak dara Maria, Roh Kudus menaungi Maria. Maria seorang wanita di antara ciptaan Allah, seorang gadis sederhana, berumur belasan tahun. Roh Kudus menaunginya, berarti Allah datang ke dunia memilih seorang perawan. Inilah campur tangan Allah secara langsung dalam sejarah. Agama-agama, melalui imajinasi dan usahanya, bertujuan membawa pendosa ke sorga. Pada hari manusia membangun Menara Babel, Allah berkata, “Mustahil! Aku akan mengacaubalaukannya.” Motivasi membangun Menara Babel yaitu untuk memasyhurkan dan memuliakan pendosa, maka Allah mengacaukan bahasa mereka sehingga mereka tidak mengerti satu sama lain, dan akibatnya mereka terserak ke seluruh dunia dengan bahasa yang berbeda-beda.

Ketika manusia mau memuliakan diri, Allah mengacaukan bahasa mereka; ketika manusia mau memberitakan nama Yesus ke seluruh dunia, Allah membuat mereka bersatu dalam bahasa, sehingga perkataan para rasul dimengerti mereka semua. Jika gereja terus memuliakan Tuhan dan hatinya bersatu untuk Tuhan, Tuhan akan mempersatukan dan memberikan kekuatan. Roh Kudus mau mempersatukan gereja-Nya demi memuliakan nama-Nya, membawa Injil-Nya, dan menobatkan manusia. Roh Kudus berkarya di dunia dengan satu tujuan: memuliakan Kristus. Roh Kudus bekerja dalam hati dan mengayomi seseorang, lalu mendorong, memberinya pencerahan, agar muncul dalam hatinya kasih kepada Kristus, dan akhirnya Kristus diam di dalam dirinya.

Sebelumnya, Kristus pernah dilahirkan sebagai seorang bayi melalui anak dara Maria yang dinaungi Roh Kudus. Inilah kuasa dan mujizat Tuhan yang belum pernah terjadi, namun pernah diucapkan oleh Nabi Yeremia. “Aku akan mengerjakan suatu peristiwa yang baru, yaitu wanita memelihara pria.” Ketika Adam dicipta, Adam, pria yang harus menjadi kepala wanita, menjaga, memelihara, dan melindungi istrinya. Saya menafsirkan kalimat Yeremia “wanita memelihara pria” adalah ketika Yesus harus dilahirkan melalui rahim seorang wanita. Wanita akan memelihara dan melindungi seorang pria. Yesus dilindungi dan dipelihara oleh anak gadis yang masih sangat muda. Ini penggenapan nubuat Nabi Yeremia. Inilah yang disebut Imanuel, Allah beserta kita.

Sebenarnya, nubuat tentang Yesus sudah diberikan ribuan tahun sebelum Yesus dilahirkan, ketika Allah berkata kepada ular, “Keturunan wanita ini akan bermusuhan dengan keturunanmu. Keturunanmu akan meremukkan tumitnya, tetapi keturunannya akan meremukkan kepalamu.” Inilah nubuat pertama tentang peperangan rohani yang akan terjadi dari awal hingga akhir. Keturunan si ular akan meremukkan tumit keturunan Adam, tetapi melalui keturunan wanita akan meremukkan kepala ular. Namun, Alkitab dengan jelas berkata, semua keturunan pria dan tidak ada keturunan wanita. Memang, kita semua dilahirkan wanita, tetapi tidak pernah disebutkan sebagai keturunan wanita. Satu-satunya kali dikatakan keturunan wanita ditujukan pada peristiwa inkarnasi. Wanita bisa melahirkan anak karena berhubungan seksual dengan pria, lalu sperma pria bertemu dan membuahi sel telur, sehingga menjadi janin. Tetapi Maria tidak bersetubuh dengan siapa pun. Satu-satunya kemungkinan yaitu Roh Kudus menaunginya, maka ia mengandung anak laki-laki. 

Pada saat Abraham diberikan nubuat, “Istrimu tahun depan pada hari ini akan melahirkan,” ia langsung menerimanya, karena ia adalah seorang yang beriman kepada Tuhan, sehingga karena imannya ia diterima dan dibenarkan. Abraham tidak pernah meragukan firman Tuhan. Tetapi pada saat malaikat berkata kepada Abraham, Sara di belakang tirai tertawa, ia anggap tertawanya lumrah, karena ia telah berusia 90 tahun sehingga tidak mungkin bisa melahirkan anak. Ia sudah berhenti haid, sudah tidak lagi datang bulan, sudah puluhan tahun mandul, mengapa ada malaikat goblok tidak pernah belajar bisa mengatakan saya akan melahirkan. Malaikat berkata, “Sara, kau tertawakah?” Ia terkejut dan segera menjawab, “Tidak.” Malaikat menegaskan, “Jangan bohong. Engkau sudah tertawa. Sekarang Aku katakan, engkau tidak percaya, tetapi itu tetap akan terjadi.” Ketika kuasa Tuhan mau melaksanakan mujizat, itu tidak tergantung engkau percaya atau tidak.

Tuhan melakukan hal ini sekali lagi pada tubuh Elisabet, istri Zakharia. Anak yang dilahirkan dinamakan Yohanes Pembaptis. Dari dalam rahim ibunya, ia telah menerima Roh Kudus. Kemudian Tuhan berkata kepada Maria setengah tahun sesudahnya, “Hai wanita yang bahagia, engkau akan mengandung.” Ia tahu hal ini tidak masuk akal, tidak logis, di luar paradigma manusia. Ia berkata, “Hatiku mengagungkan Tuhanku, dan rohku bersukacita karena Juruselamatku.” Maria langsung memuji Tuhan, rela menerima tugas yang begitu memalukan. Begitu besar anugerah, tetapi juga begitu pedih dan dibenci orang lain. Di sini terpukulnya theologi Katolik, yang mengatakan bahwa Maria mengandung Yesus tanpa berdosa, setelah Yesus lahir ia tetap perawan. Alkitab berkata, setelah ia mengandung anak pertama, masih ada adik-adik Yesus, yang berarti dilahirkan oleh Maria. Setelah Roh Kudus menaungi Maria dan Yesus dilahirkan, Maria bersetubuh dengan Yusuf lalu melahirkan anak-anak lainnya. Katolik ingin menjadikan Maria suci selamanya, tidak pernah disentuh pria.

Enam bulan sebelumnya, Elisabet melahirkan Yohanes Pembaptis. Lalu enam bulan berikutnya, Maria mendapat tugas yang sama, melahirkan Yesus. Bedanya, Elisabet disetubuhi suaminya, Zakharia, tetapi anak dara Maria, yang belum pernah berhubungan seks, bisa melahirkan, yang membuktikan bahwa Allah menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada. Sedangkan Elisabet yang sudah tua tetapi rahimnya bisa diisi karena berhubungan seks dengan suaminya membuktikan bahwa Allah bisa membangkitkan yang sudah mati. Rahim yang sudah mati dibangkitkan lagi. Itulah kuasa Allah, itu iman. Iman Abraham pada Allah juga sama dalam hal ini. 

Allah menjadikan dari yang tidak ada menjadi ada, dari yang tidak mungkin mempunyai akan mempunyai anak. Allah membangkitkan dari mati menjadi hidup, berarti Abraham percaya bahwa Ishak akan dibangkitkan kembali jika sudah disembelih, bahwa Tuhan mungkin membangkitkan. Kalimat ini terambil dari Ibrani 11, Allah menciptakan menjadi ada dari yang tidak ada; Allah membangkitkan yang sudah mati. Hal ini diulang kembali oleh Tuhan khususnya dalam melahirkan Yohanes Pembaptis dan Yesus. Maria yang baru berusia belasan tahun pergi mencari Elisabet, dari Nazaret ke Yerusalem. Itu membutuhkan perjalanan kaki dua hingga tiga hari. Ketika bertemu dengan Elisabet, terjadi peristiwa yang sangat ajaib, bayi dalam kandungan Elisabet meloncat. Ia berkata, “Ketika ibu dari Tuhanku datang, janin dalam kandunganku meloncat,” karena Yohanes bersukacita menyadari bahwa Yesus yang akan ia layani sekarang datang mengunjunginya. Ini membuktikan Yohanes sejak di dalam rahim sudah dipenuhi Roh Kudus. Satu-satunya orang selain Tuhan Yesus yang dipenuhi Roh Kudus sejak dalam rahim ibunya hanyalah Yohanes Pembaptis. Ketika Elisabet hamil tua, dan Yesus masih kecil dalam rahim Maria, ketika Maria bertemu Elisabet dan bayi dalam rahim Elisabet meloncat, dikatakan, “Ibu dari Allahku datang” (Yun.: theotokos = ibu dari Allah). Hal ini dicatat dalam Injil Lukas, yang mengakibatkan orang Katolik berkata bahwa Maria ialah ibunya Allah. Seumur hidup saya tidak terlalu suka memakai istilah ini di dalam khotbah saya, karena istilah ini dapat menimbulkan salah pengertian yang sangat besar, yang bisa dipikirkan bahwa Allah (Yesus) hanyalah anak dari seorang wanita manusia, dan Allah (Yesus) di sorga sekarang masih mempunyai ibu, seorang manusia yang bernama Maria. Ini pemikiran yang tidak beres, yang dapat membuat iman Kristen menjadi kacau balau. Bagi saya, istilah Maria sebagai ibunya Allah hanya ketika Maria mengandung. Yesus di dalam rahimnya sudah bersifat ilahi, sehingga untuk sementara Maria disebut sebagai ibunya Allah. Ini bukan berarti bahwa Allah memerlukan seorang ibu. Allah Tritunggal tidak memerlukan seorang ibu. Ini hanya membuktikan bahwa seorang wanita yang masih gadis mengandung dan melahirkan Yesus, dan Yesus sudah bersifat ilahi sejak dari dalam rahim. Hal ini penting untuk mencegah kepercayaan Kristologi yang salah, yaitu Yesus baru bersifat ilahi saat Ia dibaptiskan. Ada pandangan bahwa ketika Roh Kudus turun ke atas-Nya, barulah sifat ilahi Yesus datang kepada-Nya, lalu Ia menjadi Kristus dan melakukan tugas Mesianik selama tiga setengah tahun. Mereka mengatakan bahwa pada saat Yesus dipaku di atas salib dan berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” sifat ilahi-Nya hilang atau meninggalkan-Nya dan Ia kembali menjadi manusia biasa. Ini semua tafsiran yang salah dari ajaran Gnostisisme, khususnya Cerinthus. Cerinthus sebenarnya mengajarkan bahwa Allah Bapa membiarkan-Nya menanggung dosa manusia dan tidak lagi memelihara dan kasihan kepada-Nya. Salib Yesus adalah satu-satunya tempat yang saya sebut sebagai kondisi vacuum (hampa) kasih. Tuhan Yesus sudah memiliki sifat ilahi sejak dalam rahim Maria. Yohanes Pembaptis menerima gerakan Roh Kudus sejak dalam rahim Elisabet. Berarti, sebelum lahir Yesus sudah bersifat ilahi. Ini bukti keilahian Kristus. Amin.

5 tanggapan.

1. Bobby Felix dari Jakarta berkata pada 16 July 2018:

Apa kata para Refomator tentang Keperawanan kekal Maria :

1. Marthin Luther :

a) Christ, our Savior, was the real and natural fruit of Mary's virginal womb...This was without the cooperation of a man, and she remained a virgin after that. Kristus, penyelamat kita, adalah buah rahim yang nyata dan alami dari Maria...Ini adalah tanpa campur tangan lelaki, dan dia tetap perawan setelah itu) (Luther's Works, eds. Jaroslav Pelikan (vols. 1-30) & Helmut T. Lehmann (vols. 31-55), St. Louis: Concordia Pub. House (vols. 1-30); Philadelphia: Fortress Press (vols. 31-55), 1955, v.22:23 / Sermons on John, chaps. 1-4 (1539))

b) Christ...was the only Son of Mary, and the Virgin Mary bore no children besides Him . . . I am inclined to agree with those who declare that 'brothers' really mean 'cousins' here, for Holy Writ and the Jews always call cousins brothers Kristus...adalah satu2nya anak dari Maria, dan Perawan Maria tidak mempunyai anak lain selain Dia.... Aku merasa setuju dengan pernyataan bahawa "saudara" berarti "sepupu" disini, karena tulisan suci dan orang Yahudi selalu memanggil sepupu dengan saudara) (Pelikan, ibid., v.22:214-15 / Sermons on John, chaps. 1-4 (1539))

c) A new lie about me is being circulated. I am supposed to have preached and written that Mary, the mother of God, was not a virgin either before or after the birth of Christ Kebohongan baru dituduhkan kepadaku. Aku dituduh mengkhotbahkan dan menulis bahwa Maria, Bunda Allah, tidak perawan baik sebelum kelahiran maupun sedudah kelahairan Kristus (Pelikan, ibid.,v.45:199 / That Jesus Christ was Born a Jew (1523))

d) Scripture does not say or indicate that she later lost her virginity... When Matthew [1:25] says that Joseph did not know Mary carnally until she had brought forth her son, it does not follow that he knew her subsequently; on the contrary, it means that he never did know her...This babble...is without justification...he has neither noticed nor paid any attention to either Scripture or the common idiom. Kitab suci tidak mengatakan atau mengindikasikan kalau Maria setelah [kelahiran Kristus]... kehilangan keperawanan... Di Matius 1:25 dikatakan bahwa Joseph tidak mengenal Maria secara badaniah sampai Maria melahirkan anak, tidaklah dapat disimpulkan kalo Joseph mengenal Maria secara badaniah sesudahnya; Sebaliknya, ini berarti bahwa Joseph tidak pernah sama sekali mengenal Maria secara badaniah..... Omong kosong ini [bahwa Maria tidak perawan sebelum dan setelah Kristus lahir] adalah tanpa pembenaran.... [Orang yang menganggap kalo Maria tidak tetap perawan] tidak pernah tahu atau memperhatikan kitab suci atau idiom umum. (Pelikan, ibid., v.45:206,212-3 / That Jesus Christ was Born a Jew (1523))

2. Bobby Felix dari Jakarta berkata pada 16 July 2018:

2. John Calvin

a) Helvidius displayed excessive ignorance in concluding that Mary must have had many sons, because Christ's 'brothers' are sometimes mentioned Helvidius mempertunjukkan ketidaktahuan berlebihan dalam menyimpulkan bahwa Maria harus mempunyai putra-putra, hanya karena saudara Kristus kadang2 disebutkan (Harmony of Matthew, Mark & Luke, sec. 39 (Geneva, 1562), vol. 2 / From Calvin's Commentaries, tr. William Pringle, Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1949, p.215; on Matthew 13:55)

b) [On Matt 1:25:] The inference he [Helvidius] drew from it was, that Mary remained a virgin no longer than till her first birth, and that afterwards she had other children by her husband . ..No just and well-grounded inference can be drawn from these words...as to what took place after the birth of Christ. He is called 'first-born'; but it is for the sole purpose of informing us that he was born of a virgin...What took place afterwards the historian does not inform us...No man will obstinately keep up the argument, except from an extreme fondness for disputation. [Mengenai Matius 1:25] Kesimpulan yang diambil Heldivius bahwa tetap perawan hanya sampai kelahiran pertama Maria, dan setelah itu dia punya anak lain dari suaminya.... Tidak ada kesimpulan bulat yang dapat ditarik dari kata2 dalam Matius 1:25... mengenai apa yang terjadi setelah Yesus lahir. Yesus dipanggil 'Anak Pertama'; tapi satu satunya tujuan sebutan tersebut adalah untuk memberi informasi bahwa Yesus dilahirkan dari Perawan.... Apa yang terjadi sesudahnya tidak diinformasikan oleh sejarahwan..... Tidak ada orang yang secara keras kepala meneruskan argumen [bahwa Maria tidak perawan setelah melahirkan Kristus], kecuali kalau dia senang akan pertikaian (Pringle, ibid., vol. I, p. 107)

c) Under the word 'brethren' the Hebrews include all cousins and other relations, whatever may be the degree of affinity. Didalam kata 'saudara' orang Ibrani memasukkan juga sepupu dan relasi yang lain, apapun tingkat kedekatannya (Pringle, ibid., vol. I, p. 283 / Commentary on John, (7:3))

3. Bobby Felix dari Jakarta berkata pada 16 July 2018:

3.Huldreich Zwingli

a) He turns, in September 1522, to a lyrical defense of the perpetual virginity of the mother of Christ...To deny that Mary remained 'inviolata' before, during and after the birth of her Son, was to doubt the omnipotence of God...and it was right and profitable to repeat the angelic greeting - not prayer - 'Hail Mary' ...God esteemed Mary above all creatures, including the saints and angels - it was her purity, innocence and invincible faith that mankind must follow. Prayer, however, must be...to God alone ... 'Fidei expositio,' the last pamphlet from his pen...There is a special insistence upon the perpetual virginity of Mary. Dia [Zwingli], di tahun 1522, mempertahankan keperawanan abadi Ibu Yesus.... Untuk menyangkal bahwa Maria tetap tak ternodai sebelum, selama, dan sesudah kelahiran Kristus, adalah sama dengan menyangkal keMaha Kuasaan Tuhan.... dan karena itu sangat benar dan berguna untuk mengulangi salam malaikat Gabriel - bukan doa- 'Ave Maria'.... Tuhan mengangkat Maria diatas semua mahkluk, termasuk orang suci dan malaikat - kemurnian, keluguan dan iman Maria yang tak terkalahkanlah yang harus diikuti manusia (G. R. Potter, Zwingli, London: Cambridge Univ. Press, 1976, pp.88-9,395 / The Perpetual Virginity of Mary . . ., Sep. 17, 1522)

b) have never thought, still less taught, or declared publicly, anything concerning the subject of the ever Virgin Mary, Mother of our salvation, which could be considered dishonourable, impious, unworthy or evil...I believe with all my heart according to the word of holy gospel that this pure virgin bore for us the Son of God and that she remained, in the birth and after it, a pure and unsullied virgin, for eternity. Aku tidak pernah berpikir, ataupun mengajarkan, atau menyatakan kepada umum, apapun mengenai Maria yang tetap perawan, Ibu keselamatan kita, yang bisa dipandang tidak hormat, tidak saleh, tidak menghargai ataupun jahat.... Aku percaya dengan seluruh hatiku sesuai dengan kata2 di Injil suci bahwa sang perawan murni melahirkan bagi kita Anak Allah dan dia (Maria) tetap, saat kelahiran dan sesudahnya, perawan yang murni dan tak ternodai, untuk selama-lamanya (Thurian, ibid., p.76 / same sermon)

4. johanes dari jakarta berkata pada 24 July 2018:

Dari tanggapan sdr Bobby Felix di atas, ternyata sangat jauh sekali apa yang diajarkan para reformator awal. ( bahkan pendiri reformasi ) tentang keperawanan kekal Maria dengan artikel di atas ( apa yang diajarkan pendeta gereja reformasi sekarang ) ? Bagaimana hal yg sangat crusial ini bisa berbeda begitu jauh ? Atas dasar apa saudara semua mengetahui dengan persis : apa yang anda terima sekarang pasti sesuai dengan ajaran otentik? Kalau para reformator salah mengajar di awal , maka runtuhlah seluruh bangunan reformasi . Sebaliknya , kalau para reformator benar: bagaimana kalian mempertanggungjawabkan hal ini dan memastikan pengajaran iman yang lainnya tetap original sampai kepada anda? Apakah ajaran iman yg benar hanya berdasarkan "Bagi saya ....; menurut pendapat saya...; hemat saya... ; saya pikir.... . Apakah kebenaran universal bisa diruntuhkan dengan pendapat : bagi saya ; menurut pendapat saya; hemat saya ; saya pikir ; dlll???? .... otoritas pribadikah atau otoritas gereja universal?

5. Johanes dari Jakarta berkata pada 25 July 2018:

Doktrin

Yesus adalah 100%Allah dan 100% Manusia sunguh benar dan tidak terbantah. Kalau pengikut Kristus mengikuti hal ini dengan konsisten; maka sebutan Maria Bunda Allah sungguh patut dan tidak perlu diragukan. Allah memang tidak beribu karena Sumber Dari segala sesuatu yang ada. Tetapi karena inkarnasi Allah menjadi manusia, mau tidak mau suka tidak suka Maria sudah menjadi Bunda Allah karena Yesus sendiri 100%Allah dalam 100% kemanusiaannya lewat rahim Maria Sebastian BundaNya . Memahami Bunda Allah sama halnya dengan memahami Putera Allah. Untuk menjawab bagaimana Allah bisa “Berbunda” silahkan memahami bagimana Allah “ Berputera “ Jadi bukan Hal besar bagi Umat Katolik untuk memahaminya karena pengakuan keterbatasan akal budi manusia untuk mencerna Ini . Tinggal kita mengikuti ajaran Alkitab yang mengajarkan “ Theotokos, Bunda Allah “ . Apa yang perlu dibantah lagi Dari apa yang diajarkan Alkitab? sederhana bukan? Syalom

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan sehingga izin pendirian dan pelaksanaan Calvin Institute of Technology telah diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 18 Oktober 2018.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Antara KemurahanNya dan Kekerasan-Nya adalah dua sisi mata uang yg tdk terpisahkan, kemurahan-Nya yg sangat besar dan...

Selengkapnya...

Pengalaman Pak Heru membuat renungan ini lebih sarat makna. Thank you

Selengkapnya...

Salah tafsir Yesus bukan Allah atau hanya sbg ciptaan belaka ( ciptaan sbg manusia saja atau malaikat seperti...

Selengkapnya...

Hambatan-hambatan gereja baik eksternal dan internal,serta terangkan keberadaan Allah dan Sifat-sifat Allah

Selengkapnya...

Saya harus sampaikan ini Artikel sesat sebaiknya di hapus, ini tidak alkitabiah buah pemikiran penulis bukan...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲