Transkrip

Pengakuan Iman Rasuli – Bagian 2: Butir Pertama (2)

Saya berharap saya boleh mewariskan pemikiran tentang tiga hal yang penting bagi iman kita, tindakan kita, dan apa yang harus kita doakan di hadapan Allah, yaitu Sepuluh Hukum, Doa Bapa Kami, dan Pengakuan Iman Rasuli.

Kalimat pertama Pengakuan Iman Rasuli (PIR) ini: Aku percaya kepada Allah, Bapa yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi. Di seluruh dunia dan agama, tidak ada doktrin yang disimpulkan dalam tiga kalimat pendek, terkesan sederhana, tetapi sudah mencakup hal-hal yang paling penting secara komprehensif di dalam iman kekristenan. Kita tidak menemukan di dalam agama-agama, manusia menyebut dan mengakui Allah di sorga sebagai Bapa, sebagai Pencipta, dan sebagai Allah yang Mahakuasa. Tiga kalimat ini bukan kesimpulan dari theolog-theolog genius, tetapi diturunkan oleh para rasul yang diutus oleh Tuhan Yesus sendiri. 

Gereja harus memelihara ajaran yang diturunkan dari para nabi Perjanjian Lama dan rasul Perjanjian Baru. Dari Perjanjian Baru kita mengerti Perjanjian Lama, karena Perjanjian Lama mengandung Perjanjian Baru, dan Perjanjian Baru menggenapi Perjanjian Lama. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru merupakan satu keutuhan yang terdiri dari dua bagian. Inilah wahyu Allah melalui pekerjaan Roh Kudus menggerakkan para nabi dan rasul.

Setelah itu, Tuhan Yesus Kristus sendiri turun ke dunia, menjelma menjadi tubuh yang berdaging dan berdarah seperti engkau dan saya. Yesus adalah Allah menjadi manusia; Yesus adalah Sang Pencipta yang berbalut tubuh yang dicipta, menjadi manusia hidup di tengah engkau dan saya, untuk menjadi Juruselamat dan Perantara antara kita dan Bapa. Dia juga menjadi Wakil Allah, sehingga hanya Yesuslah di sepanjang sejarah umat manusia yang berani dan boleh mengatakan, “Barang siapa melihat Aku, dia melihat Allah.”

Kita bersyukur kepada Tuhan, karena Ia mengatakan, “Sebagaimana Bapa mengutus Aku, Aku mengutus engkau.” Yesus menerima mandat dari Allah, dan kini Ia memberikan mandat kepada para rasul untuk menjadi wakil Kristus, sebagaimana Kristus menjadi Wakil Tuhan Allah. Rasul (Yun. apostolos) artinya utusan. Apostolos terbesar adalah Kristus. Raja terbesar di atas semua raja adalah Kristus; Nabi di atas semua nabi adalah Kristus; Imam di atas semua imam adalah Kristus. Kristus mewakili Tuhan Allah mengutus rasul, sehingga para rasul menjadi wakil Kristus yang mewakili Allah untuk segala zaman memberikan kepada kita firman. Perjanjian Lama diwahyukan kepada para nabi dan Perjanjian Baru diberikan kepada para rasul. Rasul dan nabi menjadi fondasi gereja.

Di dalam Efesus 2:19-20 dan 4:11 tertulis Gereja didirikan di atas rasul dan nabi. Urutan ini sengaja dibalik di dalam Perjanjian Baru (1Kor. 12:28; Ef. 2:20, 3:5, 4:11). Penyusunan ini sengaja melawan urutan kronologis. Tujuannya menegaskan kepada orang Kristen segala zaman bahwa tulisan rasul merupakan kunci untuk mengerti tulisan nabi. Engkau tidak mungkin mengerti pengajaran para nabi secara benar tanpa mengerti pengajaran para rasul. Perjanjian Baru merupakan kunci mengerti Perjanjian Lama. Maka, gereja harus menerima Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Gereja yang tidak menerima otoritas Alkitab bukanlah gereja. Itu sebabnya, Pengakuan Iman Rasuli menjadi pengakuan gereja, yang membuktikan kita milik Tuhan.

Banyak gereja saat ini tidak menyatakan PIR lagi. Mereka meremehkan tugas gereja ini. GRII tidak boleh tidak membacakan pengakuan iman ini, untuk menyatakan bahwa kita adalah orang yang menganut, percaya, dan beriman kepada Tuhan melalui doktrin-doktrin yang tertulis di dalam PIR. PIR berarti pengakuan terhadap iman Kristen seturut pengajaran yang diwariskan oleh para rasul. Oleh sebab itu, kita perlu meneliti dengan teliti dan terperinci PIR ini. Martyn Lloyd-Jones, salah seorang theolog Puritan yang agung di abad ke-20, mengkhotbahkan Efesus 1 sebanyak 128 kali, karena ia ingin orang mengerti firman dengan terperinci. Kiranya kita terus memiliki hasrat kehausan belajar dan mempunyai keinginan terus belajar seterperinci dan sedalam mungkin sehingga kita tidak menipu diri.

PIR memecahkan dan membedakan sejarah manusia menjadi dua bagian, sebelum dan sesudah-nya. Di sini kita melihat pentingnya PIR. Dunia sebelum PIR adalah dunia yang mengenal alam sebagai suatu objek dan manusia adalah subjek yang menyelidikinya. Semua pengertian didasarkan pada subjektivitas manusia. Manusia menganggap diri tuan rumah alam semesta, menganggap diri mengerti langit dan bumi, menjadi satu-satunya makhluk yang menganalisis, mempelajari, mengamati, dan mengerti alam semesta.

Sebagaimana kita mengetahui, manusia dicipta menurut peta teladan Allah, sehingga makhluk lain tidak mungkin mempunyai rasio, tidak mungkin mempunyai logika, selain manusia. Tetapi setelah PIR, manusia tidak lagi melihat alam sebagai objek observasi, manusia melihat alam yang diciptakan oleh Tuhan. Saya dan alam adalah ciptaan Allah. Maka, kalimat “Aku percaya kepada Allah, Bapa yang Mahakuasa”, dilanjutkan dengan kalimat “Pencipta langit dan bumi”. Ada keberadaan lain selain saya dan alam, yaitu Allah.

Allah tidak kelihatan, tetapi Dia ada, dan Dia menjadi Sumber dan Sebab semua ciptaan. Ini satu penerobosan yang tidak pernah muncul dalam sejarah. Ketika kita menyelidiki alam semesta, kebudayaan-kebudayaan besar berusaha menjelaskan dari mana asal alam semesta, tetapi tidak ada satu pun kebudayaan yang sanggup memberikan tanggung jawab yang cukup untuk memberi jawaban. Kebudayaan Tiongkok, India, Mesir, Babel, dan Yunani, semua berusaha menafsirkan alam. Namun mereka gagal memberikan jawaban yang tepat dari mana dunia ini berasal.

Kebudayaan Tiongkok sangat tua, dan tidak kalah dari Mesir, India, dan Babel. Tetapi ketika ditanya dari mana asal alam semesta, maka dijawab bahwa ada seorang tua yang bernama Pan-gu. Pan-gu berada dalam satu telur yang kecil dan Pan-gu itu begitu kecil. Ia membawa palu (dari mana datang palunya, tidak ada jawaban) dan memukulkan palu itu ke atas, akhirnya telur itu bengkak membesar ke atas karena terus-menerus dipukul dan menjadi langit. Landasannya menjadi bumi. Inilah awal langit dan bumi. Begitu mendengar cerita seperti ini, engkau langsung sadar bahwa itu adalah omong kosong. Cerita ini indah, tetapi tetap omong kosong.

Orang India mengatakan bumi ini datar berbentuk empat sudut dan ditopang oleh empat ekor gajah, satu di setiap sudutnya. Kalau gajah itu bergerak, terjadilah gempa. Kebudayaan Timur Tengah memikirkan ada dewa atau pencipta yang menjadikan bumi dan langit, tetapi sangat tidak jelas bagi mereka bagaimana terjadinya. Orang Yunani mengatakan bahwa langit dan bumi ini memang sudah ada dari aslinya tidak ada perubahan, memang sudah seperti ini dari dahulu kala (unchanging universe). Tugas manusia adalah menyelidiki, mencatat, dan memberikan pengertian itu kepada orang lain. Kebudayaan Gerika atau Yunani ini sangat agung.

Kebudayaan Hellenistik (Yunani) dan kebudayaan Hebrew (Ibrani) adalah dua kebudayaan besar pembentuk dasar pengetahuan manusia tentang alam semesta dalam kebudayaan Barat saat ini. Kebudayaan Barat berpengaruh besar pada kebudayaan dunia hingga saat ini. Kebudayaan Timur berbeda. Kebudayaan Timur tidak memikirkan dunia luar, tetapi dunia sekarang. Orang Tionghoa berpikir sangat duniawi, memikirkan dunia di sini. Orang India memikirkan dunia di sana. Mau berpikir caranya adalah membayangkan, maka tutup mata dan meditasi. Karena itu, patung Konfusius selalu buka mata, sementara Buddha selalu tutup mata. Sementara kebudayaan Gerika dan orang Barat berbeda. Mereka lebih memikirkan bagaimana tanggung jawab mereka terhadap dunia di luar dirinya, bagaimana meneliti alam semesta ini, apa yang ada di sorga dan di bumi ini. Dunia Barat ingin tahu ada apa di langit, apa itu bintang, berapa jaraknya. Semua mau dihitung dan berusaha memberikan penjelasan yang bertanggung jawab. Orang-orang Yunani adalah orang-orang yang sangat suka berpikir, suka menyelidiki, berusaha mengamati apa pun, berusaha mengerti dan menghitung, dan berusaha mengerti alam semesta ini. Maka, Protagoras mengatakan, “Manusia adalah pengukur segala sesuatu (homo mensura).”

Orang Gerika begitu gemar menyelidiki. Di tahun 584 SM di Miletus ada seorang bernama Thales. Ia adalah bapa filsafat Gerika. Dia mengumumkan bahwa tanggal 28 Mei yang akan datang orang tidak akan melihat matahari. Ia dianggap sedang omong kosong. Ternyata benar, hari itu Miletus gelap gulita karena gerhana. Ini terjadi karena semua bergerak. Bumi bergerak, matahari bergerak, bulan bergerak, bintang bergerak. Thales mampu menghitung dengan tepat bagaimana pergerakan bumi, matahari, bulan, sehingga tahu tepat kapan bulan menutupi matahari terhadap bumi. Inilah astronomi.

Orang Gerika kuno begitu pandai, tetapi orang Gerika sekarang begitu bodoh. Mereka tidak mampu mengelola ekonomi negara, menjadi bangkrut, dengan perdana menteri yang tidak jujur yang menjadi tertawaan dunia. Gerika hancur ekonominya akibat mereka terbiasa tidak membayar pajak. Itu berawal ketika Gerika dijajah oleh Turki. Mereka tidak mau membayar pajak kepada penjajah agar penjajah tidak mendapatkan uang dan akhirnya bangkrut. Setelah Turki pergi, mereka sudah terbiasa tidak mau membayar pajak, maka sekarang negaranya bangkrut. Gerika pernah mempunyai orang besar seperti Sokrates, Plato, Aristoteles yang begitu pandai. Tetapi 2.500 tahun kemudian menjadi begitu bodoh. Ini membuat saya semakin tidak memercayai cerita evolusi.

Di zaman sebelum Sokrates, ada satu kebiasaan yaitu menyelidiki alam. Mereka berjam-jam duduk mengamati bintang-bintang di langit, mencatat dan mengukur. Inilah astronomi, yaitu ilmu mempelajari perbintangan di langit. Maka semua buku Gerika adalah On Nature dan On Principles. Sampai di zaman Sokrates, ia mengubah arah pembelajaran. Engkau mau mengerti benda-benda yang jauh, hal-hal di luar sana yang jauh, mengapa engkau tidak mau mengerti dirimu sendiri. Apa pun mau kamu tahu tetapi tidak tahu diri, apa pun diselidiki tetapi tidak menyelidiki diri. Tercetuslah “gnothi seauton(know yourself). Maka arah filsafat bergerak, dari astronomi menuju anthropologi, dari menyelidiki dunia luar menuju dunia dalam. Manusia mulai menyelidiki diri (self).

Ketika PIR mengatakan, “Aku percaya kepada Allah, Bapa yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi,” kita masuk ke dalam arah yang baru. Manusia tidak menjadi pemilik alam semesta ini, manusia bukan subjek alam semesta, tetapi kini manusia harus sadar selain alam dan dirinya, ada Allah Pencipta semua itu. Ini menjadi satu lembaran baru. Tanpa PIR dunia akan berhenti pada keunggulan yang diberikan Gerika. Tanpa PIR manusia akan menjadi arogan karena menganggap diri pandai, penganalisis alam semesta. Tetapi Sokrates mengkritik manusia, mengapa begitu sombong sudah menyelidiki semua alam semesta, tetapi tidak tahu diri.

Sejarah mencatat, Sokrates mengatakan, “Siapa engkau yang berhak mendapat uang karena engkau mengajarkan kebenaran? Apakah kebenaran itu milikmu? Apakah sudah memonopoli kebenaran, sehingga ketika engkau mengajarkannya engkau berhak meminta uang? Apakah engkau memiliki alam semesta ini? Engkau salah.” Sokrates telah membuat revolusi dalam cara pikir manusia. Ia membuat revolusi dalam pencarian manusia, sehingga manusia harus mulai memikirkan siapa dirinya, mengapa ia bisa ada di tengah alam semesta, apa makna dan tujuan hidupnya. Untuk apa saya mempelajari semua yang lain kalau saya tidak mengenal diri saya sendiri? Dan ia membiarkan pertanyaan itu terus terbuka hingga saat ini.

Dengan demikian, kita melihat orang Gerika memiliki beberapa kelemahan: Pertama, mereka memperlakukan diri mereka sebagai subjek untuk mengerti alam semesta. Mereka menjadi guru mengajar orang lain tentang alam semesta. Mereka tahu dan mereka bisa tahu karena mereka menyelidiki, yang akhirnya membuat mereka menjadi sombong. Kedua, ketika mereka menyelidiki alam, mereka menggunakan pola pikir atau mentalitas yang disebut sistem tertutup (closed system). Menurut Paul Tillich, seorang Jerman, theolog Amerika Serikat, mengatakan, “Orang Yunani memperlakukan alam semesta seperti dunia plastik, yang selalu seperti itu, tidak berubah. Yang berubah adalah diri kita. Saya menyelidiki, dari sebelumnya tidak tahu menjadi tahu. Itulah perubahanku. Dunia ini tidak berubah, alam semesta ini tidak berubah, pengertian saya yang berubah, dan saya menuliskan apa yang sebelumnya tidak dimengerti untuk bisa mengerti semua materi itu. Seluruh jawaban terhadap ketidaktahuan ini, yaitu seluruh proses perubahan saya ini, saya ajarkan kepadamu.”

Sistem tertutup ini merajalela di dunia hampir dua ribu tahun. Sistem tertutup ini tidak bisa dikalahkan bahkan sampai zaman Sir Isaac Newton. Barulah di abad ke-20 ada perubahan revolusi yang baru, dari seorang filsuf ilmu pengetahuan yang bernama Thomas Kuhn. Thomas Kuhn adalah seorang filsuf Kristen Protestan, dan dia mengajarkan satu istilah yang sangat penting, yaitu paradigm shift (pergeseran paradigma). Setiap zaman tidak ada perubahan, kecuali terjadi perubahan paradigma maka dunia mengalami kemajuan. Manusia mulai berubah pola pikir dasarnya (paradigmanya). Paradigm shift ini sangat penting dan dia mengatakan bahwa kita perlu sistem terbuka (open system) di dalam melakukan riset. Menyelidiki segala sesuatu harus keluar dari sistem, dari ikatan yang telah membelenggu kita selama ribuan tahun. Kalau kita tidak bisa keluar dan melepaskan diri, gereja tidak akan bisa maju, masyarakat tidak berubah, kebudayaan tidak berubah, dan segala sesuatu menjadi mandek dan statis karena terkunci oleh keterbatasan sistem tertutup.

Ketika saya mempelajari ribuan tahun perkembangan manusia, saya akhirnya menyadari bahwa closed system sudah dibongkar oleh PIR. Janganlah menjadi orang Kristen yang hanya percaya kepada Kristus, lalu menghibur diri. Di dalam kekristenan terkandung semua kebenaran yang tertinggi yang dibutuhkan oleh sejarah di dalam kebudayaan manusia. Sejak hari pertama, sejak kalimat pertama PIR, “Aku percaya kepada Allah, aku percaya kepada Dia sebagai Bapa yang Mahakuasa, aku percaya kepada Dia sebagai Pencipta langit dan bumi,” maka kita mulai masuk ke open system. Manusia tidak lagi boleh menutup diri di dalam alam semesta, manusia harus menerobos batas alam semesta, di luar alam semesta ada Pencipta yang mencipta alam semesta. Allah adalah Sumber, Allah adalah Sebab, Allah adalah Pencipta di luar alam yang terbatas ini. Dan inilah pertama kali keterbatasan dibuka dan diterobos untuk masuk menuju ke tempat Bapa, dan menuju Bapa yang transenden yang telah menciptakan dunia ini. Maka, PIR merupakan suatu penerobosan yang pertama. Di sinilah awal kita memikirkan menerobos keberadaan alam dan diri yaitu dimulai dari mengenal Allah yang menciptakan. Amin.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲