Transkrip

Pengakuan Iman Rasuli – Bagian 25: Butir Kedua (19) Pada hari yang ketiga, bangkit pula dari antara orang mati.

Tema Pengakuan Iman Rasuli kita masuk ke dalam bagian Kristologi yang menjadi standar iman Kristen segala bangsa dan segala zaman, yaitu sebuah kalimat pendek, “Pada hari yang ketiga, bangkit pula dari antara orang mati.” Inilah puncak dan fokus iman kepada Kristus. Jika Yesus hanya seorang baik, bermoral, rela berkorban, dan menjadi teladan bagi umat manusia, kita tidak perlu percaya kepada-Nya, karena jika Ia tidak bangkit dari antara orang mati, mustahil Ia menjadi Juruselamat kita.

Kristuslah Juruselamat yang menggantikan kita, mengalahkan kuasa maut, dan bangkit dari antara orang mati. Kalimat ini adalah kalimat yang amat dahsyat dan menggemparkan, karena tak seorang pun yang sudah dikuburkan keluar dari kubur. Inilah rahasia kemenangan dan kuasa terbesar yang Allah nyatakan di bawah kolong langit. Pengharapan baru dan kuasa terbesar yang melepaskan kita dari kuasa maut telah diberikan dalam sejarah. Hal yang faktual terjadi dalam pengalaman setiap orang Kristen, kubur Yesus telah kosong, tetapi hati setiap orang yang mengikuti-Nya terisi dan mengalami perubahan hidup. Orang yang tadinya berdosa, tetapi karena kuasa kebangkitan Kristus, bisa mengalahkan dosa dan hidup berkemenangan.

Hari Yesus bangkit merupakan hari terpenting di abad pertama. Kekristenan hari ini melihat hari yang terpenting adalah hari Natal. Banyak orang merayakan Natal karena ada kado. Khususnya anak-anak kecil dan remaja akan senang jika pada saat Natal ada Sinterklas dan pohon Natal, sehingga menjadi hari yang sangat meriah. Tetapi, di abad pertama umat Kristen tahu hari yang terbesar sepanjang tahun bukan Natal, tetapi Paskah. Kristus bangkit dari antara orang mati, itulah hari yang terbesar. Maka di abad pertama, Natal tidak dirayakan, karena tidak ada yang ingat atau memberitahukan tanggal kelahiran Yesus. Alkitab pun tidak menyatakan bahwa tanggal 25 Desember adalah hari kelahiran Tuhan Yesus. Tanggal itu muncul dari tradisi Gereja Katolik.

Gereja Katolik menentukan 25 Desember, yang berasal dari hari perayaan penyembahan matahari dalam tradisi Kekaisaran Romawi. Penyembahan matahari dilakukan setiap 25 Desember dan sekarang Kristuslah matahari keadilan yang sejati, maka dianggap lebih baik menyembah Kristus pada 25 Desember, bukan menyembah matahari secara fisik. Saya kira tidak salah kita mengambil satu hari untuk mengingat kelahiran Yesus. Ini fakta sejarah yang tidak bisa disangkal. Kita menganggap Yesuslah matahari keadilan sejati bagi seluruh alam semesta, maka kita menggantinya menjadi hari kelahiran Yesus. Namun yang penting, kita mengingat Yesus lahir tidak lebih besar daripada mengingat Yesus bangkit dari antara orang mati.

Kebaktian terbesar dan terpenting dalam gereja yang saya pimpin adalah Kebaktian Jumat Agung. Bagi saya, Jumat Agung itu dasar Hari Kebangkitan. Jika Yesus tidak mati, mustahil Ia akan bangkit. Kematian Yesus justru membuktikan bahwa Ia mampu mengalahkan maut, sehingga Ibrani 2:14 berkata, “Oleh kematian-Nya Ia mengalahkan Iblis, si penguasa maut. Kematian-Nya membuktikan kuasa Yesus lebih besar daripada kuasa maut.” Maka, kematian bukan tujuan, tetapi metode atau cara yang Tuhan pakai untuk menuju kebangkitan yang jauh lebih penting daripada kematian.

Kalimat “Pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati” menjadi pengharapan yang memutarbalikkan fakta “upah dosa adalah maut”. Kita berdosa, maka akibatnya kita mati dan tidak ada hari depan dan pengharapan, karena mati menjadi titik akhir. Tetapi Alkitab mengatakan bahwa itu bukan titik atau tujuan terakhir, tetapi Yesus sengaja memakai kematian menunjukkan bahwa Ia menang atas kuasa maut. Maka, Yesus bangkit dari antara orang mati menjadi jaminan bahwa hidup kita bukan tanpa pengharapan atau akan ditelan maut. Sebaliknya melalui kematian-Nya, Yesus menelan segala kuasa maut dan bahkan Ia bangkit.

Seorang Puritan, John Owen, berkata, “Kematian Kristus merupakan kematian yang mematikan segala kematian.” Bagi semua orang, kematian harus menghentikan hidupnya, tetapi kematian Kristus justru mengalahkan dan mematikan segala kematian, bahkan Ia bangkit dari antara orang mati. Inilah kemenangan yang luar biasa: Yesus bangkit dari antara orang mati. Kematian Yesus berdasarkan kuasa yang tak terbatas. Hidup Kristus mempunyai kuasa yang tak terbatas yang mengalahkan yang terbatas. Dalam aritmetika, tak terhingga selalu lebih besar daripada angka berapa pun yang terhingga. Jika yang tak terbatas menggantikan yang terbatas, akhirnya akan tetap tak terbatas.

Ada dua ayat penting, yaitu: a) Ibrani 7:16 – “berdasarkan hidup yang tidak dapat binasa”; dan b) 2 Timotius 1:10 – “mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa”. Surat Ibrani dan 2 Timotius memberi tahu kita tentang hidup yang tidak berkebinasaan, yang tak terbatas, dan tak terhingga, yang menggambarkan mengapa Kristus bisa bangkit dari antara orang mati setelah dibunuh di atas salib, yaitu karena Ia mustahil dimatikan. Alkitab berkata, kematian Kristus merupakan kematian yang paling unik. Saya telah membahas tentang keunikan hidup Yesus secara jasmaniah yang berbeda dibandingkan dengan semua manusia yang hidup di dunia, karena tubuh Kristus bukan dilahirkan berdasarkan hasil persetubuhan antara laki-laki dan wanita. Maria tidak pernah bersetubuh dengan laki-laki sebelum mengandung bayi Yesus, tetapi ia melahirkan karena Roh Kudus, Allah Tritunggal Pribadi Ketiga, yang menyucikan dan menaungi rahimnya. Maka, kesucian rahim Maria yang mengandung Yesus merupakan sebuah misteri yang amat besar.

Paulus berkata, “Alangkah besarnya misteri Allah menjadi manusia.” Allah menyatakan diri dalam tubuh manusia. Frasa “Karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas” ini cuma muncul satu kali di Injil Yohanes 3:34. Roh Kudus yang tidak terbatas ada dalam rahim Maria, maka pertemuan kuasa Tuhan dalam tubuh Maria yang masih gadis mengakibatkan Yesus ada dalam rahimnya. Yesaya 7:14 berkata, “Seorang anak dara akan mengandung dan melahirkan seorang anak lelaki.” Ini melawan hukum biologi. Wanita tidak punya kromosom Y, hanya punya kromosom X, maka semua yang berasal hanya dari benih wanita saja mustahil melahirkan laki-laki. Maka, Paulus berkata, “Alangkah besarnya misteri ini bahwa seorang perawan dinaungi Roh Kudus, lalu mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki.”

Tubuh Kristus: (a) bukan merupakan hasil pembuahan antara sperma dan sel telur dan (b) Allah tidak izinkan untuk mengalami kerusakan. Jika seorang manusia mati, tubuhnya tidak berfungsi lagi dan dalam 2x24 jam akan mulai rusak, semua elemen kehidupan akan rontok dan membusuk, lalu mulai muncul serangga kecil-kecil yang beterbangan, dan seluruh jasadnya mulai menjadi bau. Hal seperti ini tidak Allah izinkan terjadi pada tubuh Yesus. Allah memelihara tubuh-Nya sedemikian rupa agar tidak rusak dan bisa dibangkitkan dari antara orang mati dengan kondisi baik.

Yesus bangkit, artinya memberikan pengharapan bagi seluruh umat manusia bahwa tidak usah takut mati, karena kematian bukan titik akhir hidup manusia di dunia ini. Kita diciptakan menurut dalil fisik, di mana yang mati tubuhnya harus rusak, bau, dan hancur melebur dengan tanah. Inilah dalil umum orang berdosa. Tetapi Yesus turun ke dunia, Firman menjadi daging, memberikan kesanggupan dan kemungkinan yang berbeda, yaitu kita diberikan pengharapan menuju pada tubuh yang kekal dan tidak mungkin rusak lagi, karena penebusan Tuhan itu termasuk penebusan badaniah. Banyak orang Kristen hanya mengetahui bahwa kita diselamatkan secara rohani, artinya kita diampuni dosanya dan ditebus. Ini tahap pertama penebusan. Tetapi Alkitab berjanji bukan hanya itu saja.

Penebusan dibagi 3 tahap: (1) Secara status kita sudah ditebus, yaitu dosa kita diampuni dan kita diselamatkan, yakni kita diperanakkan kembali dan mendapat hidup yang baru. Ini kelahiran baru. Pada saat kelahiran baru, seluruh tubuh tidak ada perubahan, tubuh tetap menua, bisa sakit, lemah, dan terluka. Tetapi bedanya, kita mendapat sukacita penyertaan Allah yang konkret, di mana Allah berkenan masuk ke dalam hati dan hidup kita. Kita mendapat kepastian, pegangan, dan jaminan hidup dalam diri kita. Ini yang ditulis di Efesus, bahwa kita dibuktikan dan dijamin. Bagaikan seseorang membeli rumah, baru membayar uang muka dan sudah mendapat sebuah surat jaminan bahwa rumah itu miliknya, meski belum lunas. Demikian dengan keselamatan dari Tuhan. Ketika Tuhan Yesus menebus dan memperanakkan kita kembali, itu merupakan tanda atau meterai dari Roh Kudus yang memberikan kita jaminan bahwa kita sudah ditebus dan dibayar dengan darah Kristus. Maka, kita sudah menjadi milik Tuhan. Tahap pertama ini terjadi serentak.

(2) Pembersihan roh kita yang terus-menerus, tiada henti-hentinya. Tiap hari darah Tuhan Yesus membersihkan, mengoreksi, dan mengampuni kita. Yesus berkata, “Aku tidak meminta agar Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi Aku minta agar Engkau melindungi mereka dari yang jahat” (Yoh. 17:15). Tahap pertama, sudah secara status diselamatkan, diperanakkan, dan dijamin kita adalah anak-anak Allah. Tetapi, kita masih hidup di lingkungan para pendosa, penggodaan Iblis berlangsung setiap hari. Maka, perlu berdoa dan bersandar Roh Kudus tiap hari dalam berperang dengan dosa. Dalam Galatia 5, Roh Kudus berperang dengan nafsu, agar engkau tidak mudah melakukan apa yang kauinginkan. Jika engkau mau menjadi orang Kristen, engkau harus berani menanggung dan membayar harga sebagai orang Kristen. Tak seorang pun yang mutlak suci dan tidak bisa berdosa. Para rasul, Bapa-bapa Gereja, dan semua umat kudus mengalami hal ini, berperang dengan diri tiap-tiap hari. Kesalahan theologis John Wesley adalah ia beranggapan di dunia ini kita bisa menjadi suci dan tidak berdosa lagi. Ini salah! Alkitab mengatakan, selama hidup di dunia, kita yang sudah menjadi Kristen masih berperang dengan hawa nafsu, godaan Iblis, pengalihan dari dunia, dan harus senantiasa bersandar kepada Roh Kudus. Manusia harus membayar harga untuk terus menaati Roh Kudus dan berperang terus-menerus melawan godaan dunia. Dalam istilah theologi, ini disebut progressive sanctification (pengudusan yang progresif). Tuhan memberikan kesempatan kepada kita untuk melawan diri kita sendiri dengan kekuatan baru agar kita sanggup mengalahkan Iblis, yaitu dengan bersandar pada-Nya.

Jika tiap hari menang, tahap kedua ini dilaksanakan dalam diri kita, menjadi kaum yang bertahan terus sampai Kristus datang kembali. Namun, justru inilah kesulitan orang Kristen. Banyak orang mau menghindar dari bagian ini, melarikan diri dari kewajiban, tidak mau memikul salibnya dan menyangkal dirinya, maka hidup mereka seperti orang-orang dunia. Ada orang-orang Kristen yang sudah diselamatkan yang hidupnya lebih rusak dibandingkan orang-orang di luar, karena mereka tidak mau bersandar pada Roh Kudus, tetapi bersandarkan diri, kuasa dunia, dan kedagingannya sendiri. Orang yang mengikuti keinginan daging itu adalah orang Kristen yang tidak bersandar pada Roh Kudus, tetapi sudah diselamatkan. Kristen rohani itu sudah diselamatkan dan mutlak menaati Roh Kudus. Orang yang menuruti hawa nafsu adalah semacam orang yang belum Kristen.

Paulus tidak membagi orang Kristen seperti Stoikisme yang membagi orang menjadi 3 macam: Orang yang kedagingan (Yahudi); orang yang di tengah (Kristen); dan orang yang rohani (Gnostik). Pembagian seperti ini salah sama sekali. Theologi Watchman Nee dan Witness Lee terlalu mengikuti tradisi Yunani ini. Theologi Reformed justru menyatakan sebaliknya: Kristen bisa yang pertama, yang mengikuti keinginan daging; atau yang ketiga, yang taat pada keinginan Roh atau orang rohani; dan orang dunia yang di tengah. Maka, Kristen yang sudah menerima Tuhan, jangan memihak pada kedagingan. Jika kita memihak kedagingan, akhirnya akan rusak dan binasa. Tetapi, kita mesti belajar bagaimana mengikuti pimpinan Roh Kudus, taat pada teguran dan gerakan Roh Kudus. Ketika kita mengikuti pimpinan Roh Kudus, maka kita bersandar pada kuasa Roh Kudus melawan diri kita sendiri. Musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri.

Sebelum tiba di Papua, ada seorang pendeta Papua berkata kepada saya, “Jika Pak Tong mau datang ke Papua, tolong selesaikan dahulu 4 hal ini: penyakit AIDS, kemiskinan, dan dua hal lainnya.” Dalam khotbah saya, saya nyatakan bahwa keempat hal yang dikatakan pendeta Papua itu tidak ada orang yang dapat menolongnya. Yang bisa menolong hanya Tuhan melalui ketaatan mereka. Jika Papua ingin menaati Tuhan dan menemukan musuhnya ialah diri sendiri, lalu mau bersandar pada Roh Kudus memerangi nafsu diri sendiri, barulah ada harapan. Tidak ada seorang pun yang bisa menolongmu, karena musuh terbesarmu ialah dirimu sendiri.

Tuhan telah memberikan petunjuk, firman, dan jalan keluar bagaimana manusia hidup beres. Tetapi, para pengkhotbah dan pendeta tidak berani menegur dosa dan memberikan jalan keluar, karena mereka sendiri malas dan hidupnya tidak beres. Banyak pendeta yang tamak uang, korupsi, dan tidak beres. Ajaran yang membuatmu malas bekerja dan melarikan diri dari tanggung jawab itu ajaran pendeta palsu, pendeta penipu, termasuk beberapa pendeta yang begitu kelihatan dihormati dan dikagumi. Ratusan ribu orang Indonesia tercandu oleh pendeta-pendeta seperti ini. Beberapa waktu lalu, keponakan Pdt. Benny Hinn, Costi Hinn menulis di suatu website, “Benny Hinn pamanku, tetapi khotbah kemakmuran bukan bagianku.”1 Setelah bertahun-tahun menyelidiki Benny Hinn dan membaca Alkitab, ia mengambil kesimpulan bahwa yang dikhotbahkan Benny Hinn itu berbeda dengan ajaran Alkitab. Ia berkata, “Setelah saya membaca dan merenungkan Alkitab, saya tahu bahwa hidup Yesus itu miskin dan sederhana, sedangkan gaya hidup Benny Hinn terlalu kaya dan boros. Ajarannya berbeda dan melawan Alkitab. Itu ajaran palsu.”

Yesus begitu miskin, tinggal di tengah kaum miskin, Seorang yang sederhana, bukan mewah. Hanya pendeta penipu yang berkata, “Jika engkau percaya Yesus, engkau akan kaya raya,” lalu ia harus membuktikan dirinya kaya lebih dahulu. Ia memakai uang persembahan jemaat untuk membeli pesawat terbang pribadi agar ia sendiri terlihat kaya untuk menipu bahwa percaya Tuhan bisa kaya seperti dia. Ia kaya dari uang perpuluhan yang seharusnya untuk Tuhan dan ia rampas. Seumur hidup-Nya, Yesus hidup dalam kemiskinan dan kesulitan. Ia berkata, “Burung mempunyai sarang, serigala punya liang, tetapi Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Alkitab mencatat, Yesus terlalu sibuk, sampai tidak ada waktu untuk makan. Tiap minggu di Singapura, setelah selesai berkhotbah, jam 19.30-20.00 saya diberikan waktu untuk makan, tetapi saya selalu tidak makan karena terlalu letih. Lalu, saya masuk dalam sebuah ruang kelas dan tidur di kursi selama ±20 menit. Sekitar jam 19.50 saya bangun dan makanan sudah disediakan, tetapi saya tidak makan. Sepulangnya dari berkhotbah yang kedua, jam 21.30, hampir jam 22.00 saya baru tiba di hotel, saya baru makan malam. Saya teringat ucapan, Yesus tidak ada waktu untuk makan. Yesus turun dari sorga yang mewah dan mulia, lahir di palungan, hidup di tengah kaum miskin, dan hidup dengan tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya.

(3) Ia mati dikuburkan, turun ke dalam kerajaan maut, dan pada hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati. Ia menjadi teladan bagi kita. Alkitab berkata, tubuh kebangkitan-Nya menjadi buah sulung bagi semua tubuh yang akan dibangkitkan. Tubuh Yesus yang dibangkitkan dari kematian menjadi tubuh pertama, buah sulung. Apakah artinya buah sulung? Jika engkau menanam pohon, selalu akan ada buah yang paling dahulu muncul, biasanya itu enak sekali. Tidak lama kemudian barulah semua buahnya bermunculan. Kebangkitan Yesus Kristus secara tubuh adalah kebangkitan buah sulung yang mewakili semua orang yang akan dibangkitkan. Yesus bangkit lebih dahulu, menjadi buah sulung kebangkitan. Lalu nanti pada Hari Tuhan, kita semua akan dibangkitkan dan akan mempunyai tubuh kebangkitan seperti tubuh Kristus yang sudah bangkit 2.000 tahun yang lalu. Buah sulung ialah Kristus, buah yang banyak ialah kita. Buah sulung menjamin adanya buah-buah yang akan datang.

Orang yang menanam pohon dan menikmati buah sulungnya mengerti apa yang saya katakan di sini. Ia adalah buah sulung dari semua orang dalam Kristus yang akan ikut dibangkitkan seperti Yesus Kristus. Kita sedang menantikan hari itu. Jadi, kita memiliki tiga tahapan penebusan: 1) Dosa kita diampuni dan kita diperanakkan kembali. Ini sudah lewat. 2) Kita menaati Roh Kudus untuk mendapat kekuatan mengalahkan nafsu, pencobaan, dan godaan Iblis. Ini sedang berjalan. Dan, 3) Pada saat Yesus datang kembali, tubuh kita akan dibangkitkan dengan tubuh yang tidak bisa rusak. Ini yang akan datang. Jangan lupa, engkau anak-anak Allah! Mari kita menantikan kedatangan kembali Kristus dengan tekun, sabar, dan taat mengikuti pimpinan Roh Kudus, agar hidup kita selalu berkemenangan. Amin.

Endnote:
Benny Hinn Is My Uncle, but Prosperity Preaching Isn’t for Me.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan Tuhan selama 30 tahun bagi GRII.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
@David Chandra : kan kita sama2 mengerti bagaimana Tuhan memulihkan Gereja-Nya dari reformasi melalui Martin Luther...

Selengkapnya...

Apa indikator bahwa gerakan Pentakosta Kharismatik dapat disebut sebagai gerakan pemulihan berikutnya?

Selengkapnya...

Saya diberkati oleh tulisan ini. Tapi pada akhir-akhir tulisan ada bbrp hal yang mengganggu saya, kenapa tulisan2...

Selengkapnya...

Terimakasih atas renungannya sangata memberkati

Selengkapnya...

Terima kasih..sangat memberkati!

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲