Transkrip

Pengakuan Iman Rasuli – Bagian 31: Butir Ketiga (1) Aku percaya kepada Roh Kudus

Kini kita memasuki Pengakuan Iman Rasuli bagian ketiga. Bagian pertama tentang Allah Bapa, bagian kedua tentang Allah Anak dan ini yang terpanjang, dan bagian ketiga tentang Allah Roh Kudus. Bagian ketiga dimulai dengan, “Aku percaya kepada Roh Kudus.” Allah Roh Kudus adalah Sang Pendiri Gereja dan Penolong umat Allah. Iman yang sejati harus kepada Allah yang sejati. Kita telah membicarakan tentang tiga aspek penting dalam kebudayaan Yunani, yaitu: scio, cogito, dan credo. Dengan melihat, lalu memikirkan, memperhitungkan, menganalisis, kemudian menyelidiki dan menguji coba, akhirnya “aku tahu”. Inilah inti kebudayaan Barat yang sangat mementingkan pengetahuan. Epistemologi (ilmu filsafat tentang pengetahuan) menjadi keahlian dan keunikan kebudayaan Yunani, yang selain tahu juga mengembangkan “mengapa tahu yang engkau tahu itu benar-benar adalah pengetahuan sejati”. Oleh karena itu, tahu tentang pengetahuan lebih dari hanya sekadar tahu sesuatu. Orang bodoh hanya mau mengetahui melalui diberi tahu, tetapi orang yang berpengertian lebih tinggi harus bertanggung jawab atas apa yang ia tahu.

Pendidikan yang paling rendah adalah pengajaran dan pembelajaran informatif (informative teaching and learning). Guru yang buruk hanya memberikan informasi dan murid yang bodoh mengira ia sudah tahu jika ia telah menerima informasi. Orang-orang Yunani tidak demikian. Seseorang harus tahu bagaimana cara belajarnya, serta apa dalil dan dasar logikanya, barulah ia bisa membuktikan pengetahuan itu mungkin benar. Mereka menggabungkan pikiran dengan logos.

Logos di dalam Alkitab berarti Firman, sedangkan cara berpikir disebut logika. Logika adalah mengerti Logos. Logika mengandung dalil dan prinsip untuk dapat menggali dan mengerti sesuatu yang disebut logos. Jika logos diasumsikan sebagai kebenaran, logika adalah cara menemukan kebenaran. Jika aku tahu, aku harus bertanggung jawab atas apa yang aku anggap tahu, sehingga aku tidak bisa hanya mengatakan bahwa aku tahu karena aku mendapatkan informasi dan aku tidak tahu karena aku tidak mendapatkan informasi. Ini adalah sikap orang yang rendah, yang tidak bertanggung jawab.

Orang Yunani menurunkan logika dan epistemologi, dengan silogisme, induksi, dan deduksinya, khususnya dalam pemikiran Aristoteles, hingga kini menjadi warisan penting di dunia Barat. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai pengetahuan tentang pengetahuan. Dunia Barat dipengaruhi oleh dua kebudayaan penting, yaitu Hebrew (Ibrani/Yahudi) dan Hellenistik(Yunani). Sedangkan dunia Timur, seperti India, Tiongkok, dan Korea, sudah memiliki kebudayaan sendiri yang menyejarah ribuan tahun panjangnya. Namun, budaya Timur ini hanyalah sekadar mengikuti tradisi yang berjalan, tidak ada analisis kritis, penyelidikan, penelitian, dan eksperimen yang berhasil besar.

Dasar kebudayaan Ibrani adalah mendengar (hear). Mereka mendengar Tuhan memberi perintah, “Dengarlah, hai Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Sedangkan dasar kebudayaan Yunani adalah melihat (see). Mereka melihat dan mengamati segala benda dan berbagai gejala di alam, lalu diteliti dan dianalisis. Maka, mereka menemukan banyak prinsip, dalil, dan mulai bereksperiman turun-temurun ribuan tahun sampai sekarang.

Abraham beriman kepada Tuhan, dan kaum beriman disebut sebagai anak-anak Abraham. Sedangkan orang-orang Yunani, mulai dari para filsuf pra-Sokrates, mengamati dan menyelidiki pikiran dan alam. Orang-orang Yunani hanya memiliki kuasa dan mitos yang tidak memiliki dasar dan fakta sejarah apa pun, tidak memiliki pemikiran tentang kesucian dan keadilan mutlak, tidak memiliki kebajikan dan kasih sejati, kemurahan dan belas kasihan yang murni. Iman Perjanjian Lama yang disambung dengan wahyu Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus pada orang Kristen zaman ini, meskipun sulit dijelaskan dengan kata, tetapi fakta yang mendukung iman kepercayaan Kristen dapat tahan uji melalui penganiayaan yang hebat. Orang Kristen adalah orang-orang yang tidak menyerah karena tahu pasti apa yang diimaninya benar adanya.

Allah yang sejati dengan jujur dan sejati memberikan wahyu sejati, memberitahukan kebenaran yang sejati kepada orang yang sungguh-sungguh mau mencari Dia. Hati yang sejati pun diberikan oleh Tuhan agar dapat membersihkan semua nafsu yang salah dan mengubah sikap yang serong, maka manusia boleh rendah hati. Semua itu diciptakan oleh Tuhan.

Daud berkata, “Ciptalah bagiku hati yang bersih agar aku merindukan firman-Mu,” karena mitos Yunani tidak dapat mempertanggungjawabkan hal ini, maka otomatis ia gugur dalam sejarah. Tetapi iman Kristen tahan uji, dibuktikan sejarah dan tidak gugur selama-lamanya. Orang Ibrani mendengarkan suara wahyu Allah Pencipta langit dan bumi, sedangkan orang Yunani mengamati langit dan bumi yang diciptakan Allah. Firman Allah adalah kebenaran yang kekal.

Kembali kita mengingat: (1) scio (aku tahu), aku tahu pengetahuan tidak kosong, karena ada bukti dan fakta sejarah dan keadaan alam semesta ciptaan Tuhan. Istilah scio menjadi asal kata dari kata science, ilmu pengetahuan. Ini pemikiran Yunani. Jika saya tidak bisa tahu atau di luar rasio dan logika saya yang terbatas, (2) cogito (aku berpikir), berpikir sampai akhirnya tetap tidak bisa menerobos, maka (3) credo (aku percaya). Saat engkau percaya, engkau telah melampaui pengetahuan, penyelidikan, eksperimen, dengan iman melangkahi apa yang kautahu dan pikir.

Iman diperlukan dalam segala langkah dan periode hidup manusia. Memakai odol saja perlu iman, karena kita tidak tahu atau menyelidiki, bahwa odol itu beracun atau tidak. Kita mustahil melakukan segalanya tanpa iman. Alkitab mengatakan bahwa Allah yang sejati dan tidak berdusta, dengan motivasi sejati, mewahyukan kebenaran sejati kepada manusia yang Ia kasihi. Di situlah iman ditegakkan. Pengakuan Iman Rasuli (PIR) memiliki credo kepada Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus. Allah menjadi objek iman dan Allah yang sejati, jujur, kekal, tak berubah, dan setia akan menjadi jaminan dapat dipercaya. PIR telah mengubah dunia lebih dari apa pun, kecuali Alkitab. PIR sendiri adalah hasil rumusan dari wahyu Tuhan menjadi butir-butir kredo.

Kini kita masuk ke dalam tema yang ketiga, “Aku percaya kepada Roh Kudus.” Orang-orang Romawi tidak mengerti pemikiran orang Yahudi, apalagi orang Yahudi yang sudah menjadi Kristen. Leluhur orang Yahudi percaya kepada Allah Yahweh, berbeda dengan orang Romawi yang percaya kepada dewa yang ada di dalam sejarah dan ada orangnya, seperti Achilles. Tetapi “Dewa” orang Yahudi, yang disebut Yahweh, tidak tampak, tidak bertubuh, dan tidak bermateri. Orang Yahudi berkata, “Kami bisa percaya kepada Allah yang tidak tampak karena kami dapat melihat secara rohani.” Beberapa ratus tahun kemudian, Kekaisaran Romawi tumbang. Kerajaan Romawi dibangun 753 SM. Kekaisaran Romawi Barat hancur pada tahun 397 di Roma. Kaisar Konstantin memindahkan ibu kota dari Romawi Barat ke Timur, ke kota Konstantinopel (sekarang Istanbul). Kekaisaran ini berlangsung hingga 1453, menjadi kekaisaran terlama di sepanjang sejarah dunia. Pada saat orang Romawi menganiaya orang Kristen, orang Kristen bisa bertahan karena “Aku percaya”. Aku percaya kepada Allah, Bapa yang mencipta, Anak yang menebus, dan Roh Kudus yang melindungi dan memeteraikan orang Kristen. Ketiga Pribadi Allah Tritunggal ini menjadi objek iman.

“Aku percaya kepada Roh Kudus” adalah proklamasi bahwa yang tidak tampak memiliki kuasa, kebijaksanaan, kekekalan, dan strategi yang tertinggi. Selain Bapa dan Anak, aku percaya kepada Pribadi Ketiga Allah Tritunggal, yang memiliki segala kekayaan, kebijaksanaan, kebenaran, dan kuasa untuk hidup seperti Allah. Jika kita diciptakan menurut peta teladan Allah, berarti kita seharusnya hidup seperti Allah yang suci, adil, baik, murah hati, dan berbelaskasihan. Ini adalah lima sifat dasar Ilahi.

Jika gereja kehilangan kesucian, pendeta tidak hidup suci, orang Kristen tidak mengutamakan kesucian, jangan mengaku beriman Kristen. Allah kita adalah Allah yang suci. Orang yang bijak takut akan Allah, mengerti kesucian Ilahi, menjauhi dosa dan kejahatan. Ini adalah tiga ciri yang menjadi tanda kebijaksanaan sorgawi, yaitu menandakan bahwa seseorang berada di dalam Roh-Nya. Roh Kudus adalah Roh Allah yang kudus. Roh Kebenaran adalah Roh Allah yang memberi kebenaran. Roh Strategi adalah Roh Allah yang memberi kebijaksanaan bagaimana bekerja. Di dalam Perjanjian Lama, orang yang dipenuhi Roh Kudus memiliki dua tanda, yaitu: 1) orang itu penuh kebijaksanaan dari Tuhan; dan 2) orang itu bekerja dengan jujur, setia, dan teliti. Roh Kudus ialah Roh yang kudus, benar, bijak, adil, dan penuh kasih. Buah Roh Kudus muncul dengan sembilan “rasa” yang menyatu. Kasih yang ditambah dengan kesucian membuktikan orang itu memiliki cinta yang suci, yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Orang yang punya kesucian, hingga menganggap diri paling baik, lalu mulai menghina orang lain, bukan dari Roh Kudus. Orang Farisi menjaga kesucian, tetapi tidak mencintai kaum yang miskin. Yesus memiliki kesucian melampaui siapa pun, Ia mau memegang si kusta, mengasihi yang paling miskin, berbicara dengan pelacur, tetapi tidak berzinah. Yesus suci tetapi penuh kasih. Jika kita diciptakan menurut peta teladan Allah, Yesuslah peta teladan Allah yang asli. Maka kita harus mirip Dia.

Roh Kudus mempersatukan semua umat Tuhan, membuat orang berdosa seperti kita ini bisa menjadi seperti Yesus. Itu sebabnya, aku percaya kepada Roh Kudus. Pribadi Ketiga ini membawa kita mendekat kepada Pribadi Kedua, dan Pribadi Kedua membawa kita kembali kepada Pribadi Pertama.

Jadi, tanpa Roh Kudus, tidak ada orang yang dapat mengenal Yesus, karena Alkitab berkata, “Jika tidak ada Roh Kudus, tidak ada seorang pun yang dapat mengaku Yesus sebagai Tuhan, mengaku dengan perasaan takut tetapi intim, dan berbagian di dalam keselamatan-Nya.” Ini adalah pekerjaan konfirmasi Roh Kudus, sehingga kita boleh datang kepada Tuhan Yesus.

Tanpa Roh Kudus, tidak ada orang yang dapat mengenal Yesus, karena Yesus berkata, “Ia datang untuk memuliakan Aku, bersaksi bagi-Ku.” Setelah menerima Yesus sebagai Tuhan, pengampunan dosa dari Yesus berlaku di dalam diri kita, Ia mengampuni dosa kita, dan menguduskan kita. Kita dipilih Allah, dikuduskan oleh Roh, dan dipercik darah Yesus. Melalui Roh Kudus, di dalam Kristus kita menjadi milik Allah Bapa. Roh Kudus adalah Allah, maka percaya kepada Allah Bapa tidak bisa lepas dari percaya kepada Yesus Kristus, percaya kepada Yesus juga tidak bisa lepas dan dipisahkan dari percaya kepada Roh Kudus, karena Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus adalah tiga Pribadi di dalam keesaan substansi. Jadi Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus adalah sama-sama Allah yang Esa dengan Pribadi yang berbeda.

Percaya Allah Roh Kudus berarti percaya Sang Pencipta. Beda orang yang memiliki Roh Kudus dan yang tidak memiliki Roh Kudus ialah ia diciptakan tetapi tidak bergabung dengan Sang Pencipta. Di dalam bahasa Indonesia, kata soul berarti jiwa. Tetapi di dalam pengertian umum, soul and spirit dibagi menjadi nyawa dan roh. Orang yang dipengaruhi pandangan trikotomi, di Tiongkok adalah Watchman Nee, sedangkan di Barat adalah Agustinus dari Inggris dan juga kaum Brethrens, percaya bahwa manusia terdiri dari tubuh, nyawa, dan roh. Nyawa dan roh beberapa kali digabung dan disebut jiwa, kadang dipisah sebagai nyawa dan roh. Mereka mengatakan bahwa inilah bedanya manusia dan hewan, karena hewan memiliki tubuh dan napas, tetapi tidak mempunyai roh. Setelah napas berhenti, mereka mati. Manusia mempunyai napas dan mempunyai roh. Jika napas berhenti, roh masih ada. Maka, trikotomi percaya tubuh manusia dan hewan sama, hewan hanya mempunyai nyawa, manusia mempunyai nyawa dan roh. Jadi hewan punya dua bagian, manusia punya tiga bagian, dan materi punya satu bagian. Kayu hanya punya materi, tidak ada nyawa, pohon punya materi dan ada nyawa, tetapi bukan hewan. Bedanya, pohon tidak bisa jalan, hewan bisa jalan. Padahal jika kita dalami, pertumbuhan itu sendiri adalah sebuah pergerakan. Tetapi hewan memiliki organ yang membuat dia bisa berpikir, beremosi, dan berjalan. Yang dianggap sebagai emosi, pikiran, dan kemauan pada hewan, itu disebut oleh mereka sebagai nyawa. Itu bukan karakter yang ber-roh dan mempunyai pribadi seperti manusia. Maka, Watchman Nee mengutip dan menerima pandangan Yunani, yaitu tubuh, nyawa, dan roh.

Theologi Reformed tidak percaya manusia itu berbeda dengan hewan karena mereka hanya mempunyai nyawa dan tubuh, sementara kita punya nyawa, tubuh, dan roh. Kita percaya bahwa manusia memiliki roh yang kekal dan tubuh yang sementara, maka manusia berbeda dari binatang bukan karena kelebihan roh, tetapi kita memiliki peta teladan Allah, yang hewan tidak miliki. Binatang tidak pernah diciptakan menurut peta teladan Allah.

Tentang jiwa, tubuh, dan roh yang manusia miliki dan hewan tidak miliki, kaum trikotomis mengambil dasar Alkitab dari Ibrani 4:12 untuk membuktikan bahwa roh dan jiwa bisa dipisahkan. Dikatakan bahwa firman Tuhan sedemikian berkuasa, atau sangat kuat. Firman Tuhan lebih tajam dari pedang bermata dua mana pun, sedemikian tajam menusuk sampai memisahkan sendi dan sumsum, jiwa dan roh, dan itu membedakan atau memilah pertimbangan dan pikiran hati kita. Jadi di dalam ayat ini, firman Tuhan sanggup memisahkan roh dan jiwa, tulang dan sumsum, pikiran dan pertimbangan dalam mental kita. Maksudnya, jika Roh Kudus bekerja, engkau baru tahu roh itu roh, jiwa itu jiwa, harus dipisahkan. Orang yang menafsirkan Alkitab seperti ini adalah orang yang hanya menafsir secara sebagian. Dari tiga hal yang dipisahkan, hanya dipakai yang pertama saja. Firman Tuhan berkuasa dan tajam, menusuk sangat dalam, memisahkan roh dan jiwa. Barang siapa diberi iluminasi Roh Kudus, ia bisa membedakan jiwa hanya ada pada hewan, tetapi manusia selain jiwa masih ada roh, dan engkau harus bisa membedakannya. Lalu mereka menganggap trikotomi itulah susunan karakter, pribadi manusia, di mana manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu: tubuh, jiwa, dan roh. Sementara hewan hanya mempunyai dua bagian: tubuh dan nyawa, dan tidak ada rohnya. Maka jika hewan mati, selesai hidupnya, dan nyawanya pergi ke kuburan bersamanya. Manusia jika mati, jiwanya bisa mati dengan tubuhnya ke kuburan, tetapi rohnya naik ke atas, ke sorga. Lalu mereka memakai dukungan Pengkhotbah, yang berkata, “Tidak tahukah kamu jika nyawa binatang turun ke bawah, roh manusia menuju ke atas?” Di dalam terjemahan bahasa Mandarin dikatakan, “Nyawa makhluk hewan liar turun ke bawah, roh dari manusia naik ke atas.” Dengan dasar dua ayat ini, mereka membedakan nyawa binatang dan roh manusia. Lalu mereka kaitkan dengan Kejadian 2:7, di mana Allah membentuk tubuh Adam lalu meniupkan napas-Nya ke hidung Adam, maka ia menjadi makhluk hidup, roh yang hidup. Terjemahan bahasa Tionghoa mengatakan, “Seperti manusia diberi roh, manusia hidup oleh roh.” Tetapi di dalam bahasa Inggris dikatakan, “Manusia menjadi makhluk hidup yang berjiwa (the living soul),” dan tidak menggunakan istilah roh. Kata asli dalam bahasa Ibrani untuk Kejadian 2:7 adalah nefes, yang diterjemahkan ke bahasa Arab dan juga Indonesia, sebagai napas. Jadi manusia bernapas “karena Allah memberikan napas kepadanya, manusia hidup bernapas.”

Tetapi istilah napas (nefes) dijadikan jiwa, dan istilah lainnya adalah ruah yang dalam bahasa Arab dan Indonesia disebut roh. Alkitab tidak mengatakan Allah memberikan ruah atau roh kepada manusia untuk menjadi manusia yang hidup. Buku Watchman Nee, The Spiritual Man, yang ditulis ketika ia berusia 26 tahun, memengaruhi ratusan ribu pendeta di seluruh Tiongkok. Mereka percaya trikotomi, menganggap yang tidak percaya trikotomi bukan iman Kristen yang asli, sedangkan yang percaya trikotomi itulah yang ortodoks. Kita memegang Theologi Reformed dan orang Reformed tidak percaya trikotomi, maka Reformed tidak ortodoks. Mereka mengembangkan pemikiran itu sampai akhirnya menjadi anti-intelektualisme. Mereka merasa pentingnya Roh Kudus memimpin membaca Alkitab, tidak perlu membaca buku dan berbagai pemikiran theologi, yang penting pimpinan Roh Kudus untuk memberikan penerangan secara pribadi, maka mereka akan dibangkitkan oleh Roh Kudus.

Pada saat saya menyelidiki Alkitab dan mempelajari Theologi Reformed, hampir tidak ada theolog yang percaya trikotomi. Semua theolog Reformed percaya dikotomi, yaitu manusia terdiri dari tubuh dan jiwa/roh. Seperti yang dikatakan Yakobus, tubuh tanpa jiwa mati adanya. Pada saat seseorang mati, jiwanya pergi darinya, rohnya meninggalkan dia, dia menjadi mayat. Tetapi jika roh ada bersama dia, ia menjadi manusia yang hidup. Sama seperti Tuhan memberikan napas kepada Adam lewat hidungnya, ia menjadi manusia hidup yang berroh. Ini dicatat oleh Alkitab.

Sementara mereka yang membedakan roh dan jiwa juga memakai berbagai ayat Alkitab untuk membuktikan trikotomi. Tetapi sebenarnya para theolog Reformed menemukan bahwa istilah roh dan jiwa dipergunakan silih berganti. Puluhan ayat di Alkitab membuat kita mengerti bahwa istilah roh dan jiwa bisa digunakan saling bergantian dengan pengertian yang sama, tanpa perlu dipisahkan. Bagaimana kita mengerti Ibrani 4:12?

Pada suatu hari, ada lima orang penting dari kelompok Watchman Nee datang ke Indonesia, dan memimpin retret di Jakarta. Saya dipertemukan dengan mereka dengan tujuan agar bisa menyatukan pemikiran. Saya rasa perbedaan trikotomi dan dikotomi sudah menjadi masalah ratusan tahun dan belum pernah bisa diselesaikan, sehingga tidak mungkin dengan sekali pertemuan bisa menyelesaikan masalah yang sudah sedemikian besar. Ketika saya tanya apakah mereka menerima semua pengajaran Watchman Nee, mereka memastikan itu dan menganggap itulah ajaran yang paling murni, ortodoks, dan terpenting. Ketika saya bertanya tentang trikotomi, mereka mengajukan Ibrani 4:12. Lalu saya menanyakan mengapa ayat itu hanya dipakai untuk memisahkan jiwa dan roh. Apakah pernah dipakai untuk menceritakan dan mengajarkan bahwa firman Tuhan begitu tajam sampai membuat sendi dan sumsum terpecah dan berantakan? Ibrani 4:12 justru merupakan suatu gaya bahasa yang menunjukkan bahwa firman Tuhan begitu tajam sampai bisa memisahkan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa terpisahkan, bukan karena memang terpisah. Kalau roh dan jiwa memang terpisah, firman Tuhan tidak perlu tajam. Kalau firman begitu tajam dan betul-betul roh dan jiwa terpisah, sendi dan sumsum juga akan terpisah. Ini suatu penafsiran yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Ketika saya menanyakan tentang hal ini, mereka tidak bisa menjawab sampai saat ini. Tetapi kemudian mereka menyerang saya di dunia maya. Di sini kita melihat perlunya kita belajar firman Tuhan dengan baik. Tema “Aku percaya kepada Roh Kudus” adalah tema yang sangat besar, yang kita akan pelajari berlanjut. Amin.

Pdt. Dr. Stephen Tong

Oktober 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan Tuhan selama 30 tahun bagi GRII.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
@David Chandra : kan kita sama2 mengerti bagaimana Tuhan memulihkan Gereja-Nya dari reformasi melalui Martin Luther...

Selengkapnya...

Apa indikator bahwa gerakan Pentakosta Kharismatik dapat disebut sebagai gerakan pemulihan berikutnya?

Selengkapnya...

Saya diberkati oleh tulisan ini. Tapi pada akhir-akhir tulisan ada bbrp hal yang mengganggu saya, kenapa tulisan2...

Selengkapnya...

Terimakasih atas renungannya sangata memberkati

Selengkapnya...

Terima kasih..sangat memberkati!

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲