Transkrip

Pengakuan Iman Rasuli – Bagian 42: Butir Ketiga (12) Gereja yang Kudus dan Am, Persekutuan Orang Kudus

Pengakuan Iman Rasuli terdiri dari tiga kredo, yaitu kredo pertama: “Aku percaya kepada Allah, Bapa yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi.” Kredo kedua, “Aku percaya kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang Tunggal, Tuhan kita, yang dikandung dari Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria, menderita sengsara di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati, dan dikuburkan, turun ke dalam kerajaan maut. Pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati, naik ke sorga, duduk di sebelah kanan Allah, Bapa yang Mahakuasa. Dan dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.” Kredo ketiga, “Aku percaya kepada Roh Kudus, Gereja yang kudus dan am, persekutuan orang kudus, pengampunan dosa, kebangkitan tubuh, dan hidup yang kekal.” Amin.

Kini kita membahas, “Aku percaya kepada Roh Kudus, Gereja yang kudus dan am, persekutuan orang kudus.” Kekristenan banyak dikritik oleh orang yang tidak bertanggung jawab, yang mengatakan bahwa agama Protestan tidak mementingkan Roh Kudus. Orang seperti ini tidak belajar dan mengetahui bahwa doktrin Roh Kudus adalah doktrin yang penting di dalam ajaran Yohanes Calvin, salah satu tokoh utama Reformasi. Dalam Institutes of the Christian Religion, buku yang membentuk theologi dan ajaran iman Kristen, Calvin menggabungkan pekerjaan keselamatan Kristus yang digenapi melalui inkarnasi, kematian di salib, kebangkitan, kenaikan ke sorga, dan kedatangan kembali, dengan pekerjaan Roh Kudus yang melaksanakan pengampunan sebagai anugerah keselamatan dari Tuhan. Tanpa Roh Kudus, tidak ada Gereja.

Hari Pentakosta adalah hari kelahiran Gereja. Gereja didirikan oleh Yesus Kristus. Setelah mendengar konfesi (pengakuan iman) yang pertama mengenai Kristologi yang diucapkan oleh Petrus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup,” maka Kristus berkata, “Aku akan mendirikan Gereja-Ku di bumi ini, dan batu karang ini akan menjadi fondasinya.” Kristus berjanji akan mendirikan Gereja-Nya di dunia. Orang Katolik Roma menganggap bahwa batu karang itu adalah Petrus, karena kata “batu karang” dalam bahasa Yunani adalah petra, atau petros, sehingga mereka pikir Petruslah yang menjadi fondasi gereja. Ini tidak benar, karena Petrus sendiri mengatakan bahwa fondasi Gereja bukanlah dia, melainkan Kristus sendiri. Petrus menyatakan bahwa dirinya hanyalah batu kecil. Petrus dan kita semua hanyalah batu-batu kecil. Yesuslah batu karang, batu penjuru yang dibuang orang, yang menjadi Batu Pertama, yang merupakan fondasi Gereja. Kristuslah Petra, karena petra berarti batu karang yang besar, sementara petros adalah batu kecil. Pekerjaan Roh Kudus melaksanakan keselamatan yang digenapi Kristus, disempurnakan oleh Kristus, hingga Gereja didirikan di dunia.

“Aku percaya kepada Roh Kudus, Gereja yang kudus dan am.” Gereja disebut kudus karena terbentuk atas orang-orang yang telah disucikan Tuhan. Sebelum dikuduskan, kita adalah orang berdosa, yang dengan penebusan, penyucian, keselamatan, dan pengampunan dosa, disucikan menjadi kudus. Perubahan status orang berdosa menjadi orang kudus adalah karya keselamatan dari Yesus sendiri. Dari orang berdosa yang seharusnya dihukum, dibuang ke neraka, menjadi orang suci yang dibersihkan, diselamatkan, mengalami kelahiran baru diperanakkan oleh Roh Kudus, menikmati Kerajaan Allah; semuanya adalah anugerah keselamatan yang merupakan mujizat Kristus.

Mengapa Gereja disebut kudus? Gereja disebut kudus karena disucikan Tuhan melalui kuasa Kristus, dengan perantaraan Roh Kudus yang membersihkan. Am, karena Gereja bersifat universal, terbentuk dari segala bangsa, negara, benua, suku, dan bahasa. Semua orang percaya dari segala bangsa dijadikan satu, disebut Gereja yang kudus dan am. Gereja yang kudus karena Yesus telah menyelamatkan kita. Am karena semua bangsa dikuduskan Kristus dalam Gereja universal. Tidak boleh ada pembedaan bangsa, lapisan masyarakat, warna kulit, daerah, ataupun suku, karena semuanya bersatu sebagai Gereja yang kudus dan am.

Pertama, aku percaya kepada Roh Kudus; kedua, Gereja yang kudus dan am; ketiga, persekutuan orang kudus. Kalimat ketiga menjadi persekutuan paling indah dalam sejarah. Ketika Pengakuan Iman Rasuli pertama muncul dalam sejarah, masyarakat Kerajaan Romawi saat itu adalah masyarakat yang memecah-belah, yang membuat manusia saling benci satu sama lain. Bangsa Romawi mempunyai hak istimewa, mereka adalah orang mulia yang tidak boleh dihina. Orang Yahudi dan Mesir adalah orang hina. Tentara Romawi menindas agama dan bangsa lain. Perempuan dilecehkan, tawanan dijadikan budak, tidak mempunyai kebebasan sampai mati, hidupnya dibelenggu oleh bangsa Romawi. Nasib mereka tidak pernah berubah sampai Yesus datang ke dunia. Pada saat Yesus datang ke dunia, Ia menerima penghinaan besar, kekejaman bengis, dan kematian paling kejam dalam sejarah: dicambuk, diperlakukan sebagai bangsa yang remeh dan hina, dan dipaku di atas salib. Orang Romawi tidak memaku dan menyalibkan warga negaranya karena mereka adalah bangsa yang tinggi. Bangsa Yahudi dianggap bangsa yang remeh dan hina sehingga boleh dipaku di kayu salib. Petrus mati di salib. Atas permintaan Petrus sendiri, ia dipaku secara terbalik, kepala di bawah, dan kaki di atas. Tetapi Paulus dipenggal kepalanya, tidak boleh dipaku di kayu salib, karena dia adalah warga negara Romawi.

Pada masa kejayaan Romawi, daerah yang mereka jajah lebih luas dari bangsa apa pun dalam sejarah. Mereka begitu sombong dan jaya sehingga mereka menghina bangsa lain. Di masa seperti itulah Yesus Kristus lahir. Ketika Yesus Kristus lahir, Ia mengubah seluruh dunia, memberikan pengharapan kepada lapisan yang paling rendah, yaitu semua budak, yang setelah mendengar Injil Kristus tidak lagi minder dan menghina diri. Mereka mulai mendapatkan pengharapan dan mengharapkan Kerajaan Allah tiba.

Gereja masa kita sering kali tidak memberikan pengharapan kepada manusia yang hidup sengsara. Kekristenan tidak membawa pengharapan baru kepada orang-orang miskin. Dua ribu tahun lalu, ketika Injil diberitakan, orang mendapatkan pengharapan baru, budak dibebaskan, perempuan dianggap setara dengan laki-laki, orang miskin menjadi bebas dan memiliki hak asasi manusia yang belum pernah dimiliki sebelumnya. Setelah Injil dikabarkan pada abad pertama, lima puluh tahun kemudian, seperempat umat manusia menjadi Kristen. Tetapi setelah dua ribu tahun, sekarang pendeta menjadi budak orang kaya, yang berkhotbah hanya menyenangkan para bos. Gereja sekarang banyak yang tidak menyatakan Kerajaan Allah dan sukacita Kristen, tidak memberikan pengharapan iman, tidak mendatangkan perubahan untuk masyarakat. Aku percaya kepada Roh Kudus. Roh Kudus bukanlah Roh yang memihak orang kaya atau memihak orang Romawi.

Roh Kudus adalah Roh yang bekerja membebaskan manusia, menjadikan manusia sama rata, sehingga laki-laki dan perempuan sama-sama dihargai. Banyak gereja yang banyak membicarakan Roh Kudus adalah gereja yang paling tidak mengerti Roh Kudus. Banyak gereja yang banyak mengajarkan tentang Roh Kudus adalah gereja yang menyelewengkan doktrin Roh Kudus, menyalahgunakan firman Tuhan, sehingga kekristenan dilecehkan dan dihina di seluruh dunia. Kita harus jujur memberitakan firman, sesuai Alkitab, dan membawa seluruh manusia kembali kepada rencana asli Allah.

Bagaimana kita menjelaskan Roh Kudus? Siapa itu Roh Kudus? Apakah artinya dipenuhi Roh Kudus? Apa perubahan, ciri khas hidup, dan bagaimana hidup yang sesuai dan dipenuhi Roh Kudus, sesuai Kitab Suci? Gereja Reformed Injili Indonesia berusaha memberitakan firman Tuhan, tidak peduli engkau setuju atau tidak setuju, mau atau tidak mau mengerti, engkau harus membuka hati, membuka pikiranmu untuk diterangi Roh Kudus. Gereja Tuhan terbentuk dari segala bangsa, semua jenis manusia boleh datang ke gereja. Istilah “persekutuan” memerlukan persatuan, rasa hormat seorang terhadap orang yang lain, barulah persekutuan mungkin terjadi.

Pada abad pertama, tidak ada persekutuan yang bisa berjalan, semua masih terpecah-belah, hingga Kristus datang, baru ada persekutuan orang kudus. Persekutuan berarti gabungan untuk menghargai, menghormati, dan menjunjung tinggi bangsa lain, sebagai umat yang dicipta dan ditebus dengan darah Kristus. Persekutuan adalah hal yang penting. Ketika persekutuan tidak ada, maka gereja terpecah-belah, masyarakat hancur lebur; benua lawan benua, suku lawan suku, bangsa lawan bangsa, lapisan masyarakat lawan lapisan masyarakat yang lain, saling injak, saling hina, saling tolak, dan akhirnya tercerai-berai. Hanya di dalam Kristus, pertama kali dalam sejarah ada umat manusia yang bisa dipersatukan dengan benar. Di dalam filsafat Grika, Empedocles mengatakan bahwa unsur seluruh alam semesta ada empat elemen: tanah, api, angin, dan udara. Empat elemen ini yang menjadi dasar semua hal berubah, dan perubahan itu hanya terjadi dengan dua prinsip: penggabungan dan perceraian/perpisahan. Untuk menggabungkan, dibutuhkan cinta kasih; dan untuk memisahkan, perlu kebencian. Cinta mempersatukan dan kebencian memisahkan. Kebencian membuat manusia jauh dari manusia lainnya; suami kalau benci istri, akan pisah atau cerai. Kalau istri atau suami menyeleweng, mengajukan perpisahan. Ini adalah perpisahan dan persatuan yang ditentukan oleh dua unsur: cinta dan benci.

Sebelum Yesus datang ke dunia, tidak ada cinta kasih yang sejati di dunia ini. Yang ada adalah cinta yang egois, memperalat, memfaedahkan sesuatu untuk diri, dan merugikan orang lain. Ketika Kristus datang, Kristus memberikan dan menjalankan cinta yang sungguh, penyangkalan diri, pengorbanan diri yang menggenapkan, mempersatukan, dan menyempurnakan orang lain. Untuk pertama kalinya, cinta yang sejati dikenal oleh manusia melalui Kristus. Sebelum Kristus di dunia, tidak ada cinta—yang menyempurnakan pihak lain—dalam agama, filsafat, dan kebudayaan apa pun dalam sejarah. Kristus menjadi Pemersatu pertama dalam sejarah. Setelah Yesus datang ke dunia, cinta kasih sorgawi dilaksanakan di dunia. Apa yang dikatakan oleh Empedocles, cinta yang mempersatukan, hanya bisa terjadi setelah Kristus datang ke dunia. Kalimat a) gereja, b) kudus dan am, dan c) persekutuan; tiga tahap ini, berarti Kristus a) menyerahkan dirib) memecahkan tubuh-Nya, dan c) mengalirkan darah-Nya, membawa manusia kembali bersatu.

Kasih Allah membuang semua tembok yang memisahkan suku, bangsa, lapisan masyarakat, orang kaya dan orang miskin, laki-laki dan perempuan. Semua dihancurkan temboknya dan dipersatukan menjadi Gereja. Gereja di dalam sejarah menjadi persekutuan yang utuh untuk pertama kalinya dalam dunia. Jika tidak ada Kristus, tidak ada Gereja dan tidak ada keselamatan. Tanpa Kristus, tidak ada persatuan kasih. Persekutuan orang kudus menjadi mungkin setelah Gereja yang kudus dan am. Persekutuan berarti pengenalan, di mana seseorang mengenal seseorang, bersekutu sampai tidak ada halangan, hati ke hati, semua rahasia terbongkar. Pernikahan adalah persekutuan yang paling dasar; persekutuan yang paling diperlukan adalah persekutuan di dalam pernikahan, prinsip persatuan yang tidak ada hambatan dan ketertutupan. Pengenalan dan persekutuan tidak dapat dipisahkan. Tidak mungkin ada pengenalan satu pribadi terhadap pribadi yang lain tanpa bersekutu. Istilah pengenalan dan persekutuan tidak bisa dipisahkan.

Aku percaya kepada Gereja yang kudus dan am, yang kemudian ditambah dengan kalimat “Aku percaya kepada persekutuan orang kudus”. Persekutuan dan kudus digabungkan menjadi satu. Yang murni dengan yang murni baru bisa bersatu. Persatuan memerlukan kemurnian. Alkitab mengatakan, “Persekutuan orang kudus, engkau orang suci, saya orang suci, dan semua orang suci yang bersih ketemu orang suci yang bersih; kedua orang ini bersekutu tanpa jarak, tanpa hambatan, tanpa ada yang memisahkan.” Dalam 1 Yohanes 1:7-8 dituliskan, “Jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain.” Orang Kristen berjalan dalam terang, sama seperti Allah berada di dalam terang, maka kita bersekutu. Jika kita berjalan dalam terang, sama seperti Tuhan ada dalam terang, kita bersekutu di dalam Dia. Terang dengan terang, tengahnya tidak ada batasan. Engkau yang berjalan dalam terang dengan orang Kristen lain yang juga dalam terang mempunyai persekutuan yang tidak memiliki batasan. Allah adalah Kasih dan kasih itu tak berbatas. Allah adalah Terang dan terang itu tak berbatas. Allah adalah Hidup dan hidup itu tak berbatas. Di mana ada terang, kegelapan hancur; di mana ada hidup, kematian hancur.

Bersatu berarti persekutuan, persekutuan berarti pengenalan. Orang Kristen mengenal orang Kristen lain, orang Kristen mencintai orang Kristen yang lain, di dalam terang, dan di dalam kasih, hidup dalam Tuhan. Inilah yang namanya persekutuan gereja. Persekutuan yang dilandaskan di dalam cinta kasih dan persatuan, maka tidak ada batasan lagi seperti ras, suku, warna kulit, dan lain-lain. Alkitab mengatakan, “Kita memiliki persekutuan dengan Allah terlebih dahulu, maka kita akan dapat memiliki persekutuan dengan sesama kita.” Di dalam 1 Yohanes 1:7 dikatakan, “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.” Semua yang hidup di dalam terang bersekutu satu dengan yang lain.

Persekutuan orang kudus berarti persatuan orang Kristen. Persatuan orang Kristen dimungkinkan karena terang, cahaya kebenaran firman, dan hidup yang berasal dari Tuhan membuatnya bersatu. Pada abad pertama, ketika orang Yahudi bersatu dengan orang Yunani dan orang Romawi, ketika laki-laki dan perempuan, majikan dan budak dapat bersekutu dan bersatu di dalam Tuhan, itu semua dikarenakan Kristus. Terjadi cinta kasih yang melampaui bangsa, suku, warna kulit, dan benua; hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini hanya dimungkinkan karena Kristus dan bisa berlangsung hingga hari ini. Tidak ada orang, ideologi, atau agama di dunia yang dapat mempersatukan manusia seindah Kristus. Kristus datang ke dunia dengan membawa perdamaian, persatuan, dan cinta kasih yang terbesar. Sejak Adam dan Hawa berdosa melawan Tuhan, lalu Kain membunuh Habel, dunia dipenuhi dengan sejarah perseteruan dan peperangan. Ada pepatah yang mengatakan bahwa semua buku sejarah ditulis dengan darah manusia. Perpisahan, peperangan, dan perceraian terus mengancam manusia. Hidup tidak ada damai, hingga Kristus datang ke dunia.

Ketika Kristus hadir di dunia, Ia mendamaikan engkau dan saya dengan Tuhan Allah. Perdamaian yang Kristus lakukan mempersatukan seluruh alam semesta. Kristus mengerjakan lima bentuk pendamaian bagi umat manusia, yaitu:

Pertama, Kristus mendamaikan orang berdosa dengan Allah. Melalui sengsara penderitaan dan dipaku di kayu salib, Ia berkata, “Ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Ini adalah pendamaian yang pertama, pendamaian agar orang berdosa dapat kembali kepada Allah Bapa. Ia mati membawa dan memungkinkan kita berdamai dengan Allah.

Kedua, Kristus mendamaikan kita dengan diri kita sendiri. Banyak orang bunuh diri karena ia tidak dapat berdamai dengan dirinya sendiri, tidak dapat mengampuni dirinya, merasa tidak mempunyai jalan lain. Orang yang bunuh diri, ketika ia mati akan langsung sadar bahwa ia telah salah membunuh tubuhnya, tetapi tetap harus menghadapi dosanya. Tetapi andai ia mau menyesal, tetap tidak dapat membangkitkan kembali tubuhnya. Dirinya masih melihat diri yang masih berdosa, tidak ada lagi pengampunan dosa yang bisa ia dapatkan. Orang bunuh diri karena tidak bisa mengampuni diri, sementara Kristus datang untuk mendamaikan kita dengan diri kita. Inilah pendamaian yang kedua.

Ketiga, Kristus mendamaikan kita dengan orang lain. Berapa banyak musuhmu? Banyakkah orang yang menghina engkau? Banyakkah orang yang engkau benci? Banyakkah orang yang tidak bisa engkau ampuni dosanya? Hal-hal ini sering kali menghambat pertumbuhan rohani kita dan berbagai aspek kehidupan kita juga, sehingga kita tidak bisa memiliki hidup yang sejahtera, sulit merasakan hidup yang leluasa, puas, dan bahagia, karena terus dibayang-bayangi oleh kebencian. Permusuhan yang meningkat akan merebut kebahagiaan. Tidak pernah ada hati yang tenang dan sentosa ketika kebencian menguasai kita, kecuali ketika engkau menerima Yesus, menerima keselamatan, menerima pengampunan dari Tuhan. Saat itulah engkau mulai dapat mengampuni musuhmu. Berbahagialah orang yang di hatinya tidak ada musuh, yang dapat mengampuni orang yang bersalah kepadanya. Sebelum engkau menjadi Kristen, Tuhan mengampuni dosamu, lalu dengan Roh Kudus menggerakkan engkau untuk menerima Kristus sebagai Juruselamat.

Setelah menerima Tuhan sebagai Juruselamat dan meminta pengampunan dari Tuhan, kemudian kita mulai belajar bagaimana mengampuni orang lain. Pertama, Tuhan mengampuni engkau dan menyelamatkan engkau, lalu engkau meminta Tuhan untuk memberikan kekuatan untuk mengampuni orang lain, supaya dapat hidup seperti Tuhan. Kedua, belajar dan berjuang untuk mengampuni dosa orang lain. Ketiga, setelah mengampuni orang lain, sama seperti Yesus mengampuni, baru kita berhak meminta pengampunan dari Tuhan.

Keempat, mendamaikan manusia dengan manusia lainnya. Dalam Doa Bapa Kami kita berdoa, “Ampunilah dosa kami sama seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Kalimat ini sering kali dipertanyakan, mungkinkah Allah mengampuni kita seperti kita mengampuni orang lain? Apakah ini berarti kita menjadi teladan mengampuni? Bukankah ini terbalik? Bukankah seharusnya Tuhan mengampuni dahulu baru kita mengampuni? Di dalam aspek keempat ini, kita perlu minta kekuatan dari Tuhan untuk bisa menjadi pendamai yang mendamaikan manusia dengan manusia lainnya. Dunia penuh kebencian dan permusuhan. Inilah tanggung jawab orang Kristen di tengah dunia yang penuh kebencian. Engkau dan saya harus mendamaikan manusia dengan manusia lain, dengan berusaha menghentikan semua permusuhan yang ada di tengah mereka. Jika orang Kristen di gereja justu membuat permusuhan, perselisihan, itu orang Kristen yang buruk, yang harus dihakimi oleh Tuhan, karena orang Kristen tidak seharusnya menimbulkan permusuhan dan mengacaukan orang lain. Orang Kristen mempunyai tugas mendamaikan dunia. Jika ada kebencian, jangan ditambahkan, tetapi dipadamkan. Jadilah orang Kristen yang mendamaikan orang yang bermusuhan, menghentikan kebencian. Jika engkau selalu menyulut api, membakar kebencian, jangan menamakan diri Kristen. Hadirkan cinta kasih di antara mereka yang penuh kebencian. Jangan membakar emosi, menghancurkan emosi, merusak keharmonisan. Kita hadirkan perdamaian!

Kelima, membawa orang lain melalui Injil berdamai dengan Allah, mendamaikan manusia dengan Allah. Setelah Yesus bangkit dari antara orang mati, kalimat yang selalu diucapkan-Nya ketika bertemu orang adalah, Damai sejahtera bagimu.” Orang Kristen harus bersekutu, bersekutu di dalam damai sejahtera Tuhan. Karena Ia mengenal mereka, dan ada persekutuan di antara mereka, maka terjadilah komunikasi. Aku percaya kepada Roh Kudus, Gereja yang kudus dan am, persekutuan orang kudus. Amin.

Pdt. Dr. Stephen Tong

September 2020

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk acara Global Convention on Christian Faith and World Evangelization dan Seminar Reformasi 2020 yang telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2020.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲