Transkrip

Pengakuan Iman Rasuli – Bagian 7: Bagian 8: Butir Kedua (2) Dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita.

Hari ini saya meneruskan PIR butir pertama dilanjutkan ke butir ke-2. Butir ke-2 yang terpanjang, terpenting, karena inilah inti iman Kristen yaitu Kristus atau kristologi. Kristologi pernah kita seminarkan 25 tahun lalu pertama kalinya di Indonesia, cuma 3 hari, tetapi untuk SPIK bagi Generasi Baru sudah 3 kali (pertama, Yesus: Jalan, Kebenaran, dan Hidup; kedua, Yesus: Imam, Nabi, dan Raja; dan ketiga, Yesus: Allah, Manusia, dan Pengantara) dan nanti keempat di April, Kristus dalam Alam Semesta, Sejarah, dan Gereja. Semuanya agak berbeda dengan penguraian yang saya khotbahkan dalam PIR. Butir pertama sudah lebih dari sebulan kita bahas. Saya akan memberi sedikit kesimpulan tentang butir pertama frasa ke-2 (“Bapa yang Mahakuasa”). 

Tidak dikatakan “Allah yang Mahakuasa” tetapi “Bapa yang Mahakuasa” karena relasi Allah dengan kita itu relasi yang intim antara Bapa dan anak, jadi kita sebut Allah sebagai Bapa. Sebutan Allah sebagai Bapa hanya ada di dalam iman Kristen khususnya dalam PIR. Sepanjang ratusan tahun, banyak orang mulai memikirkan jika Allah memang Mahakuasa: Kenapa setan masih ada? Kurangkah kuasa-Nya menyingkirkan semua kesengsaraan? Dan, kenapa dunia ini masih tidak sempurna? Maka, atas butir ini orang-orang menyerang iman Kristen, “Allah pasti tidak sempurna, jika sempurna kenapa kuasa-Nya tidak bisa melenyapkan itu? Mungkin Allah Mahakuasa, tetapi Ia tidak mau menghancurkan setan, memusnahkan kejahatan, dan menghentikan sengsara, sehingga yang Mahakuasa hatinya kurang baik dan pasti tidak Mahabajik.” Di antara 2 hal ini menjadi kesulitan bagi orang yang menyerang kekristenan atau orang yang melihat apa yang bisa diterima manusia. Manusia yang rasionalis menganggap rasio harus dimutlakkan dan menjadi tolok ukur, maka yang tidak masuk akal atau sesuai rasio pasti bukan kebenaran. Kaum intelektual yang menganggap diri pintar selalu bersikap seperti itu, membanggakan diri, merasa terpelajar, dan mempunyai reasoning power yang kuat, maka menilai kekristenan pasti tidak masuk akal.

Saat berumur 15 tahun, saya mempunyai pikiran seperti itu, menganggap diri seorang pemuda yang terintelek, terpintar, dan tidak ada yang sebaya saya yang bisa melawan saya dalam belajar apa pun. Maka, saya melihat bahwa orang tanpa alasan menerima kekristenan, itu bodoh, kurang akal, dan takhayul. Pelan-pelan, saya dipengaruhi atheisme. Di mana Allah? Saya tidak bisa lihat, buktikan, pikirkan dengan jelas, dan alami. Saya jatuh ke dalam atheisme, komunisme, evolusionisme. Bagi saya, semua agama itu tak bertanggung jawab dan teruji, mustahil diterima kaum intelektual. Akhirnya saya mulai pikir, jika Kristen tidak masuk akal, kenapa umat Kristen begitu banyak dan banyak di antaranya yang pintar? Sejak Revolusi Industri Inggris sampai tahun 1960-an, ada 300 ilmuwan dan penemu, di mana 262 orang di antaranya ialah Kristen, termasuk Galileo, Kepler, Newton, penemu chloroform, dan lain-lain. Dalam kebimbangan, saya mencoba melewati suatu jangka waktu tidak percaya Tuhan. Saya tidak mau ke gereja dan memelihara iman Kristen, tetapi menyombongkan diri. Saya mulai pikir, apakah pikiran itu sendiri boleh tahan uji. Jika saya mengukur semua kebenaran yang diklaim dalam agama melalui rasio manusia yang kecil, sedangkan rasio ini tidak bisa diandalkan, maka saya menipu diri. 

Allah adalah Allah, karena Ia mutlak, sempurna, kekal, tak bersalah, dan satu-satunya sumber kebenaran. Pikiran manusia selalu terkurung cara berpikir atau dalil logika yang sempit. Misalnya, jika bukan begini, maka begitu; jika bukan begitu, maka begini. Ini alternatif yang tertutup sebagai sistem tertutup yang membelenggu manusia sendiri. Jika dalil logika sendiri tidak bisa dipercaya, apakah rasio pasti benar? Kurang lebih 300 tahun yang lalu, John Locke berkata, “Do not think that there are only 2 alternatives of rational and counter-rational.” Rasional yaitu yang masuk akal dan kontra-rasional yaitu yang tidak masuk akal. Manusia selalu membagi segalanya menjadi 2 kemungkinan saja: rasional dan kontra-rasional. Locke telah memberi istilah penting dalam sejarah filsafat, “supra-rasional”, yaitu sesuatu yang melampaui akal. Saya percaya, ada 2 hal yang sangat menonjol dalam pikiran Locke: konsep supra-rasional dan toleransi. Ia menulis buku tentang toleransi dan mengubah sistem agama di Inggris, karena agama yang otoritatif selalu menganggap diri benar, dan menekan, menganiaya, bahkan membunuh kaum yang berbeda, dan merasa inilah hak yang seharusnya ada pada mahkamah agama. Bagi Locke, harus ada toleransi bagi mereka yang berpikir dan berkeyakinan yang berbeda, dan membiarkan mereka hidup tanpa boleh ditekan atau dianiaya.

Suatu pagi di atas gunung, Yosua dikejutkan seseorang yang besar berdiri di hadapannya. Maka, ia bertanya, “Kawankah kau atau lawan?” Orang itu menjawab, “Bukan, tetapi akulah panglima bala tentara Tuhan. Sekarang aku datang.” Kalimat itu mengandung kemungkinan ketiga. Ini suatu open system; 2 jalan itu closed system. Yosua lega, “Aku memimpin sekitar 600.000 serdadu dan sekarang aku tidak sendiri.” Saat kemungkinan ketiga muncul, pengharapan mulai terbit. “Sekarang aku tidak usah takut, ini jawaban Tuhan.” Dalam sejarah, manusia terikat pada either-or: Jika bukan begini, pasti lawannya. Tuhan mempunyai pikiran yang berbeda. Jawaban Allah, “Pikiran-Ku lebih tinggi daripada either-or.” Ini baru dimengerti Kierkegaard 3.300 tahun setelah nas itu ditulis. Ia berkata, bukan either-or, tetapi neither-nor. Cara Tuhan sangat berbeda, maka Barth berkata, “God is the Wholly Other.” Ia sama sekali berbeda dengan apa pun. Kau bisa membayangkan Allah mestinya begini, akhirnya kau berkata Allah lebih tinggi daripada yang kaupikirkan. Allah memimpinmu.

Saat berumur 16 tahun, saya pikir jika menerima komunisme, atheisme, evolusionisme, dan materialisme dialektis, apakah saya dapat mengerti alam semesta, kekristenan, dan kesulitan? Barulah saya mulai membuka pikiran dan tidak mengandalkan rasio, karena rasio tidak bisa diandalkan, terbatas, dan mengikat diri yang tidak kita sadari. Dalam setengah tahun saya berdoa, “Tuhan, jika Engkau Allah sejati, nyatakanlah Engkau bisa menjawab pertanyaanku. Tolong ubahlah aku menjadi anak-Mu yang mengerti kebenaran. Aku akan terlepas dari ikatan rasio, dan menerima kebenaran.” Allah berkata kepada Yosua, neither-nor. Saya mulai digugah. Jika rasio bukan mutlak dan sempurna, tetapi terbatas, bagaimana menilai Allah yang tak terbatas? Maka pikiran saya mulai loncat, melalui tidak percaya rasio sebagai mutlak, tetapi tidak mau melawan dalil rasio dalam pergumulan sulit dan paradoks ini, saya mengembangkan cara mengerti semua doktrin dengan cara sendiri. Saya berpikir seperti Descartes berpikir, tentang pikiran dan keraguan, dan saat saya ragu saya tidak boleh meragukan bahwa saya sedang ragu. Dari situ rasionalisme mulai. “Saya berpikir, maka saya ada.” Saat berpikir saya memakai pikiran meragukan semua, tetapi saya tidak boleh meragukan bahwa saya sedang berpikir. Boleh ragu, tidak boleh ragu bahwa saya sedang ragu. Saat sedang ragu, saya ada karena saya bisa berpikir. Meragukan adalah bukti saya masih hidup. Saya memakai cara yang beda yang menerobos Descartes.

Gelas ini transparan, maka baru bisa dilihat isinya. Dulu raja minum tidak tahu isinya, begitu minum racun langsung mati. Kaca transparan membuat saya lebih mudah mendeteksi isinya. Benda yang tidak tahu ia di situ tetapi ia ada di situ, namanya kaca. Rasio memerlukan keterbukaan untuk alternatif yang lain, neither-nor. Neither-nor melampaui 2 pilihan yang sudah ada. Kaca mengubah pandangan/ konsep melihat dan konsep komunikasi. Jika rasio saya masih tertutup dan terkunci dalam konsep lama, saya tidak bisa percaya Tuhan. Yang bisa percaya Tuhan yaitu mau melampaui kemungkinan either-or yang membatasi. Maka saat umur 17 tahun kurang 2 bulan, ada buku dan pendeta yang cukup baik dari luar negeri memberi penjelasan yang mengubah saya. Akhirnya saya mulai tunduk kepada Tuhan, merendahkan hati, dan berkata, “Tuhan, jika Engkau sudah menjawabku, aku akan berjanji berkeliling dunia menjawab pertanyaan-pertanyaan banyak orang. Banyak pemuda/i dan kaum remaja yang pintar memakai rasio meragukan Tuhan. Tolong beriku kekuatan dan pengertian, aku berjanji kepada-Mu pergi ke seluruh dunia menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.” Sekarang saya sudah tua, tetapi masih menjalankan apa yang saya janjikan pada Tuhan. Tahun lalu, saya berkeliling ke AS, antara lain ke Columbia University, MIT, Harvard University, Boston College, Boston University, San Francisco University, UC Berkeley, Cornell University, dan Rockefeller College menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, menjalankan apa yang pernah saya janjikan di hadapan Tuhan.

Saat dikunjungi orang besar itu, barulah Yosua tahu, let God be God. Jangan menaruh Allah di bawah wilayah ciptaan, lalu memakai logika ciptaan menekan Dia. Allah berhak dan layak “melawan” hukum, karena semua hukum Ia yang buat. Ia melampaui semua hukum. Di sini kita membentuk kembali bagaimana saya beriman Kristen dan menerima wahyu Tuhan yang melampaui akal. Terakhir saya menemukan, saat saya berpikir ini, saya berpikir bagaimana pikiran saya berpikir. Dengan pikiran memikirkan bagaimana pikiran berpikir. Di sini saya menemukan suatu kesulitan terbesar. Yang berpikir, yang dipikir, dan pikiran tentang bagaimana otak berpikir. Yang berpikir itu subjek, yang dipikir itu objek. Subjeknya dan objeknya otak. Lalu pikirannya yaitu bagaimana otak berpikir. Di situ saya mulai menemukan keterbatasanrasionalisme. Buntulah kesulitan manusia dalam hal pikiran, sehingga rasio bukan mutlak dan ada keterbatasan. Saat rasio berpikir tentang rasio itu sendiri untuk tahu bagaimana rasio berpikir, maka ada hal yang rasio tidak mengerti, karena rasio sendiri tidak tahu bagaimana berpikir. Semuanya kacau balau dan menjadi satu. Akhirnya saya menyerah. Saat sudah mengerti semua ini, saya berani menjadi hamba Tuhan yang rasional, tetapi bukan rasionalis. Saya memakai rasio, sebagai ciptaan Allah, untuk memikirkan tentang Allah. Tetapi Allah itu Allah, rasio itu rasio. Rasio diciptakan Allah, rasio bukan Allah, dan Allah bukan rasio. Allah lebih tinggi daripada rasio, maka iman tidak boleh dikurung, dibatasi, dan tunduk sebagai budak rasio. Iman harus melampaui rasio.
Masih ingat buku dan film Da Vinci Code yang ditulis Dan Brown? Semua saya ikuti dan membuat suatu seminar untuk menjelaskan kemustahilan Da Vinci Code, di mana peserta di Jakarta saja sekitar 7.000 orang dan di beberapa kota Asia Tenggara lebih dari 48.000 orang. Saat itu buku ini terjual kurang lebih 60 juta eksemplar, maka tampaknya kekristenan akan dirobohkan dan dihancurkan seorang Dan Brown. Tetapi sekarang sudah lebih dari 20 tahun sejak buku itu terbit, kekristenan tidak roboh. Mustahil, manusia dengan otaknya mau melawan Allah yang melampaui otak. Kau berkata, jika manusia Kristen itu otaknya jelek, pikirannya rendah, pengetahuannya masih primitif, mudah dihancurkan. Saya membuktikan GRII bukan gereja yang mudah dihancurkan, tetapi secara bertanggung jawab menjelaskan firman Tuhan yang menaklukkan kaum intelektual yang tertinggi agar menyembah Tuhan dan takkan dirobohkan Dan Brown. Dengan semangat dan keberanian seperti ini, kita tampil di hadapan dunia intelektual. Kristen yang sudah teruji dan terbukti yaitu Kristen Reformed dan yang mau menginjili. Selama 500 tahun ini Reformed telah kukuh, gigih, berani, memelihara iman Kristen melawan semua serangan, baik dari filsafat, politik, agama, kebudayaan, mitologi yang berusaha menyerang kekristenan. Reformed mempunyai gabungan di antara rasional, tetapi bukan rasionalis. Kita berpikir, tetapi tidak menyembah rasio sebagai ilah. Akhirnya, kita bisa berdiri, melawan, dan bertahan. Tuhan yang coba diserang dan dihancurkan, bukan saja tidak hancur, malah yang mencoba menghancurkan Tuhan hancur sendiri. Karena Allah hidup adanya. Maka, istilah yang tepat bukan “Allah”, tetapi “Bapa”. Yang disebut Bapa yang Mahakuasa, berarti Dia Allah yang menjadi Bapa yang mengasihi kita.

Lalu, kenapa frasa “Allah yang Mahakuasa” bisa ditolak. Tahun 1950, seorang filsuf sejarah Inggris terbesar, Sir Arnold Toynbee, menulis 12 volume A Study of History yang membahas tentang apa yang pernah terjadi di Barat dan Timur sepanjang sejarah. Ia membagi puluhan macam kebudayaan. Aztek, Maya, Babilonia, Romawi, Mesir, Siria, Tiongkok, Jepang, India, seluruh dunia diberikan ilustrasi dan penjelasan. Saat tuanya, ia menyimpulkan dengan menulis satu volume lagi A Study of History yang agak pendek. Toynbee berkata, jika Allah Mahakuasa maka hati-Nya tidak baik, hingga Ia masih mengizinkan setan mengganggu kita, membiarkan ada cacat dan sakit, agar kita menderita. Jika Allah Mahabaik pasti Ia tidak Mahakuasa. Allah Mahabaik artinya mestinya semua baik, sempurna, aman, dan sejahtera. Jika Allah Mahabaik pasti tidak Mahakuasa, jika Allah Mahakuasa pasti tidak Mahabaik, maka Allah itu salah satu, either-or. Seperti kasus Yosua, di mana Allah Mahabaik sekaligus Mahakuasa, hanya dapat dimengerti dari “Bapa”. Bapa penuh dengan kasih, kemurahan, hikmat, dan mempunyai niat yang baik bagi anak-anak-Nya dengan segala rencana dan pemeliharaan-Nya. Tuhan berkata, “Aku Mahakuasa dan Mahabaik, tetapi hal yang terjadi masih ada cacat, setan, kesulitan, dan sengsara karena 2 hal: waktu-Ku belum tiba dan Aku memproses umat-Ku dengan mendidik dan menguji mereka.”

Jika kau sudah mengalami penerobosan dan pelampauan, di mana bukan either-or tetapi neither-nor, maka kau menjadi orang yang merdeka. Allah memiliki sifat melampaui, yaitu supratransenden atas segala sesuatu. Maka, kita melihat Allah selalu memakai neither-nor dan supratranscendent method dalam memberikan firman. Tuhan mau orang dengan hati yang murni terbuka kepada-Nya, agar Tuhan sendiri yang bekerja dalam hatinya, menjadikannya orang yang melampaui either-or yang bersifat mengikat dan membatasi. Tadi saya menyinggung 2 hal: “Aku Bapamu” dan “waktu-Ku belum tiba”. Anak berkata, “Kenapa Papa tidak memberikan saya uang sebanyak mungkin, engkau kan banyak uang?” Papa menjawab, “Aku tidak boleh memberimu banyak. Jika aku memberimu banyak uang, aku merusakmu dan melanggar didikanku atasmu.” Semua orang kaya yang memberi anaknya banyak uang, merusak mereka. Saya menyesali gereja ini karena beberapa orang kaya mengira saya selalu memarahi orang kaya dan sekarang tidak mau datang lagi. Tetapi kenapa saya berkata, “Kamu anak kaya dalam bahaya,” karena kamu lahir dalam keluarga kaya sehingga kamu tidak punya kesempatan berjuang yang cukup, karena mau apa pun kamu akan senantiasa diberi. Allah yang Mahakuasa tidak memberi segala yang kita doakan. Jika kau berdoa apa saja diberi, maka kau sudah mulai dibuang Tuhan. Yang kaudoakan tidak diberi, membuktikan Tuhan mengasihimu. Beri tahu orang kaya, “Pak Tong masih mengasihimu, masih ingin memarahimu lagi, coba kembali lagi.” Bagaimana boleh seorang ayah yang punya uang semuanya diberikan pada anaknya? Jika ayah mampu pun ia tidak boleh sembarangan memberikannya kepada anak. Salah mengerti kemahakuasaan dan kemahabaikan Allah akan merusakmu. Menjadi anak saya lebih sulit daripada menjadi anak pendeta lainnya. Saya keras sekali kepada anak-anak saya, karena mereka harus dilatih untuk berjuang, mengalami kesulitan, agar nanti kesuksesannya tahan uji. Biarkan anakmu berjuang sendiri, melawan kesulitan, kepahitan, dan segala kecacatan. Akhirnya ia mampu menangani dan mengalahkan semua, barulah ia jadi. Itulah ayah yang baik dan anak yang bahagia. Hari ini saya khusus menambah bagian ini untuk memberimu pengetahuan bahwa Yang Mahakuasa juga adalah Yang Mahakasih, tetapi karena kedua ini menjadi satu masih ada unsur lain yang membuat kita tidak bisa nikmat. “Waktu-Ku belum tiba untuk memberimu segalanya lengkap. Karena mengasihimu, Aku memberimu kesempatan berjuang. Saat kau berjuang Aku tidak boleh membantumu, karena jika Aku bantu maka kau akan hancur, niat perjuanganmu lenyap, dan kau tidak bisa sukses.” Kemahakuasaan dan kemahabaikan mengandung pengertian melatih dan memberimu semangat perjuangan agar kau punya fighting spirit. Jika di sekolah anakmu dimarahi gurunya, jangan bela anakmu. Datanglah ke sekolah, tanyalah dengan rendah hati, kenapa anakmu dihukum. Gurunya akan berkata, “Anakmu salahnya ini dan itu.” Setelah kau mengerti, lalu pulang menegur anakmu, maka ia akan menjadi baik. Saya sudah melihat semua orang tua yang membela anaknya, anak-anak mereka rusak semuanya. Tetapi orang tua yang berani menegur anak-anaknya dan bekerja sama dengan gurunya mendidik mereka dengan kasih, memberi mereka hukuman dan lalu penjelasan menyusul. Jika hukuman sudah dijalankan, penjelasan sudah lengkap, dan si anak sambil mengakui kesalahannya menerima hukuman, maka ia akan menjadi baik. Yang terpenting, kehendak-Mu jadilah, Kerajaan-Mu datanglah. Paulus berkata, “Bagiku dunia sudah disalibkan, bagi dunia aku sudah disalibkan.” Para pemuda/i yang dulu tidak pernah ke sini, sekarang mulai berdatangan mendengarkan. Di sini mencari kehendak Tuhan, makna dan mutu kehidupan, prinsip perjuangan, agar kau menjadi manusia yang berguna dan diberkati Tuhan. Ingatlah, “Ia Bapaku, Bapa yang Mahakuasa,” kenapa tidak melindungiku? Ia ada rencana lain, waktu-Nya belum tiba, dan agar kau bisa berbagian dalam semangat perjuangan. Amin.

Pdt. Dr. Stephen Tong

November 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi yang telah menjangkau 17 kota di Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Allah menghendaki agar semua orang selamat bukan sebagian orang, 1 Timotius 2:4 yang menghendaki supaya semua orang...

Selengkapnya...

Apakah postmodern yang akan semakin berkembang kedepan harus Kita tolak sebagi orang Kristen? Karena mungkin saja Ada...

Selengkapnya...

Apakah postmodern yang akan semakin berkembang kedepan harus Kita tolak sebagi orang Kristen? Karena mungkin saja Ada...

Selengkapnya...

Bila ALLAH tidak mem-predstinasi maka semua manusia masuk neraka. Karena ALLAH mem-predestinasi maka ALLAH mengutus...

Selengkapnya...

Saya sangat diberkati artikel ini. Seharusnya orang kristian itu berbuah dan terus berbuah.Tuhan mmeberkati kita...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲