Transkrip

To Reach the Unreached People

Sebelum saya menjelaskan sedikit tentang pelayanan kami di Indonesia, saya akan memberikan latar belakang tentang saya, supaya ini dapat menolong kita dalam pergumulan hidup kita masing-masing, karena pada suatu saat kita harus berhenti dan bertanya, “Kehidupan kita menuju ke mana? Apa yang menjadi maksud atau tujuan hidup kita?” Saya mulai dengan suatu cerita. Ada seseorang yang sakit arthritis (rheumatic). Ia pergi ke dokter dan dokter berkata, “Sebenarnya kalau mau sembuh, berat badanmu harus diturunkan. Kamu terlalu gemuk.” Dokter menyarankannya agar berjalan 10 km setiap hari supaya ia lebih kurus dan tulang-tulangnya tidak terasa nyeri lagi. Jadi ia berjalan 10 km setiap hari. Sebulan kemudian ia menelepon dokter. Dokternya bertanya, “Bagaimana sekarang?” “Aduh, rasanya enak, saya sudah tidak terganggu lagi.” “Lalu bagaimana?” “Sekarang saya ada satu masalah.” “Masalahnya apa?” “Sekarang saya  berada 300 km dari rumah saya dan tidak tahu bagaimana caranya pulang.” Nampaknya kita juga demikian dalam kehidupan ini. Pokoknya setiap hari berjalan saja, sampai akhirnya kita sadar, “Lho, saya sekarang ada di mana?” Bukan saja sekarang saya ada di mana, tetapi saya menuju ke mana?

Saya kira pertanyaan yang besar untuk kita yaitu “kita menuju ke mana?” itu sudah dijawab dengan kita beriman kepada Kristus. Berarti kita menuju ke sorga. Namun kita dipercayakan beberapa tahun saja di dunia ini—mungkin 50, mungkin 60—sampai tubuh kita tidak kuat lagi. Sekarang tujuan hidup kita ini apakah untuk hidup yang sekarang saja atau untuk mengumpulkan harta di sorga nanti? Saya dulu bekerja untuk Motorola sebagai computer engineer. Seandainya saya masih bekerja mungkin gaji saya sekarang dua kali lipat gaji Saudara. Saya wisuda dengan cum laude dan saya seorang computer engineer. Akan tetapi saya mempunyai satu passion—satu hal yang memotivasi saya—yaitu bagaimana jiwa-jiwa lain yang belum mengenal Tuhan bisa mengenal Dia. Bukan alasan kita untuk mengatakan, “Pokoknya saya beriman atau taat kepada Tuhan, itu sudah cukup.” Cukup sih cukup. Kalau hanya mau cukup ya terserah. Saya mau yang terbaik; saya mau melakukan segala sesuatu yang Tuhan ingin saya kerjakan. Saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan dan berkat yang Tuhan berikan kepada saya. Saya mempunyai satu tekad: hidup tanpa penyesalan. Kalau saya mati hari ini, saya tidak menyesal. Hal-hal yang saya lakukan dalam hidup saya adalah hal-hal yang dipercayakan oleh Tuhan kepada saya, sehingga saya tidak menyesal. Saya mempunyai karir dan saya bisa menjadi kaya, tetapi saya meninggalkan itu semua. Mengapa? Karena Tuhan memanggil saya untuk lebih mementingkan orang lain daripada mementingkan diri sendiri.

Ini suatu pergumulan untuk kita semua. Kita berasal dari Indonesia. Kebanyakan datang ke Singapura karena melihat masa depan Indonesia. Ada banyak alasan mengapa kalau melihat Indonesia kita khawatir akan masa depan. Saya sendiri tahu dan lebih khawatir untuk Indonesia. Indonesia sekarang seperti kapal Titanic, sudah menabrak gunung es, sudah ada lobang yang besar di dalam. Semua penumpang kelas satu, yang punya uang, sudah lari dari kapal Titanic. Sekarang yang lain yang berada di dalam Titanic tidak mengetahui keadaan Titanic. Hanya sekarang ada kapal lain di samping Titanic, namanya Yesus Kristus, tetapi orang di dalam Titanic tidak tahu karena dibodohi, dibutakan, dan tidak mengerti bahwa harapan satu-satunya adalah pindah kapal. Kapal sudah tersedia tetapi mereka tidak tahu. Secara logika, lebih baik pindah saja ke Singapura. Lebih baik saya mencari kesempatan yang punya harapan yang lebih besar bagi saya. Tetapi kita harus melihat bahwa kalau kita hidup untuk sorga, kalau kita mengerti bahwa Injil itu untuk semua orang dan ada jutaan jiwa di negara kita yang tidak tahu, ini adalah tanggung jawab besar buat kita, yang tidak bisa begitu saja diabaikan. Dulu saya bekerja membuat sistem komunikasi untuk perusahaan-perusahaan raksasa. Akhirnya saya melihat kalau saya akan bekerja keras, saya akan bekerja keras untuk Tuhan. Maka saya datang ke Indonesia. Saya mempunyai seorang teman kuliah dulu, yang sekarang ada di Jakarta. Ia hanya mengajari saya mengatakan, “Puji Tuhan! Tuhan mencintaimu.” Saya turun dari pesawat, saya hanya bisa mengatakan itu kepada semua orang.

Kalau kita melihat suku-suku di seluruh dunia, suku-suku terbesar yang belum mengenal Kristus ada di Indonesia. Dari 35 juta orang Sunda, berapa orang yang percaya kepada Kristus? Secara KTP ada 20.000 tetapi yang sungguh percaya hanya 4000 orang. Di antara 35 juta jiwa, hanya 4000 yang percaya kepada Kristus. Kalau kita melihat kota Jakarta, berapa banyak orang Kristen di Jakarta? 1 juta lebih. Di luar kota Jakarta ada suku terbesar di seluruh dunia yang belum mengenal Kristus. Itu dosa paling besar untuk Gereja di Indonesia. Nanti di sorga kita harus bertanggung jawab untuk suku-suku seperti suku Sunda. Suku Minangkabau ada 8 juta orang tetapi hanya ada 400 orang percaya. Bagaimana dengan mereka? Bagaimana kalau kita melihat orang-orang dalam keadaan demikian? Kita harus bergumul di hadapan Tuhan. Apa yang Tuhan inginkan dari saya? Bagaimana saya bisa dipakai dengan apa yang saya miliki? Bagaimana ini bisa dipakai untuk membawa kabar baik kepada mereka?

Saya mau membacakan satu ayat, tetapi sebenarnya Alkitab saya tidak ada lagi. Kemarin saya memberikannya kepada seseorang. Saya melayani seorang ibu, TKI di sini, lalu saya pikir, “Alkitab ini ya sudah deh saya bagi-bagi ke orang.” Kita harus memikirkan paling tidak ada orang Sunda, Minang, Aceh, Jawa, dan Lampung yang datang ke sini. Ini suatu kesempatan besar. Kita perlu mengambil inisiatif untuk melihat, di luar lingkungan kita sendiri, bagaimana kita bisa berperan dalam kehidupan mereka. Saya tahu kita yang berlatar belakang Chinese khususnya punya banyak hambatan psikologis untuk mengenal mereka. Akan tetapi kita sebagai orang Kristen harus berinisiatif untuk mengenal, mengasihi, dan melibatkan diri dalam kehidupan mereka. Ini kesempatan besar yang Tuhan berikan.

Paulus menulis dalam I Korintus 16:9, “... because a great door for effective work has opened to me, and there are many who oppose me.” Paulus menulis surat kepada orang di Korintus bahwa ada kesempatan besar yang terbuka untuk dia melayani. Saya mau mengajak Saudara untuk melihat kesempatan besar yang ada di sini, di Singapura, atau menyeberang ke Malaysia, atau turun sedikit ke selatan di Indonesia. Ada kesempatan besar di mana kita bisa berkata kepada Tuhan, “Saya hanya punya ini, saya tidak punya banyak pengalaman, saya tidak punya banyak bakat, tetapi dengan apa yang saya miliki saya ingin menjadi berkat untuk orang yang akan mati dan masuk neraka tanpa mendengar Injil satu kali pun.” Ini tanggung jawab kita. Ini kesempatan besar, sangat besar.

Saya senang melayani orang Sunda karena begitu keluar rumah saya langsung berjumpa dengan mereka. Orang Sunda ada di mana-mana. Tidak perlu mencari atau naik perahu empat jam untuk tiba di desa mereka, maupun harus berbicara dengan bahasa yang tidak saya mengerti. Ada yang jual pepaya lewat, belum kenal Kristus, saya layani. Ada tukang parkir, belum kenal Kristus, saya layani. Pokoknya di mana-mana ada orang Sunda yang perlu mendengar Injil. Enak sekali melayani orang Sunda karena banyak kesempatan. Jadi bagi saya tidak ada alasan bagi kita sebagai orang Indonesia, baik yang di Singapura maupun Indonesia, untuk tidak melibatkan diri, tidak mempersembahkan apa yang kita miliki untuk kemuliaan Tuhan.

Di Indonesia mungkin ada 10% yang Kristen sekarang, tetapi supaya lebih mudah kita anggap saja 5%. Berarti satu di antara dua puluh orang di Indonesia adalah orang Kristen, kaum Injili. Ini berarti kalau satu orang menginjili 19 orang, setiap orang sudah mendengar Injil dan saya boleh pulang ke ibu saya. Gara-gara Saudara saya tidak boleh pulang. Coba bayangkan, ini bukan suatu tugas yang raksasa atau mustahil—satu orang menginjili 19 orang. Tetapi apa masalahnya sekarang? Sekarang kita tinggal di kantong-kantong saja, seperti Jakarta, Tapanuli, Minahasa, atau Pontianak. Orang yang perlu mendengar Injil ada di luar kantong-kantong ini dan di luar pelayanan gereja pada saat ini. Jadi tantangan bagi kita yang mengerti adalah bagaimana apa yang saya miliki bisa saya transfer kepada mereka, bagaimana saya yang mempunyai kabar baik ini bisa memberitahukannya kepada mereka. Cocacola punya satu gol supaya pada tahun 2000 setiap orang di seluruh dunia paling sedikit mencicipi Cocacola satu kali. Enam milyar orang paling tidak mencicipi Cocacola. Bagaimana dengan kita? Kita memiliki Air Hidup yang berpancar, yang tidak pernah kering, yang memberikan hidup yang kekal kepada setiap orang yang meminumnya, tetapi kita tidak punya suatu inisiatif, suatu beban untuk membagikan Air Hidup ini kepada orang yang memerlukan. Saya tidak tahu Saudara berasal dari mana di Indonesia. Saya tidak tahu Saudara akan pulang ke sana atau tidak. Saya tidak tahu apakah Saudara ke Amerika untuk melayani di sana. Bisa saja. Akan tetapi kita harus bertanya, “Tuhan, di manakah tempat saya melayani? Saya menuju ke mana?” Jangan sampai suatu hari kita terbangun dan berkata, “Kok saya berada 300 km dari rumah namun belum punya arah, belum punya sasaran? Ya sudahlah, tidak ada prospek untuk saya.”

Kita melihat kebutuhan yang besar. Jiwa-jiwa di Indonesia setiap hari meninggal tanpa mengenal Kristus. Apa harapan untuk mereka? Paulus berkata, “Banyak kesempatan, banyak kesempatan.” Orang Sunda sebanyak 35 juta orang hanya dilayani oleh 100 orang hamba Tuhan. Orang Minangkabau, delapan juta orang, hanya dilayani oleh tiga orang hamba Tuhan, satu di dalam penjara. Mungkin hanya enam orang yang melayani suku Aceh. Mungkin ada dua belas orang yang melayani tiga belas juta orang Madura. Saya bisa terus menceritakan suku-suku yang banyak yang perlu mendengar Injil, sementara begitu sedikit yang mau bersedia pergi melayani mereka dalam kapasitas apa saja. Ini tantangan buat kita. Saya kemarin ditanya, “Apa tiga hambatan terbesar untuk menjangkau orang Islam di Indonesia?” Hambatan yang pertama adalah  bahwa orang Indonesia yang terampil, yang memang mahir dalam bidang-bidang mereka, tidak bersedia mengosongkan diri dan pergi melayani di daerah-daerah sambil tidak punya status, tidak punya gaji, tidak punya nama. Itu hambatan yang paling besar. Belum ada konsep servant leadership seperti Kristus yang mengosongkan diri untuk pergi memberitakan Injil, memberikan kehidupan kekal kepada manusia. Orang Indonesia tidak kalah dengan siapa pun. Saya tidak sekedar berbicara hanya karena istri saya orang Indonesia. Orang Indonesia tidak kalah dengan siapa pun di dunia ini. Saya sudah sering bolak-balik ke Singapura. Makin banyak saya melihat gereja-gereja di Singapura, saya mulai menyadari perbedaan antara orang Kristen Singapura dengan orang Kristen Indonesia. Saya bisa menyebutkan dua: kesempatan dan fasilitas—sebenarnya hanya itu saja. Soal dalamnya iman atau besarnya iman, sebenarnya orang Indonesia lebih besar imannya, karena tahu bergumul menghadapi orang yang tidak senang dengan Kristus, menjadi minoritas yang tidak punya hak dan suara, belajar betul-betul bagaimana bersandar sepenuhnya kepada Tuhan. Kita mungkin terbatas dalam fasilitas dan kesempatan yang mungkin dimiliki gereja di Amerika dan Singapura, tetapi kita tidak kalah. Yang kita kalah yaitu belum mau menyerahkan hal-hal duniawi kepada Allah, untuk pergi melayani Dia dan mencari harta di sorga. Kita lebih suka hidup untuk perut kita, hidup untuk menyenangkan orang tua kita, mencapai standar yang dunia ini berikan, daripada membaca Firman Tuhan dan bertanya kepada Tuhan apa maksud dan tujuan hidup kita. Tuhan hanya mempercayakan beberapa hari saja, beberapa tahun, di dunia ini.

Banyak kesempatan, di mana-mana di Indonesia, tetapi tantangannya juga banyak, demikian kata Paulus. Banyak pintu yang terbuka lebar untuk pemberitaan Injil walaupun tantangannya banyak. Saya tidak perlu bercerita kepada orang Indonesia mengenai tantangan di Indonesia. Gereja dibakar, dihancurkan, dirobohkan; bekali-kali ancaman mati diterima oleh hamba-hamba Tuhan. Banyak tantangan terhadap apa yang mau kita lakukan di Indonesia. Akan tetapi kita tahu bahwa pada saat kita memberitakan Injil itu akan mengundang reaksi orang. Kata Kristus, “Kalau mereka menganiaya Aku, pasti kamu juga akan dianiaya karena seorang murid tidak lebih besar daripada gurunya.” Yesus sudah memberikan gambaran yang begitu jelas kepada kita bahwa pada saat kita mengikut Dia, dalam rencana-Nya, kita harus juga mengerti bahwa tantangan akan datang. Itu hanya bagian dari—saya suka menyebutnya--job description. Saya sendiri belum menderita apa-apa, walaupun dua belas bulan yang lalu sudah dua kali saya menerima surat ancaman mati yang dikirim ke rumah saya langsung, yang menjelaskan semua isi dari pelayanan kami, dan tanggal sekian akan membunuh saya. Saya masih tinggal di rumah yang sama, bahkan saya baru memperpanjang kontrak tiga tahun. Gila saya, seharusnya saya lari, pulang saja. Akan tetapi inilah kesempatan kita membuktikan iman kita kepada Tuhan.

Hari Rabu waktu Persekutuan Doa saya bercerita tentang seorang Sunda yang mengenal Tuhan melalui beberapa kejadian. Tuhan menariknya untuk percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya. Orang ini ikut dalam pelayanan kami di Bogor dan kami membinanya, lalu ia ingin pulang ke rumah untuk mengurus surat-suratnya. Ia harus pulang karena surat nikah kakaknya dan sebagainya masih ada di sana. Rencananya ia akan mengambil suratnya dan langsung kembali. Akan tetapi sudah lewat beberapa hari ia tidak kunjung kembali. Setelah lewat sepuluh hari baru ia datang. Kami agak cemas karena waktu ia meninggalkan desanya, ia diusir. Ini terjadi bulan Juni 1998, setelah kerusuhan Mei itu. Ia bercerita bahwa ketika sampai di terminal bus, kebetulan ada saudaranya. “Eh, bapak ingin ketemu sama kamu.” Jadi ia ikut naik motor. Mereka pergi ke desa, tetapi tidak pergi ke rumah bapak melainkan ke rumah kakaknya. Mereka masuk ke rumah kakaknya dan rumah itu penuh dengan orang. Ia bercerita, “Ketika saya masuk ke dalam ruangan itu, saya melihat muka mereka semua tidak senang sama saya.” Lalu ia duduk dan ditanya, “Pak Wahyu, kami ingin dengar dari mulut kamu sendiri, sekarang jadi Kristen tidak? Menjadi orang Kristen atau menjadi orang Islam sekarang? Kami mau dengar dari mulutmu sendiri.” Ini satu lawan berapa di satu desa?!

Tuhan memberikan hikmat kepadanya. Tuhan membuka kesempatan. Ia berkata, “OK, saya akan memberitahu, tapi sebelumnya kita bikin janji. Setuju tidak?” “Apa janjimu?” “Kita berjanji bahwa perasaan marah, membenci, iri hati, itu semua dari Iblis. Setuju tidak?” “Setuju.” “OK. Ingin memukuli orang, kekerasan, ingin membunuh, itu semua dari Iblis, setuju?” “OK.” “Sekarang saya bercerita. Sekarang saya percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat.” Langsung ia diserang. “Eh tunggu dulu. Ini Iblis lagi keluar sekarang.” Ia duduk lagi dan melanjutkan, “Karena saya tahu dosa hanya bisa diampuni melalui Yesus Kristus, bukan melalui amal soleh kita.” Langsung ingin diserang lagi. “Eh, kok Iblis muncul lagi di sini?” Ia duduk lagi. Sepanjang hari dia diinterogasi, tetapi Tuhan memberi perlindungan kepadanya melalui perjanjian yang dibuatnya. Sepuluh hari ia ditahan di rumah dan tidak boleh keluar. Sepanjang hari orang datang untuk membujuknya kembali kepada Islam, mengancam dia, dan lain sebagainya. Sepuluh hari kemudian datang sepucuk surat dalam amplop resmi. Mereka berkata, “Nah, ada surat panggilan kepada Pak Wahyu dari polisi karena Pak Wahyu menjadi aktor intelektual kerusuhan bulan Mei di Jakarta.” Dia menjawab, “Saya tidak takut. Silakan buka dan baca di sini di depan semua.” Lalu mereka membukanya. Sebenarnya surat itu dari Komnasham, ditandatangani oleh Adnan Buyung Nasution. Bunyinya demikian, “Pak Wahyu, terima kasih untuk informasi yang diberikan beberapa bulan yang lalu—sebenarnya sudah lewat enam bulan—mengenai keinginan Saudara pindah agama, tapi dihalangi oleh aparat desa.” Enam bulan lalu, waktu diusir dari desa, ia adalah pegawai negeri. Karena tidak boleh masuk Kristen, ia mengirim surat ke Komnasham. Camat, kepala desa, dan semuanya tidak mengizinkan ia menjadi Kristen, sementara ia ingin menjadi Kristen. Jadi Komnasham menulis surat kembali, “Kami ingin memproses ini ke pengadilan, tetapi harus ada nama lengkap dan nomor pegawai negeri. Tolong dilengkapi dan kami langsung proses ke Pengadilan Tinggi.” Karena ini dibacakan di depan orang banyak, mereka langsung terdiam. Lalu mereka berkata, “Kami sebenarnya tidak bermaksud begitu, Pak Wahyu. Sebenarnya kalau Pak Wahyu mau pergi, pergi saja, tidak apa-apa.” Kemudian mereka mengembalikan enam Alkitab yang ia bagikan kepada orang sekitar tetapi diambil oleh camat dan kepala desa. Mereka berkata, “Ini Alkitab Pak Wahyu.” Pak Wahyu menjawab, “Saya tidak merasa ada Alkitab diambil dari saya. Kalau Bapak ambil dari orang, silakan kembalikan ke orang itu, jangan kembalikan kepada saya.” Akhirnya mereka mengembalikan Alkitab kepada keluarga-keluarga itu. Ia dibebaskan dan boleh pulang. Tuhan memberikan suatu perlindungan khusus kepada hamba-hamba-Nya yang percaya kepada-Nya, meskipun banyak oposisi.

Setelah itu ia kembali ke Bogor. Kami melayani dan membinanya lagi, lalu kami mengutusnya kembali ke desa. Kami menyewa kolam ikan dan pohon kelapa untuknya. Kalau mau mendapat uang, sebenarnya tinggal punya pohon kelapa. Setiap hari tinggal kita tengok, kalau kelapa sudah besar, kita petik, jual, langsung mendapat uang. Tidak usah bekerja, cuma lihat pohon saja. Setelah berbuah, dijual, selesai. Kalau punya banyak pohon kelapa, banyak uang. Saudara bekerja keras sedangkan kami hanya melihat pohon kelapa. Jadi kami menyewa pohon kelapa, kolam ikan, dan sedikit sawah supaya ia bisa bekerja dan menghidupi diri sambil melayani di situ. Suatu hari datang ke rumahnya seseorang dari Departemen Agama (Depag). Ia ditanya, “Siapa yang mengutus Pak Wahyu ke sini?” Pak Wahyu tersenyum lebar. Ia membuka Alkitab, membacakan Matius 28 waktu Yesus mengutus para murid-Nya untuk memberitakan Injil kepada setiap suku bangsa. Lalu orang dari Depag itu berkata, “Ya memang kita lihat Pak Wahyu cangkul di sini, bekerja di sini. Cuma kami disuruh tanya. Kami lihat memang ini dari inisiatif Pak Wahyu sendiri.” Tuhan terus membuka kesempatan-kesempatan.

Tapi saya meminta Saudara banyak berdoa untuknya, karena orang Kristen sendiri membuat suatu masalah besar baginya. Sudah ada sekumpulan orang di rumahnya yang berbakti kepada Tuhan. Ada sebagian mereka yang masih mencari Tuhan tetapi mau datang beribadah. Ibadahnya sedikit berbeda. Mereka duduk di lantai, mereka menyanyi dengan kecapi, memakai bahasa Sunda. Persekutuan mereka di rumah karena tidak ada gedung gereja, tetapi banyak orang yang mau datang. Bahkan tanggal 17 Agustus ia diminta berdiri di baris kehormatan untuk mewakili orang Kristen di desa itu, dan ini suatu kemajuan besar untuk pemberitaan Injil di sana. Nah sampai di situ, ada orang Kristen yang mengetahui tentang pelayanan dia, entah dari mana. Kemudian mereka mulai mengirim tentang dia ke majalah Kristen. Surat-surat yang masuk ke desa tidak langsung diantar ke alamatnya tetapi harus melalui Koramil dulu, lalu dari Koramil ke kepala desa. Mereka membuka dan membaca itu semua. Tertulis di situ nama Pak Wahyu, kata pos PI di alamat surat, dan sebagainya. Ini menjadi masalah besar. Bahkan orang datang kepada Pak Wahyu dan bertanya, “Pos PI itu apa, Pak Wahyu?” “Oh, itu pusat informasi,” katanya. Tapi mereka kembali lagi, “Kami tahu sekarang itu tempat untuk orang Kristen beribadah. Pak Wahyu tidak boleh di sini.”

Tiga hari sebelum Natal, ia sedang naik motor melewati kebun. Ada sebelas orang dari Hisbullah mendekatinya. Mereka berkata, “Pak Wahyu, sekarang Pak Wahyu sekeluarga kami amankan ke kota Bandung.” Ini karena keteledoran kita orang Kristen. Injil sudah mulai berbuah di situ, tetapi karena tidak cerdik kita malah membuat masalah yang besar. Kita membaca Firman Tuhan, “Cerdik seperti ular.” Jadi kita harus berusaha mengetahui bagaimana kita bisa menolong tanpa membuat masalah. Paulus menulis ke gereja di Korintus, “Tuhan membuka pintu yang lebar, tetapi yang menentang banyak.”

Kita bisa memilih jalan yang gampang, yang menyenangkan, atau kita bisa memilih jalan salib. Kita bisa menghitung hari-hari kita di dunia ini dan kita hidup untuk hal yang berarti di sorga atau kita bisa hidup setiap hari untuk perut kita. Kita bisa membuat hati nurani kita senang, memberi sedikit uang persembahan supaya merasa telah menolong, atau kita bisa berkata kepada Tuhan, “Ini yang aku miliki, ini yang Kaupercayakan kepadaku. Aku mau mempersembahkan ini kepada-Mu,” dan bertanya bagaimana kita akan dipakai oleh Tuhan. Ini bukan berarti, “Pokoknya saya sekarang akan menjadi misionaris ke Aceh,” lalu pergi. Bagaimana dengan orang Melayu di sini, di Singapura? Adakah di antara Saudara yang selama di Singapura ini menginjili orang Islam Melayu? Bertobatlah Saudara semua. Apa masalahnya? Bahasa? Tidak. Masalahnya adalah kita—apakah kita mau bergaul bersama mereka? Saya mau pergi ke Malaysia untuk pelayanan. Di sini Tuhan sudah memberikan. Mereka ada di sekitar kita—mungkin di kantor atau kampus kita. Kita sudah mengerti kira-kira nilai dan norma-norma hidup mereka. Mereka tidak jauh berbeda dengan kita di Indonesia. Bahasanya mudah untuk kita. Akan tetapi kita kurang berinisiatif—dalam kasus ini bukan kurang, melainkan tidak berinisiatif. Kita tidak perlu melihat terlalu jauh. Mulai dari sini saja. Apakah karena di Singapura tidak boleh menginjili orang Islam, lantas saya tidak menginjili orang Islam? Kalau kita mau taat kepada Firman Tuhan, kita akan berkata, “Ya, saya mengerti konsekuensinya, tetapi saya akan tetap melayani mereka.” Atau kita taat kepada pemerintah karena takut diusir, tidak bisa kuliah lagi, tidak bisa bekerja, dan mengkhawatirkan masa depan kita? Kembalilah kepada iman kita, kembali kepada apa yang harus kita kerjakan untuk Tuhan. Banyak hal-hal yang bisa kita kerjakan di sini di depan kita.

Q: Bagaimana follow-up dari orang-orang yang sudah diinjili itu?

A: Dalam keadaan kami, yang kami lakukan adalah merintis orang ke desa-desa Islam di mana tidak ada orang Kristen sehingga merekalah satu-satunya orang Kristen di situ. Pada saat mereka di sana, mereka mulai bercerita, dan orang meresponi Injil. Tidak mungkin kita langsung berkata, “OK, sekarang ganti KTP jadi Kristen, kita bikin pos PI di rumah.” Jadi ini lebih bersifat house church—jemaat rumah-rumah tangga—di mana kami membina mereka secara rutin. Kami mendorong mereka untuk mulai menginjili saudara-saudara dan teman-teman mereka, dan melalui penginjilan pribadi mereka kami mulai mengembangkan suatu jaringan orang percaya di desa. Jadi harus lebih low profile dalam pelayanan. Ini sangat berbeda dengan cara kita. Bagaimana cara kita menginjili? Mengadakan KKR, mengundang orang datang ke KKR, kemudian mereka mendengar Firman Tuhan, lalu bertobat. Bahkan ada orang yang bertanya kepada teman saya (teman saya ini Kristen), “Saya mau jadi Kristen gimana caranya?” Ia menjawab, “Ya kita harus pergi tanya pendeta.” Orang itu langsung diajak ke rumah pendeta, tetapi pendeta tidak ada di rumah. “Ya sudah, nanti lain kali kita balik.” Ini cara kita menginjili orang. Padahal misi atau amanat agung dari Tuhan Yesus adalah kita pergi, bukan membawa orang ke pendeta, melainkan kita yang harus pergi mencari di mana mereka berada, dan memberitakan Injil ke sana. Lalu follow-up-nya harus lebih low profile sehingga pekerjaan itu bisa berakar.

Q: Sekarang kalau di Jakarta, misalnya kita menginjili supir taksi, setelah selesai mereka harus ke mana?

A: Saya kira kita orang Kristen, GRII khususnya, harus memikirkan kalau kita serius mengenai pemberitaan Injil berarti tidak hanya dalam kalangan sendiri. Di kota Jakarta ada satu juta orang Sunda dan mungkin 800 ribu orang Minang. Ini suatu ladang misi yang tersedia tetapi kita belum membuat suatu pola yang bisa dikembangkan untuk mereka, di mana ada kelompok orang yang memiliki beban khusus, suatu tim yang khusus mendoakan dan giat melayani. Melalui wadah ini, jika ada yang mempunyai pembantu orang Sunda bisa dibawa, atau jika ada yang berkenalan dengan supir taksi kita bisa berkunjung. Sebenarnya kita belum membuat suatu wadah yang bisa kita manfaatkan untuk menjangkau orang Islam sendiri. Gereja kita sendiri mungkin mengabaikan hal ini, dalam arti secara konkret membuat langkah-langkah yang jelas untuk ini. Susahnya, kalau kita mau membawa orang Islam ke kebaktian pagi, waktu mereka masuk, mereka mau membuka alas kaki. Waktu mereka datang ke gereja dan melihat di tempat parkir berjajar Mercedez dan BMW, mereka langsung minder karena mereka naik bus kota. Karena minder mereka tidak mau masuk. Karena semua orang memakai sepatu, mereka sudah tidak enak. Mau cuci kaki di mana? Tidak ada. Kita harus memikirkan apa yang bisa memudahkan mereka untuk datang dan tidak minder untuk mendengarkan Firman Tuhan. Ini suatu pertanyaan yang perlu kita gumuli sebelum kita bisa memulai suatu pelayanan yang konkret di situ.

Q: Kalau bertemu orang Sunda biasanya bagaimana memulai penginjilan kepada mereka?

A: Saya mempunyai seorang teman, ia unik. Ia duduk di warung, kemudian ada orang lain datang, lalu mereka mulai berbincang-bincang. “Panas hari ini ya?” “Iya panas.” “Bapak haus ya? Ini coba saya beli Aqua.” Jadi ia membeli Aqua. “Silakan minum.” Sambil minum ia berkata, “Kalau haus minum air enak?” “Iya, enak.” “Tapi gimana kalau saya tawarin satu minuman, kalau diminum tidak pernah haus lagi?” Dan dari situ ia berbicara mengenai air hidup (Yoh 4). Kalau saya naik taksi, kalau mau menginjili orang Islam dalam tiga menit, bagi saya yang paling mudah seperti berikut. Saya mulai berbicara tentang kematian. Mungkin ada pesawat yang jatuh, banyak orang mati, atau tokoh yang baru meninggal. Saya lalu bertanya, “Gimana kalau nanti malam, aman tidak?” “Tidak aman, banyak yang rawan sekarang.” “Kalau bapak ditusuk, mati bagaimana?” Ini realita baginya. Bisa saja ia dirampok, ditusuk, mati. “Bapak nanti masuk sorga tidak kira-kira?” “Insya Allah, mudah-mudahan.” Ini saya kagum. Orang Islam berani sekali. Mereka mau mudah-mudahan untuk masuk sorga. Saya tidak berani; saya mau pasti, tidak mau yang mudah-mudahan. Saya bertanya, “Bapak suka cerita tidak? Ini saya ada dongeng. Mbak Yenny, anaknya Gus Dur, dia mau ke istana presiden. Dia ketuk pintu, penjaganya kasih masuk tidak kira-kira?” “Ya kasih masuk.” “Kalau Bapak ke istana presiden, ketuk pintu, bilang kalau Bapak ingin ketemu Gus Dur, lalu ditanya, ‘Ada janji tidak?’ ‘Tidak, cuma ingin ketemu saja.’ Bapak dikasih masuk tidak kira-kira?” “Tidak.” “Kenapa kok Mbak Yenny boleh masuk tapi Bapak tidak boleh masuk?” “Ya karena dia anaknya.” Lalu saya mengatakan, “Bapak ingin ke sorga tidak?” “Mau.” “Ini rahasia masuk sorga. Hanya anak Tuhan boleh masuk sorga. Kalau kenal yang punya, boleh masuk; kalau tidak kenal yang punya, tidak boleh masuk. Siapa yang punya sorga?” “Allah.” “Salah, menurut Al Quran, Isa Almasih yang terkemuka di bumi dan di akhirat. Jadi menurut Al Quran yang punya sorga itu Isa Almasih. Mau ke sorga harus kenal Isa Almasih. Bapak kenal tidak? Kalau tidak kenal, tidak boleh masuk.” Nah itu yang paling mudah. Kalau kita mulai berbicara hal-hal lain, ia tidak terlalu memahami. Nah, mungkin ia bertanya tentang dosa, karena ia tidak merasa berdosa. Orang Islam punya dosa kecil, dosa sedang, dosa besar. Dosa kecil, setelah sholat selesai. Kalau berzinah, sholat tiga kali selesai. Kalau dosa besar, umroh ke Mekkah, selesai. Kita bisa bertanya, “Waktu Adam dikeluarkan dari Firdaus, apa dosanya?” “Makan apel.” “Makan apel diusir dari sorga?! Bagaimana dengan Bapak? Kalau saya, dosa saya lebih banyak dari makan apel saja. Dosa saya segudang. Nabi Adam kehilangan sorga karena makan apel, bagaimana Bapak punya harapan masuk sorga?” Ia tidak bisa menjawab. “Kalau kehilangan sorga gara-gara gigit apel, bagaimana orang lain bisa masuk sorga melalui sholat? Tidak mungkin. Hanya melalui kenal yang punya. Bapak mau kenal Isa Almasih, Yesus Kristus?” Ini yang paling gampang, tanpa ikut kursus Islamologi. Sebenarnya tidak susah. Apa yang kita tahu, kita sampaikan. Dan Roh Kudus bisa bekerja, Roh Kudus bisa menggerakkan hati mereka dan memimpin mereka untuk percaya. Tugas kita memberitakan Injil, tugas Roh Kudus untuk membuat mereka percaya. Sebenarnya gampang, kerjakan tugas Saudara, Tuhan setia dan mengerjakan tugas-Nya. Kalau tidak mengerjakan tugas Saudara, itu dosa Saudara sendiri.

Sebenarnya melalui musik saja banyak hal yang bisa kita lakukan. Ada satu kelompok musik degung, musik Sunda, mereka orang Islam semua. Kami memanggil mereka pada acara Paskah. Kami mau mengadakan paguyuban Paskah untuk orang-orang yang kami layani, maka kami memanggil kelompok musik degung. Dalam musik Sunda, musiknya sama, hanya ada mungkin lima irama yang berbeda. Hanya kata-katanya yang diganti. Jadi kami mengatakan, “Datang latihan, kami ajarkan lagu-lagu yang baru, nanti kamu bisa latihan sendiri di kampung sebelum acaranya.” Lagunya begini kira-kira: Sri Gusti Allah miasi kamanusa. Pupus di atas kayu salib untuk menyelamatkan semua manusia. Hanya melalui Kristus orang diselamatkan. Itu kira-kira bunyi satu lagu. Orang Islam semua datang menyanyi. Mengapa? Karena itu bahasa Sunda, memakai degung. Kalau kita menyanyi di gereja, orang Sunda tidak mau. Kita menyesuaikan. Setelah menyanyi mereka berkata, “Wah lagu ini bagus. Tapi kami belum hafal di luar kepala. Boleh tidak kertas nyanyian dibawa pulang, kita latihan di rumah?” “Silakan, bawa saja.” Mereka pulang ke kampung. Sambil bermain, karena vokalnya kurang, mereka meminta tetangga-tetangga datang. “Tolong kami perlu bantuan nyanyi lagu ini.” Jadi satu kampung, orang Islam, menginjili diri! Susah tidak? Tidak susah! Susahnya yaitu kita tidak berada di tengah-tengah mereka. Susahnya yaitu kita tidak belajar bagaimana mendekati mereka. Susahnya yaitu kita membuang kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita. Itulah susahnya. Banyak kesempatan. Saya bisa bercerita banyak sekali, karena sangat mudah.

Satu cerita lagi. Setiap agama punya hari rayanya sendiri. Orang Islam percaya Isa Almasih lahir dari anak dara Maria. Lumayan kan, teologi mereka lebih bagus dari banyak orang Kristen. Tapi mereka tidak percaya kebangkitan walaupun percaya wafatnya Isa Almasih. Hari raya bagi orang Islam yaitu mereka datang ke rumah, memberi salam. Melalui ini sudah ada suatu persaudaraan yang terjalin. Datanglah hari Natal. Kami mengadakan selamatan di rumah. Kami mengundang dulu tetangga-tetangga untuk masak, supaya mereka bisa bercerita kepada yang lain kalau makanannya halal. Ini penting. Kalau tidak, mereka berpikir bahwa makanannya tidak boleh dimakan. Ketika acara dimulai, satu rumah mungkin ada enam puluh orang. Ada acara singkat, mungkin membaca ayat dari Injil mengenai kelahiran Yesus Kristus, kemudian sedikit cerita atau penjelasan mengenai makna Natal. Kemudian makan. Sambil makan ada hiburan. Seperti kebiasaan kita orang Kristen, pada hari Natal, kita akan memutar film Yesus. Jadi di tembok rumah itu kita memutar film Yesus dalam bahasa Sunda. Nah orang satu kampung duduk di situ menonton. Enam puluh kepala keluarga langsung menonton film Yesus dari awal sampai kebangkitan. Tidak susah. Susahnya yaitu kita tidak mengutus orang mengembangkan pelayanan di tengah-tengah orang-orang yang membutuhkan.

Saya mau memberikan satu catatan, karena saya tidak tahu apakah kalian akan kembali ke Indonesia atau pergi ke mana. Menurut apa yang saya lihat dari antara orang Islam di Indonesia yang percaya kepada Kristus, hampir semuanya sebelum mendengar Injil mempunyai interaksi yang berarti dengan orang Kristen melalui pekerjaan, tetangga, atau apa pun yang sangat berarti bagi mereka. Ada kesan yang positif. Di Ujung Pandang kami ada pelayanan dengan orang Bugis Makasar. Saya berbicara dengan supir taksi. Ia berkata, “Waktu saya kecil, saya menjadi anak asuh orang Katolik. Keluarga saya miskin, saya tidak punya apa-apa. Waktu muda kerja untuk dia. Dia bayar sekolah saya, dia kasih saya modal untuk taksi ini.” Ia mempunyai kesan yang sangat positif. Waktu mendengar Injil, ia menerima. Ia mau mengerti dan menggumuli. Jadi di mana pun kita berada, dalam keadaan apa pun kita bekerja nanti, mungkin kita punya karyawan, banyak kesempatan kita menyediakan hati untuk memberitakan Injil. Mungkin kita terbatas dalam berbicara, tetapi kita bisa membawa mereka beberapa langkah lebih dekat kepada Kristus melalui kehidupan kita sendiri. Jadi jangan kita mengabaikan hal ini. Ini sangat penting dan sangat berarti.

Michael Densmoor

Desember 2005

1 tanggapan.

1. Yesaya dari Surabaya berkata pada 8 April 2013:

Nice share!!

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi yang telah menjangkau 17 kota di Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲