Wawancara

Church Planting

Pdt. Stephen Tong pernah mengatakan bahwa gereja tanpa penginjilan akan mati, karena itu GRII merupakan gereja yang mementingkan penginjilan. Pdt. Romeo Mazo merupakan salah satu pendeta yang sangat terbeban dengan Church Planting. Tetapi banyak orang yang mungkin kurang mengerti apa itu church planting dan mengapa church planting itu merupakan salah satu misi yang penting untuk gerakan ini.

P: Apakah Pak Romy bisa menceritakan tentang latar belakang Pak Romy? Kapan Pak Romy menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan?

R: Latar belakang saya adalah dari gereja Katolik karena saya dari Filipina yang mayoritas Katolik. Tetapi pada waktu saya masih kecil, mama saya diinjili oleh tante saya yang adalah orang Kristen dan mama saya tertarik dengan apa yang disampaikan. Setelah mama saya menjadi orang Kristen, dia membawa anak-anaknya dan juga seluruh famili menjadi orang Kristen. Dan latar belakang saya juga termasuk gereja Pentakosta yang masih old pentecostalism, mengajar Injil yang tidak seperti Karismatik sekarang. Dan ketika saya bertemu dengan Ibu Maria, dia menceritakan mengenai Reformed yang mendorong saya untuk mempelajari Reformed, khususnya waktu bertemu dengan Pak Tong sendiri. Dan dia mengatakan mungkin lebih baik kalau kita studi di sekolah yang memang latar belakangnya Reformed.

P: Kapan Pak Romy terlibat di dalam gerakan Reformed Injili?

R: Saya sudah terlibat pelayanan sejak di Filipina. Tetapi sebelum menikah dengan Ibu Maria, dia bertanya apakah saya terbeban melayani di Indonesia. Saya mengatakan kalau saya akan mendoakan hal ini. Dan memang saya tidak bermimpi atau merindukan ke Indonesia, tetapi saya tahu prinsipnya adalah kita mengerjakan pekerjaan Tuhan di mana pun kita melayani. Dan dia mengatakan kalau di Filipina ada freedom untuk Injil dapat diberitakan, misalnya di jalan dan radio tidak ada batasan-batasannya, sedangkan di Indonesia masih ada batasan-batasannya; jadi apakah saya masih lebih mau melayani? Saya menjawab ya memang kita harus menggumuli dan mendoakan. Dan cerita singkatnya akhirnya kami melayani di gerakan Reformed ini.

P: Hal apa yang membuat Pak Romy menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan?

R: Yang mempengaruhi saya adalah seorang pendeta di gereja asal saya, yang mempunyai posisi cukup tinggi di dalam organisasi gereja kami, dan dia cukup dikagumi. Suatu hari dia berkhotbah mengenai bagaimana itu melayani. Kalau tidak salah ketika saya umur 10 tahun dan saat itu saya merasa ada panggilan. Itulah yang mendorong saya karena khotbah dari hamba Tuhan yang memang kita lihat bahwa dia adalah hamba Tuhan yang sungguh-sungguh melayani Tuhan.

P: Pak Romy sekarang melayani di mana saja?

R: Saya pernah melayani di berbagai tempat, tetapi sementara ini saya melayani di MRII Kuala Lumpur.

P: Kami mendengar kalau beban pelayanan Pak Romy itu church planting. Mungkin bisa dijelaskan apa itu church planting dan apa bedanya dengan penginjilan?

R: Bila kita melihat dari Alkitab, kita akan melihat bahwa penginjilan ada terlebih dahulu, baru kemudian ada yang namanya church planting. Berarti penginjilan mendahului church planting. Karena itu, church planting adalah akibat dari penginjilan. Orang-orang yang sudah bertobat harus mempunyai gereja sebagai tempat mereka beribadah. Karena kalau kita melihat the Great Commission (Amanat Agung), memang kita harus pergi memberitakan Injil, tetapi di situ juga tertulis untuk memuridkan. Dan ketika kita memuridkan orang, di situ harus ada gereja. Kita tidak bisa menginjili orang lalu membiarkan mereka memilih. Kalau kita di gerakan Reformed, harus ada yang namanya wadah sendiri yaitu gereja Reformed kita sendiri. Supaya nanti dalam church planting itu orang-orang dimuridkan. Sekali lagi, ada penginjilan baru ada church planting.

P: Apakah pelayanan Pak Romy selama ini menghambat beban Pak Romy terutama di dalam church planting?

R: Pelayanan sekarang ini tidaklah menghambat, salah satu alasannya adalah saya juga tertarik melayani di Kuala Lumpur, karena MRII Kuala Lumpur juga adalah gereja dalam bagian Reformed Injili. Saya merasa di mana pun Tuhan menempatkan kita, kita tidak mungkin secara waktu berkata apakah itu menghambat atau tidak. Tidak ada yang menghambat karena itu juga adalah pekerjaan Tuhan.

P: Apa yang membuat Pak Romy terbeban di dalam church planting?

R: Memang saya kadang-kadang diidentikkan dengan church planting. Saya merasa terdorong di dalam church planting itu karena jurusan saya adalah mission pada waktu saya di seminari. Dan bidang misi itu bukan hanya di dalam konteks Asia saja tetapi di seluruh dunia. Dan saya juga lebih ke arah situ karena kita tahu di dalam buku Korintus, Tuhan memberikan macam-macam karunia-Nya dan saya merasa saya ditempatkan di dalam bagian: bagaimana memulai gereja.

P: Mengapa church planting itu penting?

R: Church planting itu penting karena memenuhi apa yang Tuhan mau. Kita melihat ketika Tuhan Yesus bertanya: Siapakah Aku ini menurut kata orang? Mereka menjawab bermacam-macam. Tetapi pada waktu Dia menanyakannya menurut para rasul itu sendiri, Petrus menjawab, "Engkau adalah Anak Allah yang hidup." Setelah itu Yesus Kristus langsung mengatakan bahwa di atas pengakuan itu Gereja akan didirikan. Berarti setiap orang yang mengaku Yesus Kristus adalah Juruselamat menjadi kunci di mana gereja itu harus didirikan. Jadi kita tahu bahwa harus ada yang namanya church planting, karena kalau tidak ada church planting, bagaimana kita bisa memenuhi yang namanya Amanat Agung? Amanat Agung bukan hanya memberitakan Injil, tetapi juga memuridkan. Berarti harus ada gereja yang memberikan pengajaran.

P: Apakah Bapak bisa menjelaskan bagaimana caranya untuk melakukan church planting?

R: Ada bermacam-macam cara untuk melakukan church planting. Pasti ada perbedaan cara ketika kita bertanya kepada orang Barat atau Asia. Misalnya cara dan pikiran saya yang dulu banyak dipengaruhi oleh Amerika dan berbeda dengan di gerakan Reformed, karena Pak Tong memiliki pikiran yang agak lain dengan yang biasa saya pelajari di seminari. Kalau di Reformed, kita memulai gereja di mana ada orang Kristen yang memerlukan gereja di situ. Tetapi di sisi lain, church planting itu juga bukan saja dimulai dari jemaat yang membutuhkannya, tetapi church planting juga bisa dimulai dari hamba Tuhan yang melihat adanya kebutuhan. Jadi ada 2 macam pendekatan di dalam gerakan Reformed.

P: Di mana saja Pak Romy sudah memulai church planting?

R: Kalau di negara saya sendiri, saya sudah memulai di Manila dan menggembalakan 3 gereja di Filipina. Dan di antara 3 gereja itu, salah satunya kita mulai dari PA sampai berkembang menjadi sebuah gereja. Pada saat itu saya masih mahasiswa dan tidak sendiri, saya memulainya bersama-sama dengan misionaris dari OMF. Setelah selesai studi dan ke Indonesia, kita menggumuli dan melayani di Karawaci. Setelah Karawaci mungkin tidak melakukan church planting lagi karena sudah ada tempat-tempat yang berdiri salah satunya termasuk Singapura. Dan kalau yang disebut church planting saja, itu berarti sesudah Karawaci ada Kuala Lumpur, dan sesudah Kuala Lumpur itu Bandung. Dan kalau Tuhan membuka jalan, kita akan memulai lagi tahun ini di Bogor.

P: Apa yang menjadi kebijakan dari church planting di gerakan Reformed ini apabila sudah ada gereja dari gerakan lain di tempat itu, misalnya dari gerakan Karismatik atau bahkan dari gerakan Reformed lainnya?

R: Mungkin secara tantangan pasti lain kalau di satu tempat itu ada Karismatik. Berarti tempat itu 100% perlu Reformed. Tapi kalau sudah ada gereja Reformed, kenapa Reformed kita masih harus mulai lagi? Karena kita percaya kalau lebih banyak gereja, maka akan lebih banyak yang bisa dijangkau. Itu salah satu pengertiannya. Dan pada saat kita mengabarkan Injil, kita berpola pikir kingdom-minded bukan church-minded. Kalau kita menghadapi kesulitan yaitu tidak disukai, maka bagi mereka yang sudah ada gereja lebih baik pergi ke gereja cabangnya sendiri, itu akan lebih baik. Tetapi bagi saya, dan Pak Tong juga mengatakan hal yang sama, yaitu karena kita itu kingdom-minded dan apabila Tuhan menghendaki kita berada di situ, maka walaupun sudah ada gereja lain, itu tetap akan menjadi lebih baik karena akan lebih banyak dan cepat yang bisa dijangkau dengan adanya lebih banyak gereja.

P: Apa yang harus dilakukan sesudah gereja menjadi established?

R: Sesudah gereja itu established, maka gereja itu juga harus melakukan church planting, karena itu membuktikan bahwa gereja itu sudah bertumbuh. Tidak mungkin gereja yang bertumbuh itu tetap hanya ada gereja itu sendiri sesudah bertahun-tahun. Karena sesudah gereja bertumbuh, gereja itu harus menanam gereja. Karena kita dapat melihat polanya di gereja mula-mula, yaitu dari Yerusalem dan terus menyebar, bukan? Dan pola itu dari dulu sampai sekarang tidak berubah. Selain itu, bertumbuh itu tidak hanya dimengerti secara jumlah, tetapi bertumbuh itu juga secara kualitas. Dan gereja yang berkualitas berarti juga harus bertumbuh secara kuantitas. Salah satu hal yang kita lihat dari gereja mula-mula sampai zaman kita sekarang adalah bahwa gereja tidak mungkin tidak memulai gereja yang lain. Itu adalah salah satu bukti bahwa gereja itu bertumbuh.

P: Bila kita melihat gereja-gereja di daerah, biasanya gereja-gereja tersebut dimulai oleh seorang misionaris. Tapi setelah misionaris itu keluar dari daerah tersebut, gereja itu mulai kehilangan arah, ada yang tidak berkembang, ada yang mulai sesat, dan ada yang berubah doktrin. Bagaimana pendapat Pak Romy?

R: Mungkin ini salah satu pertanyaan yang cukup saya jiwai karena saya punya pengalaman sendiri. Kita bersyukur kalau misionaris itu pergi ke berbagai negara dengan tujuan menanam gereja, tetapi di sisi lain, salah satu kesalahan yang fatal dari misionaris itu adalah tidak mengajar jemaat untuk mandiri karena didukung. Kebutuhan apa saja disediakan, misalnya kebutuhan keuangan. Dan kalau mereka lapor ke gereja asal mereka, mereka pasti akan mendapat dukungan. Karena gereja asalnya pasti akan merasa bahwa gereja cabangnya di negara itu berkembang dan melakukan banyak project. Berarti pasti akan tambah banyak dukungan. Inilah yang sering Pak Tong katakan bahwa itu justru tidak menolong gereja tersebut, tetapi malah mematikan. Tidak bisa survive karena tidak diajar bagaimana untuk berjuang. Dan hal itu nanti juga akan menjadi suatu kefatalan karena hamba Tuhan yang menggantikan misionaris yang pergi itu akan menanggung segala penderitaan. Kalau hamba Tuhan baru itu mengeluarkan satu prinsip, dia akan dilawan jemaatnya karena selalu dibandingkan dengan hamba Tuhan yang sebelumnya.

P: Jadi apa yang harus kita kerjakan terhadap gereja-gereja itu?

R: Yang pasti adalah kembali kepada prinsip seperti gereja mula-mula. Dan kalau saya selalu mengutip Pak Tong sebagai pendiri kita, beliau sering mengatakan bahwa pada waktu gereja itu dimulai, gereja itu tidak di-drop uang dari Pusat, meskipun Pusat tidak mendukung sepenuhnya, tetapi Pusat tetap akan memperhatikan. Juga ada bermacam-macam cara di sini. Jika menurut apa yang saya pelajari di seminari, pertama-tama ada organisasi tertentu yang mungkin satu atau dua tahun pertama memberikan 100% support, lalu masuk tahun ketiga menguranginya menjadi 75%, dan tahun berikutnya lagi menjadi 50%, dengan terus-menerus dikurangi sampai bisa mandiri. Saya rasa itu juga cukup sehat. Tetapi kalau Pak Tong sendiri, gereja itu diperhatikan tetapi tidak memakai cara memotong-motong tunjangan seperti itu sesudah lewat beberapa tahun. Pak Tong mengharapkan kalau gereja bisa mandiri sendiri (red. dari awal), itulah yang lebih baik. Mungkin pertanyaan PILLAR adalah dalam konteks desa yang memang secara ekonomi pendapatannya minim sekali. Dan saya merasa kalau dikembalikan ke pertanyaan tadi, memang konteks gereja di kota dan di desa itu lain. Karena di kota itu pasti lebih banyak kerja profesionalnya. Memang yang menjadi lebih kasihan adalah kalau di daerah pedesaan. Dan kalau melihat kembali kepada doktrinnya, maka yang menjadi masalah adalah apabila misionaris itu tidak mempunyai kekuatan sendiri terhadap apa yang dia tanam. Karena kalau hamba Tuhan yang meneruskan pelayanan di gereja itu memegang doktrin yang lain, maka doktrinnya itu pasti berubah. Itu yang bahaya.

P: Bagaimana pembaca PILLAR dapat ikut berbagian dalam beban pelayanan yang cukup unik ini?

R: Bermacam-macam. Apalagi kalau yang bertanya itu pembaca PILLAR. Pertama-tama bisa turut mendoakan, karena segala sesuatu itu pasti dimulai dari berdoa. Kemudian yang berikutnya adalah mungkin mendukung secara kebutuhan finansial. Dan yang paling penting itu adalah terjun sendiri. Maksudnya adalah church planting tidak harus dimulai oleh hamba Tuhan. Ada gereja tertentu yang tidak dimulai oleh hamba Tuhan. Misalnya anggota gereja Reformed yang pergi ke suatu kota dan melihat tidak ada gereja Reformed di situ, tempat di mana dia biasa dididik, maka dia sendiri bisa menjadi penggerak dan mengumpulkan orang-orang sampai akhirnya suatu gereja bisa dimulai.

P: Bagaimana prosesnya kalau ada orang asing yang pergi ke suatu tempat dan memiliki pergumulan, sampai akhirnya dia terbeban dan ingin terjun ke church planting? Apakah bisa menjelaskan lebih detil?

R: Kalau di gerakan Reformed, itu dimulai dari PR atau Persekutuan Reformed yang kemudian menjadi PRII. Terus menjadi MRII. Dan kalau sudah dibesarkan itu menjadi GRII. Mengenai tahap awal yang disebut Persekutuan Reformed itu kita tidak minta Pusat untuk menyetujuinya, secara prinsip Pak Tong mengatakan bahwa setiap orang itu mempunyai hak untuk memulai persekutuan. Dan setelah persekutuan itu jalan dan kemudian merasa perlu di bawah naungan Reformed, maka persekutuan itu harus bicara dengan Pak Tong sebagai pimpinan atau secara sinodenya. Dan nanti akan ditinjau apakah persekutuan itu sudah selayaknya berada di bawah naungan kita. Persekutuan ini kemungkinan bisa dimulai oleh anggota kita, atau mungkin juga berasal dari anggota gereja lain tetapi melihat adanya sebuah kebutuhan Persekutuan Reformed. Dan tentu kita melihat apakah orang-orang di sana memang sudah diberikan suatu pengarahan dan sudah diperlengkapi atau belum, misalnya dengan ringkasan-ringkasan khotbah atau CD-CD dari Pak Tong yang mereka dengar lalu diskusi. Dan kalau mereka sudah di bawah naungan kita, sampai nanti mereka sudah mencapai satu jumlah, itu nanti akan menjadi PRII, lalu MRII, lalu GRII.

Redaksi Pelaksana PILLAR

Februari 2009

Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲