The Doctrine of Revelation (8): Christian View on Revelation

Di dalam beberapa artikel sebelumnya, kita sudah melihat beberapa metode yang dunia ini tawarkan di dalam mengerti kebenaran. Rasio, sejarah, dan subjektivitas manusia tidak dapat menjadi fondasi di dalam kita mengerti kebenaran. Namun bukan berarti ketiga hal ini sama sekali tidak dapat men-support kita di dalam mengerti kebenaran; ketiga hal ini dapat menjadi alat untuk kita mengerti lebih luas dan lebih dalam. Hanya saja, ketiga hal ini tidak dapat menjadi fondasi paling dasar di dalam kita mengerti kebenaran, karena kekristenan percaya bahwa yang paling mendasari kita dalam mengerti kebenaran adalah wahyu Allah. Maksud dari wahyu sebagai dasar ini bukan hanya sekadar kita menjalankan ajaran-ajaran moral di dalam Alkitab, tetapi kita menjadikan wahyu sebagai fondasi, dasar, dan kacamata kita dalam memandang segala sesuatu di dalam dunia ini. Bahkan seluruh aspek kehidupan kita, pengertian yang kita bangun di dalam melihat relasi manusia dengan dunia ciptaan ini, semua dibangun di atas dasar wahyu Allah ini. Maka kekristenan tidak hanya memandang wahyu sebagai salah satu bagian dari sistem kepercayaan kita, tetapi wahyu menjadi dasar dari seluruh aspek sistem kepercayaan kita sebagai orang Kristen. Wahyu menjadi dasar bagi wawasan dunia Kristen.  

Di dalam artikel ini dan beberapa artikel ke depan, kita akan mengulas bagaimana kekristenan memandang wahyu. Khususnya, kita akan melihat pemikiran dua theolog yang besar di zaman modern, yaitu Herman Bavinck dan Cornelius Van Til. Kedua theolog ini memberikan pemikiran yang penting di dalam kita melihat akan apa itu wahyu Allah. Kita akan melihat pemikiran mereka yang mengulas dengan tegas perbedaan yang unik dari wahyu menurut kekristenan. Mereka mengontraskan pemikiran Kristen dibandingkan dengan filsafat-filsafat atau wawasan dunia yang berkembang di zaman modern. 

Christian Presupposition in Understanding Revelation

Salah satu keunikan dari kekristenan adalah percaya Allah yang berpribadi sebagai keberadaan yang paling tinggi melebihi segala sesuatu yang ada. Kekristenan tidak percaya kebenaran sebagai satu set hukum yang tidak berpribadi, di mana Allah harus tunduk kepada hukum tersebut. Kita percaya Allah adalah keberadaan paling tinggi yang berpribadi, yang berbeda secara kualitas dengan dunia ini yang adalah ciptaan-Nya. Ia menetapkan setiap detail di dalam ciptaan ini. Ia adalah sumber kebenaran yang menjadi dasar dari segala pengetahuan yang ada di dunia ini. Ia adalah Allah satu-satunya yang ada dan cukup pada diri-Nya sendiri (absolute self-conscious God). Di luar diri Allah, tidak ada keberadaan lain. Van Til mengatakan bahwa keberadaan di luar diri Allah sebelum peciptaan adalah “simply nothing”.

Cara pandang ini tentu berbeda dengan cara pandang lain yang bukan Kristen. Misalnya saja zaman modern yang cenderung memiliki cara pandang yang monistik. Pemikiran zaman modern adalah pemikiran yang dikategorikan sebagai pemikiran naturalistis, yaitu kepercayaan yang melihat bahwa segala sesuatu yang ada di dalam ciptaan ini muncul secara natural. Mereka mengesampingkan atau bahkan menganggap tidak ada keberadaan yang bersifat supernatural. Cara pandang ini tentu saja memiliki berbagai variasi, tetapi pada dasarnya mereka mencoba untuk mencari keberadaan yang paling dasar
dari seluruh keberadaan. Ada yang mengasumsikan bahwa keberadaan yang paling mendasar adalah atom. Cara pandang ini mengadopsi pemikiran dari atomisme yang muncul dalam era Pre-Socratic Greek Philosophy. Kelompok ini juga sering kali dikategorikan sebagai kelompok materialisme, yang memandang seluruh keberadaan bersifat materi atau ada wujud secara fisiknya. Kelompok ini hampir tidak percaya akan keberadaan yang supernatural atau tidak berwujud. Namun ada juga kelompok lain yang percaya bahwa hal yang paling mendasar dari seluruh keberadaan adalah energi, keberadaan yang non-materi dan dianggap dapat menjembatani keberadaan yang natural dengan yang supernatural. Ada juga kelompok lain yang percaya bahwa hal yang paling mendasar adalah kesadaran atau consciousness, dan mereka percaya bahwa ada universal consciousness yang menjadi dasar atau sumber dari consciousness yang lain. Walaupun memiliki perbedaan di dalam pandangan, mereka tetap sama-sama percaya bahwa seluruh keberadaan memiliki esensi yang sama. Bahkan jikalau ada yang dinamakan “allah”, itu pun adalah keberadaan yang memiliki esensi yang sama dengan segala yang ada di dalam ciptaan ini. 

Maka cara pandang pemikiran zaman modern adalah cara pandang yang melihat bahwa seluruh alam semesta ini pada dasarnya adalah satu keberadaan. Van Til mengatakan bahwa cara pandang seperti ini mendapatkan banyak pengaruh dari seorang filsuf bernama Hegel yang percaya bahwa Allah pun berada di dalam proses untuk menjadi “self-conscious” di dalam alam semesta ini.[1] 

Di dalam pemikiran dialektikanya, Hegel memandang bahwa seluruh realitas ini berada di dalam proses mencapai kebenaran dengan cara negasi dan sintesis menuju pengertian yang makin mendekat kepada kebenaran. Cara pandang ini bukan hanya ia terapkan di dalam dunia pemikiran, tetapi juga di dalam aspek lain seperti perkembangan sejarah, ataupun di dalam natur Allah. John M. Frame menjelaskan pemikiran Hegel seperti demikian[2]:

And the progress of the dialectic is nothing less than God’s coming to self-consciousness. God himself is being. When He seeks to think about Himself, He negated Himself, for like us He cannot think being without thinking non-being. So God’s thought inevitably is a kind of self-alienation. And when God announces who He is (the “I am,” but also His attributes such as eternity and omniscience), He divides His subjectivity from His objectivity. The dialectic of God’s being shows that His positive and negative side are necessary to each other.

God’s dialectical movement is not only parallel to the movement of history and the movement of individual human thought. It is identical to these. Human thought and history are God as He comes to self-consciousness. So Hegel’s philosophy is a dialectical idealistic pantheism.

Pemikiran Hegel ini menempatkan Allah di dalam keberadaan yang identik dengan ciptaan yang ada di dalam alam semesta ini. Allah terus berproses untuk mencapai suatu kondisi di mana Ia menjadi self-conscious, dan proses ini mirip dengan manusia yang mendapatkan pengetahuan atau pengertian yang baru. Jadi bagi pemikiran Hegel, setiap tindakan dan karya Allah itu perlu dilakukan agar Allah dapat makin mengenal diri-Nya. Dengan pemikiran yang seperti ini, John Frame, senada juga dengan Van Til, menilai Hegel sebagai bagian dari kaum monistik, dan pemikiran dari Hegel ini banyak memengaruhi pemikiran zaman modern. Cara pandang monistik ini membuat Allah memerlukan ciptaan untuk menjadikan diri-Nya makin utuh. Sedangkan kekristenan percaya kepada Allah yang self-conscious, dan Ia tidak perlu menciptakan alam semesta ini untuk menjadikan diri-Nya self-conscious. Dengan demikian, Ia adalah Allah yang independent dan berada secara absolute

Keunikan yang lain dari cara pandang Kristen adalah manusia yang diciptakan sebagai gambar dan rupa Allah. Hal ini terkait dengan Allah yang self-conscious. Karena Allah adalah Allah yang self-conscious, maka keberadaan manusia sepenuhnya bergantung kepada Allah, dan tidak ada keberadaan lain selain Allah yang menjadi sumber bagi kehidupan manusia. Hal ini berimplikasi terhadap beberapa hal:

Dunia yang diciptakan oleh Allah adalah ciptaan yang juga menyatakan kemuliaan Allah. Di dalam ciptaan ini terkandung hikmat Allah dan manusia dimampukan untuk mengerti hikmat ini karena manusia diciptakan sebagai gambar Allah. Kita semua diciptakan dengan satu set kemampuan, seperti rasio dan pancaindra, untuk menggali hikmat Allah di dalam alam semesta ini atau yang kita kenal sebagai wahyu umum Allah.

Manusia dimampukan untuk mengerti pernyataan diri yang disampaikan secara khusus bagi manusia. Pernyataan siapa diri Allah dan apa yang menjadi rencana-Nya bagi dunia dan umat manusia. Kita diberikan hikmat untuk mengerti dan mengetahui yang mana kehendak Allah bagi manusia, yang disampaikan baik secara verbal, kisah di dalam sejarah, maupun tulisan-tulisan para nabi dan rasul. Hal ini kita kenal juga sebagai wahyu khusus Allah.

Kita juga diberikan hikmat untuk melihat keluasan dan keutuhan dari kebenaran yang Allah nyatakan, baik di dalam wahyu umum maupun wahyu khusus. Tanpa keluasan dan keutuhan ini, pengertian kita akan kebenaran Allah akan timpang.

Dengan dua presuposisi cara pandang Kristen ini, kita dapat melihat implikasi dari cara pandang Kristen terhadap wahyu. Kekristenan menjadikan wahyu sebagai fondasi yang mendasari manusia di dalam membangun berbagai hal di dalam kehidupan ini. Budaya, ilmu pengetahuan, filsafat, bahkan hingga ke dalam bidang-bidang yang lebih aplikatif. Kekristenan percaya bahwa tanpa Allah yang menyatakan diri-Nya, manusia tidak dapat mengetahui apa-apa, bahkan untuk menjalankan kehidupan pun manusia akan helpless dan hopeless

Overview of Van Til and Bavinck’s View on Revelation

Maka di dalam beberapa artikel ke depan, kita akan membahas pandangan dari Van Til dan juga Bavinck. Di dalam pemikiran Van Til, kita akan melihat bagaimana seluruh keberadaan di dalam alam semesta ini saling terkait dalam menyatakan wahyu Allah. Hal ini dikenal juga sebagai 9 fields of revelation yang memasangkan ketiga keberadaan utama di dalam alam semesta ini, yaitu Allah, manusia, dan alam. Kesembilan wilayah tersebut adalah:

Mengenal alam melalui alam

Mengenal alam melalui manusia

Mengenal alam melalui Allah

Mengenal manusia melalui alam

Mengenal manusia melalui manusia

Mengenal manusia melalui Allah

Mengenal Allah melalui alam

Mengenal Allah melalui manusia

Mengenal Allah melalui Allah

Kesembilan wilayah wahyu ini akan kita bahas di dalam beberapa artikel ke depan. 

Sedangkan di dalam pemikiran Bavinck, kita akan melihat bahwa wahyu Allah ini organic. Maksud organic di sini bukan hanya karena bentuk dan isi dari wahyu tersebut satu di dalam keutuhan tetapi juga beragam, tetapi juga karena wahyu ini menjadi dasar dari kebudayaan manusia dan setiap fenomena yang ada, bahkan terkait dengan seluruh ciptaan di dalam alam semesta ini. Bavinck menyatakannya seperti demikian[3]:

When we compare this newer concept of revelation with what was generally accepted before that time, we find that it is distinguished by the following features: (1) special revelation, which is the basis of Christianity, is more organically conceived and more intimately connected in heart and conscience with general revelation in nature and history; (2) scholars adhering to the new concept attempt to understand special revelation itself as a historical process, not only in word but also in deed, both in prophecy and miracle, which then culminate in the person of Christ; (3) they view its content as existing exclusively or predominantly in religious-ethical truth, which aims primarily not at teaching, but at moral amelioration, redemption from sin, and (4) they make a sharp distinction between the revelation that gradually took place in history and documentation or description in Holy Scripture; the latter is not itself the revelation but only more or less accurate record of it.

Pembahasan mengenai pemikiran Bavinck ini akan kita bahas di dalam artikel-artikel selanjutnya. 

Simon Lukmana

Pemuda FIRES

Endnotes:

[1] Cornelius Van Til, Introduction to Systematic Theology, (Phillipsburg: New Jersey).

[2] John M. Frame, A History of Western Philosophy and Theology, (Phillipsburg: New Jersey).

[3] Herman Bavinck, Reformed Dogmatics: Prolegomena, (Grand Rapids: Michigan).