Artikel

Apa yang Terjadi di Areopagus?

Introduksi

“Apa yang terjadi di Areopagus?” Ini adalah pertanyaan yang saya tanyakan di dalam artikel PILLAR berjudul “Pemuda dan Pertanggungjawaban Iman” pada bulan Februari 2020 lalu.[1] Secara singkat, artikel tersebut membahas pertanggungjawaban iman berdasarkan 1 Petrus 3:15 yang memberikan beberapa prinsip dalam berapologetika, yaitu: melakukannya dengan sikap yang benar, bersandar pada anugerah Tuhan, dan menjadikan firman Tuhan sebagai satu-satunya otoritas (dasar presuposisional). Aplikasi dari ketiga prinsip tersebut selanjutnya dibahas melalui kisah Paulus di Athena (Kis. 17:16-34). Kisah Athena pun sebenarnya terbagi menjadi dua babak: babak pertama di Agora (pasar) dan babak kedua di Areopagus. Artikel tersebut baru membahas babak pertama. Artikel ini mengajak kita untuk zoom in pada apa yang terjadi di Areopagus.

Keunikan Kisah Ini

Di antara begitu banyak kejadian yang dicatat mengenai perjalanan misi Paulus, apakah yang begitu menarik tentang kisah Paulus di Athena? Kisah ini merupakan contoh yang paling baik di Alkitab yang menjelaskan relasi antara “Athena” (dunia pembelajaran sekuler) dan “Yerusalem” (simbol komitmen dan pemikiran Kristen). Di sanalah kita menemukan proklamasi gereja yang dapat dikontraskan dengan pengajaran filosofis akademis. Di sanalah kita dapat belajar dari Paulus bagaimana seharusnya orang percaya berespons terhadap konflik-konflik di antara kebenaran Alkitab dan pendapat dunia melalui berbagai ilmu (sejarah, sains, filsafat, dan lain-lain).

Lalu bagaimanakah relasi kedua hal ini dijelaskan di Areopagus? Jika kita terlalu cepat membaca isi khotbah Paulus di Areopagus di permulaan, kita mungkin akan menemukan bahwa sepertinya Paulus menggunakan pendekatan yang berbeda dari bagaimana dia biasanya menulis di dalam surat-suratnya. Sekilas terlihat seperti ada perbedaan radikal antara Paulus di Areopagus dan Paulus pasca-Areopagus (di Korintus, Efesus, Troas, dan lainnya). Apakah Paulus di Areopagus lebih fokus kepada sejarah dunia (17:24) sedangkan Paulus di surat-suratnya lebih fokus kepada sejarah penebusan? Apakah Paulus di Areopagus lebih menekankan bahwa manusia secara alamiah ada di dalam Allah (17:28) dibandingkan banyaknya tulisan Paulus di dalam surat-suratnya mengenai “di dalam Kristus”?

Sesungguhnya Paulus di Areopagus adalah Paulus yang sama juga dengan isi surat-suratnya. Ketika Paulus menulis surat-suratnya itu, bagaimanapun juga dia sedang menulis kepada jemaatnya yang Kristen, manusia yang telah diregenerasikan. Ketika Paulus sedang berdiri di Areopagus, kita harus sadar bahwa dia sedang berhadapan dengan manusia-manusia yang belum mengalami regenerasi. Oleh karena itu, Paulus memulai pendekatannya dengan mengajarkan dahulu mengenai Allah yang adalah Pencipta dan tentang pembalasan Allah terhadap dosa agar berita tentang anugerah menjadi bermakna. Ruang lingkup dari diskusi theologis Paulus dibuka dengan perspektif yang luas. Khotbah Paulus di Areopagus memiliki kesamaan yang jelas dengan pembukaan Kitab Roma. Johannes Munck mengatakan bahwa khotbah ini adalah pemikiran berdasarkan Surat Roma yang diolah dan ditransformasikan ke dalam dorongan hati seorang misionaris.[2] Khotbah ini tetap serasi dengan sejarah penebusan yang berpuncak pada Kristus yang bangkit (17:31), hanya saja dipagari dengan penciptaan dan penghakiman akhir. Khotbah ini adalah semacam khotbah yang disajikan kepada orang-orang non-Yahudi tanpa terlihat ada Alkitab di awalnya dan seharusnya dapat menjadi teladan bagi kita (misionaris modern) dalam mendekati orang-orang tidak percaya pada zaman ini.

Areopagus: Lokasi atau Orang?

Sebelum masuk ke dalam detail khotbah Areopagus, kita akan melihat siapa orang-orang yang Paulus hadapi dan di manakah Areopagus itu. Awalnya Paulus sedang berada di Agora bertukar pikiran dengan warga sekitar. Singkat cerita, pembicaraan ini menjadi makin seru[3] dan berujung pada keinginan warga agar membawa Paulus “menghadap sidang Areopagus” (Kis. 17:19) untuk menginvestigasi pemikirannya lebih lanjut. Areios pagos secara literal berarti “Bukit Ares”. Tetapi Paulus tidak benar-benar dibawa ke sebuah bukit melainkan dibawa menghadap sekumpulan orang (dewan) yang sangat disegani dan merupakan mantan-mantan hakim. Di masa itu, nama dewan tersebut secara singkat disebut “Areopagus”. Jumlah mereka ada sekitar tiga puluh orang dan hanya kaum aristokrat yang boleh mengisi posisi tersebut. Mereka bertugas menjaga situasi politik kota Athena, menjalankan yurisdiksi terhadap segala perkara agama dan moral, serta mengawasi guru dan pengajar. Jadi, Areopagus lebih mengacu kepada sebuah dewan daripada sebuah lokasi. Menurut legenda, memang dahulu dewan ini benar-benar melakukan sidang di Bukit Ares, namun pada masa Paulus sidang di bukit itu hanya dilakukan untuk kasus pembunuhan. Kasus-kasus lainnya sejak abad pertama sudah dipindahkan ke Basilika Stoa. Dari istilah Paulus “berdiri di atas Areopagus” (17:22) dan “pergi meninggalkan mereka” (17:33) dapat dipahami lebih kepada kehadirannya di hadapan Dewan Areopagus daripada berdiri di atas bukit.[4]

Kontradiksi: Allah yang Tidak Dikenal

“Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya…” (Kis. 17:23)

Paulus memulai khotbahnya dengan menyinggung orang Athena yang sangat menyembah dewa-dewanya. Dia memulai dengan menggarisbawahi fakta bahwa semua orang (termasuk orang Athena) sadar bahwa secara inheren natur manusia bersifat religius. Kalimat ini tidak diutarakan oleh Paulus untuk membangun suatu fondasi bersama dengan theologi natural dengan para filsuf Yunani, melainkan dia justru sedang mengekspresikan ketidakcukupan atau kecacatan theologi mereka, yaitu menyembah Allah yang tidak mereka kenal. Paulus menekankan kebebalan mereka dan menjadikan kebodohan ini sebagai poin epistemologi yang signifikan.

Menyembah sesuatu yang tidak dikenal adalah sebuah kontradiksi, sebuah kebodohan. Paulus sedang mengorek dan mengekspos kebodohan ini. Di hadapan Dewan Areopagus yang sedang mengadilinya, Paulus mendakwa balik mereka atas kebodohan mereka. Paulus ingin memberikan kritik internal terhadap pikiran mereka yang di satu sisi “dalam segala hal sangat beribadah kepada dewa-dewa” (17:22) namun di sisi lain tidak mereka kenal (17:23). Paulus juga mengingatkan Timotius bahwa pemikiran seperti itu adalah “omongan yang kosong… dari apa yang disebut pengetahuan” (1Tim. 6:20). Bagian ini paralel dan lebih jelas di dalam Roma 1:18-25, di mana Paulus menegaskan bahwa pemikiran orang-orang tidak percaya “menjadi sia-sia” (Roma 1:21); “mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh” (Roma 1:22).

Proklamasi Berdasarkan Otoritas Wahyu

“… itulah yang kuberitakan kepada kamu.” (Kis. 17:23)

Paulus melanjutkan khotbahnya dengan menunjukkan pikiran lawan yang bodoh itu. Antitesis dari pikiran mereka yang sia-sia adalah kebenaran Allah yang diberikan kepada manusia melalui wahyu. Inilah poin epistemologi kekristenan: Allah yang mewahyukan kebenaran. Di atas otoritas inilah Paulus membungkus theologinya dan memberitakannya kepada lawannya. Kata “beritakan” yang diterjemahkan oleh LAI memiliki arti “proklamasi” di dalam bahasa Yunani. Berita itu diuraikan nanti lebih lanjut di ayat 24-31.

Bagian ini mengajarkan kita bahwa orang Kristen menjadikan otoritas wahyu sebagai titik awal dan faktor pengontrol bagi semua pikirannya. Paulus tidak sedang membenturkan pikiran mereka dengan pikiran atau opini pribadinya akan kebenaran, melainkan dengan pikiran yang “telah mengenal Kristus” (Ef. 4:20). Paulus menjelaskan bahwa di dalam Kristus tersembunyi “segala harta hikmat dan pengetahuan” (Kol. 2:3). Salomo juga mengajarkan, “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan” (Ams. 1:7). Karena itu, jika seorang Kristen ingin mematahkan “setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah”, dia harus “menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus” (2Kor. 10:5). Dia harus membuat Kristus “lebih utama dalam segala sesuatu” (Kol. 1:18). Dengan cara inilah orang percaya memiliki otoritas untuk memproklamasikan kebenaran kepada orang tidak percaya.

Meraba-raba: Mencoba Menginterpretasikan Wahyu Umum Tanpa Wahyu Khusus

“… mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia …” (Kis. 17:27)

Paulus telah melakukan kritik internal dengan membenturkan kebodohan mereka melalui suatu proklamasi akan kebenaran yang berlandaskan otoritas dari wahyu Allah. Pertanyaan selanjutnya adalah: atas dasar apa Paulus yakin bahwa pendengarnya mempunyai potensi untuk mengerti proklamasi yang akan dia serukan (Kis. 17:24-31)? Ini adalah permasalahan point of contact. Isu point of contact telah diuraikan di dalam PILLAR November 2020 lalu.[5] Secara singkat, semua manusia pasti mengenal Allah yang sejati karena adanya relasi perjanjian (covenantal relationship) dan karena Allah telah menyatakan (mewahyukan) diri-Nya. Manusia memiliki pengetahuan tentang Allah tetapi mereka menolak atau menekannya. Roma 1:18 menyebutkan bahwa kefasikan dan kelaliman manusialah yang menindas kebenaran ini. Manusia mengenal Allah tetapi menekan kebenaran itu. Satu-satunya alasan mengapa manusia mampu menekan kebenaran tersebut adalah di dalam konteks relasi perjanjian. Dalam Roma 1:19 tertulis, “...apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata [jelas] bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya [mewahyukannya] kepada mereka.” Hal ini yang menjadi dasar yang makin kuat mengapa mereka patut dihukum kecuali jika mereka mau bertobat (17:30) dan percaya kepada Sang Hakim yang bangkit dari antara orang mati (17:31).

Atas keyakinan inilah Paulus berani melanjutkan khotbahnya kepada Dewan Areopagus. Dia memulai dengan wahyu umum, yaitu Allah menyatakan diri-Nya melalui ciptaan, “Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya…” (Kis. 17:24). Paulus juga menunjukkan bahwa pemerintahan providensial Allah atas sejarah harus diperhitungkan untuk membawa orang-orang kepada-Nya. Manusia seharusnya mengenal-Nya dari karya-karya-Nya. Seluruh ciptaan seharusnya membawa manusia untuk mengenal-Nya. Paulus melanjutkan dengan mengatakan bahwa sekalipun orang yang belum dilahirbarukan berusaha mencari Allah, usaha terbaik mereka akan sia-sia karena sebenarnya mereka hanya menjamah atau “meraba-raba”. Kata “meraba-raba” ini adalah kata kerja yang sama dengan yang digunakan oleh Homer dalam mitologi Yunani mengenai Cyclops bermata satu yang buta. Mengapa mata mereka gelap? Karena mereka tidak memiliki wahyu khusus untuk menginterpretasikan wahyu umum. Di dalam kata pengantar buku Christian Theistic Evidences karya Cornelius Van Til, Scott Oliphint menuliskan:

God’s natural revelation is properly seen and affirmed only in context of an affirmation of God’s special revelation, including an affirmation of the gospel in its biblical fullness. Apart from special revelation reality can only be understood as devoid of intrinsic meaning (i.e. brute fact).[6]

Borrowed Capital: Sajak dari Para Pujangga

“… seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu …” (Kis. 17:28)

Paulus sedang terus berusaha menunjukkan bahwa wahyu umum bertujuan untuk menunjukkan kesalahan orang tidak percaya karena ia salah memperlakukan kebenaran Allah. Ayat 28 adalah amplifikasi dari ayat-ayat sebelumnya. Bagian ini seperti bagian “contoh” di dalam sebuah khotbah untuk membuat pendengar makin bisa menyadari poin yang sedang diuraikan. Bagian ini sebenarnya memiliki dua buah contoh di mana setiap contoh dimulai dengan kata “sebab”. (1) Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada. (2) Sebab kita ini keturunan Allah juga.

Kedua frasa tersebut adalah kutipan dari sajak, puisi, atau himne yang ditulis oleh pujangga yang memengaruhi mereka di masa itu. Frasa pertama berasal dari seorang pujangga Kreta bernama Epimenides yang menulis untuk Zeus. Paulus mengutip bagian lain dari sajak ini di dalam Titus 1:12. Frasa kedua berasal dari seorang pujangga Kilikia bernama Aratus dari puisi mengenai “Fenomena Alam”. Isi dari kedua frasa ini sebenarnya tidak asing di telinga. “Di dalam dia kita hidup” terdengar seperti apa yang Paulus sering ajarkan di surat-suratnya bahwa kita ada “di dalam Kristus”. Tetapi tentunya istilah “di dalam” antara Epimenides dan Paulus pasti beda artinya. Manusia yang adalah “keturunan Allah” juga adalah istilah yang tidak asing bagi Paulus. Yohanes 1:12 mengatakan bahwa “yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa menjadi anak-anak Allah”. Kita menjadi anak Allah dalam pengertian supranatural, sedangkan apa yang Aratus tulis adalah dalam pengertian natural.

Poin yang ingin kita pelajari dari kedua kutipan ini adalah Paulus sedang memperkuat penekanan akan manusia yang sadar akan kedekatan dan ketergantungan mereka kepada Allah. Melalui wahyu umum, Allah itu sangat dekat dengan manusia. Dia “membombardir” manusia dengan wahyu umum-Nya 24-jam-7-hari sehingga mereka tidak bisa melarikan diri dari pengetahuan akan Pencipta dan Pemelihara mereka. Paulus ingin menuduh bahwa pengajaran dari para penulis kafir ini justru adalah bukti bahwa mereka memerlukan kebenaran tentang Allah untuk mengembangkan pikiran yang menyimpang. Pikiran yang “sesat” membutuhkan modal dari kebenaran. Yang palsu butuh yang asli. Van Til menyebut hal ini sebagai borrowed capital. Terkait puisi ini, Van Til juga berkomentar:

So Paul tells them that if their poets have said what is right as far as the words are concerned they should have placed a different meaning in these words than they did. If they said what was true and right, they said what is right because their systems are not right. They could say what is right not in accord with, but only in spite of their systems.[7]

Ia melanjutkan dengan mengatakan bahwa bagaimanapun juga, kebenaran yang mereka miliki dalam hati mereka tidak dapat dihindari dan dengan tidak sengaja semuanya akan terungkap:

They could say this adventitiously only. That is, it would be in accord with what they deep down in their hearts knew to be true in spite of their systems. It was that truth which they sought to cover up by means of their professed systems, which enabled them to discover truth as philosophers and scientists.[8]

Titik Temu: Apologetika Areopagus dan Kitab Suci

Sejauh apa yang kita sudah telusuri, kita bisa melihat bahwa cara Paulus menyampaikan khotbahnya kepada Dewan Areopagus adalah sebuah pendekatan gaya ceramah sekuler yang di dalamnya terkesan tidak mengutip ayat apa pun dari Alkitab. Namun benarkah Paulus tidak menggunakan Alkitab sebagai presuposisi untuk berhadapan dengan lawannya? Tidak. Seorang apologet Kristen harus menetapkan otoritas dan presuposisi-presuposisi dari Kitab Suci bagi wawasan dunianya dalam kontras yang bersifat antitesis terhadap wawasan dunia dari orang tidak percaya. Inilah yang sedang dikerjakan Paulus. Dia telah membuat kritik internal terhadap pikiran orang-orang Athena dan pada saat bersamaan menunjukkan bahwa hanya perspektif Alkitab yang menjelaskan pengetahuan yang mereka miliki itu penuh dosa. Pertanyaan berikutnya adalah: dasar firman dari Alkitab manakah yang Paulus gunakan? Tabel berikut menunjukkan bahwa semua yang Paulus bicarakan berakar dari komitmennya terhadap Kitab Suci. Ia berpijak pada dasar kebenaran yang solid.

Bertobat: Perubahan Pola Pikir

Paulus sedang mengajak pendengarnya untuk mengubah pola pikir mereka. Di dalam setiap poin, Paulus meyakinkan posisi Alkitab yang kontras dan bersifat antitesis dengan pikiran mereka. Allah yang adalah Pencipta bertentangan baik dengan pandangan materialisme Epikurean maupun pantheisme Stoa. Allah yang transenden bertentangan dengan konsep dewa-dewa yang berdiam dalam kuil (Parthenon). Allah yang cukup pada diri-Nya sendiri (mandiri) bertentangan dengan dewa-dewa Athena yang perlu dilayani. Justru manusia yang memerlukan Allah. Kristus yang akan datang pada akhir zaman bertentangan dengan konsep Yunani mengenai sejarah dan siklus waktu yang kekal. Kebangkitan orang mati di akhir zaman yang Paulus sampaikan bertentangan dengan legenda terbentuknya Areopagus yang menceritakan bahwa Apollo mengatakan tidak ada kebangkitan orang mati. Paulus telah mengubah sesi sidangnya di hadapan Dewan Areopagus menjadi mimbar tempat dia menyerukan agar para pendengarnya berubah pikiran. Ini adalah seruan pertobatan!

Seruan yang disampaikan di Kisah Para Rasul 17:30, “… mereka harus bertobat,” menjadi bagian penutup dari khotbah Paulus di Areopagus. Paulus menguatkan argumentasinya bahwa mereka harus bertobat karena pada suatu hari akan ada penghakiman akhir. Jika para filsuf ini tidak mengubah pola pikir mereka dan mengakui keberdosaan mereka di hadapan Tuhan, mereka akan berhadapan dengan murka Allah di dalam
diri Hakim yang telah Allah tentukan, yaitu Yesus Kristus yang telah bangkit. Hal ini menarik karena Paulus menggunakan kebangkitan Yesus sebagai bukti bahwa penghakiman itu akan terjadi. Paulus tidak berusaha membangun argumentasi untuk membuktikan bahwa kebangkitan orang mati itu ada dan menjadikannya kesimpulan akhir dari khotbahnya. Sebaliknya, Paulus meletakkan dasar presuposisional pada penerimaan terhadap otoritas firman Allah mengenai kebangkitan Kristus, kemudian menembak pendengarnya untuk bertobat di atas otoritas ini.

Kembali ke Masa Ini

Kita telah menelusuri kisah Paulus di Areopagus sebagai teladan relasi antara pemikiran Kristen dan dunia pembelajaran sekuler. Penelusuran ini memberikan kita harapan bahwa kita tidak perlu takut berhadapan dengan mereka. Segala tantangan yang Paulus hadapi di Areopagus saat itu juga menjadi tantangan yang harus kita hadapi di masa kini, bahkan tentunya lebih kompleks. Di dalam keberdosaan, filsafat zaman terus berkembang dan secara tidak sadar menjadi wawasan dunia yang dihidupi oleh setiap anak zaman. Khususnya di zaman postmodern, makin banyak kaum intelektual muda yang menjadi makin sinis, tidak peduli, dan agnostik terhadap kebenaran. Bagaimanapun juga, apa pun pandangan yang mereka anut tetaplah sebuah wawasan dunia. Hal itu secara sadar atau tidak sadar telah membelenggu mereka dari menginterpretasikan makna realitas yang benar sehingga mereka hidup di dalam kesia-siaan. Mereka menindas kebenaran dengan kelaliman. Mereka sedang hidup dalam kebodohannya masing-masing. Mereka sedang hidup di bawah murka Allah yang akan membinasakan mereka pada hari penghakiman jika mereka tidak bertobat dan mengubah pola pikirnya.

Jika Tuhan masih mengizinkan dunia ini belum berakhir dan kita hidup di masa tersebut, kita sebagai pemuda Kristen terpanggil untuk mengikuti teladan Paulus. Kita diberikan tugas istimewa yang tidak ada pada agama, kepercayaan, atau wawasan dunia lain, yaitu untuk memberitakan Injil kepada semua orang, termasuk kaum intelektual di masa ini. Kita dipanggil untuk menyadarkan mereka akan kebodohan-kebodohan yang ada di dalam pikirannya. Kita diajak untuk memproklamasikan kebenaran yang berasal dari otoritas wahyu Allah. Kita dipanggil untuk menghadapi “Areopagus modern”. Mari kita ikuti teladan Paulus! Kiranya Tuhan menolong kita “dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran” (2Tim. 2:25). Amin.

Abraham Madison Manurung

Pemuda FIRES

Endnotes:

[1] https://www.buletinpillar.org/artikel/pemuda-dan-pertanggungjawaban-iman.

[2] Johannes Munck, The Anchor Bible: The Acts of the Apostles, direvisi oleh Albright dan C. S. Mann (Garden City, New York: Doubleday & Co., Inc., 1967), hlm. 173.

[3] Penulis telah menjelaskan Kisah Para Rasul 17:16-21 di artikel sebelumnya termasuk membahas survei singkat akan sejarah 400 tahun dinamika perkembangan filsafat di Athena.

[4] Greg L. Bahnsen, 1980, The Encounter of Jerusalem with Athens, Ashland Theological Bulletin 31:4–40.

[5] https://www.buletinpillar.org/artikel/on-apologetics-the-point-of-contact.

[6] Cornelius Van Til. Christian Theistic Evidences, ed. K. Scott Oliphint, (New Jersey: P&R Publishing, 1978), hlm. xvii.

[7] Cornelius Van Til. Paul at Athens, (New Jersey: P&R Publishing, 1959), hlm. 8.

[8] Ibid., hlm. 8-9.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk BCN 2021 dan NRETC 2021 yang telah dilaksanakan. Bersyukur untuk puluhan ribu anak-anak dan remaja yang mengikuti kedua acara ini. Berdoa kiranya Roh Kudus menyertai mereka dalam pertumbuhan iman mereka, memberikan pengertian akan signifikansi Gereja di dalam dunia ini, dan menyadari besarnya anugerah yang diberikan Tuhan melalui Gereja di dalam dunia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2021 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲