Benjamin Breckinridge Warfield: Menerjang Arus Liberalisme

Jika kita ditanya siapa theolog yang paling berpengaruh di dalam perkembangan Theologi Reformed, mayoritas akan menjawab nama-nama besar seperti Calvin, Bavinck, dan Van Til. Mungkin ada pula yang menjawab theolog di zaman ini seperti Richard Pratt, dan Pdt. Stephen Tong, pendiri Gerakan Reformed Injili. Tetapi cukup sedikit yang mengetahui seorang theolog dari Amerika bernama B. B. Warfield. Padahal kontribusi Warfield sangatlah penting di dalam perkembangan Theologi Reformed yang kita kenal saat ini. Salah satunya terkait dengan doktrin wahyu, inspirasi, dan otoritas Alkitab. Ia mampu melihat keunikan kekristenan sebagai satu-satunya agama wahyu yang diinspirasikan dalam bentuk tulisan yaitu Alkitab. 

Ia bahkan setia memperjuangkan keunikan doktrin ini di tengah gempuran arus liberalisme yang cepat menyebar di antara kekristenan Amerika, sebuah arus pemikiran theologi yang menjadikan Alkitab hanya sebagai kitab moral saja. Semangat perjuangan ini kemudian dilanjutkan oleh theolog-theolog setelahnya, salah satunya adalah Cornelius Van Til, yang mengembangkan lebih jauh soal doktrin wahyu ini. Tanpa perjuangan Warfield, mungkin kekristenan sudah ditelan oleh arus liberalisme dan Theologi Reformed tidak akan berkembang sampai sejauh ini. Melalui artikel singkat ini, penulis menguraikan terlebih dahulu kehidupan masa kecil dan akademis Warfield. Kemudian dilanjutkan dengan konteks dan tantangan kekristenan pada zaman ketika ia hidup–situasi dan kondisi yang mendorong Warfield menghasilkan pemikiran theologis yang sangat baik terkait doktrin wahyu dan Alkitab. Bagian akhir ditutup dengan refleksi singkat perihal warisan theologi dan semangat dari B. B. Warfield yang perlu kita lanjutkan di zaman ini. 

Masa Kecil dan Karier Akademis

Benjamin Breckinridge Warfield dikenal sebagai theolog Reformed di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Ia lahir pada tahun 1851 di tengah keluarga yang cukup berada karena warisan yang mereka miliki. Tetapi hal itu tidak menghambat mereka menjadi keluarga yang beriman kepada Tuhan. Ayahnya, William Warfield, dahulunya adalah seorang Puritan Inggris yang melarikan diri ke Amerika untuk menghindari persekusi. Keluarga Warfield beribadah di gereja presbiterian di kota Lexington. Di gereja ini pula Warfield menyatakan imannya kepada Kristus pada umur 16 tahun. 

Sejak kecil, Warfield dikenal sebagai anak yang pintar dan sangat tertarik dengan dunia sains dan matematika. Di umur 17 tahun, ia melanjutkan studi di College of New Jersey (sekarang bernama Princeton University). Selama masa studinya, ia meraih prestasi sangat baik, nilai sempurna untuk mata pelajaran sains dan matematika. Ia pun meraih gelar lulusan terbaik pada tahun 1871 di umur 19 tahun. Setelah kelulusannya, ayahnya memberi saran untuk melanjutkan studi di Eropa. Warfield menerima baik saran tersebut. Ia memulai studi di Edinburgh dan Heidelberg pada musim semi 1872. Pada pertengahan musim panas, pihak keluarga terkejut ketika Warfield memutuskan untuk terjun ke dalam pelayanan gerejawi. Ia pun masuk ke Princeton Seminary atas instruksi dari hamba Tuhan yang ia kagumi yaitu Charles Hodge (1797-1878) dan anaknya Caspar Wistar Hodge (1830-1891). Hodge muda adalah seorang profesor Perjanjian Baru yang nantinya menjadi mentor pribadi bagi Warfield, sekaligus seorang sahabat di sepanjang hidupnya. 

Warfield memulai karier sebagai dosen theologi di Western (Pittsburgh) Theological Seminary di Pennsylvania pada tahun 1878. Ia mengajar di bidang Perjanjian Baru yang ia minati. Tidak berselang lama kemudian, awal tahun 1880-an menjadi catatan karier akademis yang sangat baik di tengah usianya yang masih sangat muda (<30 tahun). Melalui kuliah perdananya, “Inspiration and Criticism” (1880), karya tulis bersama dengan Archibald Alexander Hodge (1823-1886), “Inspiration” (1881), dan tulisan “Canonicity of Second Peter” (1882), Warfield diakui oleh dunia internasional sebagai seorang theolog yang begitu gigih mempertahankan ketidakbersalahan Alkitab (inerrancy of the Bible). 

Ia bahkan sempat ditawari gelar kehormatan theologi (Chair of Theology) pada tahun 1881, tetapi ia menolak. Pada zaman itu, adalah hal yang tidak biasa jika gelar kehormatan tersebut diberikan kepada seorang theolog yang masih sangat belia. Pada tahun 1886, C. W. Hodge menulis surat kepada Warfield bahwa hanya dia yang pantas mendapat gelar tersebut. Kemudian Warfield membalas bahwa ia menghargai tawaran tersebut, tetapi ia akan menerima gelar tersebut jika waktunya sudah tiba. Ternyata Tuhan sendiri yang memberi gelar itu kepadanya di usia yang masih 35 tahun. Ia melanjutkan gelar yang sebelumnya dipegang oleh seniornya, A. A. Hodge, yang secara tak terduga dipanggil oleh Tuhan. Gelar itu pun tidak sia-sia karena selama 34 tahun ia memimpin Princeton Seminary kepada kesetiaan Alkitab yang ortodoks di tengah terjangan arus liberalisme. 

Sepanjang karier akademisnya di Princeton Seminary, ia telah memublikasikan banyak tulisan. Ada 40 tulisan berupa buku dan booklet, hampir sebanyak 700 artikel, dan lebih dari 1.000 artikel review, catatan kuliah hingga manuskrip yang belum dipublikasikan. Sebuah warisan pemikiran theologis yang sangat berharga bagi kekristenan zaman ini. Terutama dalam hal kekayaan pemikiran Theologi Reformed yang hingga saat ini tidak banyak orang yang menggalinya. Padahal sebagian besar tulisan tersebut merupakan pergumulan Warfield di dalam menghadapi tantangan dari ajaran liberalisme. Tentu hal ini sangatlah berguna bagi pemuda/i Kristen di zaman ini yang juga menghadapi tantangan yang sama, tantangan dunia sekuler yang terus mengesampingkan Alkitab dan otoritas Allah.

Merebaknya Ajaran Kristen Liberal

Jadi apa yang unik dari pemikiran theologi Warfield? Sebelum itu, kita perlu membahas konteks dan pergumulan kekristenan di zaman Warfield hidup. Saat itu, di akhir abad 18 sampai 19, dapat dikatakan sebagai abad yang tidak mudah bagi gereja dan kekristenan. Pada saat itu arus pemikiran filsafat telah mencapai puncak kejayaannya dengan ditandai sebagai Abad Pencerahan (Enlightenment). Secara umum, mereka membawa semangat rasionalisme yang menjunjung tinggi keabsolutan rasio manusia, sehingga segala sesuatu harus dilihat dan diuji berdasarkan rasio manusia, termasuk Alkitab itu sendiri. Kritikan terhadap Alkitab makin memuncak ketika Charles Darwin memublikasikan Origin of Species (1859), yang memunculkan teori evolusi. Hal ini mengakibatkan narasi penciptaan di Alkitab pun dikritik. Ujung-ujungnya, eksistensi Allah pun dipertanyakan. Kekristenan tidak lagi dilihat sebagai hal yang esensial di dalam hidup manusia. Alkitab hanya menjadi buku agama yang kuno dan tidak lagi relevan di Abad Pencerahan.

Serangan yang tiada henti terhadap Alkitab dan kekristenan membuat orang Kristen pada zaman itu harus berespons. Di kubu konservatif, mereka tetap berpegang teguh pada pengajaran tradisional di dalam tradisi, sejarah, dan pengakuan iman. Respons ini tentu cenderung bersifat defensif dan gagal mengikuti perkembangan zaman. Maka muncullah kubu liberal yang coba mengadopsi semangat dan pemikiran kaum filsuf modern di dalam perkembangan theologi. Tetapi respons ini justru menghancurkan kekristenan dari dalam. Kaum Kristen liberal masih percaya kepada Alkitab, tetapi membuang segala hal yang bersifat supernatural di dalamnya. Tidak ada lagi mujizat. Tidak ada lagi Yesus yang mati dan bangkit. Bagi mereka segala sesuatu tidak mungkin terjadi secara supernatural; di balik itu pasti ada penyebab natural. Ini sama seperti pemikiran sains modern di mana segala sesuatu yang terjadi di alam pasti disebabkan oleh sesuatu yang bersifat natural juga. Kaum liberal terlalu membuka lebar-lebar bagi filsafat modern yang akhirnya tidak lagi menjadikan Alkitab sebagai standar kebenaran.

Inilah zaman di mana Warfield hidup. Zaman yang berubah dengan sangat cepat, tetapi perubahan yang mengarah kepada ketidaktaatan atas otoritas Alkitab. Di saat yang sama, kekristenan gagal menjalankan misinya untuk membawa setiap orang kembali kepada Allah. Warfield pun menyadari situasi yang sulit ini. Melalui ratusan, bahkan ribuan tulisannya, ia menegaskan kembali otoritas Alkitab sebagai satu-satunya standar kebenaran di dalam hidup manusia. Alkitab sebagai wahyu langsung dari Allah kepada manusia. Bagi Warfield, adalah bidat jika kita mengandalkan rasio manusia di atas Alkitab. Inilah mengapa B. B. Warfield sering dijuluki sebagai theolog doktrin inspirasi, yang menekankan kembali keunikan Alkitab sebagai wahyu Allah yang diinspirasikan kepada para nabi dan rasul.

Warfield dan Wahyu Supernatural

Doktrin inspirasi berbicara tentang bagaimana Allah memakai para nabi dan rasul sebagai penulis Alkitab. Ada banyak variasi teori untuk menjelaskan doktrin inspirasi ini. Misalnya ada yang mengatakan bahwa Allah mendikte secara langsung kepada penulis. Sedangkan, Theologi Reformed menjelaskan doktrin inspirasi sebagai Allah yang menginspirasikan wahyu-Nya di dalam keseluruhan hidup sang penulis. Warfield sendiri tentu mengambil jalur pengertian Theologi Reformed dengan tambahan penekanan yang cukup unik. Warfield memakai istilah “concursive operation” yang berarti Allah turut bekerja di dalam fakta sejarah untuk menyatakan diri-Nya kepada manusia. Allah tidak menjadikan manusia seperti boneka yang kehilangan kesadaran dirinya saat menulis Alkitab. Tetapi Allah memakai keseluruhan hidup dan pergumulan sang penulis untuk menuliskan Alkitab. 

Walaupun demikian, mekanisme tersebut tidak menjadikan Alkitab kurang supernatural atau berkurang sifat keilahiannya karena ditulis oleh manusia biasa. Warfield tidak terjatuh pada konsep Kristen liberal yang meniadakan sisi supernatural dari Alkitab. Ia sadar betul bahwa agama yang tidak memiliki konsep supernatural tidak mungkin dapat menyelamatkan manusia. Ketika kita berbicara tentang Allah yang sejati, tentu Ia pasti berbeda dengan alam ciptaan. Allah yang sejati adalah Allah yang bersifat transenden, yang tidak terikat pada alam ciptaan. Maka ketika berbicara tentang dosa yang merusak relasi manusia dengan Allah, tidak mungkin manusia memperoleh jalan pendamaian melalui hal-hal yang bersifat natural, tetapi hanya melalui Kristus, Allah yang menjadi manusia, yang mampu menebus dosa manusia. 

Terakhir, semua jalan pendamaian itu hanya mungkin terjadi jika ada yang namanya wahyu supernatural. Siapakah yang dapat menyatakan seluruh rencana keselamatan Allah, jikalau bukan Allah sendiri yang menyatakannya? Kita tahu Bayi yang lahir itu penting bagi keselamatan karena Allah telah menubuatkan sebelumnya melalui para nabi. Allah telah menyatakan siapa Bayi ini kelak, bagaimana Ia akan mati, menanggung hukuman dosa umat-Nya, dan menyatakan kemenangan atas maut melalui kebangkitan-Nya. Sang Firman itulah yang akhirnya menggenapi nubuat tersebut. Kemudian Allah memakai para rasul untuk menyebarkan berita Injil ini kepada seluruh dunia. Warfied berkata, “Jika kita percaya pada penebusan supernatural, kita harus percaya pada wahyu supernatural, yang dengannya saja kita dapat diyakinkan bahwa ini dan bukan hal lain yang terjadi, dan bahwa ini dan bukan hal lain yang dimaksud.”[1]

Adalah suatu kebodohan jika Kristen liberal terus menekankan sisi natural dari wahyu Allah, khususnya Alkitab, dan membuang sisi supernatural. Tindakan mereka mengakibatkan runtuhnya kekristenan sebagai agama supernatural. Seluruh keselamatan yang dikerjakan oleh Allah menjadi tidak ada artinya lagi. Pada akhirnya, Alkitab hanya menjadi kitab moralitas saja, dan mengabaikan kuasa Ilahi yang menyelamatkan manusia dari dosa. Warfield berusaha menarik kekristenan kembali kepada akarnya; kepada kuasa keselamatan yang hanya dapat dikerjakan oleh Allah, dan bukan manusia; kepada Alkitab yang adalah satu-satunya jalan manusia untuk dapat mengenal Allah yang sejati.

Simpulan 

Pelayanan dan semangat juang Warfield haruslah diteladani oleh kaum muda Kristen di zaman ini. Sama seperti Warfield, zaman ini juga berhadapan dengan orang-orang sekuler yang terus mempertanyakan keabsahan otoritas Alkitab. Mereka bahkan tidak lagi melihat agama sebagai hal yang esensial di dalam hidup mereka. Lebih celakanya lagi, orang Kristen pun gagal memahami Alkitab sebagai satu-satunya standar hidup mereka. Kita lebih senang mengikuti gaya hidup sekuler daripada tuntunan Alkitab. Wajar saja demikian, karena membaca seluruh kitab saja kita tidak pernah. 

Warfield menyadarkan kita kembali akan betapa berharganya wahyu yang Allah berikan melalui Alkitab. Ia menarik kembali supremasi Alkitab atas hidup orang Kristen. Alkitab sungguh-sungguh adalah firman Allah, satu-satunya jalan menuju pengenalan Allah sejati. Sehingga hanya melalui Dia, Yesus Kristus, kita beroleh keselamatan sejati. Alkitab bukan sekadar kitab moral, atau kitab yang berisikan firman Allah. Juga bukan kitab motivasi untuk menyenangkan keinginan kita. Tetapi Alkitab adalah wahyu Allah yang dinyatakan supaya manusia dapat memuji dan menyembah Sang Pencipta Agung, Allah Tritunggal yang Esa. 

Tetapi sungguh miris bahwa hanya dalam selang waktu sepuluh tahun sejak meninggalnya B. B. Warfield, arus liberalisme telah mendominasi sebagian besar gereja presbiterian, termasuk tempat Warfield datang beribadah. Begitu pula dengan Princeton Seminary yang juga tidak kuasa menahan arus liberalisme. Tidak mengherankan jika B. B. Warfield disebut sebagai theolog besar terakhir dari Princeton. Walaupun demikian, perjuangannya tidaklah sia-sia karena Tuhan telah menyiapkan hamba-Nya yang setia. Mereka melanjutkan kembali semangat perjuangan Warfield di dalam Theologi Reformed. Salah satu koleganya bernama Gresham J. Machen, yang nantinya bersama para theolog lainnya seperti Cornelius Van Til dan John Murray, memisahkan diri dari Princeton Seminary. Mereka mendirikan sekolah theologi yang baru bernama Westminster Theological Seminary. Mereka menegaskan sekali lagi visi misi mula-mula yang dicanangkan oleh para pendiri Princeton Seminary (Old Princeton), kesetiaan kepada iman yang ortodoks dan Theologi Reformed. 

Jadi, kekristenan macam apa yang ingin kita hidupi di zaman ini? Apakah seperti orang Kristen liberal yang mengompromikan seluruh pengajaran Alkitab supaya diterima oleh dunia? Atau berjuang seperti B. B. Warfield dan theolog lainnya yang setia mempertahankan keabsahan Alkitab di tengah dunia yang terus meragukan otoritasnya? Kiranya Tuhan memampukan kita menjadi saksi Allah di tengah dunia, sebagai saksi yang berani menyatakan hanya Alkitab satu-satunya tuntunan bagi hidup manusia. 

Tetapi Dia [Allah] telah memilih untuk mendirikan gereja-Nya tidak secara langsung dengan tangan-Nya sendiri, misalnya, firman Allah yang dinyatakan dalam nada-nada guntur dari sorga, tetapi melalui perantaraan sekelompok rasul, yang dipilih dan dilatih oleh diri-Nya sendiri, diberkahi dengan karunia dan rahmat dari Roh Kudus, dan diutus ke dunia sebagai agen yang diberikan otoritas oleh-Nya untuk mewartakan Injil yang Dia tempatkan di bibir mereka dan yang tidak kurang kuasa-Nya, bahwa melalui merekalah Dia berbicara.” – B. B. Warfield[2]

Trisfianto Prasetio

Pemuda FIRES

Sumber:

– Stivason, Jeffrey A. From Inscrutability to Concursus: Benjamin B. Warfield Theological Construction of Revelation’s Mode from 1880 to 1915. 2018. P&R Publishing.

– Zaspel, Fred G. The Theology of B. B. Warfield: A Systematic Summary. 2010. Crossway.

– Zaspel, Fred G. Warfield on the Christian Life: Living in Light of the Gospel. 2010. Crossway.

Endnotes:

[1] Zaspel, Fred G. The Theology of B. B. Warfield: A Systematic Summary. Hlm. 108.

[2] Idem. Hlm. 67.