Artikel

Inkarnasi: Antara Natal dan Salib

Kelahiran Tuhan Yesus sering disebut dengan istilah “inkarnasi”. Kata ini diambil dari bahasa Latin “incarno” yang berarti “menjadi daging”. Dengan alasan yang tidak dapat kita mengerti sepenuhnya, Allah begitu mengasihi manusia yang berdosa, sehingga Bapa memberikan Anak-Nya. Yesus dari kekekalan masuk ke dalam dimensi waktu untuk mengalami rasa sakit, penderitaan, pergumulan, ujian dan cobaan, ketidakadilan, bahkan menjadikan diri-Nya sebagai objek dari konsekuensi yang mengerikan dari dosa.

Alkitab mencatat bahwa kelahiran Yesus terjadi di tengah kesibukan sensus penduduk Kekaisaran Romawi. Saat itu, Kaisar Agustus memerintahkan seluruh wilayah kekuasaannya harus mengadakan sensus di tempat kediaman di mana mereka berasal. Hal ini dilakukan untuk mengetahui berapa jumlah orang yang berada di bawah kekuasaan Kaisar Agustus. Yusuf merupakan keturunan Daud, itulah sebabnya dia dan Maria harus kembali ke Betlehem untuk melakukan sensus. Kandungan Maria telah berusia sembilan bulan dan sedang menanti kelahiran. Hati Yusuf yang gundah gulana berpikir akan melakukan sensus secepatnya dan kembali ke Nazaret untuk melahirkan. Jika tidak sempat kembali, Maria akan melahirkan di tengah-tengah keluarga besar mereka di Betlehem. Kemudian Yusuf dan Maria meninggalkan Nazaret. Mereka melakukan perjalanan hampir 150 kilometer jauhnya ke selatan menuju Betlehem, kota Daud, ibu kota leluhur mereka. Namun, dengan adanya sensus penduduk ini, banyak orang kembali ke Betlehem, dan setiap rumah dibuka menjadi penginapan bagi keluarga yang datang. Tidak lagi ada rumah bagi Yusuf dan Maria untuk menginap, dan sensus yang dilakukan pun lebih lama dari perkiraan Yusuf, sehingga Maria harus melahirkan bayi dalam sebuah kandang hewan beralaskan jerami. Bayi itu diberi nama Yesus, yang berarti Juruselamat. Bayi Yesus dibalut dengan kain lampin dan ditidurkan dalam sebuah palungan, sebuah tempat makanan hewan. Kaisar Agustus mengira bahwa pelaksanaan kekuasaan ini akan memberikan pengaruh yang lebih besar baginya dalam mengendalikan dunia, namun pada akhirnya, apa yang dia lakukan justru menggenapkan apa yang dikatakan Nabi Mikha dalam Mikha 5:1-3. Sementara Kristus berarti Yang diurapi, Yang dipersiapkan untuk membawa keselamatan kepada manusia. Ia mengesampingkan semua hak ketuhanan yang menjadi hak-Nya dan menjadi orang yang paling rendah hak-Nya untuk kehidupan-Nya, dengan dilahirkan sebagai yang termiskin di antara orang-orang miskin. Seperti itulah Yesus masuk ke dalam dunia, penuh dengan kerendahan hati, menggambarkan perbedaan antara Kerajaan-Nya dan kerajaan dunia dalam hal kekuasaan, otoritas, dan hak istimewa.

Jauh setelah kelahiran Yesus Kristus, setiap tahun menjelang Natal, seluruh dunia disibukkan dengan persiapan perayaan Natal sesuai dengan tradisi masing-masing. Keluarga membersihkan rumah, memasang dekorasi bertemakan Natal di sudut ruangan, menyiapkan masakan yang terenak, tukar kado, dan menyediakan baju yang akan dipakai di malam Natal. Setiap panitia Natal di perkantoran, kampus, gereja, pemerintahan, dan komunitas lainnya juga disibukkan dengan merangkai acara demi acara dalam merayakan Natal. Acara melibatkan mulai dari artis, Sinterklas, unboxing kado, drama Natal dengan kandang hewan yang bersih, pemasangan pohon Natal, lucky draw, persiapan kor, penyediaan konsumsi, sampai kepada dress code yang akan dipakai. Mal, supermarket pun tidak kalah glamornya, dengan ornamen-ornamen Natal, lagu-lagu Natal yang diperdengarkan, dan tidak lupa dengan Christmas sale yang ditawarkan kepada setiap pengunjung. Bahkan jalanan pun terlihat berhiaskan dekorasi Natal. Ada juga yang mempersiapkan Natal dengan melakukan liburan. Persiapan-persiapan Natal tersebut bahkan dapat menghabiskan begitu banyak uang. Suasana ini dinikmati oleh semua kalangan, dan agama. Suatu suasana yang begitu meriah, yang mempertunjukkan eksisnya manusia dalam dunia ini. Menariknya, persiapan seperti ini terus dikerjakan bertahun-tahun, dari generasi ke generasi. Tanpa disadari, dalam perayaan Natal itu yang kelihatan eksis adalah kita beserta seluruh ornamen-ornamen Natal. Kita mulai menggeser atau bahkan telah menggeser eksisnya Yesus. Sangat ironis bukan, ketika dalam seluruh kelelahan persiapan Natal sampai kepada hari H-nya itu, kita sendiri tidak melihat Yesus eksis. Jemaat yang datang dalam perayaan itu pun tidak melihat eksisnya Yesus dalam Natal malam itu. Ketika kita dan semua jemaat pulang di tengah kelelahan, maka yang tertinggal dalam benak kita adalah ingatan akan kemeriahan dan kegembiraan. Hati kita telah meninggalkan Yesus yang adalah Tuhan dan Juruselamat itu. Hati kita meninggalkan bayi Yesus yang lahir jauh dari kemewahan, kemeriahan, dan kegembiraan dunia. Hati kita telah meninggalkan apa yang Alkitab katakan tentang kelahiran Yesus. Hati kita hanya berhenti kepada sebuah ingatan “Yesus telah lahir”, tanpa memahami apa yang terjadi di balik kelahiran itu.

Di tahun 2020 ini, tidak seorang pun dari kita yang pernah membayangkan akan adanya pandemi COVID-19. Pandemi ini mengubah semua tatanan kehidupan manusia dalam berbagai hal. Begitu banyak manusia yang telah meninggal dunia, perusahaan tutup, bertambahnya pengangguran, meningkatnya kemiskinan, dan lain sebagainya. Manusia di seluruh dunia tidak bisa melakukan apa pun untuk melepaskan diri dari pandemi ini. Hanya Tuhan, Sang Penguasa, yang bisa melakukannya. Kehadiran COVID-19 membuat kita sadar, bahwa Tuhan itu eksis, dan manusia membutuhkan Tuhan. Di tengah pandemi ini, mata kita dipaksa untuk melihat kepada Yesus, Sang Mesias, Sang Juruselamat, Tuhan kita. Menjelang Natal tahun ini, mari kita kembali memikirkan ulang perayaan Natal seperti apakah yang akan kita lakukan bersama keluarga kita, gereja kita, teman-teman kita, serta orang-orang yang kita kasihi? Kita semestinya tidak melakukan kesalahan yang sama dalam mempersiapkan Natal ketika mata kita sudah dicelikkan melihat Tuhan Penguasa langit dan bumi melalui pandemi tahun ini. Mari kita kembali kepada Natal mula-mula, sebuah kelahiran yang dipersiapkan menuju kematian di atas kayu salib, dan membawa kita kepada penebusan dosa. Natal seharusnya membawa kita melihat kepada kuasa Allah di atas kayu salib sehingga kita belajar mengasihi dan taat kepada-Nya. Selamat mempersiapkan Natal bagi kita semua.

Ewy Lady Ritonga

Pemudi GRII Medan

Ewy Lady Ritonga

Desember 2020

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk SPIK bagi Generasi Baru dengan tema Roh Kudus VI yang akan diadakan pada tanggal 18 September 2021. Berdoa kiranya setiap kita digerakkan oleh Tuhan untuk membawa banyak orang untuk dapat mengikuti acara ini dan mengerti akan pekerjaan Roh Kudus yang sejati di dalam kehidupan orang percaya. Berdoa kiranya Tuhan menggerakkan hati banyak orang. Berdoa untuk setiap hamba Tuhan yang akan membawakan sesi-sesi dalam SPIK ini, kiranya Roh Kudus mengurapi mereka dan memberikan kuasa kepada mereka untuk memberikan pengertian bagi setiap jemaat dan menguatkan iman serta pengenalan akan karya Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2021 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲