Artikel

Mari Menyanyikan Mazmur

“[B]erkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.” (Ef. 5:19)

Kita mungkin pernah mendengar perdebatan pemakaian lagu himne dan lagu kontemporer, mengenai lagu mana yang lebih “benar” digunakan di dalam gereja saat ini. Artikel kali ini tidak akan membahas perdebatan tersebut. Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak kita mengenal salah satu bentuk lagu yang ada di dalam sejarah gereja, yaitu Mazmur. Ada empat alasan mengapa kita perlu lebih mendekat kepada Mazmur. Pertama, Tuhan memerintahkan kita menyanyikan Mazmur. Kedua, Mazmur adalah firman Tuhan. Ketiga, Mazmur menggambarkan ekspresi jiwa manusia kepada Tuhan secara penuh dan juga membentuk ekspresi kita kepada Tuhan. Dan yang terakhir, Mazmur adalah nyanyian Gereja yang Am.

Pertama, di Efesus 5:19 dan Kolose 3:16, Kristus memerintahkan kita untuk menyanyikan lagu Mazmur di samping kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Di satu sisi, Calvin dan banyak penafsir modern tidak membedakan mazmur, kidung pujian-pujian, dan nyanyian rohani. Mereka menganggap tiga kata ini sebagai bentuk pengulangan dan merujuk kepada nyanyian atau pujian rohani kepada Tuhan. Di sisi lain, kata “mazmur” yang dipakai di sini, atau “psalmos” di dalam bahasa Yunani, biasa merujuk kepada Kitab Mazmur di Perjanjian Lama, misalnya di Kisah Para Rasul 1:20 dan 13:33. Jadi, walaupun di ayat ini kita diperintahkan secara umum untuk bernyanyi bagi Tuhan, kita bisa mengerti juga bahwa lagu Mazmur termasuk dari lagu-lagu yang perlu dinyanyikan oleh gereja-gereja saat ini.

Kedua, Mazmur adalah firman Tuhan sendiri dan bukan buatan manusia. Ada tiga konsekuensi indah dari fakta ini. Pertama, ketika kita menyanyikan lagu Mazmur kepada Tuhan dengan hati yang sungguh-sungguh, kita bisa yakin bahwa Tuhan menerima pujian kita karena Ia sendiri yang memberikan-Nya. Kedua, firman Tuhan benar adanya (Yoh. 17:17). Dengan demikian, ketika kita menyanyikan lagu Mazmur, kita bisa yakin bahwa apa yang kita nyanyikan sesuai dengan kebenaran Allah dan tidak ada kemungkinan cacat theologi. Yang ketiga, karena Mazmur adalah firman Tuhan, maka Mazmur pasti relevan dengan hidup kita. Mazmur bukanlah lirik lagu yang mati, melainkan firman Tuhan yang hidup dan menyelisik hati kita (Ibr. 4:12).

Ketiga, Mazmur juga menggambarkan secara penuh ekspresi jiwa manusia kepada Tuhan dan juga membentuk ekspresi kita kepada Tuhan. Di kata pengantar tafsiran Kitab Mazmur, Calvin menjelaskan, “Roh Kudus memberikan gambaran yang hidup dari segala dukacita, kesedihan, ketakutan, keraguan, harapan, kekhawatiran, kebingungan, singkatnya, segala emosi yang biasa mengganggu pikiran manusia.”1 Kemudian ia menyimpulkan, “Segala sesuatu yang dapat mendorong kita ketika kita akan berdoa kepada Allah diajarkan di kitab ini.”2 Sebagai contoh, Mazmur 102 mengajarkan kepada kita untuk melawan keputusasaan dengan memandang kepada Allah. Sebelas ayat pertama menggambarkan situasi keputusasaan pemazmur. Di ayat 12-22, pemazmur melayangkan matanya kepada TUHAN, Allah yang dikenal dalam perjanjian-Nya dengan bangsa Israel. Di ayat 23, pemazmur kembali mengingat keadaannya, tetapi kemudian ia melawan keputusasaannya dengan menyerukan harapannya kepada Allah di ayat 24-28. Bagi kita yang percaya kepada Kristus, kita juga mempunyai harapan yang sama di tengah keputusasaan, karena kita juga berada di dalam perjanjian dengan Allah yang dimeteraikan melalui tubuh dan darah Kristus.

Yang terakhir, ketika kita menyanyikan lagu Mazmur, bukan saja kita mengekspresikan jiwa kita sekarang, tetapi kita juga memuji Tuhan bersama umat Tuhan di segala abad. Ketika kita menyanyikan Mazmur 2, kita menyanyikannya bersama Raja Daud. Ketika kita menyanyikan Mazmur 118, kita bernyanyi bersama-sama dengan Yesus dan rasul-rasul ketika mereka sedang berjalan menuju Bukit Zaitun (Mrk. 14:26) setelah menyantap makanan Paskah. Mazmur juga telah menjadi nyanyian gereja selama lebih dari seribu tahun, mulai dari zaman Bapa-bapa Gereja hingga Reformasi. Di zaman Calvin, penduduk Jenewa menyanyikan Mazmur di gereja, di rumah, dan bahkan hingga di pasar. Di Indonesia sendiri, gereja-gereja Reformed yang didirikan Belanda juga menyanyikan lagu Mazmur sejak pertama kali Mazmur Jenewa diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu di abad ke-18 hingga abad ke-20. Menurut A. A. Yewangoe, “Setahu saya [dahulu] Gereja Toraja, Gereja-gereja Kristen Jawa, Gereja Kristen Injili di Tanah Papua, Gereja Kristen Sumba masih setia menyanyikan Mazmur.”3

Alkitab menyatakan bahwa kita harus menyembah Allah di dalam roh dan kebenaran. Hal ini berarti di dalam pujian dan penyembahan kita kepada Allah, seluruh aspek kehidupan kita harus digunakan. Tidak hanya di dalam hal yang bersifat emosional, tetapi juga yang berkaitan dengan kesadaran rasio manusia akan kebenaran yang Allah nyatakan. Mazmur memiliki kedua aspek ini, bahkan kedua aspek ini dapat bersinergi dengan baik di dalam Mazmur, karena isi dari Mazmur itu sendiri lahir dari diri penulis yang bergumul (aspek emosional) di dalam kehidupan mereka, pergumulan antara fakta kehidupan dan kebenaran (aspek rasio) yang mereka mengerti. Karena itu, Mazmur memiliki keragaman di dalam pengertian dan emosi. Kita dapat menyanyikannya baik secara sederhana maupun dengan emosi yang mendalam. Perbedaan derajat kedalaman ini dapat memberikan kita pengertian dan perasaan yang berbeda. Keragaman inilah yang seharusnya dapat kita nikmati ketika menyanyikan Mazmur.

Jika kita sudah terbujuk untuk menyanyikan Mazmur, dengan lagu apakah kita bisa menyanyikan Mazmur di dalam bahasa Indonesia? Bersyukur kepada Tuhan yang telah menggerakkan orang-orang yang menyediakan kita sebuah buku nyanyian Mazmur di dalam bahasa Indonesia. Selain dari beberapa lagu Mazmur yang tersedia di Kidung Reformed Injili, kita memiliki suatu warisan berharga dari Reformasi, yakni Mazmur Jenewa yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kita bisa mendapatkan Mazmur Jenewa pada dua buku: Mazmur dan Kidung Jemaat terbitan Yamuger dan Mazmur dan Nyanyian Rohani (terjemahan I. S. Kijne) terbitan BPK Gunung Mulia.

Sebagai penutup, semoga tulisan ini berhasil membujuk kita untuk mendekat kepada Kitab Mazmur, sebuah kitab yang berisi bukan sekadar tulisan-tulisan, melainkan lagu-lagu yang diilhamkan Roh Kudus untuk kita, sebagai umat Tuhan, nyanyikan di sepanjang masa. Marilah kita menghargai warisan-warisan yang Tuhan telah berikan kepada kita, baik melalui Alkitab langsung maupun yang diberikan melalui sejarah gereja.

“Any affection or feeling or emotion stirred up by error or false doctrine is worthless.” – Sam Storms

Hans Tunggajaya

Pemuda GRII Singapura

Endnotes:

1. John Calvin, Author’s Preface to Commentary on the Psalms.

2. Ibid.

3. https://www.facebook.com/AAYewangoe/posts/445684695763218/.

Hans Tunggajaya

April 2021

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk BCN 2021 dan NRETC 2021 yang telah dilaksanakan. Bersyukur untuk puluhan ribu anak-anak dan remaja yang mengikuti kedua acara ini. Berdoa kiranya Roh Kudus menyertai mereka dalam pertumbuhan iman mereka, memberikan pengertian akan signifikansi Gereja di dalam dunia ini, dan menyadari besarnya anugerah yang diberikan Tuhan melalui Gereja di dalam dunia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2021 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲