Artikel

Paul on Ecclesiology

Jika kita mengilas balik sejarah gereja, kita akan menemukan begitu banyak peristiwa yang luar biasa. Perjuangan orang-orang Kristen di dalam mempertahankan iman mereka dan menghadapi tantangan zaman adalah peristiwa yang begitu penting. Jemaat Gereja Mula-mula rela dibakar hidup-hidup dan diterkam oleh binatang buas di dalam Koloseum. Banyak orang Kristen berani berkorban menjadi martir demi mempertahankan imannya. Melalui kesaksian perjuangan mereka, pada akhirnya Kerajaan Romawi berubah menjadi negara Kristen. Namun, di sisi lain kita juga dapat menemukan sisi-sisi gelap dari gereja. Begitu banyak peristiwa kelam terjadi dalam gereja di sepanjang sejarah dari abad pertama sampai hari ini. Misalnya, sebelum terjadinya Reformasi Gereja pada 1517, pimpinan gereja di Abad Pertengahan memiliki kuasa bagaikan raja yang duduk di atas takhta. Gereja juga sering kali menggunakan kuasanya untuk menindas kaum yang dianggapnya sebagai bidat. Salah satu yang terkenal adalah John Wycliffe (1330-1384) yang dianggap bidat karena menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris sehingga dapat dibaca dan dimengerti oleh masyarakat luas. Hampir seratus tahun kemudian, Jan Hus (1369-1415), yang juga dipengaruhi oleh Wycliffe, dibakar hidup-hidup oleh gereja karena berkhotbah dalam bahasa Ceko. Hal ini dianggap sebagai sebuah kriminalitas oleh gereja saat itu. Tidak jarang juga pada masa itu kita dapat menemukan catatan skandal-skandal keuangan dan seksual dalam gereja. Salah satunya adalah Paus Benediktus IX yang menorehkan catatan begitu korup dengan skandal pemerkosaan, pembunuhan, dan terakhir, ia bahkan menjual jabatannya sebagai paus demi uang. Begitu banyak catatan merah tentang gereja dan sampai hari ini pun kita masih menemukan berita-berita tidak menyenangkan dari gereja. 

Gereja tidak menjadi terang melainkan terkadang bahkan lebih gelap dari dunia. Jika demikian, apa bedanya gereja dengan dunia? Akhirnya, orang menyimpulkan bahwa sebaik-baiknya gereja, ada kerusakan di dalamnya, demikian juga seburuk-buruknya dunia (non-Kristen), ada hal yang baik dari dunia yang tampaknya bahkan lebih baik dari gereja. Sejarah mencatat bahwa gereja bisa melakukan hal-hal yang lebih bobrok atau rusak daripada dunia ini. Gereja tidak lagi mampu menjalankan panggilannya sebagai terang dunia. Gereja kehilangan keunikannya di dunia ini. Bagaimana kita sebagai orang Kristen, anggota Gereja Tuhan, melihat kondisi gereja yang seperti ini? Masih adakah sesuatu yang bisa kita tawarkan bagi dunia? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, di dalam artikel ini kita akan membahas tulisan-tulisan Paulus mengenai gereja. 

Gereja merupakan salah satu topik utama dalam tulisan Paulus. Paulus menulis begitu banyak surat kepada gereja di berbagai tempat dengan berbagai macam latar belakang, kondisi, dan masalah. Paling tidak ada tiga belas kitab[1] dalam Alkitab yang merupakan surat-surat yang Paulus kirimkan kepada Gereja Mula-mula. Melalui surat-surat tersebut, Paulus menyampaikan doktrin-doktrin penting mengenai gereja dan bagi gereja. Oleh karena itu, tulisan-tulisan Paulus mengenai gereja akan menolong kita mengerti keberadaan gereja yang sesungguhnya secara mendasar. Hal ini juga akan mengubah cara kita melihat gereja serta memperbarui hidup gerejawi kita sebagai orang Kristen. 

Pertama, kita akan melihat identitas gereja menurut Paulus. Pembahasan mengenai gereja di dalam tulisan Paulus tidak terlepas dari konteks keselamatan. Hal ini memiliki kesinambungan dari janji Allah kepada Abraham (Rm. 4). Itu sebabnya orang Kristen disebut sebagai keturunan Abraham secara iman, dan juga merupakan penggenapan janji Allah kepada Abraham secara nyata. Sebagaimana Abraham, bapa orang beriman, dibenarkan oleh iman, demikian juga orang Kristen dibenarkan oleh iman. Di dalam Roma 8:29-30, Paulus menjelaskan bahwa semua yang dibenarkan oleh Allah merupakan orang-orang yang telah ditentukan oleh Allah sebelumnya. “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Dengan demikian, Paulus menaruh identitas Gereja Tuhan di dalam rencana penetapan kehendak Allah yang kekal. Gereja adalah isi hati Tuhan. Sejak semula, Gereja sudah ditetapkan menjadi pusat dari rencana-Nya yang dinyatakan-Nya di dalam sejarah dengan menghadirkan pribadi demi pribadi dari umat-Nya. Keberadaan Gereja terikat dengan kehendak kekal Allah, dan terikat dengan perjanjian kekal Allah di dalam Kristus. Identitas Gereja Tuhan tidak terletak pada apa yang mereka lakukan, seberapa besar gedungnya, seberapa banyak kekayaannya, bahkan seberapa banyak jemaatnya. Identitas Gereja terletak pada isi hati Tuhan yang kekal yang terikat dengan perjanjian-Nya yang tak tergoyangkan. 

Selain itu, Paulus juga menyatakan perbedaan identitas Gereja Tuhan dari dunia ini. Di dalam 2 Korintus 5:17, Paulus mengatakan bahwa siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru. Di sinilah letak perbedaan antara umat Allah dan dunia ini. Orang Kristen memiliki perbedaan ontologis dengan dunia ini, sebab orang Kristen merupakan ciptaan yang baru di dalam Kristus, Sang Adam Kedua itu. ​​Semua orang adalah keturunan Adam pertama yang telah jatuh di dalam dosa. Semua orang telah mati di dalam persekutuan dengan Adam pertama, tanpa terkecuali. Namun, orang Kristen adalah ciptaan baru yang telah dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus (1Kor. 15:22). 

Sama seperti manusia pertama, Adam pertama, tidak hidup bagi dirinya sendiri, demikian juga Gereja Tuhan sebagai ciptaan baru. Gereja dipanggil untuk hidup sebagai umat secara kolektif, bukan secara individual. Dalam hal ini, Paulus memberikan istilah baru bagi Gereja, yaitu tubuh Kristus. Konsep mengenai tubuh Kristus ini banyak ditulis oleh Paulus di dalam surat-suratnya kepada jemaat di Efesus dan Kolose, selain di dalam surat kepada jemaat di Roma. Di dalam surat-surat tersebut, Paulus menyebutkan Kristus sebagai kepala dan jemaat sebagai tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu (Ef. 1:23). Gereja adalah kepenuhan Kristus, di mana Gereja dipenuhi oleh Kristus. Artinya, Kristus hadir di dalam Gereja-Nya sebagai Kepala Gereja. Dia hadir di tengah-tengah umat-Nya. Dia beserta dengan umat-Nya, Imanuel. Ini adalah identitas Gereja yang tidak dimiliki oleh agama atau kepercayaan apa pun, di mana Allah menyatakan kepenuhan kehadiran-Nya di dalam umat-Nya. Oleh karena itu, di dalam Efesus 4, Paulus mengingatkan pembacanya untuk menjaga kesatuan Roh di dalam satu tubuh, satu Roh, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua. 

Gereja adalah tubuh Kristus, dengan kita sebagai anggota yang memiliki tugas dan panggilan yang berbeda-beda. Ada yang dipanggil sebagai kaki yang harus berlelah untuk berjalan, ada yang dipanggil sebagai mata untuk mengarahkan, atau mungkin ada yang dipanggil sebagai jari kelingking yang memiliki tugas lebih ringan daripada kaki. Konsep Gereja sebagai tubuh ini merupakan konsep yang sangat penting dan powerful bagi Gereja. Ada kesamaan, perbedaan, dan kesatuan dari setiap anggota tubuh. Di dalam tubuh terdapat ketersalingan antaranggota tubuh untuk menjalankan perintah dari Sang Kepala, sehingga kita dapat beraktivitas dengan baik. Kita dapat duduk, berjalan, berlari, bahkan ketika tersandung, tubuh kita secara refleks akan saling bekerja sama untuk menjaga keseimbangan keseluruhan tubuh. Gerakan refleks ini tidak memperhitungkan kuantitas beban yang dipikul masing-masing anggota. Tangan yang harus mengayun demi keseimbangan tubuh tidak dapat iri kepada telinga yang terlihat tidak melakukan apa-apa. Atau kaki yang harus setengah melompat tidak dapat berbangga atas jasanya yang jauh lebih besar dibandingkan mata yang hanya menempel di kepala. Beban masing-masing anggota tidak bisa dibandingkan satu sama lainnya, karena masing-masing anggota memiliki tugas dan panggilannya masing-masing. Gambaran komunitas seperti ini sangatlah indah. Masing-masing menjalankan panggilan masing-masing tanpa iri, bangga, meremehkan yang lain, menganggap diri hebat, dan lain sebagainya. Komunitas seperti ini sangat dirindukan oleh dunia ini, namun mereka tidak mungkin memilikinya. Ironisnya, gereja yang memilikinya justru sering kali menganggap remeh pemikiran ini dan bahkan membuangnya. Kita tidak ingin hidup sebagai Gereja Tuhan sebagaimana mestinya, kita ingin serupa dengan dunia. 

Paulus dalam Roma 12:2 mengatakan (dengan kalimat imperatif), “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Gereja tidak dipanggil untuk menjadi serupa dengan dunia ini. Bukan dunia teladan kita, melainkan Kristus. Gereja dipanggil untuk menyerupai Kristus dengan memikul salib dan menyangkal diri. Gereja bukanlah tempat untuk mengaktualisasi diri. Gereja bukanlah tempat menyatakan diri. 

Melalui ajaran ini, Paulus mengajak kita untuk merefleksikan motivasi kita di dalam pelayanan, kehidupan bergereja, dan bahkan kehidupan sehari-hari. Mengapa saya melayani? Bagaimana jika ada rekan pelayanan yang tidak sependapat dengan kita? Bagaimana jika kita telah melayani dengan begitu keras, namun rekan kita yang dipuji dan kita tidak dilihat? Akankah kita tetap melayani? Jika kita melayani sebagai satu tubuh Kristus, seharusnya bukan anggota tubuh yang menjadi fokus, tetapi perintah Sang Kepala yang digenapi. Asalkan pekerjaan Tuhan dapat berjalan dengan baik, maka apa pun boleh terjadi. Mungkin untuk berlari kencang, kita sebagai kaki akan sangat lelah, sedangkan mata hanya kedap-kedip saja. Itu pun tidak masalah. Dengan kata lain, gereja bukan untuk mengisi kebutuhan saya, melainkan untuk saya menjadi umat Allah yang menggenapi rencana Allah bagi keseluruhan Gereja-Nya. 

Di dalam Roma 12:1, Paulus juga menasihatkan, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Sebagai umat Allah, gereja juga dipanggil untuk mempersembahkan diri menjadi korban yang hidup. Gereja Tuhan dipanggil untuk melayani Tuhan walaupun harus merisikokan diri. Di tengah pandemi, gereja tidak dipanggil untuk menarik diri dan mengurung diri demi keselamatan diri, melainkan gereja harus berani menghadirkan penghiburan dan pengharapan bagi dunia yang meratap dan memerlukan pertolongan, baik sebagai gereja secara institusi, maupun sebagai gereja secara pribadi-pribadi. Tubuh Kristus haruslah menyatakan Kristus, menyatakan karakter Kristus, dan menyatakan kasih Kristus yang nyata kepada dunia. 

Paulus sebagai rasul bukan hanya mengajarkan teori kepada jemaat, melainkan ia sendiri menjalankan apa yang ia beritakan. Paulus telah menjalankan tugasnya sebagai anggota tubuh Kristus dengan baik. Ia mengatakan dalam 2 Timotius 4:7, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” Paulus sendiri telah menjadi teladan dalam menjalankan tugasnya sebagai anggota tubuh Kristus. Apa yang Paulus perjuangkan bukanlah bagi dirinya sendiri, melainkan untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus (Ef. 4:12). 

Perjuangan di dalam membangun tubuh Kristus tidak berhenti pada Paulus, karena hal itu bukanlah mandat Allah kepada Paulus, melainkan kepada Gereja-Nya. Di dalam ayat berikutnya, Paulus melanjutkan bahwa pembangunan tubuh Kristus ini harus berlanjut sampai mencapai kesatuan iman, pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Ef. 4:13). Ini merupakan aspek eskatologis dari Gereja, yaitu mencapai kepenuhan di dalam Kristus. Di sepanjang sejarah, Gereja Tuhan sebagai tubuh Kristus harus terus bertumbuh untuk makin mengenal dan menyerupai Kristus, Sang Kepala, serta makin menyatakan diri sebagai tubuh yang sejati melalui kesatuan dan keberagaman.[2] 

Perjuangan untuk menjadi Gereja Tuhan yang sejati pastilah tidak mudah. Kita mungkin akan menyaksikan bahwa ada yang gugur di tengah jalan atau jatuh, seperti pembahasan di awal artikel ini. Namun Gereja Tuhan secara total tidak akan dan tidak mungkin gagal, sebagaimana dikatakan oleh Paulus bahwa mereka yang dipilih-Nya dari semula akan ditentukan untuk menjadi serupa dengan Kristus, dan pada akhirnya akan dimuliakan-Nya, sebab Kristus telah mengalahkan dosa, maut, dan Iblis. Inilah kepastian akan pengharapan kita, marilah kita sebagai Gereja Tuhan mengucap syukur bersama dengan Paulus, “Syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” Kiranya Tuhan terus membentuk dan memampukan kita menjadi anggota Gereja yang sejati, yang dengan sepenuh hati menjalankan setiap kehendak Allah bagi kemuliaan nama-Nya. Soli Deo gloria.

Evan Jordan

Pemuda FIRES

Endnotes:

[1] Ada juga yang mengatakan empat belas kitab, jika Kitab Ibrani juga kita hitung di dalamnya, walaupun tidak terlalu jelas apakah Surat Ibrani ini ditulis oleh Paulus atau bukan. 

[2] Herman Ridderbos, Paulus: Pemikiran Utama Theologinya, ed. Steve Hendra, terj. Hendry Ongkowidjojo, 3 edn (Surabaya: Momentum, 2013), hlm. 400.

Evan Jordan

Oktober 2021

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk Seminar Reformasi dengan tema “What if No Reformation?” yang telah diadakan pada tanggal 30 Oktober 2021. Bersyukur untuk setiap firman yang telah dibagikan, kiranya melalui seminar ini setiap kita makin mengerti dan menghargai arti Reformasi yang telah dikerjakan oleh para reformator yang telah memengaruhi segala aspek kehidupan kita, dan kiranya Gereja Tuhan tetap dapat mereformasi diri untuk selalu kembali kepada pengertian akan firman Tuhan yang sejati. 

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2021 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲