Artikel

Paulus dan Penginjilan: Perubahan Paradigma

Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” (Kis. 9:4)

Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah. (Rm. 10:2-3)

Introduksi

Di tahun 2021, Buletin PILLAR akan membahas tema besar mengenai Rasul Paulus, baik dari sisi kehidupan, pertobatan, doktrin, filsafat, penginjilan, dampak, cara hidup, konteks historis, dan lain-lain. Penulis sendiri memiliki kesan mendalam terhadap sosok Rasul Paulus sebagai seorang pribadi, baik itu dari sisi latar belakang, pendidikan, kegigihan dalam menjalankan Taurat, maupun tentunya kisah pertobatan yang membuatnya menjadi alat yang Tuhan pakai secara luar biasa. Di tahun 2021, penulis akan membahas tema besar mengenai “Paulus dan Penginjilan” yang akan ditinjau dari berbagai segi atau dimensi dalam beberapa seri artikel. Dalam artikel ini, penulis akan menyoroti konteks perubahan paradigma Paulus, dari seorang yang tadinya begitu menentang Yesus Kristus, akhirnya menjadi orang yang begitu gigih melayani dan memberitakan Kristus.

Konteks Singkat mengenai Rasul Paulus1

Bagi kebanyakan orang Kristen, seharusnya Rasul Paulus tidak perlu terlalu banyak diberikan introduksi lagi. Sangat mungkin, untuk konteks Perjanjian Baru, Rasul Paulus adalah tokoh yang paling dikenal dan berpengaruh nomor dua setelah Yesus Kristus. Surat-surat dari Rasul Paulus juga menjadi bagian yang sangat signifikan dari Perjanjian Baru. Paulus (sebelumnya bernama Saulus) adalah orang yang sangat taat dan mendalami Yudaisme. Ia belajar dari Gamaliel, seorang guru yang sangat dikenal dan dihormati pada zaman itu. Selain mendalami agama, Paulus juga mempelajari dan mendalami filsafat, terutama filsafat Yunani. Sebagai ekspresi dedikasinya terhadap Yudaisme, ia dengan gencar menangkap dan menyiksa pengikut Kristus yang dianggap sebagai penyesat. Dalam proses ini, di suatu perjalanan ke Damsyik, Paulus mengalami peristiwa penglihatan yang mengubah hidupnya dengan begitu signifikan. Setelah peristiwa ini, Paulus yang tadinya menganiaya pengikut Kristus, justru menjadi pengikut Kristus yang setia, gigih, dan berani. Ia memberitakan Injil dengan begitu giat ke berbagai kota dan daerah dalam beberapa kali perjalanan misinya. Meskipun Paulus telah Tuhan pakai dengan begitu besar, ia terus merasa dirinya tidak layak. Beberapa kali dalam suratnya, ia menyatakan bahwa ia adalah rasul yang paling hina karena ia telah menganiaya umat Allah.

Kompleksitas Paradigma2

Sebelum dipakai sebagai pelayan Tuhan yang luar biasa, Paulus sendiri pernah mengalami perubahan yang dahsyat dalam hidupnya. Paulus yang tadinya membenci Kristus dan pengikut-pengikut-Nya, akhirnya justru berbalik menjadi pelayan Kristus yang begitu gigih dan setia. Dalam khotbahnya, Pdt. Dr. Stephen Tong pernah menyatakan bahwa di dunia ini, konsep agama yang sudah begitu bercokol dalam diri seseorang adalah suatu hal yang sangat sulit diubah. Konsep agama adalah konsep yang begitu mendasar dan memberikan pengaruh yang menyeluruh dalam diri seseorang.

Dalam bagian ini, penulis sedikit merenungkan mengenai kerumitan dari perubahan paradigma Paulus. Dalam pembahasan ini, penulis akan sedikit mengupas mengenai “paradigma”. Dalam konteks sains atau filsafat, paradigma bisa dilihat sebagai rangkaian konsep, pola pikir, standar, ataupun postulat yang berlaku dalam suatu bidang atau ranah. Konsep mengenai perubahan paradigma (paradigm shift) menjadi dikenal luas melalui buku karya Thomas Kuhn dengan judul The Structure of Scientific Revolutions. Kuhn membahas perubahan paradigma ini dalam cakupan sains natural. Salah satu contohnya adalah perubahan paradigma mengenai pergerakan planet-planet dari paradigma Ptolomeus (bumi sebagai pusat tata surya) kepada paradigma Kopernikus (matahari sebagai pusat tata surya). Kekakuan dan keengganan untuk mempertimbangkan opsi paradigma lain di luar yang kita miliki saat ini juga kerap disebut sebagai “paradigm paralysis”. Dalam konteks psikologi, ini juga cukup dekat atau mirip dengan “confirmation bias” di mana seseorang hanya mau menerima informasi dan konsep yang sesuai dengan prinsip atau nilai yang saat itu ia anut.

Sebagai orang Kristen, kita percaya bahwa perubahan yang terdalam, sungguh-sungguh, dan menyeluruh hanya bisa dilakukan melalui karya Allah Tritunggal. Dalam bahasa yang lebih sederhana, kita mengerti bahwa hanya Roh Kudus yang mampu melembutkan dan mengubah hati manusia yang sudah begitu keras dan beracun. Tanpa pekerjaan Allah Tritunggal, manusia berdosa sudah memiliki konsep, nilai, asumsi, cara pikir, dan cara interpretasi yang dipengaruhi natur keberdosaannya. Dr. Cornelius Van Til memberikan contoh seseorang yang menggunakan kacamata kuning yang tidak bisa ia lepaskan.3 Dalam kondisi ini, segala sesuatu yang ia lihat akan berwarna kuning seperti layaknya kacamata yang ia pakai. Dalam hal ini, hanya pekerjaan Allah Tritunggal yang mampu melepaskan kacamata tersebut, sehingga ia bisa melihat dunia dengan segala kekayaan warna yang sebenarnya.

Selain Paulus, penulis teringat satu tokoh Kristen yang mengalami perubahan dramatis yang cukup mirip Paulus. Tokoh tersebut adalah Agustinus.4 Buletin PILLAR pernah sedikit membahas tema Agustinus di tahun 2010 dan 2012. Pembaca Buletin PILLAR bisa membaca edisi-edisi tersebut jika ingin mendalami lebih jauh mengenai Agustinus. Jauh sebelum ia melayani Tuhan, Agustinus sudah dikenal sebagai filsuf dan akademisi yang sangat berbakat dan berpengaruh. Meskipun demikian, Agustinus memiliki nafsu seksual yang tidak terkendali. Ia sangat terobsesi dan jatuh dalam jeratan dosa seksual. Dalam kondisi seperti ini, filsafat Manikeisme menjadi sangat menarik bagi Agustinus. Dalam pergulatannya dalam dosa seksual, peperangan terang dan gelap (kosmologi dualistis) dalam filsafat Manikeisme seolah menjadi jawaban atas pergumulan Agustinus. Meskipun sudah menganut filsafat Manikeisme, Agustinus tetap merasa masih banyak pertanyaan dan pergumulannya yang belum terjawab tuntas.

Bagi orang sepandai Agustinus, siapa pun tidak akan mudah untuk menaklukkan pikiran dan meyakinkannya untuk menganut ajaran atau prinsip lain. Pertobatan ajaib Agustinus terjadi ketika dia berumur 31 tahun (sekitar tahun 386 M). Secara “kebetulan”, ia mendengar seorang anak yang menyebut “tolle lege” dalam bahasa Latin. Arti kata tersebut adalah “ambil dan bacalah”. Saat itu ia membuka Alkitab secara acak dan merujuk kepada Roma 13:13-14 yang berbunyi, “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” Dalam buku Confessions (Pengakuan-Pengakuan) yang ditulis oleh Agustinus, ia kemudian melanjutkan, “I wanted to read no further, nor did I need to. For instantly, as the sentence ended, there was infused in my heart something like the light of full certainty and all the gloom of doubt vanished away.” Momen ini menjadi titik balik dalam kehidupan Agustinus. Semenjak itu, ia meninggalkan kehidupan berdosanya dan hidup untuk melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh.

Paradigma Paulus

Kembali kepada Rasul Paulus, ia memiliki paradigma yang begitu kukuh terhadap kepercayaan Yudaisme. Sejak kecil, Paulus sudah dididik dengan begitu ketat di bawah bimbingan Gamaliel, sosok rabi yang begitu dikenal saat itu (dan salah satu rabi yang paling berpengaruh dan terbesar sepanjang sejarah).5 Dalam surat-surat Paulus di Perjanjian Baru, ia beberapa kali menceritakan masa lalunya yang begitu gigih dalam menjalankan Yudaisme. Keturunan Ibrani asli, disunat pada hari kedelapan, sangat rajin dan lebih maju dari rekan-rekan sebayanya dalam menjalankan adat Yahudi, menganiaya jemaat yang mengikut Kristus, tidak bercacat dalam menjalankan hukum Taurat, itu adalah sedikit contoh dari masa lalu Paulus yang begitu berdedikasi dalam menjalankan tata cara Yudaisme. Ketika beberapa saat sebelum Stefanus dihukum mati, Stefanus memberikan penjelasan secara rinci mengenai Perjanjian Lama dan sekaligus menyampaikan teguran yang begitu tajam kepada Imam Besar dan seluruh orang yang mendengarnya. Penulis percaya bahwa Paulus juga hadir dan mendengar penjelasan tersebut. Ketika akhirnya saksi-saksi akan melempari Stefanus dengan batu, mereka meletakkan jubah mereka di depan kaki Paulus. Pada momen itu, Paulus (yang masih bernama Saulus) masih belum bertobat dan justru makin gencar menganiaya pengikut Kristus.

Di bagian awal artikel ini, sudah disinggung secara singkat peristiwa pertobatan Paulus yang dramatis dan mengejutkan melalui penglihatan cahaya yang membuatnya rebah ke tanah. Penulis cukup lama memikirkan bagaimana kisah hidup dan perubahan Paulus setelah momen tersebut. Meskipun sudah mengalami momen penglihatan sedemikian dahsyat, pasti tidak mudah untuk mengubah segala detail, segala aspek kepercayaan, detail kebiasaan, dan terutama hubungan keluarga, sosial, atau agama dengan seluruh guru dan rekannya dalam kalangan Yudaisme. Alkitab (dalam Surat Galatia) pernah menuliskan bahwa ada periode ketika Paulus mengasingkan diri ke tanah Arab (kemungkinan besar daerah padang gurun), meskipun Alkitab tidak menjabarkan detailnya. Penulis juga bukan ahli atau peneliti mengenai aspek ini (detail historis kehidupan Paulus, kebudayaan Yudaisme dan Timur Tengah pada masa itu), dan sangat mungkin ada penulis Buletin PILLAR lain yang akan menyinggung bagian ini.6 Berdasarkan berbagai konsensus dan dugaan umum, Paulus menghabiskan waktu tiga tahun untuk melakukan rekonstruksi dan konsolidasi ulang pemikiran Yudaismenya setelah mendapat pencerahan bahwa Kristuslah Sang Anak Allah yang sudah berinkarnasi, mati tersalib, bangkit, dan naik ke sorga. Kristuslah yang menjadi pusat dan terus diberitakan oleh nabi-nabi di Perjanjian Lama. Perubahan paradigma yang luar biasa ini membutuhkan proses pergumulan yang tidak sebentar, terutama dalam mengoreksi seluk-beluk pemahamannya yang lama dan menghidupi pemahamannya yang baru mengenai Kristus.

Refleksi

Kisah pertobatan Paulus selalu mengingatkan penulis akan konteks penginjilan sehari-hari yang dilakukan oleh penulis. Dengan beragamnya kompleksitas manusia, setiap orang memiliki keberatan dan kesulitan masing-masing yang rumit dalam menerima Kristus. Ada orang yang pernah mengalami pengalaman traumatis masa kecil, ada yang memiliki pergumulan mendalam akan kritik sains terhadap agama (secara spesifik agama Kristen), ada yang dibesarkan dalam keluarga Kristen yang tidak bertanggung jawab, ada yang pernah ditipu dan dikhianati dengan begitu menyakitkan oleh sesama orang Kristen, ada yang sejak kecil ditanamkan persepsi begitu negatif terhadap orang Kristen, dan masih banyak lagi kesulitan-kesulitan untuk dituliskan satu per satu. Dalam pengalaman berbagai konteks membagikan Injil, penulis benar-benar bisa menyadari bahwa hanya karena anugerah Tuhan seseorang bisa percaya dan menghidupi Injil. Penulis sangat menyetujui kalimat Pdt. Dr. Stephen Tong bahwa konsep agama yang bercokol dan berakar dalam adalah suatu konsep yang paling sulit diubah dalam hidup manusia.

Satu hal lagi, penulis juga menaruh pengertian lebih bagi orang-orang yang baru menerima Kristus, terutama yang berasal dari agama, kepercayaan, atau pemahaman lain yang begitu kuat dan bercokol. Seperti Rasul Paulus, mungkin baik agar orang tersebut (dan juga kita sebagai orang Kristen) memberikan periode waktu untuk bergumul, menghayati, menghubungkan, dan mengonsolidasi iman mereka di dalam Kristus. Bahkan dalam kasus-kasus tertentu, ada yang sampai harus diusir keluarga ataupun sengaja secara aktif berpindah tempat mengasingkan diri untuk beberapa waktu lamanya. Bagi kita orang Kristen yang Tuhan beri kesempatan bertemu dengan orang-orang seperti ini, penulis sangat mendorong untuk bisa mendoakan dan membantu mereka melakukan konsolidasi dan restrukturisasi pemikiran serta kehidupan mereka agar makin sepadan dan sesuai dengan Injil.

Penutup

Sebagai penutup, penulis hanya ingin mendorong para pembaca Buletin PILLAR untuk mengambil waktu dan mengingat orang-orang di sekitar kita yang belum mengenal Tuhan (keluarga, teman, rekan kantor/usaha, dan lain-lain). Kita bisa membawa mereka dalam doa dan bahkan jika mungkin mencoba menghubungi dan memberitakan Kabar Baik kepada mereka. Mungkin ada dari antara mereka yang begitu keras dan menentang Kristus. Namun seperti halnya Paulus yang bertobat dan akhirnya melayani Kristus dengan begitu giat, semoga Tuhan bisa memakai kita sebagai alat-Nya dan membawa orang-orang datang kepada-Nya.

Oh, Tuhanku, Kau panggilku pulang,

dan cinta-Mu mengg’rakkan hatiku,

s’hina daku, Engkau masih cinta,

Oh, kasih Hu, sungguh tak terduga.

Oh, ya, Tuhan, Kau tak biarkan daku,

Oh, kasih-Mu masih mencariku,

‘ku Kau peluk dalam ribaan-Mu,

hantar daku, pulang ke kandang-Mu.

(Oh, Kasih Hu Ajaib Indah, John E. Su)

Juan Intan Kanggrawan

Redaksi Bahasa PILLAR

Endnotes:

  1. Untuk subtopik ini, penulis merujuk kepada artikel lain dari penulis yang bisa diakses melalui link berikut: https://www.buletinpillar.org/artikel/pembelajaran-dari-rasul-paulus-refleksi-umum-mengenai-penginjilan.
  2. Pembahasan mengenai paradigma adalah suatu aspek yang luas. Secara lebih teknis, penulis mendorong untuk mempelajari dan membedakan mengenai paradigma, presuposisi, aksioma, dan wawasan dunia (worldview). Ini bisa diperdalam baik dari pembahasan theologi, filsafat, matematika murni, ilmu alam, maupun ilmu sosial.
  3. https://frame-poythress.org/van-til-on-antithesis.
  4. https://www.ligonier.org/learn/series/heroes_of_the_christian_faith/augustine.
  5. https://www.gotquestions.org/Gamaliel-in-the-Bible.html.
  6. Beberapa contoh buku yang mungkin bisa berguna dalam memberi penjelasan terkait topik ini: Paul: Apostle of the Heart Set Free (F. F. Bruce), The Apostle: A Life of Paul (John Pollock), Paul The Apostle: Missionary, Martyr, Theologian (Robert Pricilli), The Life and Theology of Paul (Guy Waters).

Juan Intan Kanggrawan

Februari 2021

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk persiapan BCN 2021 dan NRETC 2021. Berdoa untuk persiapan setiap panitia dalam menjalankan humas untuk menjangkau anak-anak dan remaja di seluruh Indonesia dan bahkan di seluruh dunia untuk mengikuti acara ini. Berdoa untuk persiapan setiap hamba Tuhan yang akan membawakan setiap sesi, berdoa kiranya Roh Kudus mengurapi setiap pembicara dan memberikan kuasa-Nya untuk memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2021 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲