Artikel

Paulus, Galatia, dan Karunia (1)

Beberapa minggu lalu, ada seorang yang bertanya, “Apa sih uniknya kekristenan?” Jawab saya langsung, “Anugerah.” Kekristenan adalah satu-satunya agama yang memberikan penekanan luar biasa kepada “gift” atau “pemberian” (mungkin kita lebih sering mendengarnya sebagai “karunia” atau “anugerah”). Bahkan penekanan ini dijadikan salah satu jargon Gerakan Reformasi: sola gratia. Namun apa sebenarnya “karunia” ini?

Di dalam kesempatan ini, saya ingin mengajak kita semua mendalami arti dari “pemberian” atau “karunia” melalui tulisan Rasul Paulus, terutama dalam surat kepada jemaat di Galatia. Namun karena kompleksnya pembahasan Paulus, artikel ini dimaksudkan hanya untuk menyelidiki arti karunia dalam salam dan panggilan Paulus kepada jemaat di Galatia (Gal. 1-2).

Karunia yang Berpusat pada Kematian dan Kebangkitan Kristus

Pembukaan surat kepada jemaat di Galatia (1:1-5) sepintas mengikuti pola standar yang penuh dengan fraseologi Kristen, namun pembacaan yang lebih dalam membawa kita melihat bahwa salam ini dibentuk oleh Paulus dengan dinamika ekspresi yang khas dalam surat-surat penginjilannya. Bukan hanya mendefinisikan sumber kerasulannya (1:1), ia juga menekankan prakarsa Ilahi yang diumumkan dalam 1:3-4, yaitu prakarsa karunia dan damai dari Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus.

Selain itu, penyusunan salam dengan pernyataan peristiwa Kristus (Christ event, 1:4) dan doksologi penutup (1:5) menunjukkan bahwa Paulus ingin menempatkan dirinya beserta para jemaat di Galatia dalam sebuah lajur narasi dan pengalaman relasional ajaib: karunia yang mengalir dari Bapa dan Kristus dengan pasti telah mengubah dunia, menimbulkan “pelepasan kita dari dunia jahat yang sekarang ini” dan sebagai gantinya, kita sebagai ciptaan mengatribusikan kemuliaan bagi “Bapa dan Allah” kita. Paulus menempatkan dirinya bersama dengan jemaat di Galatia (“kita”) sebagai penerima manfaat dari gerakan pemberian karunia ini, dan mendorong “Amin” secara komunal (1:5) sebagai penegasan bahwa bersama-sama “kita” berutang keberadaan “kita” kepada peristiwa transformatif ini.

Di dalam Surat Galatia, rumusan χάρις (karunia) καὶ εἰρήνη (damai) yang unik milik Paulus sebagai salam pembuka surat-suratnya dimuat dengan konten semantik khusus untuk menegaskan kisah Kristus. Paulus mengharapkan (bisa jadi memproklamasikan) χάρις dan εἰρήνη dari Allah Bapa dan dari Tuhan Yesus Kristus sebagai satu preposisi yang diatribusikan kepada kedua pribadi (1:1), sehingga sumber karunia dan damai secara bersamaan adalah Allah Bapa dan Yesus.[1] Selain itu, karunia ini diberikan konten Kristologis (Kristus “telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita”, 1:4), sama seperti Allah Bapa yang sebelumnya dikaitkan dengan Yesus, sebagai Bapa “yang telah membangkitkan Dia [Yesus] dari antara orang mati” (1:1). Karenanya, karunia ini diidentifikasikan sebagai peristiwa karunia (gift event), yang terfokus kepada kisah spesifik tentang kematian dan kebangkitan Yesus.

Peristiwa ini secara tegas merupakan pekerjaan Bapa (Allah membangkitkan Yesus, 1:1; misi penyelamatan yang “menurut kehendak Allah dan Bapa kita”, 1:4) dan peristiwa Yesus (terjadi dalam kematian dan kebangkitan-Nya), sedemikian rupa sehingga Kristus di sini “tidak terpisahkan dari identitas dan aktivitas Allah”. Spesifikasi Kristologis di dalam “karunia” di sini sangatlah unik dan khusus, yang tidak dapat ditemukan di dalam pemikiran Yahudi. Karunia Allah di sini tidak dapat dilacak dalam karunia alam (philo), atau dalam sejarah perjanjian Israel (kebijaksanaan Salomo), atau bahkan dalam pemberian Taurat (Ezra). Pemberian karunia ini terjadi dalam peristiwa khusus namun mengubah dunia: kematian dan kebangkitan Kristus.

Pemberian karunia ini merupakan gerakan tunggal Allah yang mencakup baik orang Yahudi (Paulus) maupun orang non-Yahudi (jemaat di Galatia), dan menebus mereka dari cengkeraman “dunia jahat yang sekarang ini” (lih. 6:14). Namun atas alasan apa karunia ini diberi? Mengapa karunia Kristus harus diarahkan kepada penerima-penerima yang malang ini? Berbeda dengan pemikiran orang Yahudi pada zaman itu, bahwa karunia diberikan kepada yang patut menerima karunia, pernyataan pembuka dari Paulus menunjukkan hal yang berbeda: tidak ada syarat apa pun bagi siapa pun untuk menerima karunia ini.

Panggilan Paulus sebagai Karunia yang Inkongruen (Tidak Selaras)

Lebih jauh, gerakan Allah dalam memberikan karunia ini dikisahkan oleh Paulus dengan berbagai cara (1:23; lih. Kis. 8-26). Kisah-kisah ini menawarkan sebuah paradigma hidup sebagai seorang Yahudi yang diubah dan diputarbalikkan melalui perjumpaan dengan Kristus. Kisah ini bersaksi baik akan asal yang ekstrinsik dari Injil, “bukan menerimanya dari manusia” (1:12), maupun juga terlepasnya Injil dari sistem nilai manusia, “tidak sesuai dengan norma-norma manusia” (1:11). Jika Paulus tidak lagi terikat pada tradisi “Yudaisme” sebelumnya, dan jika ia tidak mencari baik legitimasi dari otoritas manusia maupun kekuasaan dari kursi tradisi, semua ini hanya karena “panggilan dalam kasih karunia” Allah telah mengubah identitasnya dan mendefinisikan kembali kriteria nilainya. Dia berjalan menuju arah yang berbeda, jalan yang berorientasi pada “kebenaran Injil” (2:5, 14).

Dalam catatan Paulus, apa yang terjadi selanjutnya adalah peristiwa yang tidak ada kaitannya baik dengan nilai identitas Yahudinya maupun dengan “hidupnya dahulu dalam agama Yahudi”, terlepas dari dua gambaran yang kuat mengenai pertentangannya dengan “jemaat Allah” (1:13) dan kemajuan dalam “kerajinannya” (1:14). Dalam perikop 1:15-16, Paulus menjelaskan tiga ciri dari “panggilan” Allah kepadanya yang menunjukkan ketidakterkaitan ini.

Pertama, apa yang terjadi di dalam hidupnya bukanlah tahapan lain dalam perkembangan agama Yahudinya, perubahan hidupnya bukanlah sebuah langkah lebih lanjut dalam “kemajuan dalam kerajinannya”. Sebaliknya, perubahan ini adalah efek dari pemilihan Ilahi, “[Allah] berkenan menyatakan … di dalam aku”. Perubahan subjek ini menginterupsi serangkaian kata kerja yang menggambarkan tindakan pribadi Paulus dalam 1:13-14 dan 1:17, serta menarik perhatian kita kepada fakta bahwa semua ini berasal dari luar inisiatif dan kendali Paulus.

Kedua, pewahyuan ini adalah hasil dari tindakan “Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku”. Frasa ini menggemakan narasi panggilan profetik (Yer. 1:4-5; Yes. 49:1-6) dan menempatkan misi Paulus “di antara bangsa-bangsa” dalam harapan eskatologis Israel. Frasa ini memutarbalikkan modal positif Paulus yang dijelaskan dalam 1:14 (kemajuannya dalam kerajinan) serta membalikkan modal negatif yang dijelaskan dalam 1:13 (penganiayaan Paulus) dengan menempatkan pemilihan Allah sebelum kelahiran Paulus, dan dengan demikian semua ini berada di luar kerangka “hidupnya dahulu dalam agama Yahudi”. Seperti yang kita lihat dalam hubungannya dengan Roma 9:6-13, Paulus tampaknya memiliki ketertarikan secara khusus terhadap apa yang Allah lakukan sebelum kelahiran seseorang, karena pandangan ini menampik segala definisi tentang nilai yang ada pada masa itu, baik yang diberikan melalui kelahiran maupun akumulasi setelah kelahiran seseorang.

Ketiga, Paulus menggambarkan Tuhan sebagai “Ia yang telah … memanggil aku oleh kasih karunia-Nya.” Hal apa pun yang unik dalam panggilan Paulus (termasuk tugasnya sebagai seorang rasul) didasarkan pada “panggilan dalam χάρις” yang dimiliki baik oleh orang Yahudi maupun “orang berdosa dari bangsa-bangsa lain” (2:15-16). Dengan demikian, apa pun “panggilan” Allah bagi Paulus, panggilan ini pastinya terkait erat dengan pengalamannya tentang Yesus Kristus (1:16).

Ketiga ciri dalam perikop 1:15-16 ini, jikalau dilihat sebagai kombinasi dan kelanjutan dari 1:13-14, menunjukkan bahwa apa yang telah terjadi dalam kehidupan Paulus adalah tindakan pemberian karunia Ilahi tanpa memperhatikan etnik, tradisi, keunggulan, ataupun pertentangan yang dimilikinya sebelumnya terhadap Allah. Fakta bahwa Paulus berbicara tentang “hidupnya dahulu dalam agama Yahudi” (1:13) menunjukkan bahwa “pernyataan Anak-Nya” (1:16) telah melemahkan kesetiaannya pada norma-norma budaya yang pernah dianggapnya berwibawa. Bagaimanapun kita dapat mencirikan hidupnya sebagai orang percaya, Paulus menyadari bahwa hidupnya ada di dalam Kristus dan tidak lagi diatur oleh tradisi (apa yang dia sebut) “Yudaisme”, meskipun dia tetap menyebut dirinya “Yahudi” (2:15), mengidentifikasi dirinya dengan “umat” Yahudi (1:14), dan menemukan Kitab Suci “Yahudi” bergema senada dengan gaung Injil kabar baik (3:6-13; 4:21-31). Sebagai orang percaya, Paulus adalah seorang “Yahudi” yang (dalam istilahnya) tidak lagi tinggal “dalam agama Yahudi”: etnisitasnya tidak disangkal tetapi dimasukkan dalam identitas barunya yang diatur oleh peristiwa Kristus.

Karena itu, Paulus menekankan pemilihan dan keutamaan Tuhan dalam karunia untuk menjelaskan inkongruensi (ketidakselarasan) campur tangan Tuhan dalam hidupnya. Transformasinya tidak disebabkan oleh tindakannya sendiri atau dikondisikan oleh nilai sebelumnya; semua itu semata merupakan hasil dari pemberian Allah dalam Kristus yang tidak terkondisi. Paulus tidak membingkai kehidupan sebelumnya sebagai penghujatan yang bergantung pada dirinya sendiri dalam pengejaran kebenaran; juga bukan merupakan suatu bentuk “agama”, yang inisiatifnya didorong oleh manusia untuk mendekat kepada Allah. Komitmennya akan tradisi leluhurnya tidak terkait dengan interpretasinya yang “sempit” atas perjanjian Allah dengan Israel. Sebaliknya, kontras antara 1:13-14 dan 1:15-16 menunjukkan inkongruensi[2] atas tindakan Allah dan efek dramatis pada nilai “objektif” dari norma-norma budaya yang disebabkan oleh tindakan ini. Paulus memang telah hidup dalam kerajinannya sesuai dengan norma-norma “agama Yahudi” yang sudah mapan, namun “panggilan dalam kasih karunia” Allah tidak ada kaitannya dengan keberhasilan Paulus dalam semua norma-norma itu. Seperti dalam 1:6, panggilan Tuhan tidak dikondisikan oleh nilai sosial si penerima, tanpa memperhatikan etnik, status, prestise budaya, ataupun nilai negatif dalam keberdosaan, ketidaktahuan, dan oposisi kepada Tuhan. Akibatnya, norma-norma yang sebelumnya berwibawa akhirnya ditangguhkan, direlatifkan, dan dikalibrasi ulang: dalam kehidupan yang baru dihasilkan di dalam Kristus, Paulus tunduk pada norma yang lebih tinggi, “kebenaran Injil kabar baik” (2:5, 14).

Menilik Panggilan Kita dalam Narasi Paulus

Panggilan dalam karunia ini memberinya tugas baru: “aku memberitakan Dia [Kristus] di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi” (1:16). Sekarang baginya tidak ada tradisi Yahudi yang stabil, sehingga batas-batasnya dapat diperluas untuk merangkul orang di luar Yahudi. Dia mengumumkan sebuah peristiwa yang merumuskan kembali identitas baik Yahudi maupun non-Yahudi. Kebijakan radikal Paulus dalam misi non-Yahudinya bukanlah protes terhadap “nasionalisme”: itu adalah gempa dahsyat yang tercipta dari karunia Kristus yang inkongruen. Karena Paulus mengalami peristiwa ini sebagai campur tangan Ilahi, yang bukan merupakan lanjutan atas kemajuannya dalam “Yudaisme”, peristiwa ini tidak dapat dimuat dalam kerangka etnik “tradisi leluhur”-nya. Sebagai peristiwa tunggal, khusus, tetapi tidak terkondisi, peristiwa itu bukanlah milik sebagian umat manusia, tetapi ditakdirkan untuk semua. Karena tidak ada lagi yang dapat membatasi kuasa karunia Allah, tidak ada lagi yang berada di luar jangkauan.

Tahun-tahun setelah panggilan Paulus digambarkan penuh dengan pemberitaan akan pesan yang tidak selaras dengan norma manusia di zamannya (1:11). Paulus menjadi independen dari otoritas manusia karena dia bertanggung jawab atas otoritas peristiwa Kristus, yang menetapkan kembali norma-norma atas penilaian dan perilakunya. Namun sekali lagi ia menekankan bahwa sebagai “hamba Kristus” (1:10), ia memang bukanlah jiwa yang merdeka, namun dengan “panggilan dalam karunia-Nya”, kehidupannya ditangguhkan dari norma-norma yang dihasilkan dari setiap institusi manusia.

Di dalam pasal pertama Surat Galatia, Paulus telah dengan jelas memberikan gambaran atas panggilan kita yang hanya mungkin dapat diidentifikasi di dalam karunia Tuhan di dalam Kristus. Berbagai manifestasi dari karunia ini telah kita rasakan dan alami: panggilan dari setiap kita yang percaya, penciptaan hidup yang baru, dan juga karunia Roh di dalam kematian Kristus sebagai karunia kepada kita (1:4; 2:20). Karenanya pula kita mendapatkan efek dari karunia ini, yaitu “penyaliban” bersama dengan Kristus, dan karenanya kita terbebas dari nilai-nilai yang mengekang kita dalam identitas kita yang lama. Apa yang menjadi penghalang kita di dalam mengerjakan panggilan karunia di dalam Kristus telah direlatifkan dan ditangguhkan, dan pengejaran kita akan Kristus yang sejati dan Kerajaan-Nya dapat dimaksimalkan, apa pun identitas lama yang kita miliki dan warisi.

Di dalam pembukaan Surat Galatia ini, kita dipanggil untuk melihat kembali kuasa karunia dari “Yesus Kristus dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati” (1:1) dan juga “Tuhan Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita” (1:4). Kiranya karunia yang sama ini memampukan kita untuk menyingkirkan segala penghalang kita dalam menyaksikan Kristus lebih jauh lagi. Bagi-Nyalah kemuliaan selama-lamanya! Amin (1:5).

Robin Gui

Pemuda FIRES

Endnotes:

[1] Bukan hanya dari Bapa saja, atau dari Bapa melalui Yesus.

[2] Inkongruen: penekanan akan ketidaksesuaian antara tindakan karunia Allah dan penerima karunia tersebut; di mana tindakan karunia Allah sama sekali tidak bergantung kepada objek karunia.

Robin Gui

Mei 2021

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk SPIK bagi Generasi Baru dengan tema Roh Kudus VI yang akan diadakan pada tanggal 18 September 2021. Berdoa kiranya setiap kita digerakkan oleh Tuhan untuk membawa banyak orang untuk dapat mengikuti acara ini dan mengerti akan pekerjaan Roh Kudus yang sejati di dalam kehidupan orang percaya. Berdoa kiranya Tuhan menggerakkan hati banyak orang. Berdoa untuk setiap hamba Tuhan yang akan membawakan sesi-sesi dalam SPIK ini, kiranya Roh Kudus mengurapi mereka dan memberikan kuasa kepada mereka untuk memberikan pengertian bagi setiap jemaat dan menguatkan iman serta pengenalan akan karya Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2021 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲