Artikel

Paulus, Galatia, dan Karunia (2)

Di dalam pembahasan sebelumnya mengenai pembukaan Surat Galatia, kita dipanggil untuk kembali melihat kuasa karunia dari “Yesus Kristus dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati” (1:1) dan juga “Tuhan Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita” (1:4); sebagai karunia yang inkongruen (tidak selaras).

Tulisan kali ini akan melanjutkan pembahasan akan panggilan Paulus ini sebagai drama akan karunia tersebut dan bagaimana Paulus mengisahkan drama ini dalam suratnya kepada jemaat di Galatia.

Misi Paulus sebagai Pembuktian Karunia (2:1-10)

Dalam rangka meneguhkan misinya bagi mereka yang tidak bersunat, Paulus dengan sengaja mengungkit pengakuan para rasul di Yerusalem akan Injil yang tidak mengharuskan seseorang untuk menjalankan praktik sunat. Sunat yang tadinya digadang sebagai tanda pembeda yang penting dari sistem Yudaisme, direlativisasi melalui peristiwa Kristus (lih. 5:6; 6:15). Setelah para rasul melihat pelayanan Paulus, mereka dituntut untuk mengakui validitas misi Paulus kepada yang tidak bersunat yang setara dengan misi mereka kepada yang bersunat (2:9). Menurut Paulus, pengakuan ini terjadi karena para rasul melihat bahwa Allah “bekerja” di dalam kedua misi ini, para sokoguru juga melihat “kasih karunia [Allah] yang dianugerahkan kepada” Paulus (2:9). Sekali lagi, Paulus menekankan pekerjaan Ilahi (χάρις) baik di dalam asal mula maupun dinamika dari kabar baik, bukan untuk meniadakan pekerjaan manusia, namun demi hancurnya kriteria nilai manusiawi yang bercokol dalam pikiran para rasul saat itu.

Pengakuan dari para rasul ini juga merupakan pengakuan atas buah dari pelayanan Paulus, yang sebagian besar bukanlah kaum Yahudi. Tanpa pengakuan ini, karyanya akan “sia-sia”, bukan karena tidak valid di hadapan Allah (lih. 2:7-9), tetapi karena pelayanan Paulus hanya dapat lengkap ketika perkumpulan Yahudi dan non-Yahudi mengakui validitas satu sama lain, dan dengan demikian menghidupkan kembali perbedaan mereka melalui kesetiaan yang sama kepada Kristus. Apa yang ia inginkan bukanlah pembentukan gereja non-Yahudi yang independen dari orang percaya Yahudi, tetapi persekutuan yang saling bergantung antara orang Yahudi dan non-Yahudi di dalam Kristus. Di sini kita melihat adanya pengakuan bahwa misi kepada orang non-Yahudi dapat berjalan melampaui batas-batas tradisi Yahudi, bahkan misi Yahudi pun dapat berjalan di dalamnya.

Pengakuan yang sama akan kedua misi ini mengharuskan hilangnya semua kondisi yang dianggap memiliki nilai superior sebagai komponen esensial dari kabar baik. Paulus merelatifkan nilai dari praktik-praktik ini dan memberinya label “kebebasan” (2:4). Di sini kebebasan “yang kita miliki di dalam Kristus Yesus” (2:4) adalah kebebasan untuk melampaui batas budaya, untuk menantang “adat istiadat nenek moyang” (1:14), serta menolak klaim otoritas akhir yang diajukan oleh Taurat, atau oleh norma budaya lainnya. Kebebasan ini terletak “di dalam Kristus Yesus” karena peristiwa Kristus yang menghasilkan bentuk hidup yang baru tidak terkondisi oleh kendala-kendala yang ada. “Kebebasan” ini pun bukanlah kebebasan yang mutlak (lih. 1:10; 5:13, 18, 25), karena kebebasan ini tidak pernah dipahami dalam kategori abstrak: kebebasan “di dalam Kristus Yesus” selalu berarti kebebasan dalam “menuruti kebenaran” (5:7). Bersikeras pada kesesuaian orang non-Yahudi dengan tradisi Taurat sama saja dengan menyangkal kebenaran Injil (2:5) dengan menyangkal karakter esensial karunia sebagai hadiah yang inkongruen.

Ruang lingkup “kebebasan” ini sudah ditunjukkan melalui keberanian Paulus dalam menantang atribusi status yang diterimanya. Empat kali ia menyebut para pemimpin di Yerusalem sebagai “mereka yang terpandang” (2:2, 6, 9), namun ironisnya ia menjauhkan dirinya dari kehormatan yang terkait dengan status para pemimpin ini. Terlepas dari kredensial mereka (“bagaimana kedudukan mereka dahulu, itu tidak penting bagiku” (2:6)), fakta esensialnya adalah “Allah tidak memandang muka”, yang merupakan status eksternal manusia (2:6). Sekali lagi Paulus menjelaskan bahwa kriteria Allah “tidak sesuai dengan norma-norma manusia” (1:11): Allah tidak memperhatikan hak atau modal simbolis yang diukur dalam istilah manusia. Pembubaran sistem kehormatan normal ini memiliki makna yang sangat besar dalam pembangunan komunitas, seperti yang akan menjadi jelas dalam 5:13-6:10. Di mana kehormatan dan nilai dikalibrasi ulang oleh kebenaran Injil, komunitas Kristen dapat mengabaikan hierarki status tradisional, serta orang miskin (“tidak berharga”) mendapatkan tempatnya di dalam tatanan ini (2:10).

Insiden di Antiokhia: Standar Ganda akan Karunia (2:11-14)

Kisah tentang perselisihan dengan Petrus menjelaskan tantangan Paulus kepada Petrus dalam mengungkapkan “kebenaran Injil” yang ia serukan (2:14). Paulus membingkai masalah di Antiokhia sebagai benturan antara dua struktur hukum, yang satu ditentukan oleh norma-norma tradisi Yahudi, yang lain berorientasi pada karunia “kebenaran Injil”. Dengan menarik diri dari makan bersama orang-orang percaya non-Yahudi, Petrus telah menerapkan kembali tradisi Yahudi sebagai kerangka normatif tertinggi, yang mengharuskan orang percaya lainnya untuk mengadopsi aturan hidup Yahudinya. Namun dalam pandangan Paulus, Petrus terbukti tidak setia pada “kebenaran Injil” yang merupakan norma yang lebih tinggi. Bagi mereka yang sejalan dengan peristiwa Kristus, “cara hidup Yahudi” tidak lagi menjadi standar perilaku yang benar, bahkan bagi orang Yahudi sekalipun.

Bukan kebetulan bahwa otoritas yang lebih tinggi dari peristiwa Kristus menjadi jelas dalam konteks aktivitas komunal. Keselarasan Petrus dengan “kebenaran Injil” diuji dalam kemungkinan sebuah komunitas untuk berhubungan timbal balik di dalam Kristus. Konstruksi visi Paulus akan adanya hubungan sosial timbal balik yang “saling menanggung beban” (6:2) di dalam “hukum Kristus”, yang dibebaskan dari kriteria umum nilai diferensial (5:13-6:10), tidak mungkin dapat tercipta jika anggota komunitas mula-mula tidak dapat duduk makan bersama. Seperti yang dilihat Paulus dalam masalah ini, penarikan diri Petrus menyiratkan bahwa komunitas mula-mula hanya dapat dipulihkan dalam tema normatif tradisi Yahudi (dengan “menghakimi” orang non-Yahudi (2:14)). Pemisahannya, dengan demikian, mengekspresikan dan memaksakan tradisi khas Yahudi yang menjadikan tempat makan sebagai tempat diferensiasi sosial. Paulus tidak mengkritik penarikan Petrus dengan alasan bahwa orang Yahudi adalah antisosial atau misantrop. Masalahnya bukanlah “sempitnya” tradisi tribal Yahudi seperti yang dikemukakan oleh Dunn. Melainkan karena kebijakan Petrus yang ditemukan Paulus kurang mengacu kepada “kebenaran Injil” (2:14), yang menangguhkan setiap penilaian nilai yang didasarkan pada kriteria ekstrinsik pada peristiwa Kristus, sehingga baik orang Yahudi maupun non-Yahudi “dipanggil” oleh kasih karunia yang inkongruen untuk menjadi milik Kristus.

Petrus dan Paulus, yang adalah orang Yahudi, biasa menganggap diri mereka berbeda secara kategori dari “orang berdosa dari bangsa-bangsa lain” (2:15). Tetapi mereka tahu (melalui keyakinan dan pengalaman) bahwa seseorang (baik Yahudi atau non-Yahudi) tidak dianggap berharga (“benar”) oleh Tuhan melalui ketaatannya kepada Taurat (“hidup sebagai Yahudi”), melainkan melalui iman (apa yang telah Tuhan lakukan) di dalam Kristus, bahkan jika (dalam situasi seperti Antiokhia) perilaku kita yang di dalam Kristus membuat kita terlihat seperti “orang berdosa” (“hidup seperti bangsa bukan Yahudi”). Apakah itu berarti Kristus telah membawa kita ke dalam dosa? Sekali-kali tidak (2:17)! Hanya jika seseorang mengembalikan Taurat sebagai penentu nilai (“kebenaran”), “hidup seperti orang bukan Yahudi” di dalam Kristus diklasifikasikan sebagai “pelanggaran”. Faktanya, bagi Paulus, ia telah mati menurut Taurat—itu bukan lagi standar nilainya—karena dia telah dihidupkan kembali di dalam Kristus (2:20). Keberadaan lamanya berakhir dengan Kristus yang disalibkan. Hidup baru telah muncul dari peristiwa Kristus dan oleh karena itu ia dibentuk oleh iman dalam kematian Kristus, yang mengasihi dan memberikan diri-Nya untuk semua orang berdosa. Karunia Ilahi ini tidak akan kita tolak: jika “kebenaran” diukur dengan Taurat, kematian Kristus adalah sia-sia.

Hukum Taurat vs. Iman dalam Kristus: Refleksi Karunia (2:15-21)

Insiden di Antiokhia kemudian memunculkan pertanyaan kritis tentang identitas dan kesetiaan orang-orang percaya Yahudi. Haruskah mereka mempertahankan diferensiasi keyahudian mereka (mengikuti definisi “dosa” berdasarkan Taurat), dan dengan demikian menarik diri dari makan bersama orang percaya non-Yahudi? Atau haruskah mereka makan dengan orang non-Yahudi karena kesetiaan pada “Injil”, bahkan jika tindakan ini membuat mereka dilabel “orang berdosa”? Dalam situasi ini, kesetiaan kepada Taurat akan membuat mereka bertahan pada “kebenaran” mereka, sedangkan kesetiaan kepada Kristus akan “menghukum mereka dalam dosa”. Ada pilihan yang jelas: meninggalkan kesetiaan mereka pada “kebenaran Injil” atau membiarkan peristiwa Kristus itu sendiri mendefinisikan “kebenaran”, terlepas dari definisi yang ditentukan oleh Taurat.

Dalam 2:16, Paulus merangkum apa yang dia dan Petrus “telah percayai” dari sudut pandang epistemologi yang baru, bahwa tindakan Allah di dalam Kristus telah mendefinisikan apa yang dianggap berharga dalam kategori yang berbeda dari aturan tradisi Yahudi. Apa yang mereka ketahui adalah bahwa seseorang tidak dianggap “benar” atas dasar ketaatan pada Taurat, tetapi atas dasar iman yang diarahkan (dan timbul dari) apa yang telah terjadi pada diri Kristus. Orang percaya Yahudi (“kami”) telah mendemonstrasikan pengertian alternatif dari “kebenaran” ini dalam menempatkan iman mereka kepada Kristus: mereka tahu bahwa mereka dianggap “benar” oleh Tuhan dan bukan atas dasar ketaatan pada Taurat, tetapi atas dasar iman mereka di dalam Kristus—yaitu, atas dasar keberadaan baru mereka yang diciptakan oleh peristiwa Kristus (2:19-20). Faktanya, tidak ada yang akan dianggap “benar” oleh ketaatan pada Taurat (fakta umum yang alasannya menjadi jelas dalam 3:10-12, 22).

Beberapa theolog modern mencoba merevisi pembacaan tradisional ketika Paulus berbicara mengenai Taurat dan praktik kehidupan Yahudi dipahami oleh Paulus dan orang-orang sezamannya adalah melulu sebagai masalah regulasi oleh Taurat. Menurut Dunn, tidak ada alasan untuk membatasi rujukan Taurat hanya pada “praktik” adanya aturan-aturan yang menciptakan batasan antara orang Yahudi dan non-Yahudi. Namun di sini jelas bahwa Paulus menggunakan insiden Antiokhia untuk menggeneralisasi ketaatan pada Taurat secara umum: masalah keabsahan Taurat dalam mendasarkan dan mendefinisikan “kebenaran”. Ketika dibaca dalam konteks ini, kita melihat dengan jelas bahwa masalah yang dibawa Paulus bukanlah Taurat sebagai nilai subjektif dari karsa manusia, yang sering disalahartikan, untuk mendapatkan rahmat Tuhan (Luther), bukan pula mengenai inisiatif Ilahi (Martyn), melainkan pada praktik Taurat yang mana seolah-olah Taurat tersebut adalah kerangka budaya otoritatif dari Injil.

Berlainan dengan anggapan para theolog modern yang menekankan kepentingan akan karunia pada sistem Yudaisme, Paulus menyerukan pengakuan umum di antara orang percaya Yahudi bahwa seseorang dianggap “benar” oleh Tuhan bukan atas dasar ketaatan Taurat, melainkan atas dasar iman kepada Kristus. Label “benar” dalam teks-teks Yahudi biasanya disematkan bagi mereka yang memang pantas untuk mendapatkan kemurahan hati Allah yang menyelamatkan. Dalam Kitab Kebijaksanaan, menjadi “benar” berarti menyatakan oknum tersebut telah memenuhi syarat untuk menjadi penerima dari keselamatan yang diberikan oleh “Kebijaksanaan” (10:4, 5, 6). Di kitab yang sama, menjadi “benar” tidak berarti otomatis “diselamatkan”, namun paling tidak menjadi “benar” berarti menjadi layak atas karunia keselamatan Ilahi (5:2). Serupa dengan nuansa Kitab Kebijaksanaan, dalam Ezra, orang “benar”, yang terbukti pada penghakiman akhir, akan menjadi orang yang kepadanya Allah “memberi belas kasihan” saat Dia mengantar mereka menuju masa kemuliaan. “Benar” dengan demikian adalah label standar bagi mereka yang layak untuk keselamatan—dapat dimaklumi demikian, karena dalam pandangan Yudaisme zaman itu, Tuhan secara alami akan memberikan hadiah kepada mereka yang layak. Paulus tidak diragukan lagi menyadari anggapan umum Yudaisme bahwa orang-orang yang memiliki label ini adalah mereka yang memelihara Taurat, tetapi dia di sini secara khusus menyangkal bahwa seseorang dapat dianggap “benar” (oleh Tuhan) berdasarkan ketaatan pada Taurat. Petrus dan Paulus menyadari bahwa Allah menganggap sebagai “orang benar” orang yang hidupnya ditandai oleh iman di dalam Kristus—mereka yang imannya menunjukkan bahwa mereka memperoleh cara baru keberadaan mereka dari kematian dan kebangkitan Kristus (2:19-21). Jika “kebenaran” didefinisikan dalam istilah seperti itu, tugas terpenting adalah tetap setia pada “kebenaran kabar baik”. Orang-orang percaya dapat menyimpang dari garis Taurat (hidup “dalam gaya non-Yahudi” seperti Petrus di Antiokhia), karena Taurat pada kenyataannya bukanlah norma “kebenaran” yang diakui oleh Tuhan.

Apa yang disangkal oleh Paulus di sini adalah bahwa ketaatan pada Taurat membuat seseorang menjadi penerima yang pantas dari karunia Ilahi, karena kenyataannya tidak ada yang (atau akan) dianggap “benar” atas dasar Taurat. Apa yang orang percaya Yahudi telah sadari, melalui “panggilan” mereka dalam kasih karunia dan pengalaman mereka di dalam Kristus, adalah bahwa karunia penyelamatan telah diberikan di dalam Kristus, tanpa memperhatikan nilai, dan bahwa Allah menganggap “benar” mereka yang hidup baru, dibuktikan dalam iman, dan telah dihasilkan dari peristiwa Kristus (2:19-20). Jadi “dianggap benar oleh iman di dalam Kristus” adalah hasil dari pemberian Kristus, bukan syarat untuk mendapatkan karunia. Tetapi dengan “kebenaran” yang didefinisikan ulang, definisi kunci dari nilai serta mata uang utama dari simbol kapital yang lama telah dikalibrasi ulang oleh “kebenaran Injil”.

Di sini “iman di dalam Kristus” digambarkan sebagai bukti bahwa hidup seseorang dimasukkan ke dalam peristiwa penyelamatan, sebuah dinamika transformatif dari peristiwa Kristus, yang tidak lain adalah kematian diri (2:19) dan munculnya hidup baru yang lebih tepat digambarkan sebagai “Kristus di dalam aku” (2:20). “Praktik Taurat” dan “iman kepada Kristus” dalam satu pengertian paralel: keduanya dibuktikan dalam kehidupan manusia dan dapat dijadikan dasar bagi seseorang untuk dianggap “benar”. Tetapi “iman kepada Kristus” bukanlah hanya orientasi alternatif atau pola hidup yang berbeda. Iman ini adalah cara hidup yang baru, yang bergantung pada peristiwa penciptaan ulang yang mustahil secara manusiawi, yang membawa hidup dari kematian (2:19-20). Tuhan menganggap iman ini “benar” bukan karena iman adalah standar yang lebih tinggi daripada Taurat, melainkan karena iman di dalam Kristus adalah ekspresi dari kehidupan yang diturunkan dari peristiwa Kristus, ciptaan baru (6:15) yang telah dilepaskan dari kuasa “dunia jahat yang sekarang ini” (1:4).

Bagi Paulus, yang penting tentang iman hanyalah bahwa seseorang “berusaha untuk dianggap benar dalam Kristus” (2:17). Di sini Paulus tidak tertarik pada padanan “iman” sebagai mode kognitif khusus atau pengalaman subjektif, melainkan iman yang merupakan tanda dari mereka yang hidupnya telah disusun kembali dan diatur kembali oleh kematian dan kehidupan Kristus. Di sini iman dapat dibaca sebagai “tujuan genitif” (“iman dalam Kristus”) dan “kualitas genitif” (“iman Kristus”). Kedua bacaan ini disengaja oleh Paulus untuk menekankan ketergantungan dan pemulihan mereka oleh Kristus, serta polaritas Ilahi-manusiawi yang merupakan inti dari surat ini.

Karunia dan Kapital

Kita dapat menyimpulkan bacaan kita menggunakan metafora antropologis dengan simbol “kapital” (modal; Gal. 3:6; 2Kor. 5:19). Menganggap “perbuatan Taurat” sebagai kriteria nilai (yaitu, “kebenaran”) berarti mengasumsikan keabsahan kapital simbolis yang telah terbukti tidak berarti apa-apa di hadapan Allah. Untuk me-Yahudi-kan orang non-Yahudi berarti berinvestasi dalam kapital simbolis itu, tetapi “kita tahu” di dalam Kristus bahwa kapital ini bukanlah apa yang dianggap berharga oleh Allah. Menganggap “karya Taurat” sebagai ukuran nilai adalah menyimpan uang kita dengan mata uang yang sudah ketinggalan zaman. Kapital ini adalah kapital yang mati, karena pemberian Kristus telah membuatnya tidak lagi berharga. Pada kenyataannya, seperti yang ditunjukkan oleh Kitab Suci, kapital ini tidak pernah menjadi mata uang yang dianggap beberapa orang (lih. Gal. 3:10-12, 21). Jadi, apa mata uang barunya? “Iman di dalam Kristus”—pengakuan bahwa satu-satunya yang berharga adalah Kristus sendiri. Iman bukanlah pencapaian alternatif manusia ataupun spiritualitas manusia yang dimurnikan, melainkan pernyataan kebangkrutan, pengakuan yang radikal dan menghancurkan bahwa satu-satunya kapital dalam perekonomian Tuhan adalah karunia Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan. Iman yang diarahkan dan berpusat pada Kristus mengakui, di bawah pengaruh kabar baik, bahwa tidak ada unsur nilai yang berharga yang dapat ditemukan dalam diri manusia. Iman ini menuntut kita menginvestasikan segala yang kita miliki ke dalam satu-satunya kapital yang diperhitungkan: Kristus.

Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. (Gal. 2:19-20)

Robin Gui

Pemuda FIRES

Robin Gui

Juni 2021

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk SPIK bagi Generasi Baru dengan tema Roh Kudus VI yang akan diadakan pada tanggal 18 September 2021. Berdoa kiranya setiap kita digerakkan oleh Tuhan untuk membawa banyak orang untuk dapat mengikuti acara ini dan mengerti akan pekerjaan Roh Kudus yang sejati di dalam kehidupan orang percaya. Berdoa kiranya Tuhan menggerakkan hati banyak orang. Berdoa untuk setiap hamba Tuhan yang akan membawakan sesi-sesi dalam SPIK ini, kiranya Roh Kudus mengurapi mereka dan memberikan kuasa kepada mereka untuk memberikan pengertian bagi setiap jemaat dan menguatkan iman serta pengenalan akan karya Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2021 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲