Artikel

Paulus, Galatia, dan Karunia (4)

Di bagian sebelumnya, kita telah melihat bagaimana Paulus mencoba menjelaskan bahwa peristiwa Kristus bukanlah sekadar peristiwa yang muncul lalu berlalu begitu saja. Karena bagi Paulus, peristiwa ini merupakan karunia tanpa syarat, yang tidak berdasarkan pada kelayakan ataupun kesiapan dari penerimanya, melainkan sesuai dengan janji dan rencana Tuhan. 

Di bagian ini, kita akan melihat bagaimana Paulus berusaha untuk mengidentifikasi ciri-ciri tindakan dan rencana Allah yang sesuai dengan karunia itu. Paulus menempatkan karunia Kristus pada garis narasi yang menampilkan Taurat sebagai ekspresi tandingan tertinggi dari kehendak Tuhan, ditegaskan oleh kedatangan Yesus sebagai Mesias, dan digenapi dalam ketaatan orang percaya terhadap Taurat.

Narasi tandingan ini sangatlah umum dalam ekspresi Yudaisme di zaman Paulus. Dalam kekayaan tulisan dari Yudaisme Bait Suci Kedua (“Second Temple Judaism), sulit untuk menemukan tulisan yang tidak mengidentifikasikan Taurat sebagai definisi kebajikan atau kebenaran; menjadi orang Yahudi mensyaratkan komitmen terhadap Taurat. Ezra 4 mengidentifikasikan pemberian Taurat di Sinai sebagai momen klimaks dalam sejarah perjanjian (kovenan), sehingga “Taurat” dan “kovenan” dapat dianggap sama. Dalam kerangka intelektual yang berbeda, Philo (filsuf Yahudi dari Alexandria) menggunakan Taurat untuk mengungkapkan hukum alam yang tidak tertulis, sehingga kovenan dengan Abraham telah mewujudkan Taurat; ketaatan Taurat oleh orang-orang Yahudi dan proselit menyelaraskan mereka dengan kebenaran alam semesta dan tatanan moralnya. Berkat Tuhan di masa depan tersedia bagi “orang baik yang telah memenuhi Taurat dengan tindakan mereka”. Para misionaris di Galatia dapat dengan mudah memanfaatkan isi Kitab Suci dan mengaitkannya dengan tradisi Yahudi untuk membanggakan Taurat sebagai bagian utama dari keterlibatan Allah dengan Israel dan dunia. Bahkan sangat wajar bagi mereka untuk menempatkan peristiwa Kristus dalam kerangka yang dikonfigurasikan Taurat ini. Tampak jelas dalam pemikiran jemaat di Galatia bahwa karunia Tuhan berupa Kristus (dan Roh) harus dipahami sesuai dengan Taurat, cetak biru alam semesta, dan ekspresi definitif dari kehendak Tuhan.

Apa yang sama sekali tidak wajar bagi orang yang dibesarkan dalam tradisi Yahudi seperti Paulus adalah tindakan perendahan Taurat, pembatasan peran Taurat dalam sejarah menjadi sebatas selingan, dan pembedaan Taurat secara kategoris dari “kovenan” dan “janji”. Tetapi justru inilah yang dilakukan Paulus dalam Galatia 3-4, sebuah catatan naratif tentang kehendak Allah yang pusat penafsirannya adalah peristiwa Kristus itu sendiri. Di dalam artikel ini, kita akan menelusuri cara-cara Paulus menundukkan Taurat pada janji-janji Allah, dan menyatakan ketidakmampuannya untuk memberikan apa pun bagi Allah. Di bagian berikutnya, kita akan menyelidiki bagaimana Paulus menghubungkan peristiwa Kristus dengan “janji-janji” dan dalam prosesnya mendefinisikan kembali maknanya.

Perbedaan Antara Taurat dan Janji Allah

Busur narasi yang penting dalam Galatia 3-4 dimulai dari janji-janji Abraham hingga datangnya peristiwa Kristus (dan Roh), sebuah busur di mana Taurat memainkan peran tambahan di dalam waktu yang terbatas. Busur ini dibentangkan mulai dari 3:6-14, di mana janji Abraham dihubungkan dengan iman dan berkat orang-orang bukan Yahudi (3:6-9), sebuah janji (berkat) yang digenapi dalam Kristus Yesus dan dalam penerimaan Roh (3:14). Sepanjang busur ini, berkat tidak dikaitkan dengan mereka “yang telah memenuhi Taurat dengan tindakan mereka” (seperti kata Philo). Sebaliknya, “yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat” dikaitkan dengan “kutuk” (3:10), dan Taurat sangat dibedakan dari kehidupan orang yang bersandarkan iman (3:11-12). Dengan demikian Taurat bukanlah bagian integral atau sarana menuju pemenuhan berkat Abraham.

Pengesampingan Taurat yang menakjubkan ini diperteguh dengan alasan naratif dalam 3:15-25. Di sini Paulus menegaskan bahwa perjanjian asli yang diberikan kepada Abraham tidak dapat dicabut atau ditambahkan oleh Taurat Musa yang datang 430 tahun kemudian (3:15-17). Interval waktu ini diambil untuk mewakili perbedaan kategori: warisan datang melalui “janji” atau melalui “Taurat” (3:18). Kita harus memilih salah satu. Ini mengakibatkan kita melihat bahwa warisan tersebut datang bukan melalui janji yang diklarifikasi, ditentukan, atau dikualifikasikan oleh Taurat. Patut dicatat bahwa setelah memperkenalkan analogi wasiatnya, Paulus mengklasifikasikan kembali “perjanjian” Abraham sebagai “janji”. Istilah “janji” mungkin digunakan terlalu longgar untuk melayani tujuan Paulus dalam menyatakan pembeda di antara janji-janji patriarkat dan Taurat Sinai di dalam tulisan Yudaisme kontemporer, namun bagi Paulus istilah “janji” jauh lebih menunjukkan peristiwa Kristus sebagai pusat baru dari narasinya, di mana istilah “kovenan” dan “Taurat” dianggap tidak dapat melayani maksud dari pemikirannya (lih. 4:24).

Jika Taurat dibatasi secara waktu di satu titik awal (setelah perjanjian patriarkat), bagi Paulus Taurat juga dibatasi oleh waktu di sisi lain: sampai “janji” itu dipenuhi, yaitu hanya sampai Kristus datang (3:24). Dalam hal ini, Paulus menggunakan metafora budak yang tugasnya mengawal dan menuntun anak-anak sampai mereka dewasa. Perdebatan di dalam sejarah terjadi dalam melihat apakah peran “mengurung” (3:23) memerlukan beberapa fungsi “positif” (pelindung, bahkan pendidik) dari Taurat, atau hanya sekadar fungsi “negatif” (restriktif). Apa pun yang diputuskan, titik sentral metafora Paulus adalah bahwa “iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun” (3:25). Dari perspektif peristiwa Kristus, Paulus melihat Taurat sebagai fitur sementara dan peran Taurat berakhir pada waktu yang ditentukan oleh Bapa (ἡ προθεσμία τοῦ, 4:2). Taurat adalah selingan dalam sejarah janji, bukan inti dari rencana Tuhan untuk dunia.

Dalam peran tambahannya, Paulus mengatribusikan beberapa fungsi kepada Taurat dalam mengungkapkan (dan membatasi) “pelanggaran” (3:19), namun ia juga menjauhkan Taurat dari Allah (3:19-20). Dengan berani Paulus menerapkan kembali motif tradisional mengenai kehadiran para malaikat di Sinai. Paulus mengatakan bahwa Taurat itu “diatur atau disampaikan” dengan perantaraan para malaikat (3:19). Patut diperhatikan di sini bahwa Paulus tidak menggunakan istilah “karunia” yang telah ia gunakan sebelumnya untuk warisan yang dijanjikan kepada Abraham (3:18). Tidak seperti janji itu, Taurat tidak secara langsung berhubungan dengan karunia Kristus. Dengan demikian, bagi Paulus, Taurat keluar dari wilayah “karunia” dan bukan merupakan bagian integral dari kisah kovenan, atau bahkan tidak efektif dalam menjamin pemenuhannya (3:16, 18). Pengesampingan Taurat ini muncul bukan dari singularitas gerakan pemberian Allah, sehingga karunia itu pada prinsipnya dipisahkan dari hukuman dan Taurat (seperti kata Marcion, seorang theolog pada zaman Gereja Mula-mula), atau dari kesempurnaannya sebagai karunia non-sirkular, bebas dari tuntutan Taurat (menurut Luther). Sebaliknya, gambaran ini mencerminkan definisi Kristologis Paulus tentang karunia Ilahi, yang antisipasinya dapat ditelusuri dalam janji Abraham, tetapi tidak dalam Hukum Sinaitik.

Ketidakmampuan Taurat untuk Menciptakan Nilai

Di samping argumen Paulus untuk menunjukkan kesementaraan dan marginalisasi dari Taurat dalam sejarah kovenan, Paulus mengeluarkan serangkaian pernyataan yang menunjukkan ketidakmampuan Taurat untuk menghasilkan berkat yang menyediakan kondisi bagi kemajuan atau pemenuhan janji. Pernyataannya tidak hanya memperkuat marginalisasi Taurat dalam kaitannya dengan janji, tetapi juga menetapkan karakter karunia Kristus sebagai karunia yang tidak sesuai, yang tidak melengkapi, atau memberi nilai kelayakan apa pun yang ditetapkan melalui Taurat.

Indikasi pertama dari ketidaksesuaian ini adalah asosiasi Taurat bukan dengan berkat (terkait dengan janji, 3:8-9, 14) melainkan dengan kutuk. Mengutip Ulangan 27:26, Paulus mengulangi kutukan perjanjian pada “orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat” (3:10). Orang mungkin berharap teks ini menjadi pendorong kaum kudus dalam ketaatan kepada Taurat (dan mungkin juga ayat ini digunakan oleh para saingan Paulus), tetapi Paulus justru menekankan bahwa kutukan itu sebenarnya berlaku bagi mereka yang hidup di dalam Taurat, seperti halnya “kita” membutuhkan penebusan oleh Kristus dari “kutuk hukum Taurat” (3:13). Jalinan teks Kitab Suci lebih lanjut dalam 3:11-12 tampaknya lebih baik untuk dimengerti di dalam terang 3:10 (kutuk bagi orang yang tidak setia melakukan hukum Taurat) di mana Paulus mengasumsikan pesimismenya tentang kapasitas seseorang untuk setia dalam melakukan apa yang diatur oleh Taurat.

Argumen yang dipadatkan dalam 3:11-12 mengontraskan Habakuk 2:4 dengan Imamat 18:5 dalam memperkuat ketidakmampuan Taurat menciptakan nilai. Karena tidak ada seorang pun yang ditemukan “benar” di hadapan Tuhan dalam ketentuan Taurat, maka kebenaran dijanjikan (dalam Habakuk) hanya atas dasar iman. Dengan demikian, Taurat tidak akan dapat menghasilkan kondisi iman, di mana janji Allah dapat dipenuhi, dan janji itu hanya akan digenapi ketika “iman tiba” pada kedatangan Kristus (3:14, 25). Semua yang dapat dilakukan Taurat hanyalah mengutuk. Dengan demikian kedatangan Kristus bukanlah suatu berkat yang datang dari berkat yang lain, melainkan sebuah penciptaan berkat yang ajaib dari dalam kutuk (3:13-14), dengan Kristus sendiri yang “terkutuk” (3:13). Meskipun logika ini tidak dijelaskan oleh Paulus dengan gamblang, namun yang pasti sejarah dunia ini diubah oleh peristiwa Kristus, dan khususnya oleh kematian Kristus, yang bukan merupakan karunia bagi “orang benar”, melainkan karunia bagi “orang berdosa”.

Tanda-tanda lebih lanjut dari struktur pemikiran ini terlihat kemudian dalam Galatia 3-4. Setelah menghapus Taurat dari narasi kovenan, dan setelah membuat hubungan antara Tuhan dan Taurat menjadi ambigu (3:15-20), Paulus menaikkan pertanyaan, “Apakah Taurat sebenarnya bertentangan dengan janji-janji Tuhan?” (3:21) Dia tidak membiarkan antitesis tersebut terjadi, karena baginya Taurat dan janji Allah bukanlah dua jalan yang mengarah kepada tujuan yang sama. Baginya Taurat tidak dapat melakukan apa pun untuk menandingi keampuhan janji (3:21-22). Jika Taurat yang telah diberikan mampu “menghidupkan” (ζῳοποιῆσαι) yang mati—yang merupakan istilah eksklusif yang diberikan Paulus pada karunia—kebenaran dapat dicapai dan didefinisikan dalam ketentuan Taurat (3:21), dan hal ini tidaklah mungkin terjadi. Baginya “Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa” (3:22). Yang jelas (dan semua yang diperlukan oleh jemaat di Galatia) adalah bahwa Taurat tidak mampu menghasilkan solusi yang diperlukan: ia tidak bisa membebaskan seseorang dari dominasi dosa, atau memberikan kehidupan kepada yang mati. Ia tidak dengan sendirinya jahat atau bertentangan dengan janji-janji Allah, namun ia terjebak dalam kondisi negatif yang sama dengan “segala sesuatu”. Justru dari adegan dosa dan kematian yang begitu menghancurkan itulah, karunia Allah muncul sebagai peristiwa “penciptaan kembali” (6:15).

Satu dimensi lain yang Paulus bawa untuk menekankan ketidakmampuan Taurat adalah bagaimana Taurat dikaitkan dengan istilah “di bawah” (3:25). Kita bisa melihat serangkaian pernyataan di mana Taurat baik secara langsung maupun tidak langsung terkait dengan metafora preposisi ini (lih. 3:23; 4:2, 3, 5, 21; 5:18). Jika Paulus di sini menggunakan motif Yahudi untuk mengartikulasikan otoritas Taurat, ia dengan sengaja memojokkan otoritas tersebut ke arah negatif, di mana kepatuhan pada otoritas ini dialihkan sebagai bentuk dari “perbudakan”. Ketika seorang ahli waris, sebagai seorang anak di bawah umur, berada di bawah naungan seorang wali (metafora lebih lanjut untuk Taurat), kondisinya sedikit pun tidak berbeda dengan seorang hamba (4:1). Istilah ini mensyaratkan bahwa ketika “setelah genap waktunya”, (4:4) ahli waris akan memperoleh warisannya, bukan dengan beberapa perkembangan alami untuk mencapai kedewasaan, melainkan sebagai perubahan dramatis dari keadaan diperbudak menuju sebuah euforia “pembebasan” dari perbudakan di bawah Taurat (4:5), dan berujung pada tindakan adopsi Allah. Gambaran ini mungkin tampak aneh ketika kita memikirkan nasib seseorang yang sudah ditunjuk sebagai ahli waris (4:1), yang terhambat hanya karena usia dan memerlukan adopsi untuk mendapatkan pembebasan. Meskipun demikian, kita dapat menangkap nuansa yang Paulus letakkan pada perubahan status dari budak (4:1, 3, 7) menuju anak (4:5-7). Taurat tidak hanya tidak dapat memengaruhi perubahan ini, melainkan terlibat dalam perbudakan sebelumnya; hanya peristiwa Kristus (pengurusan Anak-Nya, 4:4) yang dapat mengubah kondisi negatif ini dan menciptakan hasil positif dari kegelapan yang ada. Di setiap bagian, tampaknya Paulus berusaha untuk membingkai peristiwa Kristus bukan sebagai penyelesaian dari narasi Taurat, atau bahkan sebagai perubahan yang mengejutkan dalam perkembangan Taurat. Peristiwa Kristus justru adalah kebalikan dari kondisi manusia sebelumnya dan tidak dapat dijelaskan jika dilihat dari kondisi asalinya, termasuk ketika mereka berada di bawah otoritas Taurat.

Aspek yang paling luar biasa dari “perbudakan” ini muncul dalam 4:3, di mana Paulus ingin membuat asosiasi di mana orang-orang Galatia ingin berbalik lagi kepada roh dunia “yang lemah dan miskin” (4:9). Jelas bahwa “perbudakan” mereka sebelumnya kepada “allah-allah yang pada hakikatnya bukan Allah” (4:8) termasuk dalam kategori perbudakan ini. Demikian pula, jika “kami” yang menjadi ahli waris saat berada di bawah perwalian Taurat dapat digambarkan sebagai “diperbudak di bawah Taurat” (4:3), dan jika pengembalian kebiasaan jemaat Galatia ke dalam praktik penanggalan Yahudi disetarakan dengan penyembahan pagan (4:10), tampaknya kehidupan di bawah Taurat juga dapat dicirikan sebagai perbudakan. Penting untuk mengamati kekuatan dan batasan retorika Paulus. Dia tidak mengeklaim bahwa penyembahan berhala dan ketaatan pada Taurat identik secara substansial; dia juga tidak mengidentifikasi dewa-dewa dari budaya pagan dengan Taurat itu sendiri. Dia hanya menyatakan bahwa, dari sudut pandangnya, praktik keagamaan pagan dan kehidupan di bawah aturan Taurat dapat diklasifikasikan dalam kategori tunduk pada dunia yang sama. Pernyataan Paulus yang luar biasa mengajak jemaat Galatia untuk berpikir ulang dalam ilusi pemikiran mereka dalam mengadopsi Taurat. Alih-alih mereka bergerak maju dalam mengadopsi Taurat, mereka justru sedang bergerak mundur ke tempat mereka memulai perjalanan mereka (4:8-10; lih. 3:3). Oleh karena itu, Taurat bukanlah keuntungan atau bantuan; tidak ada kerangka kerja positif untuk definisi “hidup bagi Allah” (2:19). Berada di bawah otoritas Taurat berarti terperangkap sekali lagi dalam jaringan asosiasi yang tidak akan membawa kekuatan untuk meringankan kondisi manusia: mereka lemah (ἀσθενῆ), pula tidak membawa manfaat atau karunia bagi pengikutnya: mereka benar-benar miskin (πτωχά, 4:9). 

Kesimpulan

Seperti yang dijelaskan oleh referensi tentang pemeliharaan penanggalan Yahudi (4:10), pembahasan Paulus tentang Taurat di seluruh Galatia 3-4 diarahkan kepada tujuan praktis. Dalam mengesampingkan Taurat dalam narasi kovenan, dan dalam menyatakan berbagai cara ketidakmampuan Taurat untuk memengaruhi pemenuhan janji-janji Allah, Paulus telah melakukan hal yang lebih jauh dari sekadar kritik teoretis.

Jemaat Galatia yang didesak oleh misionaris lain untuk menaruh iman mereka di dalam Kristus di bawah otoritas Taurat, dan mengambil cara hidup Yahudi sebagai kerangka nilai definitif mereka (kebenaran), dihadapkan pada kebenaran bahwa apropriasi (penyerahan diri) mereka terhadap nilai-nilai ini tidak hanya akan memutar waktu kembali ke zaman sebelum Kristus. Apropriasi mereka akan menempatkan hidup mereka di luar lintasan karunia Ilahi, yang dijanjikan dan telah digenapi (3:15-29). Apropriasi itu tidak akan menggenapi, malah meniadakan kesetiaan mereka kepada Kristus (5:4), bahkan apropriasi itu akan membuat mereka tunduk pada rezim yang sama sekali tidak mampu menyelesaikan krisis manusia (4:9). Tidak seperti orang Yahudi lainnya, Paulus menemukan sebuah jalan buntu dalam Taurat yang hanya dapat diselesaikan oleh karunia Kristus; dan jalan keluar itu dibukakan bukan oleh berkat Tuhan kepada orang yang benar, melainkan oleh Tuhan yang menciptakan kehidupan dari dalam kematian dan memberikan berkat dari dalam kutuk. 

Robin Gui 

Pemuda FIRES

Robin Gui

September 2021

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk SPIK bagi Generasi Baru dengan tema Roh Kudus VI yang akan diadakan pada tanggal 18 September 2021. Berdoa kiranya setiap kita digerakkan oleh Tuhan untuk membawa banyak orang untuk dapat mengikuti acara ini dan mengerti akan pekerjaan Roh Kudus yang sejati di dalam kehidupan orang percaya. Berdoa kiranya Tuhan menggerakkan hati banyak orang. Berdoa untuk setiap hamba Tuhan yang akan membawakan sesi-sesi dalam SPIK ini, kiranya Roh Kudus mengurapi mereka dan memberikan kuasa kepada mereka untuk memberikan pengertian bagi setiap jemaat dan menguatkan iman serta pengenalan akan karya Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2021 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲