Artikel

Paulus, Galatia, dan Karunia (5)

Di dalam artikel sebelumnya, kita melihat bagaimana pembahasan Paulus tentang Taurat di seluruh Galatia 3-4 diarahkan kepada tujuan praktis. Dalam mengesampingkan Taurat dalam narasi perjanjian dan dalam menyatakan ketidakmampuan Taurat untuk memengaruhi pemenuhan janji-janji Allah dalam berbagai cara, Paulus telah melakukan hal yang lebih jauh dari sekadar kritik teoretis.

Jemaat Galatia didesak oleh misionaris lain untuk menaruh iman mereka kepada Kristus di bawah otoritas Taurat, dan mengambil cara hidup Yahudi sebagai kerangka nilai definitif (kebenaran). Mereka dihadapkan pada kebenaran bahwa apropriasi (penyerahan diri) terhadap nilai-nilai ini tidak hanya akan memutar waktu kembali ke zaman sebelum Kristus, melainkan juga akan menempatkan hidup mereka di luar lintasan karunia Ilahi yang dijanjikan dan telah digenapi (3:15-29). Apropriasi itu tidak menggenapi tetapi malah meniadakan kesetiaan mereka kepada Kristus (5:4). Bahkan apropriasi itu membuat mereka tunduk pada rezim yang sama sekali tidak mampu menyelesaikan krisis manusia (4:9). Tidak seperti orang Yahudi lainnya, Paulus menemukan sebuah jalan buntu dalam Taurat. Hal ini hanya dapat diselesaikan oleh karunia Kristus. Jalan keluar itu dibukakan bukan oleh berkat Tuhan kepada orang yang benar, melainkan oleh Tuhan yang menciptakan kehidupan dari dalam kematian dan memberikan berkat dari dalam kutuk. 

Janji Ilahi dan Sejarah Manusia: Busur Narasi dan Penggalan Radikal Injil

Meskipun karunia Kristus tidak dapat ditempatkan dalam narasi Taurat, namun karunia ini tetap berkait dengan rencana
Ilahi yang diartikulasikan dalam janji mula-mula kepada Abraham. Paulus kembali menekankan bahwa narasi Abraham adalah narasi mengenai janji yang menantikan pembenaran orang-orang bukan Yahudi (3:8). Di dalam narasi ini, orang bukan Yahudi akan menerima janji tersebut ketika mereka menerima Roh (3:14), dan Taurat tidak dapat membatalkan janji ini (3:17). Mulai dari peneguhan janji Abraham, Paulus melanjutkan busur narasi janji ini sepanjang pasal 3-4 (3:14, 16-19, 21-22, 29; 4:23, 28), sampai narasi ini mencapai klimaks di “saat” yang ditentukan secara Ilahi (4:2).

Ada beberapa keunikan yang Paulus bawa dalam bagian terakhir Surat Galatia, di antaranya keunikan pola bahasa Paulus yang berefek ganda: karunia Kristus sebagai penggenapan janji Allah, juga kontinuitas dari peristiwa Kristus dengan busur narasi janji Abraham.

Ketika melihat pasal 4-5, kita dapat merasakan pola bahasa Paulus yang menyoroti karunia Kristus sebagai “kegenapan waktu” yang “telah ditentukan oleh Bapa-Nya” (4:4). Pola ini juga menempatkan karunia Kristus dalam lintasan yang bertujuan (telos). Dengan demikian, karunia ini tidak terjadi secara acak, dan bukan dikerjakan melalui campur tangan Tuhan yang asing (seperti kata Marcion). Paulus menegaskan, dengan pola bahasanya, bahwa karunia ini diinisiasi oleh janji yang diberikan pada awalnya kepada Abraham dan disaksikan sepanjang narasi Kitab Suci.

Selain itu, Paulus juga menekankan bahwa busur narasinya mewakili sejarah janji Tuhan dan bukannya kesinambungan sejarah yang dilihat oleh umat manusia. Di mata manusia, peristiwa Kristus adalah masalah diskontinuitas dan pembalikan. Peristiwa ini adalah gerakan tandingan Allah terhadap kondisi manusia: Dia memindahkan orang percaya dari “tidak mengenal” menjadi “mengenal” Allah (4:9), dari “kutuk” menjadi “berkat” (3:13-14), dari “hamba” menuju “anak” (4:1-7). Apa yang tiba pada “kegenapan waktu” bukanlah perkembangan dari zaman-zaman sebelumnya dalam sejarah manusia, melainkan kebalikan dari kondisi manusia sebelumnya. Baik pada tingkat individu (1:12-17; 2:19-20) maupun global (3:15-4:11), peristiwa Kristus ini tidak mewakili kontinuitas, melainkan interupsi, transformasi, penggalan, dan keajaiban Ilahi. Peristiwa ini bukanlah “kejutan” di akhir rencana bertahap, melainkan pernyataan tandingan Tuhan terhadap kondisi manusia yang rusak (1:4; 6:14-15).

Dengan demikian, Paulus membingkai peristiwa Kristus untuk melengkapi busur narasi yang diproyeksikan oleh janji Ilahi. Paulus melakukan pembacaan secara radikal mengenai janji mengenai “benih” Abraham. Di sini Paulus menemukan referensi “benih” bukan pada untaian sejarah Israel seperti yang dimengerti oleh orang Yahudi, melainkan pada singularitas (satu) benih, yaitu Kristus (3:16). Setelahnya, baru Paulus menekankan keberadaan pluralitas (seluruh bangsa) di dalam dan melalui singularitas karunia Kristus (3:29). Di antara kisah pemberian janji kepada Abraham dan kegenapannya, Paulus seakan menutup mata terhadap keberadaan Taurat bagi Israel. Yang kita miliki hanyalah selang waktu di mana ahli waris menunggu waktu yang ditentukan oleh Bapa (4:1-2), dan “kegenapan waktu”-Nya bukanlah bagian sempalan dalam cerita manusia yang sedang berkembang. Kegenapan waktu ini adalah saat ketika apa yang dijanjikan oleh Allah dihadirkan di dalam Kristus, bukannya melalui regresi sejarah manusia.

Oleh karena itu, pembacaan kita akan mempertahankan perbedaan antara tujuan Tuhan dan perkembangan sejarah manusia. Dalam hal ini, kita dapat melihat bahwa pemberian Kristus sepenuhnya selaras dengan janji Allah dan sepenuhnya tidak sesuai dengan kondisi sebelumnya dalam sejarah manusia (termasuk bangsa Israel). Perdebatan panjang tentang tempat "narasi" dalam theologi Paulus dan bobot relatif untuk ditempatkan pada "kontinuitas" atau "diskontinuitas" dengan demikian dapat diklarifikasi. Surat kepada jemaat di Galatia tentu menempatkan kabar baik dalam kerangka sebuah narasi: ia mengumumkan bahwa yang nyata bukanlah kasih karunia Allah yang abadi kepada bangsa Israel, melainkan intervensi dalam sejarah kasih karunia Allah di dalam Kristus. Pada tingkat manusia, kabar baik menceritakan disjungsi, bukan kemajuan: apa yang diungkapkannya justru kebalikan dari kondisi antara "sebelum" dan "sesudah". Karakter invasif dari peristiwa Kristus (karakter "apokaliptik") dalam Heilsgeschichte ("sejarah keselamatan"), yang dipertentangkan dengan sejarah kelam manusia, membingkai ketidakpercayaan Paulus terhadap kisah kemajuan manusia. Di sini, gagasan N. T. Wright bahwa Paulus "melihat dirinya dalam peta yang dibangun ... dari narasi yang mengendalikan Israel kuno" hampir tidak cocok dengan apa yang telah kita temukan di Galatia. Sementara penekanan James Dunn pada "kesinambungan antara kisah Israel dan peristiwa Kristus" menunjukkan garis kemajuan manusia yang justru tidak ada dalam surat ini.

Paradoks disjungsi sejarah keselamatan dan "sejarah manusia" ini merupakan inti dari "kiasan" dua anak Abraham dalam 4:21-5:1. Yang satu (Ismael) lahir menurut kondisi normal sejarah manusia, "menurut daging" (4:23, 29). Dia berdiri berkorelasi dengan "Yerusalem yang sekarang" (4:25). Anak yang lain (Ishak) lahir bertentangan dengan semua kondisi yang mungkin, anak dari ibu yang mandul (4:27). Dia lahir berdasarkan keberadaan "janji" (4:23) dan "menurut Roh" (4:29). Sosok "anak-anak janji" (4:28) lahir bukan dari fenomena sejarah melainkan dari "Yerusalem sorgawi" (4:26). Pada dasarnya, kisah tentang janji Abraham harus dilihat sebagai tindakan Allah dalam "mengetahui" dan "mengabarkan Injil sebelumnya" yang berlaku di dalam Kristus (3:8). Tanda Kristologis dapat dilacak dalam kapasitas janji Ilahi untuk menciptakan yang mustahil secara manusiawi, di mana realitas ditangguhkan dari kebenaran "sorgawi" atau kebenaran di luar sejarah. Dalam hal ini, bahasa "janji" Paulus mengandung prediksi bahwa Tuhan akan melakukan apa yang hanya bisa dilakukan oleh Tuhan dan yang bertentangan dengan harapan manusia berdosa. Ketidaksesuaian karunia Kristus adalah kendaraan definitif dari komitmen Ilahi ini untuk mencapai apa yang tidak dapat dibayangkan dalam imajinasi manusia (lih. 1Kor. 2:9-12). 

Pembacaan Ulang Kitab Suci secara Kristologis 

Peristiwa Kristus itu sendiri telah membentuk narasi Paulus tentang kontinuitas Ilahi dan diskontinuitas manusia. Bahkan, kisah Abraham yang dibaca oleh orang Israel diubah secara Kristologis. Paulus menekankan singularitas benih yang diidentifikasi sebagai Kristus (3:16), dan menyamakan berkat yang dijanjikan kepada bangsa-bangsa lain (3:8-9) dengan Roh (3:14), fitur yang tidak ada dalam narasi Abraham. Kisah Kitab Suci dibentuk kembali—teks-teksnya dipilih, dihubungkan, diisi, dan ditafsirkan—oleh pemenuhannya di dalam Kristus. Kitab Suci "menantikan" apa yang terbentang di dalam Kristus (3:8). Kata kerja penting "terlebih dahulu memberitakan Injil" (3:8) digunakan untuk mengidentifikasi pengumuman Abraham sebagai antisipasi kabar baik tentang Kristus. Hal ini menunjukkan bahwa dalam istilah hermeneutis, kisah Abraham bukanlah kerangka penafsiran di mana peristiwa Kristus harus dipahami, tetapi sebaliknya kabar baik tentang Kristus adalah kerangka di mana "pengumuman sebelumnya" dapat diidentifikasi dan ditafsirkan. Kata kerja yang dipilih Paulus dengan hati-hati menandakan secara simultan prioritas historis dari pengumuman kepada Abraham dan prioritas hermeneutis dari peristiwa Kristus.

Maka, akan keliru untuk menyarankan bahwa kisah Kristus hanya merupakan "lapisan luar pada kisah Israel". Seakan peristiwa Kristus dipahami sebagai tambahan kepada narasi yang telah dibentuk sebelumnya. Sebaliknya, narasi tentang Abraham dan Israel ditata ulang di sekitar peristiwa Kristus. Plot yang Paulus bawakan benar-benar baru jika dibandingkan dengan beberapa variasi narasi ini dalam Yudaisme Bait Kedua. Sangat diragukan apakah masuk akal jika kita berbicara tentang Paulus yang menggunakan narasi yang "sama" dengan orang Yahudi saat itu. 

Keradikalan Paulus dalam mengonfigurasi ulang sumber alkitabiah dalam istilah Kristologis dapat terlihat jelas dari deskripsi ulangnya terhadap kedua anak Abraham (4:21-5:1). Meskipun Paulus menyebut bacaannya tentang kisah Kejadian sebagai "kiasan" atau alegori (4:24), ia tidak menggunakan alegori dalam gaya Filonik untuk mendehistorisasi teks untuk memindahkan tokoh tekstual dari partikularitas historis ke dalam kebenaran universal. Meskipun Paulus mengorelasikan hampir semua tokoh dalam cerita Kejadian dengan realitas lain, kesetaraan ini tidak menghilangkan mereka dari lokasi historisnya di masa lampau. Tokoh dalam teks tersebut berhubungan dengan padanannya bukan dengan melepas mereka dari sejarah, melainkan melalui sejarah (perhatikan kata "dahulu" dan "sekarang" pada 4:29). Dengan kata lain, dengan mengambil narasi Abraham untuk "berbicara yang lain", Paulus mengharapkan tokoh-tokoh dalam narasi ini tidak larut menjadi penanda kebenaran abadi, melainkan bergema dalam kekhususan historisnya dengan makna yang sekarang ditemukan dari perspektif orang lain.

Perspektif ini dapat dikenali secara Kristologis bahkan jika narasi Kristus tidak muncul sampai akhir perikop tersebut (5:1). Polaritas kembar yang digunakan Paulus untuk menafsirkan cerita Sara-Hagar—kebebasan/perbudakan, keajaiban/kelahiran alami—mencerminkan motif yang sudah ada dalam kisah Kejadian. Sementara bagian Kitab Suci lainnya (Yes. 54:1) dan tradisi Yahudi lebih lanjut (Yerusalem sorgawi, 4:26; "penganiayaan" Ismael terhadap Ishak, 4:29) dijalin ke dalam untaian narasi tersebut. Namun pusat baru narasi ini tetap didasarkan pada Kristus, yang digambarkan Paulus dalam pasal 1-3. Perbudakan Hagar (setara dengan perbudakan Yerusalem saat ini) adalah perbudakan di bawah otoritas Taurat (4:21) atau Sinai (4:24-25). Demikian juga kelahiran alami Ismael dikategorikan sebagai "menurut daging" (4:23, 29), berbeda dengan kelahiran Ishak "menurut Roh" (4:29), sebuah polaritas yang hanya terlihat dari perspektif karunia Roh Kristus (3:2-5, 14; 4:6). Di sini, terang Kristus mengonfigurasi "janji" sebagai kekuatan generatif yang mampu melahirkan "anak-anak" (4:23, 28) tanpa memperhatikan identitas "daging" mereka. Dengan membaca teks sebagai gambaran awal dari "ciptaan baru" (6:15), kelompok orang percaya yang dibaptis dan dibentuk oleh Roh dapat mengabaikan kriteria "pewarisan nilai budaya" yang ada (2:15-17; 3:26-28; 5:13-6:10). 

Kristus adalah kunci hermeneutis bagi Kitab Suci dan sejarah karena semua realitas mengambil arah dan maknanya dari peristiwa kematian dan kebangkitan-Nya. Ini adalah kabar baik dari suatu peristiwa yang Paulus dengar dalam gema kitab Perjanjian Lama.

Namun, struktur pemikiran demikian memunculkan beberapa paradoks yang tidak dapat diselesaikan oleh Surat Galatia sendiri. Sebuah pengertian kronologis linier, klimaks dalam "kegenapan waktu" (4:4), menyoroti sebuah peristiwa di mana janji Allah digenapi dalam karunia Roh yang dijanjikan (3:14; 4:6) dan kedatangan iman (3:25). Namun dalam menjelaskan makna universal dari peristiwa tunggal dan khusus ini, Paulus menggambarkan Ishak sebagai yang dilahirkan "menurut Roh" (4:29)—berabad-abad sebelum Roh yang dijanjikan itu diberikan! Dia menggambarkan Abraham, kepada siapa kabar baik itu "diberitakan sebelumnya" sebagai yang sudah menjalankan "iman" (sebelum "iman tiba", 3:23); apalagi, iman itu "dianggap benar" (3:6) ketika segala sesuatu masih "di bawah dosa" (3:22). Di satu sisi, Abraham berdiri sebagai tipologi untuk apa yang akan terjadi di dalam Kristus. Di sisi lain, ia memiliki kedudukan sebagai orang percaya, yang kepadanya orang percaya dapat melacak nenek moyang mereka dalam iman (3:7, 29). Pada satu tingkat, Abraham hanya merupakan janji tentang apa yang akan datang, pendahuluan dari kisah keselamatan yang dimulai dengan Kristus. Di sisi lain, ia muncul dalam terang Kristus sebagai momen awal dalam busur narasi yang diciptakan oleh Allah. 

Komitmen 

Terlepas dari ambiguitas di tepian suratnya, Surat Galatia mewakili upaya yang konsisten untuk memetakan kembali hubungan Allah dengan umat manusia dari perspektif peristiwa Kristus. Apa yang dapat kita lihat adalah koherensi peristiwa tersebut dengan rencana dan janji Tuhan, yaitu ketidaksesuaiannya dengan kondisi dan potensi sejarah manusia. Dari perspektif rencana Ilahi, peristiwa Kristus adalah pemenuhan janji mula-mula kepada Abraham. Di mata manusia, termasuk sejarah Israel, peristiwa Kristus adalah pembalikan, pemisahan, dan ketidakmungkinan. Perhatian utama Paulus adalah untuk menunjukkan bahwa Taurat tidak terintegrasi dengan narasi mengenai janji Tuhan. Taurat tidak menentukan ataupun memungkinkan pemenuhan janji itu di dalam Kristus. Ini berarti iman di dalam Kristus (iman yang "tiba" dengan kedatangan Kristus, 3:23) tidak tertanam di dalam atau dikondisikan oleh praktik Taurat. Sebagai karunia tanpa syarat, peristiwa Kristus tidak cocok dengan skema evaluatif yang telah dibentuk sebelumnya. Ia melintasi taksonomi konvensional "secara diagonal". Peristiwa Kristus tidak pula terikat pada pengukuran modal simbolis yang sudah ada sebelumnya, melainkan hanya pada miliknya sendiri, yang diberikan dalam Kristus. Di dalam seluruh narasi Galatia, Paulus menunjukkan apa artinya semua hal pada tingkat praktis, komunal—dalam kebebasan makan bersama yang dikerjakan baik oleh orang Yahudi maupun non-Yahudi, dalam operasi kreatif roh, dan dalam etos komunal yang didasarkan pada baptisan yang mengabaikan norma, kriteria kehormatan, dan nilai budaya yang ada. Menjelang akhir suratnya, ia membuat sketsa apa artinya ini bagi pola perilaku masyarakat. Dengan perikop itu (5:13-6:10), kita menyelesaikan bacaan kita terhadap Surat Galatia di dalam artikel selanjutnya. 

Robin Gui

Pemuda FIRES

Robin Gui

November 2021

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk Seminar Reformasi dengan tema “What if No Reformation?” yang telah diadakan pada tanggal 30 Oktober 2021. Bersyukur untuk setiap firman yang telah dibagikan, kiranya melalui seminar ini setiap kita makin mengerti dan menghargai arti Reformasi yang telah dikerjakan oleh para reformator yang telah memengaruhi segala aspek kehidupan kita, dan kiranya Gereja Tuhan tetap dapat mereformasi diri untuk selalu kembali kepada pengertian akan firman Tuhan yang sejati. 

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2021 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲