Artikel

Pemuda dan Gerakan Reformed Injili: Belajar Unity in Diversity dari Kristus

Unity in diversity adalah sebuah istilah yang sering kali kita dengar di dalam berbagai aspek, terutama yang berkaitan dengan komunitas yang terdiri dari banyak pribadi. Istilah ini sering kali digunakan oleh dunia sebagai slogan untuk mempersatukan, tetapi masalah perbedaan suku, ras, agama, dan budaya masih menjadi masalah yang tidak pernah usai hingga saat ini. Istilah ini adalah prinsip yang sangat penting di dalam pengajaran Kristen. Alkitab mengajarkan prinsip ini, mulai dari Allah Tritunggal yang adalah satu esensi tiga pribadi, gereja yang digambarkan sebagai satu tubuh Kristus namun terdiri dari banyak anggota tubuh, hingga perkataan Paulus tentang kesatuan dalam Kristus entah engkau orang Yunani atau Yahudi, hamba atau orang merdeka, laki-laki atau perempuan. Dan kita percaya bahwa pengertian ini merupakan dasar yang penting untuk mengerti arti unity in diversity yang sejati. Namun, jikalau pengertian ini hanyalah sebuah pengetahuan tanpa ada perbuatan, kita tidak berbeda dengan yang menjadikannya sebagai slogan tanpa ada aplikasi yang nyata. Oleh karena itu, di dalam artikel ini kita akan mencoba merenungkan secara singkat mengenai aplikasi dari prinsip “unity in diversity” ini di dalam kehidupan bergereja, khususnya sebagai pemuda Kristen.

Kita sadar bahwa di dalam persekutuan pemuda di gereja, ada pemuda-pemuda dari berbagai latar belakang yang berbeda. Bukan hanya latar belakang yang berbeda-beda, tetapi juga konteks yang berbeda di dalam pendidikan atau pekerjaan mereka sekarang. Sebagai manusia pada umumnya, kita merasa nyaman bergaul dengan orang-orang yang memiliki banyak kesamaan dengan kita. Namun, jika kita kembali melihat prinsip unity in diversity yang Alkitab ajarkan, kita seharusnya tidak mengucilkan atau menghina sesama orang percaya yang berbeda dari kita (berbeda latar belakang, status sosial, atau karakter dan kebiasaannya dengan kita), bahkan kita seharusnya menganggap perbedaan yang ada ini sebagai kelimpahan dalam cara Tuhan bekerja. Kita dapat menjalankan prinsip unity in diversity karena Kristus telah lebih dahulu mempraktikkan ini dan memberi kita contoh bagaimana menjalankan satu visi dengan menghimpun beragam orang di belakangnya. Untuk mengerti lebih lanjut mengenai unity in diversity, mari kita melihat contoh langsung dari Alkitab, contoh yang diberikan Yesus ketika memanggil murid-murid-Nya.

Pernahkah kita bertanya, kira-kira umur berapa murid-murid Yesus waktu Yesus memanggil mereka? Apakah Yesus memanggil orang-orang yang sudah mapan bekerja, sudah dewasa, orang-orang berumur 30 tahunan? Berdasarkan ayat Alkitab, murid-murid Yesus ternyata bukanlah orang dewasa (seperti yang kita mungkin lihat di lukisan di mana wajah mereka sudah berkerut, janggut panjang yang seolah menggambarkan mereka sudah dewasa) ketika Yesus memanggil mereka. Yesus sendiri berumur sekitar 30 tahun ketika memulai pelayanan-Nya. Seorang rabi biasanya memiliki beberapa murid yang lebih muda dari rabi itu sendiri. Beberapa artikel mengatakan bahwa umur murid Yesus ketika dipanggil berkisar antara 18 tahun hingga kurang dari 30 tahun. Hal ini dapat kita simpulkan dari misalnya Matius 17:24-27 di mana Yesus menyuruh Petrus membayar pajak. Petrus menemukan empat dirham dalam mulut ikan dan ia membayarkan pajak itu untuk dirinya dan Yesus. Ini bisa diartikan bahwa hanya Petrus dan Yesus yang cukup usia untuk membayar pajak, di mana di zaman itu yang membayar pajak hanya orang berumur 20 tahun ke atas. Dalam Yohanes 13:33, Yesus juga memanggil murid-murid-Nya “little children”. Petrus kemungkinan besar adalah murid yang paling tua, karena dikatakan ia memiliki mertua. Sisanya adalah pemuda-pemuda yang kalau kita bayangkan di zaman sekarang, pemuda yang masih kuliah atau baru bekerja setelah lulus kuliah. Jadi dua belas murid Yesus adalah pemuda-pemuda yang dipersatukan oleh Yesus, kalau kita bayangkan di zaman sekarang ini seperti kumpulan pemuda di dalam sebuah persekutuan.

Yesus memanggil pemuda-pemuda di zaman-Nya, dengan berbagai macam usia, latar belakang, dan pekerjaan mereka saat itu, untuk menjalankan satu visi. R. C. Sproul mengatakan bahwa 12 murid Yesus ini adalah seperti miniatur gereja. Ada Simon Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes yang bekerja sebagai nelayan. Ada Simon orang Zelot yang berasal dari kalangan radikal yang ingin menjatuhkan Roma. Ada Matius yang bekerja sebagai pemungut cukai. Ada lagi Yudas yang berperan sebagai bendahara, memegang dan mengelola keuangan. Kita melihat di kalangan pemuda kita mungkin ada yang berperan di dunia politik, ada yang bekerja di pemerintahan, ada yang membuka usaha sendiri berjualan daging ikan, atau ada yang bekerja di bidang finansial sebagai pengelola keuangan (dan orang ini belum tentu pengkhianat kekristenan). Belum lagi latar belakang keluarga, pendidikan, dan masa lalu yang berbeda-beda.

Pdt. Ivan Kristiono dalam khotbahnya mengenai Roh Kudus dan tanda kelahiran baru dalam SPIK yang lalu, mengatakan bahwa tanda kelahiran baru bukan hanya perubahan dalam diri sendiri, tetapi juga kemampuan untuk bersekutu bersama sebagai tubuh Kristus, menjalankan perintah Tuhan untuk saling mengasihi dalam gereja itu sendiri dan di luar gereja. Salah satu tanda Roh Kudus sudah bekerja dalam hati kita adalah fakta menarik bahwa Matius si pemungut cukai yang bekerja untuk pemerintah Romawi dapat duduk makan bersama Simon orang Zelot yang radikal dalam menumpas kekuasaan Romawi.

Di sini kita melihat bagaimana Tuhan dapat memakai banyak orang dari berbagai latar belakang, budaya, dan prinsip hidup untuk menjalankan kehendak-Nya di dunia ini. Inilah salah satu contoh unity in diversity yang Alkitab ajarkan. Dari sudut pandang unity, kita melihat bagaimana visi yang sama, disertai dengan fondasi pengertian firman yang juga sama, menjadi pemersatu yang mengikat orang Kristen satu dengan yang lainnya sebagai komunitas. Aspek pemersatu ini sering kali diabaikan di dalam zaman ini, khususnya di dalam pengaruh postmodern terhadap kekristenan saat ini yang menyudutkan doktrin sebagai pemecah belah kesatuan gereja. Sudah jelas ini adalah sebuah tuduhan yang sembrono dan tidak masuk akal, karena sebenarnya yang memecah belah gereja adalah munculnya bidat-bidat yang mengompromikan ajaran firman Tuhan demi lebih diterima oleh dunia ini. Oleh karena itu, hal yang paling fundamental seperti theologi seharusnya tidak boleh dikompromikan, malah seharusnya kita pertahankan dengan ketat untuk menjaga kemurnian ajaran Kristen. Theologi atau doktrin yang perlu dengan ketat kita pertahankan adalah doktrin utama seperti Allah Tritunggal, Yesus Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat, dwinatur Kristus, dan lain-lain. Prinsip doktrin yang utama seperti ini tidak boleh kita kompromikan sedikit pun.

Sudut pandang satunya lagi adalah diversity. Sudut pandang ini mengajarkan bahwa memang sejak penciptaan, Tuhan menciptakan manusia dengan keberagaman yang merupakan derivasi dari ke-Tritunggal-an Allah. Sehingga perbedaan seperti suku, ras, dan budaya adalah hal yang wajar dan merupakan natur dari manusia. Begitu juga di dalam konteks yang lebih spiritual seperti panggilan, karakteristik di dalam pelayanan, karunia, dan talenta, hal-hal ini pun perlu kita sadari dan akui sebagai sebuah keberagaman yang Tuhan berikan. Terkadang kita ditempatkan Tuhan dalam konteks yang berbeda di zaman ini. Ada orang yang koleris dan meledak-ledak (mungkin seperti Martin Luther) dan ada yang pendiam tetapi pandai menulis (seperti John Calvin). Tuhan pun memakai orang-orang dengan karakteristik 180 derajat untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan, menegur dosa, dan mendobrak kesalahan yang ada di zaman itu dengan cara mereka masing-masing. Di dalam sudut pandang ini, kita perlu dengan berbesar hati menerima, bahkan bekerja sama dengan orang-orang yang memang Tuhan anugerahkan perbedaan, baik di dalam hal-hal yang bersifat hereditas, lahiriah, maupun di dalam aspek spiritual.

Dengan menggabungkan kedua sudut pandang dari unity in diversity, kita perlu menyadari bahwa pemuda-pemuda Kristen, terutama pemuda Reformed Injili, seharusnya memiliki tulang yang kukuh dalam theologi yang benar, yaitu theologi yang kembali kepada Alkitab, sekaligus memiliki daging yang lentur, cukup lentur untuk menerima perbedaan dalam cara menuangkan prinsip theologi itu di dalam pelayanan kita masing-masing. Jangan sampai kita merasa asing ketika berada di dalam kumpulan orang percaya yang setia memberitakan firman Tuhan sesuai yang tertera di Alkitab, yang berbeda denominasi. Jangan sampai kita terlalu cepat menghakimi orang yang sedang dipakai Tuhan namun dengan cara yang unik, tidak seperti yang biasa kita lihat. Jangan sampai kita terlalu percaya diri sampai-sampai gagal belajar dari orang lain, bahkan denominasi lain, yang memang Tuhan pakai. Tetapi semua ini perlu kita lakukan dengan tetap berpegang teguh kepada fondasi atau prinsip kebenaran yang Alkitab katakan.

Melalui perenungan ini, mari kita belajar memiliki dua sisi dari prinsip unity in diversity, yaitu unity di dalam prinsip kebenaran firman Tuhan yang setia dan sesuai dengan Alkitab, diversity di dalam peran sosial, pekerjaan, bidang studi, masa lalu, karakter, ras, dan budaya. Mari belajar menyapa dan menerima keberagaman yang ada di kalangan persekutuan pemuda kita, bahkan hingga pemuda-pemuda yang berada di luar lingkaran denominasi kita. Kita harus belajar untuk membuka diri, menerima, dan merangkul mereka yang memiliki satu visi dalam kebenaran firman Tuhan. Mari belajar mengasihi seperti Kristus mengasihi umat-Nya di dalam kebenaran.

Bobbie Timothea Christian

Pemuda GRII Pusat

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk BCN 2021 dan NRETC 2021 yang telah dilaksanakan. Bersyukur untuk puluhan ribu anak-anak dan remaja yang mengikuti kedua acara ini. Berdoa kiranya Roh Kudus menyertai mereka dalam pertumbuhan iman mereka, memberikan pengertian akan signifikansi Gereja di dalam dunia ini, dan menyadari besarnya anugerah yang diberikan Tuhan melalui Gereja di dalam dunia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2021 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲