Artikel

Pengajaran Paulus mengenai Dosa dan Injil di dalam Pembukaan Surat Roma

Di antara para rasul, kita mungkin berpendapat bahwa Rasul Paulus adalah salah satu rasul terbesar yang pernah ada. Rasul Paulus memiliki keunikan dibandingkan dengan para rasul lainnya, yaitu Paulus tidak pernah menjadi murid Tuhan Yesus secara langsung. Bahkan, sebelumnya dia adalah murid dari Gamaliel yang merupakan guru dari golongan Farisi dan ikut memusuhi orang Kristen. Selain itu, Paulus juga adalah penulis kitab terbanyak dibanding rasul lain di dalam Perjanjian Baru (13 kitab) dan surat-surat yang ditulisnya sangat kental sekali dengan berita Injil dan doktrin soteriologi. Mungkin bahasan soteriologi Paulus yang paling sering dibahas terdapat di dalam Surat Roma.

Surat Roma ini menarik, karena Paulus menulis untuk jemaat yang belum pernah ia temui sebelumnya. Paulus, yang kala itu berstatus tahanan tetap, berusaha mengabarkan Injil di Roma dan membenahi doktrin yang disalah tafsir di sana. Hal seperti ini menjadi pengingat bagi kita untuk terus berjuang memberitakan Injil dan mengajarkan doktrin yang benar. Kita harus sadar bahwa menjadi Kristen bukan berarti menerima Tuhan Yesus lalu masuk sorga saja. Injil bukan hanya berita Yesus mati dan bangkit, tetapi juga tuntutan untuk hidup menjadi garam dan terang dunia ini. Kita tidak dipanggil hanya untuk menjadi negasi dari dunia tetapi juga untuk transform the world (Rm. 12:2). Ini adalah panggilan bagi umat tebusan Allah untuk membawa sinar kemuliaan Allah dalam berbagai bidang. Ini adalah semangat yang Injili. Jika kita masih pasif dan berpikir, “Ah, saya sudah terima Tuhan Yesus, jadi kehidupan saya kelak aman,” kita tidak memahami makna Injil yang sesungguhnya.

Surat Roma ini dimulai dengan ucapan, “Dari Paulus, hamba Kristus Yesus… dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.” Di dalam pembukaan ini, Paulus menggunakan istilah “dikuduskan”, suatu bentuk kalimat pasif. Hal ini berarti Paulus sadar bahwa yang menguduskan dia bukanlah dirinya sendiri tetapi Allah. Konsep ini adalah fondasi yang penting di dalam kita mengerti karya keselamatan Allah. Kita perlu dengan jelas mengerti bahwa keselamatan adalah anugerah. Tidak ada andil atau usaha kita yang layak diperhitungkan sebagai sebuah kontribusi bagi keselamatan, karena status kita adalah seorang berdosa yang Tuhan kuduskan. Fondasi ini sangat penting di dalam kita mengerti Injil.

Setelah Paulus memulai dengan salam dan kerinduannya bertemu dengan jemaat Roma, ia melanjutkan dengan berita murka Allah. Di sinilah keunikan Injil sebagai kabar baik. Kabar baik ini berbeda dari kabar baik seperti kita menang undian. Injil mengandung urgensi karena manusia telah jatuh dalam dosa dan menuju neraka. Manusia seharusnya dimurkai. Dengan pengertian inilah Rasul Paulus memulai pemberitaan kabar baik, yaitu dengan pemberitaan kabar buruk. Hal ini perlu kita sadari, bahwa penerimaan Injil (kabar baik) dimulai dengan kesadaran akan kebinasaan di luar Kristus (kabar buruk) dikarenakan dosa. Tanpa kita mengerti seberapa mengerikan dan menjijikkannya dosa, tidak mungkin kita mengerti seberapa bernilai dan berharganya Injil. Maka di dalam artikel singkat ini, kita akan sedikit mengulas mengenai konsep dosa.

Apa itu dosa? Pembahasan tentang dosa telah dibahas sejak lama bahkan sejak era Socrates, Plato, Buddha, Agustinus hingga sekarang era modern. Mereka semua berusaha untuk mencari asal-usul dosa dan penyelesaiannya. Misalnya, Buddhisme menganggap bahwa substansi Ilahi adalah satu-satunya realitas, sehingga dunia fenomena hanyalah mimpi. Oleh karena itu, penyebab utama penderitaan adalah keinginan akan eksistensi, kehendak untuk menunjukkan atau menyatakan eksistensi diri di dalam dunia fenomena ini. Usaha ini dinilai sebagai sebuah kesia-siaan karena fenomena ini hanyalah mimpi. Maka bagi mereka, keselamatan adalah penghilangan kesadaran atau pemusnahan kehendak untuk menyatakan eksistensi. Inilah yang disebut sebagai nirwana.

Seorang filsuf bernama Socrates memiliki pandangan bahwa penyebab dan esensi dosa adalah ketidaktahuan (ignorance). Bagi Socrates, pada dasarnya tidak ada orang yang jahat. Oleh karena itu, diperlukan pendidikan untuk menuntun manusia yang menurut naturnya adalah baik. Sehingga konsep keselamatan Socrates adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan.

Di dalam era modern sekarang, aliran atheisme modern telah mereduksi konsep dosa. Mereka mendefinisikan dosa sebagai kelainan genetika. Mereka percaya bahwa seseorang yang bersalah itu tidak perlu dihukum tetapi dilatih menjadi baik. Bahkan di masa depan mereka ingin membuat transhumanisme, di mana manusia dan robot akan disatukan dalam satu tubuh sehingga gen manusia bisa diprogram menjadi baik. Inilah konsep keselamatan mereka, yaitu pelatihan hal-hal yang sifatnya jasmani.

Kekristenan memiliki pandangan yang lain mengenai dosa. Bagi kita dosa bukanlah permasalahan rasio ataupun keinginan, tetapi dosa adalah pemberontakan terhadap Allah. Herman Bavinck pernah mengatakan, “Dosa bukanlah bersifat moral, tetapi bersifat religius karena dosa adalah pelanggaran hukum (Taurat) Allah (kesalahan vertikal).” Hal ini mengingatkan kita kepada awal mula kejatuhan manusia ke dalam dosa. Titik inilah yang menjadi asal mula dosa, yaitu kejatuhan Adam pertama (Rm. 5:12) yang kemudian menjalar ke seluruh umat manusia. Penyebaran dosa ini bukan melalui tubuh, tetapi berdasarkan ketetapan Allah, yaitu ketika Adam jatuh maka seluruh natur manusia menjadi tercemar oleh dosa, sehingga kecenderungan hati manusia adalah berbuat jahat. Inilah konsep kekristenan mengenai dosa, yaitu pemberontakan terhadap Allah.

Konsep dosa inilah yang Paulus nyatakan di dalam pembukaan Surat Roma ini. Ia menyatakan kefasikan dan kelaliman manusia yang telah merajalela, dan tentunya semua hal ini dibenci oleh Allah. Lalu di pasal dua, Paulus menjelaskan mengenai hukuman atas dosa tersebut. Semua orang yang telah berdosa, tidak ada satu pun yang dapat lepas dari murka Allah. Bukan hanya itu, Paulus juga menjelaskan bahwa baik pemenuhan hukum Taurat maupun sunat tidak bisa menyelamatkan mereka. Di sini Paulus ingin menekankan bahwa manusia yang hidup di bawah hukum dosa tidak mungkin menyelamatkan dirinya, baik itu melalui sunat maupun hukum Taurat. Oleh karena itu, Rasul Paulus mengkritik keras para jemaat di Roma yang terkena ajaran Farisi, karena pengajaran ini hanya akan menyesatkan para jemaat dari ajaran kekristenan yang sesungguhnya, yaitu keselamatan melalui iman kepada Allah, bukan usaha diri.

Jika dipikir, mengapa Rasul Paulus langsung menggebrak dengan berkata terus terang dan menelanjangi keberdosaan mereka? Tentunya agar konsep mereka yang salah mengenai dosa dan penanganannya menjadi benar dan tidak keliru. Mata Tuhan melihat ke dalam hati dan pikiran setiap manusia. Segala perbuatan baik yang dilakukan manusia tidak dapat menutupi keberdosaan mereka. Seperti Adam yang berusaha menutupi dirinya yang sudah telanjang dengan daun, begitu juga ajaran Farisi yang mengandalkan usaha diri. Mereka mengira usaha manusia dapat menutupi dosa mereka. Inilah kebobrokan manusia. Mungkin kita juga sering kali menutupi dosa-dosa tersembunyi kita dengan tindakan-tindakan agamawi. Berbagai pelayanan kita lakukan agar kita dianggap suci dan diperkenan Tuhan. Lalu dengan segala usaha ini, kita sudah puas dan berbangga, padahal di dalam diri kita ada dosa-dosa tersembunyi yang masih belum kita selesaikan.

Hal seperti ini sangat berbahaya karena menjadi ragi dalam kehidupan rohani kita. Kita harus mengenal diri kita termasuk segala kelemahan-kelemahan kita. Reformator John Calvin menganggap pengenalan akan diri sangat penting, karena saat kita mengenal diri maka saat itu kita mengenal Allah. Tetapi yang Calvin maksud di sini bukanlah menjadikan kita sebagai acuan. Proses mengenal diri dan Allah terjadi bersamaan; justru saat kita mengenal Allah dan diri kita maka kita akan mengerti bahwa kita bukan Tuhan atas diri kita sendiri. Kita makin sadar bahwa kita sangat membutuhkan Tuhan. Oleh karena itu, pengertian doktrin yang benar akan menjauhkan kita dari kesombongan dan kemunafikan.

Selain membahas mengenai dosa dan kejatuhan manusia di dalamnya, Paulus juga membahas mengenai jalan keluar dari dosa. Tentu jalan keluar dosa tidak ditemukan dalam diri yang sudah cemar. Paulus yang dahulunya membenci Kristus dan pengikut-Nya, sekarang ia bersaksi bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan orang percaya (Rm. 1:16-17; 3:28-30). Paulus sangat menekankan sekali konsep dibenarkan hanya melalui iman (sola fide). Hal ini cukup menarik karena melihat latar belakang Paulus sebagai seorang Farisi yang sangat menekankan Taurat, yang akhirnya sadar bahwa dirinya sedang menuju kebinasaan dan tidak ada satu pun dari dalam dirinya yang layak.

Kesadaran betapa tidak layaknya diri menjadi hal yang penting untuk kita mengerti Injil. Hal ini jelas tercermin di dalam diri Paulus. Berulang kali di dalam beberapa suratnya, Paulus menyatakan bahwa dirinya adalah orang yang paling berdosa baik di antara para rasul maupun di antara orang berdosa lainnya. Inilah cara pandang Paulus akan diri. Ia menyadari betapa rusak dan berdosanya kehidupannya yang lama. Namun, pengertian inilah yang justru mendorong Paulus menjadi seorang rasul yang begitu giat menginjili. Ia menyadari betapa berharga dan bernilainya Injil, sehingga ia terus memberitakan Injil hingga akhir hidupnya. Ia menyadari bahwa dirinya adalah seorang pendosa besar yang telah menerima anugerah keselamatan Allah yang begitu agung.

Inilah keindahan Injil, menyadarkan betapa rusaknya manusia dan meninggikan Allah Sang Juruselamat. Pendiri agama yang lain mengatakan, “Di sana jalannya,” atau, “Begini jalannya,” tetapi Kristus berkata, “Akulah Jalan.” Paulus sadar betul akan hal itu, dan inilah yang diberitakan kepada jemaat Roma agar mereka tidak mencari-cari keselamatan di dalam Taurat atau diri mereka, tetapi kembali kepada Kristus yang adalah Sang Jalan itu.

Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita? Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? (Rm. 8:33-35)

Andreas C. Hermawan

Pemuda GRII Kertajaya

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk SPIK bagi Generasi Baru dengan tema Roh Kudus VI yang akan diadakan pada tanggal 18 September 2021. Berdoa kiranya setiap kita digerakkan oleh Tuhan untuk membawa banyak orang untuk dapat mengikuti acara ini dan mengerti akan pekerjaan Roh Kudus yang sejati di dalam kehidupan orang percaya. Berdoa kiranya Tuhan menggerakkan hati banyak orang. Berdoa untuk setiap hamba Tuhan yang akan membawakan sesi-sesi dalam SPIK ini, kiranya Roh Kudus mengurapi mereka dan memberikan kuasa kepada mereka untuk memberikan pengertian bagi setiap jemaat dan menguatkan iman serta pengenalan akan karya Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2021 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲