Artikel

The Greatest of These Is Love: Paulus dan Kasih

Prakata

Di saat kita diminta untuk menyebutkan hal-hal paling khas tentang Rasul Paulus, kita akan teringat beberapa hal. Hal pertama mungkin adalah iman, karena di dalam tulisan-tulisannya, kita mendapati pemaparan doktrin pembenaran oleh iman secara paling jelas. Mungkin hal kedua yang kita pikirkan adalah anugerah atau kasih karunia, karena ia banyak menekankan bahwa kita diselamatkan bukan oleh perbuatan baik kita, tetapi karena anugerah Allah semata-mata. Hal lain lagi akan muncul di pikiran kita, seperti semangat penginjilan, pengajaran yang dalam, dan sebagainya.

Namun mungkin kita agak jarang menghubungkan Paulus dengan kasih. Entah mengapa, mungkin karena kita sering sibuk mendalami bagian-bagian lain dari pribadi ini atau mungkin karena kita sudah mengatributkan sebutan “The Apostle of Love” kepada Yohanes dan memanggil Paulus sebagai “The Apostle of Faith” dan Petrus sebagai “The Apostle of Hope”. Kasih sering menjadi hal yang missing dari gambaran kita akan Paulus. 

Padahal, kalau kita cermati tulisan-tulisannya baik-baik, kita mendapati bahwa kasih adalah sebuah hal yang amat penting bagi Rasul Paulus. Tema ini muncul berkali-kali dalam tulisannya, dan kalau kita lupa akan hal itu, kelihatannya kita seperti membaca Paulus dengan sebelah mata yang tertutup. Kita kehilangan gambaran yang utuh akan pesan, theologi, dan pribadi Paulus. 

Artikel ini akan mengulas cara Paulus membicarakan tentang kasih dengan sistematis dan singkat. Struktur pembahasan ini akan mengikuti urutan logis, memulai dari Allah Tritunggal, masuk ke ranah kehidupan manusia, dan berakhir dengan pembahasan akan kehidupan yang akan datang nanti. Jelas, tidak ada ruang untuk pemaparan yang komprehensif. Tetapi, kita berharap tulisan ini akan mendorong kita sekalian menggali kebenaran ini lebih lagi, dan menyatakannya dalam kehidupan kita masing-masing.

The Trinitarian Love of God 

Bagi Paulus, kasih dimulai dalam kekekalan, di dalam kasih antarpribadi Tritunggal. Dibandingkan empat kitab Injil, surat-surat Paulus tidak terlalu mengandung doktrin relasi kasih antarpribadi Tritunggal dengan sangat eksplisit. Tetapi kita menemukan Paulus mengatakan bahwa Allah mengasihi Kristus (Ef. 1:6). Kasih ini sudah ada semenjak kekekalan. Dan menariknya, di samping kasih Allah kepada Anak-Nya ini, kita juga menemukan kasih Allah kepada umat-Nya bahkan sebelum mereka ada.

Kita bisa membayangkan pemilihan ini sebagai pemilihan yang “dingin”. Allah yang tanpa emosi, atau bahkan dengan jahat, memilih sebagian orang untuk diselamatkan dan sebagian orang dibiarkan untuk binasa. Paulus mematahkan semua gambaran salah kita tentang predestinasi. Di dalam kasih, Ia telah memilih kita di dalam Kristus (Ef. 1:4-5). Sebelum dunia dijadikan, Ia telah mengasihi kita. Ia memilih untuk menjadikan kita umat-Nya di dalam Sang Anak yang Ia kasihi (Ef. 1:6). Ia telah mengasihi kita dengan kasih yang sama ini, kasih yang kekal.

Kasih ini pun dinyatakan paling jelas di dalam Yesus, terutama di dalam kematian-Nya (Roma 5:8). Kristus bukan mati bagi orang-orang baik atau benar. Ia mati bagi orang-orang yang adalah musuh-Nya. Karena itulah di dalam salib Allah menyatakan kasih-Nya dengan paling jelas, karena kasih ini dinyatakan kepada mereka yang bertingkah laku kontras atau bertolak belakang dengan kehendak-Nya. 

Mengingat pernyataan kasih terbesar ini, Paulus menyimpulkan bahwa Allah tidak mungkin menahan apa pun yang kita butuhkan (Roma 8:32). Kalau Ia telah memberikan yang paling besar, paling sulit, dan paling mahal ini, tidak mungkin Ia menahan hal lainnya. Kasih-Nya akan memastikan hal itu, baik dalam kecukupan maupun kekurangan. Tidak ada satu pun hal yang dapat memisahkan kita dari kasih ini. Paulus menyebutkan satu per satu hal yang begitu besar dan berkuasa, tetapi semua itu tetap tidak bisa memisahkan kita dari Allah (Roma 8:38-39). Orang percaya tidak akan pernah bisa dipisahkan dari kasih Allah yang besar di dalam Yesus Kristus.

Tetapi Allah bukan hanya menyatakan kasih-Nya dalam Kristus secara objektif. Ia juga menyatakannya secara subjektif. Kita yang “mati dalam dosa” (Ef. 2:1) tidak mungkin dapat berespons kepada pekerjaan objektif-Nya. Tetapi karena kasih-Nya yang besar, Ia pun “menghidupkan kita di dalam Kristus” (Ef. 2:4-5). Ia tidak melakukan itu karena ini adalah sebuah kewajiban. Ia melakukan hal ini karena kasih-Nya yang besar, karena Ia mengasihi kita. Melalui Roh-Nya, Ia mencurahkan kasih ini di dalam hati kita (Roma 5:5). Kita dibangkitkan dari kematian rohani kita dan merasakan kasih Allah itu secara pribadi. 

Kita dapat mengatakan hal yang sama dengan Paulus, bahwa pada salib itu, Yesus Kristus “mengasihiku dan menyerahkan diri-Nya bagiku” (Gal. 2:20). Kalimat yang begitu sederhana tetapi begitu dalam. Di dalam kematian-Nya, Kristus mengasihiku secara personal. Ia mengenal jiwaku yang paling dalam, dan di salib itu Ia memilih untuk mengasihiku. Ia memilih untuk menyerahkan diri-Nya mati bagiku. 

Kita melihat pekerjaan kasih Allah Tritunggal di dalam semua hal ini. Karena kasih-Nya, Bapa memilih kita, menyerahkan Kristus bagi kita, dan membangkitkan kita dari kematian rohani. Kristus mengasihi kita dengan menyerahkan diri-Nya mati bagi kita. Dan Roh Kudus mencurahkan kasih Allah itu ke dalam hati kita. Dengan ini, kita terangkat di dalam arus kasih Allah Tritunggal. Kita diundang masuk untuk menikmati kasih Allah ini. 

The Christ-Centered Love of the Church

Setelah menikmati kasih Allah, kita juga diutus untuk membawa kasih ini ke dalam ranah kehidupan manusia. Orang percaya dipanggil untuk mengasihi sesama mereka. Kasih adalah buah Roh aspek pertama (Gal. 5:22). Selagi seorang Kristen berjalan dalam Roh menurut panggilannya, mereka akan hidup di dalam kasih. Paulus bahkan mengatakan bahwa yang berarti dalam kehidupan Kristen adalah “iman yang bekerja dalam kasih” (Gal. 5:6). Iman percaya orang Kristen bukanlah iman yang diam, tetapi sebuah iman yang bekerja dalam kasih. Mereka dibebaskan dari dosa untuk mengasihi (Gal. 5:13). 

Dalam surat-suratnya, kita tidak terlalu menemukan Paulus membicarakan kasih kita kepada Allah. Ia bahkan mengatakan bahwa hal yang memenuhi hukum Taurat adalah kasih kepada sesama (Roma 13:8-10; Gal. 5:14). Bukan berarti Paulus tidak setuju kepada perkataan Yesus bahwa kasih akan Allah juga tercakup di dalam penggenapan hukum Taurat (Luk. 10:27). Tetapi kita menemukan sebuah penekanan yang agak berbeda dari yang kita dapati dalam theologi Injil sinoptik. Ia memiliki jemaat yang berbeda dari tiga penulis Injil itu dan memiliki cara berkomunikasi yang berbeda juga. 

Lagi pula, bukannya Paulus tidak setuju bahwa kita harus mengasihi Allah. Kasih Paulus kepada Allah adalah sebuah asumsi pokok saat membaca surat-suratnya (2Kor. 5:14-15). Tentu ia juga mau jemaatnya mengikuti teladannya. Ia sampai mengutuk orang-orang yang tidak mengasihi Yesus (1Kor. 16:22)! Tetapi surat-surat Paulus memang biasanya ditulis untuk menyelesaikan masalah antarjemaat. Gereja-gereja dalam surat-surat Paulus terisi penuh dengan perpecahan dan perselisihan. Jemaat di Roma dan Galatia mengalami perpecahan karena perbedaan etnis Yahudi dan Yunani; jemaat di Korintus berselisih karena masalah mereka yang berbeda-beda; dan sebagainya. 

Sebagai jawaban terhadap permasalahan itu, Paulus berkata, “Kasihilah sesamamu, sama seperti Allah telah mengasihimu” (Roma 15:2-3; Ef. 5:1-2). Ia sedang mengatakan bahwa perpecahan ini terjadi karena mereka miskin kasih. Kalau mereka mengasihi, mereka tidak akan “melahap” satu sama lain (Gal. 5:14-15). Kalau mereka mengasihi, mereka tidak akan menonjolkan diri dan tidak memedulikan kepentingan satu sama lain. Kalau mereka mengasihi, mereka akan melakukan semua hal untuk membangun satu sama lain (1Kor. 8:1; Ef. 4:15-16). Kalau mereka mengasihi, mereka akan mengendalikan diri dan tidak bertingkah sebagai batu sandungan bagi orang lain (1Kor. 8:9). Kalau mereka mengasihi, mereka akan terus rendah hati dan berjuang menggapai kesatuan dengan satu sama lain (Ef. 4:1-6; Kol. 3:13-14).

Sekali lagi, semua perintah ini didasari oleh God’s self-sacrificial love—kasih Allah yang penuh pengorbanan. Kasih ini adalah kasih yang Christ-centered, berpusat kepada pernyataan Allah di dalam Kristus. Kasih yang Paulus perintahkan bukanlah sebuah kasih yang abstrak, sebuah ide filosofis belaka. Kasih yang Paulus perintahkan bukanlah sebuah hukum moral belaka. Kasih yang Paulus perintahkan bukanlah perasaan semu belaka. Kasih ini bukan sebuah kasih yang dirusakkan oleh dosa, seperti yang kita temukan dalam dunia ini. Kasih yang Paulus perintahkan adalah sebuah kasih yang didasari pernyataan kasih Allah Tritunggal kepada umat-Nya di dalam kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. 

The Future Triumph of Love 

Tentu saja, pembahasan tentang Paulus dan kasih tidak akan lengkap tanpa membicarakan 1 Korintus 13. Ini adalah pasal yang amat penting bagi keseluruhan Alkitab, dan bukan hanya Paulus. Begitu banyak orang menggunakan ayat ini di dalam pernikahan mereka, meskipun sebenarnya konteksnya bukan mengenai pernikahan. Mudah bagi kita untuk mengkritik mereka, tetapi mari kita jujur: bukankah ini memang sebuah pasal yang teramat agung? 

Tidakkah hati kita tergerak tiap kali kita membacanya? Tidakkah kita terdorong untuk berlutut akan keindahan kasih seperti yang digambarkan, dan juga sadar begitu jauhnya kita dari kasih seperti ini? Inilah hukum dan prinsip yang tertinggi: kasih. Kalau kita cermati pasal ini, kita akan menemukan bahwa Paulus bukan tidak mementingkan pengetahuan, pelayanan, iman, ataupun pengharapan, tetapi semua hal ini tidak seutama kasih. 

Di dalam tulisan mereka tentang 1 Korintus 13, Michael F. Bird dan N. T. Wright mengatakan,

Love matters because it is the central characteristic of the new world, and we get to practise it in advance.”

Kasih begitu penting karena kasih adalah karakteristik terutama dari dunia yang baru itu. Karakteristik utama yang paling menggambarkan langit dan bumi yang akan datang adalah kasih. Dan kita sekarang dipanggil untuk melatih, atau bahkan bisa dikatakan menikmati, keindahan hidup yang akan datang itu di dalam kehidupan yang sekarang ini. 

Jadi saat kita menghidupi kasih seperti ini dalam hidup sekarang ini, kita sedang menghidupi realitas yang sudah didatangkan oleh Yesus Kristus, meskipun belum di dalam kepenuhannya. Bukankah itu salah satu panggilan orang Kristen? Yaitu, untuk menghidupi dan mendatangkan Kerajaan Allah yang sudah ada dan akan datang itu. Sudah pasti bahwa hal ini belum sempurna, tetapi kita diberikan privilege ini, bahwa Allah mau memberikan kita cicipan hidup yang akan datang itu dan bahkan digunakan oleh-Nya untuk membawa aspek-aspek realitas itu melalui kehidupan kita sekarang. 

Pada akhirnya nanti, kita akan bertemu dengan Ia yang terlebih dahulu mengasihi kita. Pada waktu itu, kita sudah disempurnakan. Di dalam salah satu khotbahnya, Vik. Lim Yi Jin pernah mengatakan bahwa tidak cukup bagi kita memiliki Raja yang sempurna. Kristus, Raja itu, menginginkan umat yang sempurna juga. Ia akan menyempurnakan kita, dan pada waktu itu, kita akan bisa memenuhi hukum dengan sempurna dalam kasih kita kepada sesama. Terlebih lagi, kita akan bisa mengasihi-Nya dengan sempurna, seperti yang kita rindukan selama ini. 

Pada sejatinya, pasal ini menyatakan siapa Kristus itu. Kristus itu sabar, Kristus itu murah hati. Kristus adalah semua hal yang dinyatakan oleh pasal ini. Ia tidak bernubuat ataupun mengerjakan semua mujizat-Nya tanpa kasih. Biarlah kita sadar saat membaca pasal ini, bahwa semua hal ini bukanlah sebuah beban yang berat. Semua ini adalah panggilan yang indah, yang sudah pertama-tama dihidupi oleh Kristus, Sang Mempelai kita. Biarlah kita terus memandang kepada Kristus, kepada pribadi dan pekerjaan-Nya. Dan selagi kita merenungkan bagaimana kita sudah dikasihi oleh kasih seperti ini, kita akan menemukan diri kita diubahkan dari satu derajat kemuliaan ke kemuliaan yang lebih besar. 

Penutup

Beberapa tahun lalu, ada sebuah masalah dalam beberapa pemuda-pemudi persekutuan kami. Kami burnout—kami lelah belajar, kami lelah melayani. Kami muak. Pada saat itu, salah satu aktivis senior kami mengingatkan, “Di dalam inner sanctum, hati terdalam orang-orang yang paling besar digunakan oleh Tuhan, kita akan menemukan kasih Allah di dalamnya. Kasih itu mendorong mereka untuk mati-matian bagi Tuhan.” 

Di waktu lain, pada retret gabungan GRII Australia dan Selandia Baru beberapa tahun lalu, Pdt. Billy Kristanto pun membahas 1 Korintus 13 dan memberi self-critique yang tajam dan jitu bagi kami semua. Ia mengatakan bahwa kita begitu sering melupakan kasih. Kita begitu sering mengulas topik-topik seperti iman, pelayanan, pengetahuan, dan sebagainya—tetapi kita lupa bahwa yang tertinggi dari semua hal itu adalah kasih

Ya, biarlah kita tidak pernah melupakan kasih. Jangan sampai kita begitu sibuk melakukan ini dan itu, tetapi kita tidak melakukan semua itu dalam kasih (1Kor. 16:14). Jangan sampai kita melupakan kasih Allah. Tanpa itu, kita akan melakukan semua hal dengan kekuatan yang semu. Seperti yang Pdt. Stephen Tong tuliskan, “Kasih Tuhan mendorong daku memberitakan Injil-Nya.” Kasih yang membakar Paulus adalah kasih yang sama yang telah mengobarkan kuasa dalam hati hamba-hamba Tuhan lainnya sepanjang sejarah. Biarlah tulisan ini mendorong kita untuk terus menggali kasih Allah yang dinyatakan dalam Kristus, baik di dalam tulisan-tulisan Paulus maupun kitab-kitab lainnya. Biarlah kasih ini terus mengisi hati kita. Dan biarlah kasih ini mendorong kita untuk memberikan segala-galanya bagi kemuliaan Allah, dari sekarang dan sampai dunia yang baru itu sepenuhnya datang. 

Jordan Frans

Pemuda GRII Melbourne

Referensi:

1. Barry, J. D. & Wentz, L. (eds.). (2012). The Lexham Bible Dictionary. Bellingham, Lexham Press. 

2. Bird, M. F. & Wright, N. T. (2019). The New Testament In Its World: An Introduction to the History. London, SPCK. 

Jordan Frans Adrian

Maret 2021

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk SPIK bagi Generasi Baru dengan tema Roh Kudus VI yang akan diadakan pada tanggal 18 September 2021. Berdoa kiranya setiap kita digerakkan oleh Tuhan untuk membawa banyak orang untuk dapat mengikuti acara ini dan mengerti akan pekerjaan Roh Kudus yang sejati di dalam kehidupan orang percaya. Berdoa kiranya Tuhan menggerakkan hati banyak orang. Berdoa untuk setiap hamba Tuhan yang akan membawakan sesi-sesi dalam SPIK ini, kiranya Roh Kudus mengurapi mereka dan memberikan kuasa kepada mereka untuk memberikan pengertian bagi setiap jemaat dan menguatkan iman serta pengenalan akan karya Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2021 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲