Wahyu Tuhan Allah dalam Pendulum

Pernahkah Anda mencoba menghubungi artis idola Anda dan mendapatkan pesan langsung dari dia di ponsel Anda? Mendebarkan bukan? Sekarang maukah Anda mendapatkan hal serupa dari Tuhan? Tentu bukan maksud saya bahwa Tuhan akan berbicara secara verbal kepada Anda sekarang atau memberikan SMS ke ponsel Anda. Hal yang saya maksud sebenarnya mirip tetapi tidak sama.

Kitab Ibrani mengatakan bahwa Allah berbicara kepada umat-Nya melalui berbagai cara. Dan dalam zaman akhir ini Ia berbicara melalui Kristus. Saat ini kita juga mengerti bahwa walaupun Kristus sudah tidak ada di samping kita secara fisik, Ia sudah memberikan Roh Kudus kepada kita sesuai janji-Nya. Roh Kudus inilah yang kita percaya sekarang tinggal bersama kita dan berbicara kepada kita melalui Alkitab (wahyu khusus). Artinya, kita seharusnya terbiasa mendengar suara Tuhan melalui pembacaan Alkitab kita dan juga penjelasan firman Tuhan tersebut melalui khotbah-khotbah yang kita dengar dalam kebaktian. Kita mungkin sering merasa tercengang saat mendapatkan suatu momen eksistensial di mana firman atau khotbah tersebut sangat mengena dan kita bergumam, “Kok pas ya?” Selanjutnya, mungkin kita akan berdecak kagum dan memuji Tuhan bahwa Ia telah berkenan berbicara kepada kita dan melawat kita, dan seterusnya.

Namun, pernahkah Anda merasakan hal yang demikian saat melihat alam sekitar Anda? Ciptaan sekitar Anda juga adalah bentuk wahyu Allah yang dinamakan wahyu umum. Alam bercerita tentang Tuhan dan melaluinya kita bisa mengenal Tuhan. John Calvin dalam bukunya Institutes of the Christian Religion mengatakan bahwa pengenalan akan Tuhan pertama-tama ia jabarkan melalui cerita penciptaan. Dia juga mengatakan bahwa orang yang ahli dalam ilmu alam seharusnya mendapatkan pengertian yang lebih dari orang awam saat mengenal Tuhan lewat ciptaan. Sayangnya, sering kali kita berhenti pada tahapan kagum saat melihat gunung yang megah dan kita yang begitu kecil. Kita terpesona dengan lautan yang luas dibanding tubuh kita yang bisa hanyut dibawa ombak. Bahkan saat ini kita jarang kagum jika menengadah ke atas kala malam hari karena bintang di langit Jakarta sudah tertutup polusi cahaya. Manusia pun lupa bentuk langit yang indah itu seperti apa, dan kurang bisa mengerti makna ucapan Tuhan kepada Abraham, “Keturunanmu akan seperti bintang di langit.” Jika janji tersebut diucapkan di bawah langit Kemayoran saat ini, tentu Abraham akan kecewa. 

Mari saya ajak Saudara untuk melakukan sebuah eksperimen bandul/pendulum sederhana yang semoga membuat Anda lebih menghargai wahyu Tuhan dalam alam. Eksperimen ini sering saya ajukan untuk anak-anak SMP di mana tujuannya adalah menentukan percepatan gravitasi (g) yang angkanya cukup terkenal itu, yakni 9,81 m/s2. Dalam eksperimen ini, Anda akan membuat pendulum sederhana dan membiarkannya berayun. Ayunannya akan Anda hitung frekuensinya dan dengan itu Anda akan mendapatkan percepatan gravitasinya.

Alat dan bahan:

  1. Tali atau benang yang cukup panjang ~3 meter
  2. Pemberat, contoh: batu, bola bekel
  3. Stopwatch
  4. Meteran atau penggaris
  5. Selotip, gunting
  6. Palang, contoh: tali melintang untuk menjemur pakaian

Langkah-langkah:

  1. Ikat pemberat pada ujung tali/benang. Pastikan kokoh dan erat.
  2. Lekatkan ujung tali/benang lainnya kepada palang/tiang agar pemberat menggantung seperti bandul.
    1. Dalam hal ini, bisa saja Anda memakai tepi meja sebagai titik melekatkan ujung tali/benang tersebut. Intinya agar si pemberat menggantung bebas membentuk bandul.
    1. Pastikan Anda dapat dengan mudah mengubah panjang dari tali/benang bandul tersebut. Contoh: dengan menggunakan selotip, atau bisa Anda tahan dengan jari.

Eksperimen dimulai:

  1. Ayunkan pemberat pada panjang tali tertentu.
  2. Jangan simpangkan pemberat terlalu jauh. Anda sentuh sedikit saja agar terlihat berayun.
  3. Mulai stopwatch dan hitung ayunan penuh sebanyak 20 kali dan catat berapa detik di stopwatch Anda.
    1. Ayunan penuh dimulai dan diakhiri di titik diam teratas yang sama, i.e. ayunan ke kanan-kiri adalah satu ayunan penuh, ayunan ke depan-belakang adalah ayunan penuh.
  4. Ulangi langkah nomor 3 untuk mendapatkan variasi nilai.
  5. Ubah panjang tali/benang bandul dan ulangi langkah nomor 3 (dan 4).
  6. Ulangi langkah nomor 5 sampai Anda mendapatkan setidaknya 6-10 variasi panjang bandul.

Analisa data dimulai:

  1. Buatlah tabel (di Microsoft Excel) yang berisikan:
    1. Kolom 1 = panjang tali dalam meter
    1. Kolom 2 = lama waktu untuk 20 ayunan penuh (dalam detik)
  2. Buat kolom 3 yang berisikan lama waktu untuk 1 ayunan penuh.
    Cara: isi kolom 3 dengan kolom 2 dibagi 20
  3. Gunakan rumus di bawah ini (tenang, saya akan tuntun analisisnya secara detail, tidak perlu panik dengan rumus)
    g=4π^2 L/T^2
    Cara: buat kolom 4 berisikan demikian
    = 4 x 3.14 x 3.14 x kolom_1 / (kolom_4 x kolom_4)
  4. Jika semua cara sudah tepat, maka kolom 4 akan berisikan kumpulan angka yang harusnya membuat Anda terkagum-kagum (setidaknya menurut saya).

(P.S.: untuk yang lebih advanced, Anda bisa menggunakan regresi linear untuk mendapatkan .)

Mengapa semua angkanya berkisar di angka 9,8? Setidaknya hampir dalam setiap kesempatan memberikan sesi eksperimen ini, anak-anak didik akan merasakan momen “Eureka!” walaupun hal ini bukanlah “rocket science”. Ajaib bukan? Orang lain di bumi, di tempat dan waktu yang berbeda juga dapat melakukan hal yang sama dan mendapatkan angka serupa. Angka pastinya menurut database yang tersedia adalah 9,78144 m/s2 untuk wilayah Jakarta (ref. https://www.wolframalpha.com/input/?i=acceleration+of+gravity+jakarta).

Wahyu Tuhan dalam Pendulum

Pergumulan untuk mengerti keteraturan alam sudah dilakukan sejak peradaban kuno yang kita temukan. Setidaknya manusia mengerti adanya sesuatu yang berulang dan dapat dipastikan, yang dengannya manusia mengerti suatu pertanda waktu. Kejadian 1 menegaskan ulang bahwa benda penerang di langit diciptakan sebagai penanda waktu. Keteraturan alam ini ditelaah lebih lanjut oleh manusia dan menghasilkan apa yang kita sebut sebagai ilmu pengetahuan. Dari sini, kita dapat melihat bahwa apa yang berubah dan berulang bukan hanya musim/waktu, tetapi ada hukum-hukum lain yang bekerja dalam alam ini. Vern S. Poythress mengatakan bahwa ilmu alam (natural law) adalah derivasi dari “The Law” yakni cara Tuhan mengatur alam ini. Apa yang kita temukan hanyalah pendekatan dari apa yang sebenarnya Tuhan lakukan.

Dalam keseharian saya sebagai peneliti, saya sering membayangkan bahwa setiap eksperimen yang saya kerjakan hanyalah seperti seorang anak yang bermain di “workshop” milik bapaknya. Sang bapak sedang bekerja dan si anak ini diperkenankan untuk mengamati, mencoba, bertanya, dan menyimpulkan apa yang dikerjakan oleh sang bapak. Apa yang dilakukan anak ini tidak mengganggu pekerjaan bapak tersebut, bahkan bapak ini berkenan untuk bercerita agar dapat dicatat cerita ini oleh anaknya.

Cerita. Ya, cerita atau perkataan atau dalam bahasa Inggrisnya adalah “the word”, hal inilah yang kita coba untuk terka dan catat dalam bentuk ilmu pengetahuan kita. Ibrani mengatakan bahwa Sang Anak menopang seluruh ciptaan dengan firman-Nya (uphold the world with His word). Jadi, apa yang Anda lakukan saat mengganti panjang tali berkali-kali sampai Anda mungkin lelah sendiri, lalu menganalisis data tersebut dan mendapatkan angka untuk gravitasi, adalah bentuk pertanyaan Anda kepada Tuhan dan Ia menjawab dengan konsisten (tanpa lelah dan terganggu) dengan angka kira-kira 9,8.

Selamat mencoba dan mendapatkan jawaban langsung dari Tuhan!

Sandy Adhitia Ekahana

Pemuda MRII Bern