Ponder

What Is a Name?

“What’s in a name? That which we call a rose, by any other name would smell as sweet.” Demikian keluhan Juliet pada kekasihnya Romeo dalam salah satu drama paling terkenal di dunia, karya sastrawan Inggris, William Shakespeare. Ungkapan Juliet ini telah menjadi kutipan klasik untuk menyatakan bahwa nama tidak sebanding dengan esensinya. Benarkah nama itu tidak penting dibanding apa yang menjadi hakikatnya?

Jika Saudara bertanya kepada mereka yang berkecimpung dalam penjualan dan pemasaran, kemungkinan besar mereka akan menolaknya. Konsultan internasional untuk merek dan logo yang dibayar mahal itu akan kehilangan pekerjaan mereka. Nama itu penting karena memberikan konotasi, asosiasi, serta persepsi. Jadi, sebetulnya nama itu penting, gak sih?

Mari kita menyimak nama-nama yang sama yang saya coba kumpulkan dari Alkitab, namun memiliki kisah yang berbeda. Mungkin ada yang bisa menambahkan nama lain ke daftar berikut ini: Adam, Lamekh, Pinehas, Saul, Hosea, dan Yudas. Sudah pernah mendengar nama mereka semua? Jika pernah, pikiran apa yang muncul? Ungkapan Juliet atau pendapat para penjual?

Keenam nama di atas dapat menimbulkan pertanyaan, “Adam yang mana? Lamekh yang mana? Pinehas yang mana?” dan seterusnya. Ada Adam pertama, ada Adam kedua. Ada Lamekh keturunan Kain, ada Lamekh ayahnya Nuh. Ada Pinehas, anak imam Eleazar, yang berapi-api mengindahkan hukum Allah pada peristiwa Baal-Peor, namun ada juga Pinehas, anak imam Eli, seorang dursila yang menghina hukum Allah. Ada Raja Saul yang awalnya mengikut Tuhan, tetapi kemudian tidak lagi menaati-Nya. Sebaliknya ada Saul(us) yang awalnya menganiaya pengikut Tuhan, tetapi kemudian menjadi pengabar Injil yang sangat giat. Ada Hosea, raja terakhir Israel yang melakukan yang jahat, dan ada Hosea nabi yang dipakai Tuhan menyatakan kasih-Nya yang ajaib. Terakhir, ada Yudas (Iskariot) yang menjual Tuhan Yesus, tetapi ada Yudas, saudara Tuhan Yesus yang menjadi rasul dan menulis Surat Yudas. Jadi, nama itu penting atau tidak, sih, sebenarnya? Dari gambaran di atas, mestinya kita dapat menarik sebuah kesimpulan umum tentang nama.

Bagaimana dengan nama Tuhan? Tuhan adalah Pribadi yang sepenuhnya berbeda dengan kita, sedangkan kita adalah ciptaan yang dijadikan serupa dan segambar dengan-Nya. Kita semua tahu bahwa nama Tuhan tidak dapat dilepaskan dari natur Allah itu sendiri, berbeda dengan manusia yang sudah jatuh dalam dosa, yang namanya bisa tidak sejalan dengan apa yang diharapkan. Lalu mengapa penulis Amsal dan Pengkhotbah masih menyerukan untuk memiliki nama yang baik? Mari kita renungkan bersama.

Vik. Maya Sianturi Huang

Wakil Koordinator Bidang Pendidikan Sekolah Kristen Calvin

Ev. Maya Sianturi

Maret 2022

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Unduh PDF
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk kondisi pandemi COVID-19 yang sudah makin melandai. Berdoa kiranya setiap orang Kristen mengambil kesempatan untuk dapat memberitakan Injil dan membawa jiwa-jiwa kepada Kristus terutama di dalam momen Jumat Agung dan Paskah di bulan ini. Bersyukur untuk ibadah fisik yang sudah dilaksanakan oleh banyak gereja dan bersyukur untuk kesempatan beribadah, bersekutu, dan saling menguatkan di dalam kehadiran fisik dari setiap jemaat.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Bagus

Selengkapnya...

senang dengan penjelasan yang di atas dan memberkati. yang pada intinya pacaran dalam kekristenan adalah berfokus...

Selengkapnya...

Maaf u 99 domba itu Tuhan Yesus tidak mengatakan mereka tidak hilang., melainkan tidak memerlukan pertobatan yang...

Selengkapnya...

terimakasih, bagi saya sangat memberkati karena orang percaya hidup dalam peperangan rohani. karena itu Allah terus...

Selengkapnya...

Bagaimana jika Saat di Rafidim. bgs Israel tidak bersungut-sungut. Melainkan sabar dan kehausan tsb apakah mungkin...

Selengkapnya...

© 2010, 2022 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲