Inkonsistensi yang Konsisten

Firman Tuhan seperti cermin, demikian kata Rasul Yakobus. Kali ini, saya ingin mengajak pembaca untuk bercermin pada kisah Raja Yosafat. Kisah raja ini dapat ditemukan di dalam 2 Tawarikh 17-20. Yuk, kita berjalan melalui pasal demi pasal.

Di pasal 17, kita dibuat terkesan dengan Yosafat dan apa yang dikerjakannya. Ia mengutus para pembesarnya, beserta orang Lewi dan beberapa imam mengelilingi semua kota di Yehuda untuk memberikan pengajaran theologi kepada rakyat. Luar biasa, bukan? Yosafat menyadari pentingnya pengajaran firman Tuhan bagi umat Allah. Apa yang dikerjakan Yosafat ternyata mengakibatkan satu hal yang juga sangat penting baginya dan Kerajaan Yehuda. Disebutkan bahwa ketakutan yang dari Tuhan melanda semua kerajaan di sekeliling Yehuda, sehingga mereka tidak berani mengangkat senjata melawan Yosafat. Keren, bukan?

Bagaimana cara seorang raja melindungi kerajaannya dari serangan kerajaan lain? Dengan mengajarkan firman Tuhan kepada rakyatnya! Lo, kok begitu? Silakan Saudara menemukan kaitannya. Oke, kita lanjutkan. 

Tentu kita berharap bahwa di pasal 18 kita akan melihat hal yang lebih baik lagi, bukan? Bukan! Karena manusia berdosa sulit untuk konsisten! Bahkan bagi seorang raja dari umat Allah. Pasal 18 menyuguhkan hal yang berbeda. Yosafat tidak hanya menjadi besan Raja Ahab, bahkan bersekutu dengan Ahab untuk maju berperang bersama. Ironisnya, sebelum berperang, ia mengajak Ahab untuk menanyakan firman Tuhan terlebih dahulu. Hmm, rasanya seperti sebuah formalitas! Oh, ya? Cobalah membaca pasal 18 untuk mendapatkan kepastiannya.

Lanjut ke pasal 19, Yehu bin Hanani diutus Tuhan untuk menegur Yosafat sebelum Tuhan menjatuhkan penghakimannya. Menarik untuk disimak respons Yosafat. Alih-alih merendahkan diri, ia mengunjungi daerah-daerah Yehuda dan menyuruh rakyat berbalik kepada Tuhan. Lalu, apakah Tuhan menarik penghakimannya karena hal itu? Ternyata tidak, karena di pasal 20 ditulis bahwa Tuhan membangkitkan musuh-musuh yang selama ini bergeming, tak berani menghadapinya. Lalu bagaimana sikap Yosafat? Seperti reaksinya di pasal 18:21, di sini juga respons Yosafat masih tetap sama. Ia takut dan mencari Tuhan! Sebagaimana Tuhan menolongnya ketika hampir terbunuh di medan peperangan, Tuhan juga mengulurkan tangan kepada Yosafat, bahkan berperang baginya dan Yehuda. Tuhan yang menjatuhkan penghakiman, menjadi Tuhan yang menanggung penghakiman tersebut. Hal ini mestinya mengingatkan kita akan Injil.

Apakah kisah Yosafat kemudian ditutup dengan indah seperti di atas? Tidak juga. Ia kembali mengulang kesalahan yang sama, bersekutu dengan Ahazia, raja Israel, anak Ahab. Atas hal ini, Tuhan mengutus Eliezer bin Dodawa untuk menyatakan bahwa Tuhan akan merobohkan pekerjaannya. Setelah itu baru kisah Yosafat ditutup.

Mari kita bercermin pada kisah di atas. Kita mendapati inkonsistensi Yosafat, namun di sisi lain kita menjumpai konsistensi Tuhan. Bagaimana kita melihat kedua hal ini? Bagaimana kita bercermin dari kedua hal ini di dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen, pengikut Kristus? 

Vik. Maya Sianturi Huang

Wakil Koordinator Bidang Pendidikan Sekolah Kristen Calvin