Kekuatan Karakter #2

Identitas di depan Tuhan

Pada edisi sebelumnya, kita sudah membahas mengenai kekuatan karakter sebagai identitas
di hadapan Tuhan dari kisah 1001 malam, yaitu Aladin. Kita akan melanjutkan pembahasan
mengenai Aladin.

Tetapi sebelum itu, mari kita sedikit me-review artikel-artikel yang sudah dibahas
selama ini. Kita sudah mempelajari mengenai syarat pemimpin yang berkenan di hati Tuhan,
yaitu pemimpin yang memiliki “Kebenaran, Keberanian, dan Kesetiaan”.
– www.buletinpillar.org/renungan/keberanian (Lion King)
– www.buletinpillar.org/renungan/kesetiaan – Setia dan Benar
– www.buletinpillar.org/renungan/kelemahlembutan-1 (Beauty and the Beast)
– www.buletinpillar.org/renungan/kelemahlembutan-ii (Beauty and the Beast)
– www.buletinpillar.org/renungan/kelemahlembutan-iii (Beauty and the Beast)
– www.buletinpillar.org/renungan/kasih-setia-mengalirkan-kepercayaan-dan-shalom-1
(Zootopia)
– www.buletinpillar.org/renungan/kasih-setia-mengalirkan-kepercayaan-dan-shalom-2
(Zootopia)
– www.buletinpillar.org/renungan/kekuatan-karakter-1 (Aladdin)

Di edisi sebelumnya, kita membaca mengenai Aladin adalah “a diamond in a rough”.
Demikianlah di dalam Alkitab, kita menyadari bahwa setiap orang Kristen memiliki
perjalanan imannya masing-masing. Iman seseorang selama mengikuti Tuhan di dunia ini
diperhadapkan dengan pertandingan yang harus terus diuji oleh api, sama seperti intan yang
harus terus diasah, dan akhirnya iman tersebut akan terbukti murni, yang lebih berharga dari
emas, perak, dan permata. Sedangkan, intan adalah permata yang paling keras, dan intan yang
sudah sempurna selesai diasah adalah berlian. Karena itu, berlian sangatlah mahal harganya.
Demikianlah iman kita yang telah ditebus dengan darah yang teramat mahal, bahkan lebih
mahal dari emas, perak, permata, dan berlian sekalipun.

Kisah Aladin ini mirip dengan kisah perjalanan hidup Yakub. Yakub sesudah bertobat dan
merupakan seorang pemuda yang baik, cerdik, cerdas, tangkas, dan pekerja keras, tetapi
memiliki kelemahan romansa. Tuhan menunjukkan kasih-Nya kepada Yakub justru dengan
melalui disiplin dan kesulitan. Banyak orang ingin menjadi pahlawan. Walaupun berkorban
itu bagus, tetapi berkorban untuk siapa dan untuk apa? Berkorban utk perempuan? Bukan,
tetapi berkorban untuk Kerajaan Allah. Perempuan suka pangeran tampan yang berkorban
untuk dia, tetapi lebih penting dari itu, kita seharusnya mencari dan mendahulukan Kerajaan
Allah. Di tengah-tengah itu semua, Tuhanlah yang penuh belas kasihan merajut kehidupan
Yakub yang justru menjadi bapa bagi bangsa Israel yang mewakili hadirnya Kerajaan Allah
di muka bumi. Tuhanlah yang merancang ini semua dan menerima kemuliaan tertinggi oleh
hikmat-Nya yang tak terselami. Oh betapa dalamnya hikmat Tuhan.

Kiranya Tuhan menguatkan setiap kita untuk tetap beriman murni dan kuat seperti batu mulia
yang diuji oleh Tuhan sendiri sehingga siap dipakai di dalam Kerajaan-Nya. Kiranya
kemuliaan hanya bagi Allah Tritunggal!