Kekuatan Karakter: Identitas di depan Tuhan #1

Peristiwa terjangkitnya COVID-19 terhadap cukup banyak pangeran Arab di dalam keluarga
kerajaan cukup membuat kita heran pada pertengahan tahun 2020. Istana di negara atau
kerajaan mana pun pasti memiliki protokol yang sangat ketat agar keluarga kerajaan tersebut
dapat terlindungi dengan aman. Tetapi virus SARS-CoV-2 yang sangat kecil dan mikroskopis
ini tanpa pandang bulu dan dengan mudah dapat memasuki bahkan sampai menjangkau
keluarga kerajaan sekalipun. Ngomong-ngomong soal pangeran Arab, ada kisah moral yang
agung dari tanah Arab yang boleh kita pelajari yaitu kisah Aladin dari 1001 Malam. Kisah
1001 Malam muncul di dalam zaman keemasan Islam di abad pertengahan dan karena Islam
memiliki Kitab Suci yang mirip dengan Kristen (Torah, Zabur, Injil) kecuali Quran, maka
tidak ada salahnya kita mempelajari kebudayaan Islam yang luhur dan agung dan yang
tentunya juga sebenarnya berasal dari tradisi Kristen.Tetapi sebelum itu, mari kita sedikit
me-review artikel-artikel yang sudah dibahas selama ini.

Kita sudah mempelajari mengenai syarat pemimpin yang berkenan di hati Tuhan, yaitu
pemimpin yang memiliki “Kebenaran, Keberanian, dan Kesetiaan”.
– www.buletinpillar.org/renungan/keberanian (Lion King)
– www.buletinpillar.org/renungan/kesetiaan – Setia dan Benar
– www.buletinpillar.org/renungan/kelemahlembutan-1 (Beauty and the Beast)
– www.buletinpillar.org/renungan/kelemahlembutan-ii (Beauty and the Beast)
– www.buletinpillar.org/renungan/kelemahlembutan-iii (Beauty and the Beast)
– www.buletinpillar.org/renungan/kasih-setia-mengalirkan-kepercayaan-dan-shalom-1
(Zootopia)
– www.buletinpillar.org/renungan/kasih-setia-mengalirkan-kepercayaan-dan-shalom-2
(Zootopia)

Sesudah itu kita mempelajari karakter kelemahlembutan dan kasih yang mengubahkan
sebagai sisi lain dari berani, benar, dan setia di dalam kehidupan perempuan. Kita juga sudah
melihat bagaimana karakter berani, benar, dan setia ini mewujudkan masyarakat yang sesuai
dengan firman Kerajaan Allah. Raja Yesus di sorga akan memberikan damai sejahtera kepada
masyarakat ketika setiap keluarga, dan para pemimpin, menyatakan karakter Kristus. Laki-
laki dan perempuan pada tempatnya masing-masing. Hal ini terlihat bagaimana kasih setia itu
dijalankan di dalam warga negara kerajaan Allah yang membentuk masyarakat yang ada
shalom (damai, kepenuhan, adil, makmur–gemah ripah loh jinawi).

Karakter seorang pemimpin adalah berani, benar, dan setia. Benar itu mengandung hikmat,
Berani itu untuk melindungi bukan untuk kasar. Setia itu dipimpin oleh firman. Sedangkan
firman itu membentuk karakter. Maka, di dalam edisi selanjutnya dalam rangkaian artikel ini,
kita akan belajar dari kisah Aladin, seorang pemimpin masa depan yang karakternya sedang
dibentuk oleh pengalaman dan sejarah.

Aladin adalah seorang yang tumbuh di jalanan Agrabah, Aladin mau tidak mau harus menjadi
street smart agar bisa bertahan hidup, seorang pemuda yang cerdik di tengah jalan
yang penuh bahaya mengintai. Aladin digambarkan sebagai seorang yang cerdik, cerdas, dan
tangkas, cepat sekali dalam bereaksi dan berencana, dan yang terutama Aladin memiliki
karakter yang penuh kepedulian. Jiwanya penuh sayang kepada orang lain dan mau ingin
selalu menjadi pelindung. Mungkin ini terjadi karena latar belakangnya yang keras dan sulit.
Di dalam kehidupannya, dia bertemu dengan putri Jasmine dan dia ingin melindungi putri
Jasmine dari kudeta yang dilakukan kepada kerajaan ayahnya. Atas pertolongan jin dalam
lampu yang dapat mengabulkan tiga keinginannya, dia berhasil melewati petualangan
perjalanan kehidupannya sampai akhirnya menjadi pahlawan yang menyelamatkan kerajaan
tersebut dan bahkan menjadi pangeran yang menikahi putri Jasmine. Di tengah-tengah
pergulatan cerita, ada satu waktu Aladin menjadi insecure dan takut kehilangan Jasmine
sehingga dia sempat mengkhianati jin sahabatnya. Karakter dari Aladin yang agung dan patut
menjadi contoh ini memiliki kelemahan yang tipikal dimiliki para pemuda yaitu: romansa dan
menjadi insecure apabila ditinggalkan oleh orang yang dikasihinya. Jadi, bagaimana
kita menyadari bahwa kekuatan dan kekayaan yang tidak terbatas itu datangnya dari dalam, dan
di tengah-tengah insecure itu di mana seseorang mudah untuk kehilangan identitas, maka
yang paling tepat adalah menjadi seseorang dengan identitas di hadapan Tuhan. Karena sama
seperti Aladin, di dalam perjalanan kehidupan kita, kita adalah a diamond in the rough
atau intan yang belum diasah menjadi berlian. Di dalam kisah asli dari Aladin, pada akhir dari
ceritanya dia kehilangan jinnya dan menemukan bahwa identitas yang sejati itu adalah
karakter yang terbentuk dan terbangun, bukannya kekayaan.

Kiranya Tuhan menguatkan kita semua untuk bertumbuh di dalam identitas kita di hadapan
Tuhan. Amin.