Organized

Saya suka dengan istilah bahasa Inggris di atas, sekaligus menyukai kenyataannya. Tetapi, benarkah being organized adalah seperti yang dipahami orang umumnya: teratur, rapi, dan efisien? 

Meski istilah di atas saya sukai, terus terang, topik organisasi kurang menarik perhatian saya sebelumnya. Rasanya kurang penting, padahal ini adalah bentuk kata benda dari organized atau terorganisasi. Hanya baru-baru ini muncul ketertarikan pada istilah organisasi saat saya mengajarkan tentang dimulainya era menuju Kebangkitan Nasional dalam pelajaran Sejarah Indonesia. Apa itu organisasi? Apa pentingnya organisasi? Mengapa kemunculan organisasi mendorong pada lahirnya Kebangkitan Nasional? Pemikiran ini mendorong saya memikirkan apa artinya terorganisasi menurut pemikiran seorang Kristen.

Di dalam Alkitab bahasa Indonesia, kita tidak menjumpai istilah terorganisasi, tetapi istilah tertib. Dalam Alkitab bahasa Inggris, istilah organized beberapa kali disebut dalam 1 Tawarikh yang dikaitkan dengan pembagian kerja, yang tentunya berujung pada ketertiban. Tertib! Apa sih tertib itu? Paling tidak ada tujuh ayat di Perjanjian Baru yang memakai istilah hidup tertib. Istilah tertib ini disandingkan dengan keteraturan, sibuk bekerja (bukan sibuk tidak menentu), tidak bermalas-malasan, penatalayanan, pengendalian diri, dan tidak melanggar aturan alias taat aturan. Menarik, bukan? 

Biasanya ketika kita mendengar kata “tertib”, yang melintas di benak kita adalah sebuah keadaan yang teratur dan tenang. Orang-orang yang mengantre di depan kasir, di pintu keluar parkiran, di lampu merah, suasana ujian, suasana khusyuk saat ibadah, dan lain sebagainya. Apakah itu yang dimaksudkan dengan tertib? 

Jika kita menelaah lebih jauh, contoh-contoh di atas hanyalah salah satu gambaran dari tertib. Alkitab lebih kaya dan limpah dalam menjelaskan konsep ini. Tertib sesungguhnya dimulai dari dalam jiwa, bukan sekadar kondisi kasat mata. Tertib dimulai dari jiwa raga yang secara teratur menjumpai Sang Pencipta dan Gembala jiwa. Tidak dimulai dari jiwa yang sibuk berkelana memikirkan banyak hal yang harus dikerjakan hari itu dan mulai menyusun agenda. Bukan berarti menyusun agenda tidak perlu, tetapi titik mulai tertib tidak dari situ. Titik berangkatnya adalah dari jiwa yang menemukan shalom setiap hari dari persekutuan dengan Sang Raja. Bukan hanya saat teduh, tetapi bersekutu. Membebaskan waktu untuk meminta petunjuk-Nya hari itu. Ajaibnya, saat kita menghamburkan waktu untuk-Nya, Dia justru mencukupkan waktu kita untuk mengerjakan apa yang perlu dilakukan hari itu. Seperti halnya, saat kita merelakan lebih banyak uang kita untuk pekerjaan-Nya, semua justru menjadi cukup. 

Di atas disinggung bahwa istilah tertib terkait dengan banyak dimensi kehidupan. Saat kita mulai dengan Tuhan, Ia memberikan keteraturan. Saat kita mulai dengan Tuhan, Ia memberi kekuatan menyelesaikan pekerjaan. Saat kita mulai dengan Tuhan, Ia memberi sukacita dan terhindar dari kebosanan. Saat kita mulai dengan Tuhan, apa yang kita lakukan bukan kesia-siaan tetapi penatalayanan. Saat kita mulai dengan Tuhan, tantangan dan kesulitan dapat diredam dengan penyerahan diri. Saat kita mulai dengan Tuhan, kita belajar untuk tidak melanggar bahkan berusaha menaati aturan. Saat kita mulai dengan Tuhan, ada damai sejahtera alias shalom yang menjadi naungan. Saya rasa inilah gambaran dari hidup yang tertib, being organized, dimulai dan ditutup dengan shalom, sebagaimana rencana-Nya.

Apakah hari ini kita sudah mulai dengan Tuhan? Bagaimana dengan hari-hari selanjutnya? Soli Deo gloria.

Vik. Maya Sianturi Huang

Wakil Koordinator Bidang Pendidikan Sekolah Kristen Calvin