Seni Perang Paulus (III): Perisai Iman

Ketika menyaksikan sebuah adegan perang di zaman kuno, ketika senapan dan meriam belum
ditemukan, saya sering kagum melihat keberanian pasukan yang berlari menerjang ke barisan
musuh. Ketika pasukan lawan seperti semut berlari menyerang, pihak yang lain memajukan para
pemanah mereka. Ribuan panah dilepaskan dengan sudut diagonal yang tepat dengan mengukur
kecepatan angin dan kecepatan lari pasukan musuh, dan hujan panah pun turun tepat pada posisi
barisan depan musuh. Yang mengagumkan saya lebih daripada keakuratan para pemanah adalah:
Mengapa para penyerang itu nekat maju padahal mereka tahu hujan panah menunggu mereka?

Salah satu jawaban yang paling penting tentu adalah iman dan harapan untuk menang. Minggu
lalu, kita sudah merenungkan pola serangan pasukan Kristus terhadap musuh Kristus, yaitu dengan
gerakan pemberitaan Injil. Namun, kita harus menyadari bahwa ketika kita melakukan gerakan
serangan ini, setan-setan mengarahkan panah api mereka, dan kita tidak perlu meragukan keahlian
dan akurasi para pemanah mereka. Jika tidak berhati-hati maka banyak orang Kristen dapat jatuh
dalam hujan panah api itu.

Serangan seperti apakah panah api si jahat itu? Panah api membuat kita putus asa dalam kehidupan
Kristen kita. Ia begitu menakutkan dan menciutkan kita. Dalam jerih lelah kita, sering kali, kita putus
pengharapan terhadap pimpinan Tuhan. Kita takut melangkah karena seolah-olah Tuhan tidak lagi
menyertai kita. Pandangan kita kepada Tuhan terhalang oleh rapatnya panah api di angkasa yang
sedang mengarah kepada kita.

Pernahkah Anda kehilangan keberanian ketika sebuah pelayanan membutuhkan langkah iman?
Ikutilah nasihat Paulus: “dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu
kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat” (Ef. 6:16).