Theologi Salib Luther

Setiap tahun di bulan Oktober kita merayakan Hari Reformasi yang terjadi ketika Luther
memakukan 95 thesisnya di pintu Schlosskirche di Wittenberg. Luther menegaskan bahwa
manusia dibenarkan hanya melalui iman di dalam Yesus Kristus semata. Apa yang ia lakukan
pada 31 Oktober 1517 di Wittenberg ini telah memulai pantikan api pertama. Namun hal
yang benar-benar mengibaskan api Reformasi dengan besarnya dan membawa dampak yang
jauh-jauh adalah ketika ia mempresentasikan pandangannya di kota Heidelberg pada April
1518, yang sekarang kita kenal sebagai Heidelberg Disputation.

Di situlah Luther pertama kali menyodorkan perbedaan antara theologi kemuliaan (theology
of glory
) dan theologi salib (theology of the cross). Tentu banyak sekali perbedaan
dari keduanya, namun perbedaan yang paling fundamental dari keduanya adalah perbedaan cara
pandang dalam bertolak untuk mengenal Tuhan. Theologi kemuliaan berangkat dari rasio
sebagai penentu dan theologi salib berangkat dari apa yg Tuhan bukakan di dalam wahyu-
Nya, yang terfokus dalam diri Yesus Kristus yg tergantung di salib. Theologi salib (theologia
crucis
) tampaknya lemah, tidak berdaya, dan bahkan bodoh bagi mereka yang tidak percaya
kepada Injil. Tetapi justru di sinilah kita dapat menemukan dan mengenal Tuhan: dalam
kelemahan dan penderitaan, Tuhan yang menyatakan diri-Nya (Deus revelatus).

Di artikel singkat ini, kita hanya akan membahas satu implikasi penting dari theologi salib
Luther yaitu bagi Luther, salib bukan hanya tentang bagaimana Tuhan mengampuni dosa
kita, tetapi juga tentang  wahyu yang mendalam akan siapa Allah itu dan bagaimana Dia
bertindak terhadap ciptaan-Nya. Atau dalam bahasa sehari-hari, salib itu bukan hanya tempat
kita mendapatkan obat penangkal racun, namun juga kacamata untuk melihat segala sesuatu. 

Luther menuntut agar seluruh kosa kata theologis direvisi dalam terang salib. Ketika kita
membaca kata “kuasa” (power), theologi kemuliaan menafsirkannya sebagai apa yang biasa
dunia mengerti sebagai kuasa: suatu hal yang kita miliki membuat orang lain takluk kepada
kita. Kalau begitu, kuasa ilahi akan dimengerti sebagai amplifikasi maksimum dari kuasa
duniawi, misalkan tokoh paling kuat yang terpikirkan oleh si Bambang adalah Thanos, maka
menurut Bambang kekuatan ilahi itu bagaikan 1.000 kali lebih besar dari kekuatan Thanos.
Tuhan Mahabijaksana dimegerti sebagai 1.000 kali lebih bijaksana dari Salomo, Kongming,
Confucius, dan Albert Einstein yang dikombinasikan. 

Theologi salib sebaliknya melihat kuasa ilahi dinyatakan dalam kelemahan salib, karena itu
adalah kekalahan Yesus yang nyata di tangan kuasa jahat dan penguasa duniawi yang korup
sehingga Yesus menunjukkan kuasa ilahi-Nya dalam penaklukan kematian dan dari semua
kuasa jahat. Theologi salib melihat bijaksana ilahi sebagai Sang Juruselamat mati di tangan
manusia ciptaan-Nya yang mengolok-olok, “kalau engkau juruselamat, selamatkanlah dirimu
dan kami juga!”  Sebuah kebodohan melihat juruselamat yang tak mampu menyelamatkan
dirinya sendiri. Theologi salib mengajarkan jalan salib mutlak ditempuh sebelum seseorang
berjalan di dalam jalan kemuliaan. Bambang harus melewati jumat kelam nan putus asa
sebelum ia bersorak-sorai dalam minggu kebangkitan.

Biarlah kacamata salib ini menjadi hadiah dari Luther bagi kita di zaman yang maunya semua
serba instan termasuk kesuksesan instan, kesembuhan instan, cara mengenal Tuhan secara
instan dan tanpa jalan salib. Saatnya ganti kacamata Bang!