Wanita Berharga di Mata Tuhan #2

Tidak ada Tembok Pemisah

Pada edisi sebelumnya, kita sudah membahas mengenai cerita Rapunzel, dari dia
dimanfaatkan sampai akhirnya karakternya terbentuk dan dia dapat bebas, lepas dari penyihir
jahat, dan menjadi berkat bagi orang sekitarnya dengan menyembuhkan orang dengan
rambutnya. Kita juga telah membandingkannya dengan Simson, dan pada edisi kali ini, kita
akan melanjutkan pembahasannya.

Rapunzel adalah seorang perempuan yang mengalami kurungan seperti seorang tahanan
rumah selama belasan tahun. Rapunzel hidup di dalam suatu tembok tinggi menjulang dan
dia ada di atas tembok tinggi menjulang itu, dia berada di dalam menara. Dia tidak pernah
punya sahabat, dia tidak pernah merasakan makan di warteg atau kaki lima, makan di pasar
malam atau pergi ke pinggir pantai. Dan tentu saja dia juga tidak pernah merasakan kebaikan
dan kelemahan orang tua, dia tidak pernah makan di restoran, atau jajan di pinggir jalan.

Rapunzel pada akhirnya bisa keluar dari tembok pemisah tersebut karena rambutnya sudah
menjadi sangat panjang ketika dia dewasa dan rambut tersebut digunakannya sebagai
pegangan untuk turun dari menara itu. Dia, seorang keturunan raja, juga adalah seorang yang
baik, penuh kasih, peduli, penuh ketetapan hati, jiwanya bebas, dan sebagainya. Tidak sedikit
pun dia dipengaruhi oleh karakter penyihir jahat yang keji dan menjijikkan. Dia justru penuh
kasih menjadi berkat dan menyembuhkan orang dengan rambutnya.

Rapunzel akhirnya dapat menggunakan seluruh talenta dan potensi karunia yang Tuhan
berikan untuk menjadi berkat. Sudah tidak ada lagi tembok pemisah antara dia dan rakyatnya
dan bahkan dia dapat melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh laki-laki. Kita sudah
membandingkan pada edisi sebelumnya dengan Simson, seorang laki-laki yang dipakai oleh
Tuhan, sejak di dalam kandungan ibunya sudah menjadi nazir Allah, dan ada rencana yang
indah atas hidupnya. Kekuatannya yang seharusnya dipakai untuk menyelamatkan banyak
orang akhirnya justru dipakai untuk keegoisan dan hawa nafsu sendiri. Hal yang sangat
menyedihkan. Rambutnya pun akhirnya dihabisi dan kepalanya digunduli bukan karena
menjadi nazir seperti Rasul Paulus, tetapi justru kenaziran Allah hilang atas dirinya.
Penyertaan Roh Kudus hilang atas dirinya karena dia menganggap remeh firman Tuhan.

Demikianlah kita melihat, di dalam Efesus dikatakan, tidak ada lagi budak atau orang
merdeka, skit atau barbar, dan demikianlah tidak ada lagi perbedaan laki-laki dan perempuan
di dalam hal ini. Semua dapat bernubuat, dipakai oleh Tuhan, dipenuhi Roh Kudus. Semua
dapat dipakai Tuhan sesuai kerelaan kehendak-Nya.

Jika dahulu perempuan itu pekerjaannya di dapur dan laki-laki itu hanya singapur (alias
singgah di dapur, sekali-kali ke dapur), maka perempuan yang mendapatkan penyertaan Roh
Kudus di dalam cara natural atau supernatural seperti hikmat, pengertian, pengetahuan, dan
sebagainya, dapat juga dipakai oleh Tuhan di dalam masyarakat. Tidak ada lagi tembok
pemisah antara laki-laki dan perempuan di mana perempuan itu selalu salah dan laki-laki itu
selalu betul. Bukankah Maria yang sederhana itu, yang pada zaman itu ketika beribadah harus
berada di belakang laki-laki dan dekat pintu masuk Bait Allah dan tidak bisa mendekat ke
dalam Bait Allah, justru didatangi oleh malaikat Gabriel dari sorga secara langsung?

Siapakah yang diingat oleh sejarah dan umat manusia? Yang tahu nama Charlegmane,
Napoleon, atau Hitler itu lebih sedikit jumlah orangnya di sepanjang zaman daripada yang
kenal Maria, ibu Yesus.

Jika di artikel sebelumnya kita belajar menghargai gerakan-gerakan pemberdayaan
perempuan, mengusahakan kesetaraan di dalam hak pernikahan, hak pendidikan, hak properti
atau milik, sampai akhirnya hak voting. Di sini kita belajar bahkan laki-laki dan
perempuan itu memiliki derajat yang sama di mata Tuhan. Perempuan bahkan mendapatkan hak-hak
di dalam masyarakat termasuk dunia pekerjaan walaupun tidak setara benar-benar sama karena
ada perbedaan tanggung jawab, dan tentu saja perbedaan ordo harus tetap diperhatikan,
terpujilah nama Tuhan. Kiranya kita semua makin menghargai perempuan yang berharga di
mata Tuhan.

[1] Kredit diberikan kepada Suryanti Y. A. Simanullang, mahasiswi STTRII, di dalam diskusi kurang lebih 10
tahun yang lalu mengenai feminisme.
[2] First wave feminism ditandai dengan right for equal contract, marriage, parenting, property
rights, right to vote. Second wave feminism
ditandai dengan cultural and political inequalities,
ending gender inequalities, liberation movement, legal and social equality
. Di dalam theologi Reformed
sekalipun, ada golongan yang menekankan egalitarian di dalam gender, ada yang menekankan complementarian.
Tetapi itu bukan porsi pembahasan di sini. Third wave feminism ditandai dengan rebellion. Fourth
wave feminism
ditandai dengan usaha social justice women for women. Tetapi third and fourth
wave
bukan porsi pembahasan di sini.