Transkrip

Iman, Pengharapan, dan Kasih (Bagian 16): Doktrin Iman

Iman adalah hal yang sangat unik, khususnya dalam agama Kristen, karena Alkitab berkata, “Tanpa iman, tidak ada orang yang diperkenan Allah.” Manusia beriman dan menjadi orang yang diperkenan Tuhan. Iman tidak berarti kita menyatakan jasa keyakinan kita dan cukup syarat sehingga Tuhan harus terima. Justru iman membuktikan dan mengaku bahwa kita tidak berjasa, tidak layak, tidak berharga, dan tidak bersyarat, kemudian datang kepada Tuhan, bersandar kepada-Nya, dan menerima jasa Yesus menjadi sumber iman kita. 

Dalam iman, ada begitu banyak hal yang perlu kita ketahui. Alkitab berkata, “Aku tahu siapa yang aku percaya,” artinya kita beriman kepada Tuhan melalui satu inti sari dan inti sari tersebut adalah Kristus. Tanpa Kristus, tidak ada yang dapat membawa kita kepada Tuhan. Hanya melalui Kristus dan jasa-Nya kita diterima dan boleh datang kepada Tuhan. Yesus membawa kita kembali kepada Allah, membawa anugerah Allah dari sorga kepada kita, menjadi jembatan dan penengah, menjadi pengantara antara manusia
dan Allah, antara Allah dan manusia. Karena Kristus adalah pengantaranya, maka tidak ada orang yang dapat memutuskan hubungan manusia dan Allah. 

Banyak orang yang berdoa tetapi doanya tidak didengar oleh Tuhan karena tiga sebab. Pertama, ada dosa yang menghambat di tengah-tengah orang tersebut dan Tuhan. Alkitab berkata bahwa barang siapa yang mementingkan dosa, doanya tidak didengar Tuhan. Jika engkau mementingkan dosa dan tidak mementingkan Tuhan, tidak taat pada perintah-Nya, dosamu merajalela, menjadi perintang dengan Tuhan dan tidak bisa datang kepada-Nya, maka anugerah Tuhan tidak bisa datang kepada kita dan doa kita tidak bisa sampai kepada Tuhan. Yesaya 59:1-2 menulis bahwa bukan karena lengan-Nya terlalu pendek, sehingga tidak bisa menolong kita; bukan karena telinga-Nya terlalu berat, sehingga tidak bisa mendengar seruan kita. Tetapi karena dosa kita telah menghambat, telah menceraikan kita dari Tuhan, maka doa kita tidak sampai kepada Tuhan, anugerah-Nya tidak sampai kepada kita. Jika doa kita ingin didengar oleh Tuhan dan iman kita bertumbuh, satu-satunya hal penting yang harus dilakukan adalah berhenti berbuat dosa, putus hubungan dengan Iblis! Hidup suci dan benar, hidup dalam kebajikan, cinta kasih, bersekutu dengan baik, maka anugerah Tuhan akan terus diberikan berlimpah tanpa henti. 

Kedua, karena kita tidak menjalankan hal yang diperkenan Tuhan. Jika kita melakukan kehendak Tuhan, menaati perintah-Nya, hidup berkenan kepada-Nya, tidak mungkin Ia menghambat dan berhenti memberikan anugerah. Apa yang diinginkan, jika dikabulkan Tuhan, adalah berkat yang besar. 

Ketiga, 1 Yohanes 3:17 berkata bahwa barang siapa yang menutup telinga, tidak memedulikan orang miskin, tidak menolong orang yang sedang memerlukan, maka Tuhan juga menutup telinga-Nya, Tuhan akan menyumbat telinga-Nya
dan tidak mendengar permintaannya. Jangan kira engkau boleh sewenang-wenang, apa yang diinginkan dipaksakan, tidak peduli orang lain dan apa yang dilakukan Tuhan. Kita seharusnya menjadi orang yang peka, senantiasa memperhatikan sekitar, memperhatikan orang-orang yang memerlukan bantuan. Jangan tunggu sampai mereka buka
suara. Kita harus lebih dahulu peka melihat dan peduli akan kebutuhan mereka.
Orang yang melakukan hal ini akan diperkenan Tuhan. Jangan sengaja tidak mau mendengar kesulitan orang lain, engkau akan mendapat kecelakaan besar, karena Tuhan juga akan menyumbat telinga-Nya dan tidak memberikan pertolongan kepadamu. 

Allah itu hidup, bijaksana, dan Mahakuasa adanya. Ia melihat dari sorga, mengetahui situasi setiap orang. Orang Kristen harus selalu mempunyai belas kasihan, selalu melembutkan hatinya, selalu memberikan simpati kepada orang miskin, janda, yatim piatu, dan orang yang memerlukan. Tuhan bukan Tuhan yang tuli, Tuhan akan mendengar doamu. Tuhan bukan Tuhan yang buta, Ia melihat situasimu. Tuhan bukan Tuhan yang keras hati, Ia dengan lembut hati memberikan kebutuhanmu. Karena Tuhan hidup, suci, penuh kasih, dan penuh kemurahan, Ia akan memberikan kemurahan kepada orang yang murah hatinya. Ia akan jujur terhadap orang yang jujur terhadap orang lain. Ia akan lurus pada orang yang hatinya tulus pada orang lain. Ia penuh dengan cinta kasih menghadapi orang yang penuh cinta kasih pada orang lain. Ini semua ajaran Alkitab yang sederhana, tetapi sangat mudah kita lupakan, tidak kita jalankan, atau tidak kita indahkan, karena kita anggap remeh. Berbahagialah orang yang tidak menganggap remeh firman Tuhan. Berbahagialah orang yang sungguh-sungguh percaya setiap kalimat firman Tuhan, karena tidak ada satu pun kata atau titik yang diucapkan Tuhan yang boleh kita remehkan, kita hina, atau kita lalaikan. Apa yang pernah dinyatakan oleh firman Tuhan pasti akan dijalankan. 

Yang disebut sebagai ibadah yang sejati adalah ibadah dengan hati yang murni, yang senantiasa menjaga dan memperhatikan kebutuhan janda-janda dan anak-anak yatim piatu. 

Di dalam masyarakat, Tuhan mengizinkan ketidakadilan terjadi. Di dalam negara-negara, di dalam bangsa-bangsa, Tuhan mengizinkan ada orang yang miskin sekali, ada orang yang sangat picik. Tuhan mengizinkan hal ini karena di dunia ini ada banyak orang yang tidak adil dan tidak jujur. Tuhan juga memakai ketidakadilan dan kesulitan yang ada untuk menguji apakah ada orang yang penuh dengan cinta kasih, penuh kemurahan, serta memikirkan dan mengisi kebutuhan orang lain di dunia ini. Kemurahan menolong orang lain harus melintasi agama, keluarga, dan denominasi gereja. Bukan karena ia orang Kristen maka kita bantu, atau karena ia anak kita baru kita tolong, atau karena ia adalah anggota gereja kita baru kita kirim uang. Jika kita bisa menolong orang, marilah kita menolong tanpa peduli ia anggota gereja mana atau agama apa. Ia adalah manusia yang menikmati anugerah umum yang sama-sama kita terima, menikmati matahari yang diciptakan Tuhan, menerima hujan, dan mendapat oksigen dan segala sesuatu yang diizinkan Tuhan. Marilah kita bersama-sama hidup di dunia yang sama-sama diciptakan Tuhan. Mari kita memberikan belas kasihan kepada mereka. Ini prinsip Alkitab. 

Apakah orang yang menolong orang lain menjadi miskin sampai tidak ada makanan? Tidak pernah. Apakah orang yang memberikan perpuluhan menjadi miskin? Tidak pernah. Orang yang menjalankan kehendak Tuhan, menolong orang lain, atau memberi persembahan kepada Tuhan, Tuhan selalu mengingat dia dan tidak akan membiarkannya gagal dalam kemiskinan. Jika kita kadang-kadang mendapat kesulitan, dalam kemiskinan, mungkin karena kita lupa memberikan perpuluhan kepada Tuhan, atau lupa menolong orang yang lebih kekurangan daripada kita. Mari kita belajar menjadi orang yang hatinya lebar dan jiwanya besar. Jangan senang hanya ketika kita menerima uang, tetapi kemudian tidak rela memberi. Mendapat untung senang, ketika rugi berteriak-teriak bertanya mengapa. Itu menyatakan engkau belum belajar mempunyai jiwa yang lebar, hati yang lapar untuk menolong orang lain. Jika engkau tidak mendengar kesulitan orang miskin, menutup telinga, tidak menerima permintaan orang yang perlu, Alkitab mengatakan bahwa doamu juga tidak didengar Tuhan. Ini semua adalah dalil rohani yang tercantum dalam Alkitab, prinsip hukum rohani yang Tuhan mau kita jalani. 

Iman adalah kunci untuk membuka gudang Tuhan, iman adalah kunci untuk membuka segala rahasia dan persiapan anugerah Tuhan yang sudah direncanakan, yang sudah disediakan bagi kita. Jika kunci ini rusak, berkarat, atau patah, kita tidak dapat menerima apa yang sudah didepositokan Tuhan di dalam bank rohani yang disiapkan bagi kita. Dan semua kerusakan kunci iman adalah akibat dosa. Kunci rohani ini adalah iman. 

Enam definisi iman. Pertama, iman adalah arah rohani. Kedua, iman adalah visi rohani. Saya melihat yang dilihat Tuhan, saya melihat yang Tuhan ingin berikan supaya saya lihat. Jika saya melihat yang dilihat Tuhan, saya akan mementingkan yang dipentingkan Tuhan dan akan mengerjakan yang akan dikerjakan Tuhan. Apa yang Tuhan lihat, yang Tuhan anggap penting, dan yang Tuhan kerjakan, haruslah aku juga lihat, aku juga anggap penting, dan aku juga lakukan. Sinkron dengan Tuhan melalui mata yang jeli, beriman kepada Tuhan melalui visi yang sama, inilah arti iman. Iman adalah arah rohani, iman adalah visi rohani. 

Ketiga, iman adalah pegangan rohani. Saya bersandar kepada Tuhan, maka saya mendapatkan keteguhan, kepastian, dan pegangan rohani yang disebabkan karena saya bersandar kepada-Nya. Tuhan yang tidak guncang membuat saya yang bersandar kepada-Nya ikut tidak guncang. Ia memberikan kepada kita fondasi batu karang. Tuhan Yesus berkata, “Aku akan mendirikan Gereja-Ku di atas batu karang ini.” Yesus adalah batu karang tersebut, Ia adalah fondasi di mana kita bisa tegak berdiri di atas-Nya dan tidak akan jatuh. Kita tidak mungkin jatuh dibawa oleh tanah longsor karena batu karang kita adalah batu karang yang berkuasa dan kuat, dan itu adalah Yesus. 

Ketika Petrus sudah tua, ia menulis Kitab 1 dan 2 Petrus. Dalam kitab tersebut, ia berkata bahwa Kristus adalah batu karang dan kita semua adalah batu-batu kecil. Kita semua batu-batu kecil, tetapi batu kecil yang hidup. Kita adalah batu yang hidup, sementara Kristus adalah batu karang yang tidak berubah, kokoh, dan kekal, yang menjadi fondasi. Yesus adalah batu penjuru yang membentuk satu rumah. 

Orang Yahudi jika membangun rumah, mengambil satu batu penjuru yang paling penting dan kuat lalu ditaruh di sudut. Lalu dari batu ini diperpanjang ke sudut-sudut yang lain menjadi satu rumah dengan dua pasang tembok yang bersudut 90 derajat siku. Jika tepat 90 derajat, perpanjangan yang satu dengan perpanjangan 90 derajat lagi akan bertemu, menjadi satu persegi yang utuh, dan terjadilah satu kotak yang utuh. Dari sanalah mulai dipasang bata-bata selanjutnya menjadi tembok yang tinggi, dan rumah itu jadi. Batu yang pertama, yang menentukan semua sudah benar ukurannya, namanya batu penjuru, cornerstone. Kristus adalah batu penjuru, kita adalah batu-batu kecil yang dipasang di atas batu penjuru itu. Batu penjuru yang di bawah, yang paling kuat, disebut batu fondasi. Kristus adalah fondasi kita. Di atas Kristus ada dua janji, yaitu janji lama (Perjanjian Lama) dan janji baru (Perjanjian Baru). Perjanjian Lama memberikan nubuat akan hari depan, Perjanjian Baru menggenapkan apa yang sudah dinubuatkan sebelumnya di dalam Perjanjian Lama. Dengan demikian, Perjanjian Lama mengandung semua janji yang akan terjadi di dalam Kristus ketika Ia datang. Perjanjian Lama mengandung Perjanjian Baru. Perjanjian Baru mewujudkan janji Perjanjian Lama. Yang dijanjikan di dalam Perjanjian Lama digenapi di dalam Perjanjian Baru. Kedua perjanjian ini, Perjanjian Lama berisi nubuat dan Perjanjian Baru berisi penggenapan, keduanya menjadi utuh, membuat rencana Allah sukses, dan Kerajaan Tuhan terwujud. Dan kita semua adalah batu-batu di atas kedua perjanjian tersebut. Alkitab berkata bahwa Gereja didirikan di atas nabi dan rasul, dengan Kristus sebagai batu penjuru (Ef. 2:20). Iman kita kuat karena iman kita bersandar kepada Tuhan. Iman adalah arah rohani, iman adalah visi rohani, iman adalah pegangan rohani. Iman adalah sandaran rohani dan kita bersandar pada fondasi yang tidak guncang. 

Keempat, iman adalah peristirahatan, ketenangan, dan kedamaian rohani. Orang yang beriman mempunyai ketenangan dalam jiwanya, mempunyai perhentian dalam kerohaniannya. Ia tahu bahwa ia tidak usah gelisah, tidak usah khawatir, tidak usah takut, tidak usah cemas, karena ia sedang mengalami peristirahatan di dalam Tuhan. Tuhan yang menciptakan hari Sabat, menjanjikan memberikan Sabat kepada kita. Dengan iman, engkau akan menikmati perhentian dari Tuhan. 

Kelima, iman adalah kunci rohani, kita boleh membongkar, membuka rahasia, dan menikmati janji anugerah Tuhan yang sudah disediakan bagi kita. Kita semua mengetahui apa deposito, pin, dan kartu; di mana dengan tanda tangan yang sah, engkau boleh menerima deposito yang telah dimasukkan. Yang memasukkan ke dalam adalah Tuhan, dan Ia memasukkan anugerah yang dijanjikan kepada kita, berkat yang tidak pernah berhenti mengisi kebutuhan kita, dan orang yang beriman boleh mendapatkan ini. Mengapa ada doa yang tidak didengar? Karena dihambat oleh dosa. Jika dosa sudah dibuang dan dengan iman kita datang kepada Tuhan, kita mendapat semua ini. 

Keenam, iman adalah tindakan sungguh-sungguh yang mewujudkan apa yang kita percaya. Banyak orang Kristen mendengar khotbah yang sangat banyak dan ia kira itu kualitas rohaninya. Kerohanian kita tidak tergantung pada berapa banyak khotbah yang sudah didengar, berapa banyak firman yang sudah dimengerti. Khotbah-khotbah yang sudah didengar, sudah dimengerti saja tidak cukup, tetapi harus dipelihara dalam hatimu baik-baik. Peliharalah firman Tuhan di dalam hatimu, ini adalah perintah Alkitab. “Aku menyimpan firman-Mu dan memelihara perkataan yang Kaubicarakan kepadaku baik-baik di dalam hatiku,” itulah tugasku. Memelihara firman Tuhan, setiap hari secara konsisten dan sungguh-sungguh, konstan di dalam hatimu, sangat perlu. Tetapi itu masih tidak cukup. Alkitab berkata selain mendengar, mengerti, mengimani, dan memelihara, engkau juga harus mengutarakannya kepada orang lain. Jika setelah mendengar engkau beritakan lagi, mengajar lagi, engkau akan menjadi orang yang imannya lebih kuat. Yang engkau beritakan akan menolong engkau untuk mengingatnya baik-baik, karena yang kau tidak bicarakan akan mudah lupa. Pelayanan menjadi hadiah untuk menolong orang yang melayani. Orang yang melayani orang lain sendirinya akan mendapat berkat karena ia dilayani lebih lagi. 

Iman adalah menjalankan kehendak Tuhan. Iman adalah melakukan apa yang kaupercaya. Iman harus dinyatakan, diwujudkan melalui pelaksanaannya dengan menaati, menjalankan, melaksanakan, dan mewujudkan yang didengar. Itu menjadi puncak rohani. Iman dan kerohanian bukan tergantung pada apa yang didengar, tetapi pada apa yang engkau lakukan. Engkau lakukan sampai di mana, di situ kerohanianmu sampai di sana. Yang belum melakukan belum matang, belum dewasa, yang belum melakukan belum memiliki. Tetapi yang melakukan, firman itu menjadi miliknya pribadi; pelaksanaan yang konkret mendorong engkau menjadi pemilik firman. 

Jika kita membeli tanah, bukan hanya tanda janji, hanya omong di mulut mau memberikan uang lalu kita boleh menikmati tanah itu. Kita baru boleh memiliki tanah itu dengan kita sudah membayarnya, karena sudah lunas. Tetapi saya sendiri bertindak, membayar lunas tanah itu, bukan hanya memegang surat sertifikatnya saja. Demikian pula dengan firman Tuhan, kita bukan saja mendengar, bukan saja mengerti, bukan saja menerima, bukan saja memberitakan. Banyak pendeta yang dapat memberitakan firman Tuhan tetapi mereka sendiri tidak pernah mempunyai firman tersebut karena tidak menjalankannya. Jika kita melaksanakan yang kita dengar, barulah kita sungguh-sungguh memiliki firman tersebut. Melaksanakan firman Tuhan dan menjalankan kehendak Tuhan penting karena inilah fondasi. 

Bukankah Tuhan Yesus yang disebut fondasi? Mengapa pelaksanaan firman menjadi fondasinya? Yesus berkata bahwa jika ada orang membangun rumah di atas batu karang itu, mereka menjalankan firman. Jika mereka menjalankan apa yang didengar dan dituturkan Tuhan, mereka membangun rumahnya di atas batu karang dan batu karang itu adalah fondasi. Ketika engkau menjalankan, engkau mendirikan rumah di atas batu karang, sehingga fondasinya Yesus Kristus, fondasi sekaligus taat perintah dan melakukan perintah Kristus, ini adalah fondasi ganda. Ketika kita menjalankan kehendak Tuhan, kita mendirikan fondasi kita di atas batu karang. Menjalankan menjadi fondasi, maksudnya adalah melaksanakan firman Tuhan melalui kelakuan kita yang taat,
dan itu penting sekali. Jika kita tidak taat, kita tidak memiliki fondasi. Jika kita memiliki firman tetapi tidak dijalankan,
kita belum mempunyai fondasi. Fondasi secara objektif adalah Kristus. Fondasi secara pengalaman subjektif adalah engkau harus menjalankan setiap perintah dan setiap firman yang sudah dituturkan oleh Tuhan. 

Tuhan memberkati kita, memberikan kekuatan agar kita mengerti bahwa iman bukan sekadar mengerti secara teori. Kita mengerti iman sampai tulang sumsum, mengerti sampai sedalam-dalamnya, mengerti sampai sekonkret-konkretnya. Iman bukan hanya mendengar, tetapi melakukan. Iman bukan sekadar membaca firman, tetapi melaksanakan firman. Iman adalah melihat dan memandang kepada Tuhan. Iman adalah berarah dan hidup bagi Tuhan. Iman adalah bersandar dan berada di atas fondasi yang tidak berubah. Iman adalah peristirahatan, pegangan yang sudah diterima. Iman adalah kunci membuka rahasia. Iman adalah pelaksanaan konkret, perwujudan menjalankan semua perintah Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati kita, menjadikan kita orang yang beriman sungguh-sungguh, dan menikmati penyertaan-Nya. 

Dalam Amanat Agung, Yesus berkata, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakan Injil kepada seluruh bangsa, jadikan mereka murid-Ku, tuturkan apa yang Aku ajarkan kepadamu, baptiskan mereka dalam nama Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus. Jika engkau melakukan ini, menjadikan mereka murid-Ku, melaksanakan apa yang Aku ajarkan kepadamu, Aku akan menyertai engkau sampai kesudahan alam. Sampai akhir zaman, Aku tidak akan meninggalkan engkau.” Orang yang menjalankan kehendak Tuhan, orang yang mewujudkan perintah Tuhan, taat dalam melaksanakannya, orang ini adalah orang yang beriman, selamanya tidak guncang karena menjalankan kehendak Tuhan. Iman bukan hanya mendengar saja, iman adalah melakukan. Iman bukan pengertian saja, iman adalah mewujudkannya dalam hidup sehari-hari yang taat kepada Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati kita. Amin. 

Pdt. Dr. Stephen Tong

Februari 2022

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Unduh PDF
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk kondisi pandemi COVID-19 yang sudah makin melandai. Berdoa kiranya setiap orang Kristen mengambil kesempatan untuk dapat memberitakan Injil dan membawa jiwa-jiwa kepada Kristus terutama di dalam momen Jumat Agung dan Paskah di bulan ini. Bersyukur untuk ibadah fisik yang sudah dilaksanakan oleh banyak gereja dan bersyukur untuk kesempatan beribadah, bersekutu, dan saling menguatkan di dalam kehadiran fisik dari setiap jemaat.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Bagus

Selengkapnya...

senang dengan penjelasan yang di atas dan memberkati. yang pada intinya pacaran dalam kekristenan adalah berfokus...

Selengkapnya...

Maaf u 99 domba itu Tuhan Yesus tidak mengatakan mereka tidak hilang., melainkan tidak memerlukan pertobatan yang...

Selengkapnya...

terimakasih, bagi saya sangat memberkati karena orang percaya hidup dalam peperangan rohani. karena itu Allah terus...

Selengkapnya...

Bagaimana jika Saat di Rafidim. bgs Israel tidak bersungut-sungut. Melainkan sabar dan kehausan tsb apakah mungkin...

Selengkapnya...

© 2010, 2022 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲