Artikel

Dogmatisme dalam Musik

Di dalam seminar-seminar musik dalam Gerakan Reformed yang pernah saya ikuti ataupun yang saya pimpin, ada satu pertanyaan yang sepertinya hampir pasti ditanyakan: “Kenapa dalam kebaktian, GRII tidak memakai drum[1]?” Pada awalnya saya biasanya menjawab dengan menerangkan struktur di balik penggunaan drum atau latar belakang sejarahnya yang pada akhirnya dikonklusikan sebagai tidak cocok dengan nilai-nilai Biblikal. Namun akhir-akhir ini kalau saya ditanya demikian, saya biasanya bertanya balik: “Menurut Anda, kenapa dalam kebaktian boleh memakai drum?” Boleh tidaknya memakai suatu jenis instrumen atau gaya musik tertentu di dalam suatu kebaktian tidak seharusnya dilakukan hanya karena belum menemukan alasan negatif; penggunaan segala sesuatu untuk memuliakan Tuhan harusnya didasari pada alasan yang positif. Dengan kata lain, mungkin seharusnya kita berusaha untuk bukan hanya puas dalam taraf “why not”, tetapi juga harus secara aktif memikirkan “why yes”.

Sebelum kita melanjutkan, ada baiknya dilakukan sedikit klarifikasi terlebih dahulu. Sekilas, artikel ini sepertinya adalah satu lagi di antara banyak artikel yang ditujukan untuk menyerang keluar atau berbau Reformed vs. Karismatik Radikal, tetapi isu yang saya hendak angkat adalah sebaliknya: saya ingin mengadakan suatu kritik internal. Izinkan saya menanyakan pertanyaan kedua bagi mereka yang berada dalam komunitas GRII: Kalau kita berani untuk mempertanyakan saudara-saudara kita di gereja lain mengapa mereka memakai musik-musik demikian, bukankah seharusnya kita juga berani bertanya kembali pada diri kita mengapa hari ini di GRII kita menggunakan musik hymn dan klasik?[2] Bisakah kita memformulasikan jawaban “why yes” dan bukan hanya “why not”?

Kembali sebentar ke masalah drum di atas, ketika saya berbincang-bincang dengan orang-orang yang pro-drum, saya menemukan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang hatinya jujur ingin memuliakan Tuhan, namun ada satu kategori lain di mana mereka secara umum terkumpul: mereka adalah orang-orang yang memperjuangkan drum simply karena mereka tidak pernah mengerti bahwa ada alternatif lain. Mereka mungkin belum pernah mendengar timpani, atau sudah pernah mendengar tapi belum dibukakan keindahannya. Mereka mungkin pernah mendengar Bach dan Isaac Watts, namun mungkin pada akhirnya tenggelam dalam kebingungan karena tidak mengerti bagaimana menghargai musik-musik seperti itu. Intinya, sebagian besar dari mereka mungkin memilih drum bukan karena mereka memilih, tapi karena mereka tidak punya pilihan.

Tapi kembali ke konteks kita yang berada dalam Gerakan Reformed hari ini, pertanyaannya adalah sebenarnya di manakah letak perbedaan kita dengan mereka? Bagi Saudara-saudara yang menyanyikan lagu hymn setiap minggu, bolehkah saya bertanya mengapa Saudara menyanyikan lagu tersebut? Bagi Saudara-saudara yang datang ke Aula Simfonia Jakarta, sebenarnya apa yang menggerakkan Anda untuk hadir? Menempatkan pertanyaan ini dalam konteks Gerakan kita yang notabene semangatnya adalah untuk kembali kepada Alkitab, apakah cara menggunakan musik dalam gereja kita yang Saudara selama ini berbagian mempunyai dasar Alkitabnya? Ataukah jangan-jangan, saya dan Saudara-saudara juga adalah orang-orang yang tidak mempunyai pilihan?

Seorang penginjil GRII pernah ditanya pertanyaan di atas, dan jawabannya mengungkapkan suatu alasan yang sepertinya lumayan sentral dalam paradigma Gerakan Reformed: “Kalau Saudara bekerja di dalam suatu perusahaan, otomatis Saudara tidak bisa membuat aturan sendiri. Saudara harus mengikuti aturan yang sudah ditetapkan oleh pihak yang berada di atas, otoritas yang berwenang. Kalau pun Saudara adalah bos dari suatu kantor cabang perusahaan tersebut, Saudara tetap terikat dengan aturan-aturan dari kantor pusat. Demikianlah kita di GRII, kita mengikuti apa yang sudah ditetapkan oleh Pdt. Dr. Stephen Tong.”

Argumentasi di atas adalah suatu argumentasi yang logis, dan argumentasi demikian cukup efektif ketika dipakai dalam konteks yang tepat, misalnya ketika menghadapi jemaat yang memang hendak ngeyel dan sebenarnya juga bukan hendak mencari kebenaran. Tetapi bagi mereka yang dapat duduk tenang ketika membicarakan musik dan rindu untuk mendapatkan kebenaran, sepertinya ada dorongan untuk mencari suatu dasar yang lebih kokoh daripada sekadar jawaban di atas. Jangan salah sangka, mengikuti suatu figur otoritas bukanlah hal yang salah. Konsep pemuridan Alkitab jelas menuntut ketaatan pada otoritas yang Tuhan telah tetapkan dalam gereja-Nya, khususnya bagi mereka yang masih dalam takaran iman yang muda. Tetapi seiring dengan pertumbuhan iman dan pengetahuan, akan datang hari-hari saat sang anak disapih, saat ia mulai berhenti disuapi oleh ibunya, saat ia mulai berganti dari susu ke makanan keras, saat ia meninggalkan rumah ayahnya untuk berdiri sendiri, dan akhirnya saat ia menjadi ayah bagi seorang anak. Saat itu ia mungkin masih dapat bertanya kepada ayahnya, meminta nasehat, tapi tidak diragukan lagi bahwa saatnya akan datang ketika ayahnya tidak lagi dapat membantu dia. Dan ketika saat itu tiba, sang anak sudah harus menemukan sendiri bagi dirinya apa itu kebenaran.

Klarifikasi lagi, yang saya maksudkan bukanlah bahwa Pak Tong salah dalam menetapkan aturan mengenai pemakaian musik dalam GRII. Saya sendiri secara pribadi percaya Pak Tong pasti sudah terlebih dahulu menggumulkan hal ini dan pasti mempunyai alasan mengapa tradisi yang ia pegang ini bisa dinilai sebagai Alkitabiah. Yang saya hendak teriakkan pada kesempatan kali ini adalah bahwa kita perlu bertumbuh dan menemukan bagi diri kita sendiri dasar kebenaran Firman Tuhan dalam penggunaan musik kita. Kita mungkin mempunyai konklusi yang tepat, tetapi apakah kita sudah memiliki argumentasi di balik jawaban tersebut? Kita mungkin sudah berada di jalan yang benar, tetapi bagaimana kita hendak menuntun generasi selanjutnya ke dalam jalan yang sama jikalau kita tidak tahu bagaimana menemukan jalan tersebut? Hari ini Tuhan masih menempatkan figur besar itu untuk menuntun kita, tapi tidak diragukan lagi bahwa keadaan ini tidak akan berlangsung selamanya. Adalah hal yang sangat menyedihkan melihat anak berumur 30 tahun yang tidak bisa mengancingkan bajunya sendiri kehilangan mamanya yang selama ini merawat dia. Saat ini, GRII sudah berdiri lebih dari 21 tahun dan jika Anda bertanya kepada jemaat pertanyaan yang saya ajukan, apakah menurut Anda mereka sudah mengerti dasar kebenaran Firman Tuhan di balik tradisi musik yang selama ini mereka pegang?

Sikap dogmatis dalam tradisi musik kita ini adalah sesuatu yang mengkhawatirkan dan juga berbahaya. Memang mungkin tidak semua dari anggota GRII setuju dengan penggunaan hymn dan musik klasik, tetapi sepertinya ada suatu norma tidak tertulis yang jelas menyatakan tradisi tersebut sebagai salah satu identitas kita yang tidak terlepaskan. Untuk mengusulkan penggunaan gaya musik jazz dalam kebaktian misalnya, hampir pasti akan mendapatkan kecaman berat. Ironisnya, berapa banyak dari pengecam-pengecam itu yang mungkin pada akhirnya juga tidak bisa menjelaskan bukan hanya mengapa musik jazz tidak cocok dipakai dalam kebaktian, tapi juga mengapa musik hymn dan klasik harus diprioritaskan di atas segala jenis musik yang lain?

Sikap yang demikian, mungkin lebih cocok berada dalam aliran gereja yang pernah dikecam habis-habisan oleh para reformator (baca: Gereja Katolik Roma zaman Reformasi) karena berani mensandingkan tradisi secara dogmatis tanpa senantiasa dievaluasi dan direferensikan kembali pada Alkitab. Dan sebaliknya, mungkin justru sikap yang berani mempertanyakan dengan tajam mengapa hari ini kita menggunakan musik yang kita gunakan tidak selalu harus dimengerti sebagai suatu hal yang negatif atau hampir selalu dilabelkan sebagai tindakan yang melanggar “loyalitas” kepada gerakan (tentunya, terlepas dari pertanyaan-pertanyaan ekses yang memang bertujuan bukan untuk mencari kebenaran). Mungkin, justru sikap yang demikian lebih dekat dengan semangat para reformator: semper reformanda dimengerti bukan hanya sebagai sifat menyerang keluar, mereformasi dunia, tetapi justru sebagai suatu sikap senantiasa waspada ke dalam: apakah segala sesuatu yang saya lakukan selama ini benar-benar sesuai dengan Alkitab? Sampai di sini, saya harap saya tidak disalahmengerti, yang saya ingin kritisi bukanlah tradisi kita dalam memakai musik hymn dan klasik, tetapi sifat kita yang cenderung dogmatis dan tidak reformatoris dalam memegang tradisi tersebut. Jika kita memegang tradisi tersebut tanpa mengerti mengapa maka kemungkinan besar kita tidak jauh berbeda dengan orang-orang di luar sana yang selama ini kita kritisi habis-habisan, yang kita sebut sebagai orang-orang yang hidupnya tidak kembali kepada Alkitab.

Kebahayaan Pertama: Faktor Eksternal
Tidak perlu menjadi seorang jenius untuk menerka apa yang kira-kira bisa terjadi dalam masa-masa pasca Pak Tong jika lubang yang menganga ini tidak segera ditambal. Sebuah benteng yang mempunyai tiga sisi tembok yang tahan menghadapi meriam apapun, namun juga mempunyai satu sisi lain yang batunya sudah lapuk, tidak ada gunanya dalam menghadapi serangan musuh. Ini adalah kebahayaan besar yang pertama: Gereja yang dasar Alkitabnya tidak kokoh akan sangat rentan dalam menghadapi serangan dari luar. GRII seringkali mempunyai reputasi sebagai gereja yang terkesan ofensif; gambaran ini boleh dikatakan memang tidak jauh dari kenyataan. Pak Tong sendiri mengatakan Gerakan Reformed Injili bukanlah suatu gerakan yang hanya menjawab tantangan dunia tetapi harus juga menantang dunia. Namun seringkali kalimat tersebut disalahmengerti sama halnya seperti istilah “fighting Reformed” yang seringkali dibaca sebagai “semangat tawuran ala Reformed” di dalam benak beberapa orang. Beberapa kali saya mendapat kabar bahwa ada kritik yang disampaikan dari gereja Reformed kepada gereja-gereja Karismatik yang radikal: “Kalian telah membuat ibadah menjadi night club”.

Yang menarik di sini adalah akhir-akhir ini saya mendapat bahwai arah angin berubah, dengan gereja-gereja Karismatik yang radikal merespons dengan menyerang balik demikian: “Ok, kami mengaku telah membuat ibadah jadi night club, tetapi kalian telah membuat ibadah menjadi concert hall… apa bedanya kalian dengan kami?” Anda mungkin dapat langsung mengatakan bahwa image “concert hall” sepertinya lebih baik daripada “night club”, tetapi sekali lagi, apakah Anda mendapat kebenaran itu dari Alkitab atau keyakinan Saudara adalah keyakinan yang dihasilkan oleh semacam iman buta terhadap tradisi Reformed Injili? Jikalau Anda ingin mengatakan bahwa musik Beethoven atau Chopin (yang adalah notabene musik “sekuler”) lebih pantas dipakai dalam ibadah daripada lagu hip-hop dan R&B, argumentasi apa yang akan Anda pakai untuk mempertanggungjawabkannya? Bukan cerita baru, mendengar banyak orang Reformed mengawali argumentasinya dengan kalimat “kata Pak Tong… Pak Tong pernah bilang begini dan begitu…”. Jikalau level pengertian kita hanya berhenti pada otoritas Pak Tong dan bukan pada Alkitab, apa yang akan menghentikan kita untuk menyeleweng jikalau suatu hari dalam era pasca Pak Tong ada otoritas baru yang naik daun, berkarisma tinggi namun menyesatkan?

Pada hari ini banyak orang dalam GRII menyangka bahwa tantangan musik yang sedang dialami GRII adalah bagaimana membendung pengaruh karismatik radikal; saya hendak mengatakan bahwa tantangan itu sebenarnya hampir nihil di dalam lingkaran komunitas kita. Tuhan memberikan kita figur besar itu sebagai suatu benteng pertahanan yang hampir tak tertembus. Tantangan kita hari ini, menurut saya, adalah bagaimana kita tidak take for granted benteng tersebut dan menggunakan masa-masa “damai” untuk mempersiapkan diri menghadapi musuh yang sudah menunggu saatnya benteng tersebut meninggalkan kita.

Kebahayaan Kedua: Faktor Internal

Kebahayaan besar kedua yang akan dihasilkan oleh sikap dogmatis dalam menggunakan tradisi musik apapun adalah adanya kecenderungan untuk menyalahgunakan tradisi tersebut, yang mungkin pada dirinya sesungguhnya baik. Seorang anak yang tidak mengerti tujuan dan penggunaan suatu alat yang dinamakan oleh orangtuanya dengan nama pisau adalah suatu kebahayaan besar, suatu bom waktu yang hanya tunggu waktu untuk meledak. Anak tersebut mungkin percaya bahwa orangtuanya memakai pisau pasti untuk tujuan yang dapat dipertanggungjawabkan, tapi apa gunanya konklusi tersebut kecuali sang anak juga mempunyai argumentasi di belakangnya? Jika kita tidak mengkritisi sikap kita yang ignorant terhadap alasan utama, tujuan, dan cara penggunaan tradisi musik GRII, ada kebahayaan besar yang suatu hari akan datang (atau mungkin sudah terjadi), dan hal itu tidak harus datang karena serangan musuh dari luar.

Saat ini misalnya, dalam penggunaan musik di dalam Paduan Suara, saya mengamati suatu trend yang tidak sehat mulai muncul: Di dalam latihan-latihannya perhatian yang besar dicurahkan untuk mempelajari not balok, teknik menyanyi, teknik mengucapkan kata-kata dari berbagai bahasa dengan tepat, voice production, dinamika dalam menyanyi, penghayatan, dan sebagainya. Ini semua adalah baik adanya, dan memang merupakan bagian yang tidak terlepaskan dari kegiatan bermusik. Namun, seringkali dalam latihan-latihan tersebut para choristers sudah lupa (atau bahkan tidak tahu) apa yang namanya memuji Tuhan. Atau, berapa persen waktu yang digunakan untuk misalnya, mempelajari nilai-nilai theologis yang dicerminkan dalam teks lagu maupun musiknya? Meskipun teknik penting, bukankah salah satu dasar utama daya tarik lagu klasik bagi orang Reformed adalah karena musiknya sangat dalam dan akurat dalam mengekspresikan nilai theologisnya? George Frederic Handel, dalam Oratorio Messiah menuliskan suatu lagu yang teksnya diambil dari Roma 10:15 edisi KJV “How beautiful are the feet of them that preached the gospel of peace”. Sekilas kalau Anda ditanya bagaimana akan membuat lagu yang membicarakan teks tersebut, mungkin hampir semua dari kita paling tidak akan menggunakan tangga nada mayor dalam menuliskan lagunya. Tepat bukan, mengekspresikan kata beautiful dengan tangga nada mayor yang terkesan positif dan riang?[3] Namun Handel justru memilih untuk melagukan teks tersebut dengan tangga nada minor, tangga nada yang secara umum diatributasikan dengan perasaan yang lebih negatif, yang membawa kesan menyedihkan.[4] Mengapa demikian? Salah satu interpretasi yang mungkin adalah bahwa Handel sedang ingin menunjukkan bahwa keindahan kaki penginjil bukanlah keindahan semacam kehalusan kaki milik Claudia Schiffer atau Gisele Bündchen. Kaki seorang penginjil mungkin sudah hancur-hancuran karena berjalan tidak henti-hentinya melewati segala medan, menghadapi marabahaya dan berbagai musuh Injil. Tapi kaki yang demikian memancarkan suatu keindahan yang berbeda, yang jauh lebih indah daripada kaki supermodel termahal dunia. Namun berapa banyak kesempatan kita mendengar penjelasan seperti ini ketika kita mempelajari sebuah lagu di paduan suara gereja kita, meskipun oratorio Messiah sudah sangat sering dipentaskan? Jangankan dalam latihan-latihan, kejadian yang masih banyak terjadi entah disadari atau tidak adalah ketika suatu paduan suara menyanyi dalam bahasa asing, kata-katanya tidak dibacakan, ditayangkan, atau dijelaskan?[5]

Fenomena ini tidak berhenti di paduan suara. Kalau kita membicarakan mengenai masalah ibadah hari Minggu, poin yang senantiasa harus ditekankan adalah bagaimana kita beribadah (yaitu, polanya, liturginya, musiknya, khotbahnya) dengan mencerminkan kebenaran Alkitab. Ibadah Reformed adalah suatu ibadah yang mencerminkan pengertian Reformed dalam segala aspeknya. Kedaulatan Allah, Ketergantungan manusia, Fakta Kejatuhan, Penebusan Kristus, Pengharapan Akhir Zaman, Keutamaan Alkitab, dan berbagai hal yang lain harus dinyatakan di dalam suatu kebaktian untuk mengatakan bahwa sebuah ibadah adalah ibadah yang baik. Sesungguhnya ibadah merupakan semacam confession, semacam pengakuan iman kita di hadapan Allah dan di hadapan dunia mengenai siapa Allah kita dan bagaimana kita mengenal Dia. Lagu ibadah menempati posisi yang spesial karena lagu-lagu dalam kebaktian mempunyai porsi yang cukup signifikan dalam menyatakan hal-hal tersebut.

Namun hari ini, berapa banyak dari para liturgis bisa mengatakan bahwa mereka mengerti lagu-lagu yang mereka pakai dalam suatu kebaktian? Berapa banyak yang mempelajari dengan seksama ekspresi iman dari satu ayat ke ayat yang lain? Jika liturgis tidak bisa diharapkan untuk mengenal lagu-lagu yang mereka nyanyikan, bagaimana mungkin jemaat bisa dituntut untuk melakukan hal yang sama? Dalam 1 Korintus 14, Paulus menyatakan bahwa dunia dapat mengenal Allah seperti apa yang kita percaya lewat melihat ibadah kita. Kira-kira Allah seperti apa yang dinyatakan oleh para liturgis dan pianis yang menyanyikan lagu tanpa pengertian? Mungkin, dunia akan mendapati orang Reformed di GRII mempunyai Allah yang tidak terlalu peduli dengan ibadah umat-Nya. Hal ini semakin ironis ketika kita mempertimbangkan unsur historis dari hymn[6], yang pada awal masa reformatoris digunakan justru untuk menyatakan nyanyian pujian sebagai tanggung jawab dari setiap orang Kristen dan bukan hanya para kaum rohaniawan.

Luther, dalam konsep “imamat rajani”nya menyatakan oleh karena Alkitab mengatakan bahwa setiap orang Kristen adalah hamba Tuhan, maka setiap orang Kristen boleh membaca Alkitab sendiri, boleh berdoa langsung kepada Tuhan (tanpa harus melalui mediator para imam) dan boleh ikut bernyanyi memuji Tuhan. Itulah sebabnya Luther mulai mengadaptasikan musik-musik chant yang selama itu menjadi milik eksklusif para rohaniawan menjadi bentuk sederhana yang bisa dinyanyikan jemaat, cikal bakal tradisi hymn kita hari ini. Maka penggunaan genre hymn dalam beribadah sesungguhnya membawa dengannya suatu kepercayaan bahwa bernyanyi memuji Tuhan adalah tanggung jawab seluruh jemaat. Allah seperti apakah yang dinyatakan oleh tradisi seperti ini? Yang pasti, Allah yang peduli dengan pujian umat-Nya, yang memberikan hak bagi seluruh dari kita untuk memuji Dia. Kembali kepada situasi kita hari ini, sekali lagi mungkin kita memang sudah memiliki konklusi yang tepat, tradisi yang sangat dapat dipertanggungjawabkan. Tapi pertanyaannya, dalam 21 tahun kita menjalani tradisi tersebut apakah kita mengerti argumentasi di belakang semua tradisi itu? Apakah bahkan ada suatu hasrat untuk senantiasa mencoba untuk rediscover kembali akar tradisi kita kepada kebenaran Alkitab? Atau kita sudah menjadi sangat dogmatis, mati di dalam kekakuan kita atau “loyalitas” kita terhadap otoritas Pak Tong? Bukankah Pak Tong sendiri mengatakan tidak boleh ada yang lebih mencintai Pak Tong dibanding mencintai Tuhan dan Firman-Nya?

Panggilan untuk Bertumbuh
Di sini kita harus menyadari bahwa kesalahan seorang murid Tuhan yang paling fatal bukanlah masalah berpengetahuan sedikit; kesalahan yang paling berbahaya adalah ketika kita bertahan dalam suatu level pengetahuan, baik itu sedikit atau banyak. Menjadi seorang anak SD tidak pernah akan dikatakan sebagai suatu dosa, tetapi seorang anak kelas 6 SD yang menolak untuk naik ke SMP dan ingin terus menerus duduk di bangku kelasnya jelas adalah suatu permasalahan besar. Musuh iman bukanlah kecilnya iman, tetapi stagnasi iman. Setiap dari kita harus mengakui bahwa kita hanyalah manusia yang pada dasarnya pasti parsial dan tidak sempurna; manusia memang tidak diciptakan untuk menjadi tidak terbatas. Tetapi manusia juga diciptakan dengan kapasitas untuk bertumbuh seiring dengan berjalannya waktu.

Hari ini kita diberikan oleh Tuhan seorang hamba Tuhan yang memang Ia pakai untuk memimpin dan menetapkan suatu standar, guideline yang menjadi suatu rel bagi GRII. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa Tuhan memberikan ini bukan menjadi suatu tujuan akhir, tapi justru sebagai langkah pertama menuju hal-hal yang lebih besar? Stagnasi yang dialami mungkin berakar pada hal ini: pekerjaan Tuhan yang kita lihat terjadi lewat pekerjaan Pak Tong begitu besar dan overwhelming sehingga terkadang tidak terbayangkan bagi kita bahwa di atas langit masih ada langit. Melihat Katedral Mesias, Aula Simfonia Jakarta, dan Museum Sophilia misalnya, siapa yang berani bermimpi untuk suatu hari mengungguli semua itu? Label “orang sombong” akan melekat pada orang tersebut lebih cepat daripada kedipan mata. Tetapi mari kita pikirkan alternatifnya sekarang: Apakah pekerjaan Tuhan, Tuhan Pencipta langit dan bumi, hanya akan berhenti pada level yang demikian? Stagnasi ini dapat dilihat bukan hanya dalam skala besar: mari kita perhatikan kondisi susunan liturgi kita yang pada hari ini sudah menjadi harga mati. Siapa yang berpikiran untuk meng-improve liturgi GRII? Pak Tong sendiri berkali-kali mengingatkan bahwa apa yang ia kerjakan hanya berupa suatu fondasi yang harus dibangun terus-menerus oleh generasi penerusnya. Apakah Anda akan menyebut Elisa sombong karena ia meminta kuasa dua kali lipat dari Elia? Apakah Anda akan mengganggap Yohanes Calvin sebagai pemberontak karena ia membawa arah reformasi melampaui apa yang dikerjakan oleh Martin Luther? Ketika kita bekerja bagi Tuhan, the sky has no limit. Kiranya artikel ini boleh menginspirasi kita untuk senantiasa berjuang untuk mempertanggungjawabkan anugerah yang Tuhan sudah berikan kepada kita. “Yang diberi banyak, dituntut banyak”.

Soli Deo Gloria.

Jethro Rachmadi
Mahasiswa STTRI Internasional

[1] i.e. modern drum set, bukan alat perkusi secara umum.

[2] Istilah “hymn” dan “musik klasik” sangat luas dan sangat sulit untuk didefinisikan secara pasti. Di sini yang dimaksudkan dengan hymn dan klasik adalah umbrella term bagi jenis musik yang selama ini secara umum dipakai di GRII.

[3] Contoh lagu-lagu tangga nada mayor misalnya Besar Setia-Mu, Jesus Loves Me, dan sebagainya.

[4] Contoh lagu tangga nada minor misalnya Kepala yang Berdarah.

[5] Di poin ini umumnya ada banyak yang akan mengatakan bahwa mereka tidak melakukannya karena tidak mempunyai kapasitas untuk menjelaskan. Perlu diingatkan bahwa argumentasi semacam ini sangat berbahaya, karena dengan menjauhkan diri dari tanggung jawab seperti ini akan justru berakibat tidak pernah adanya perubahan. Since it’s not your fault, then you cannot do anything about it. Tuhan menciptakan manusia dengan kapasitas mampu untuk belajar. Pemimpin Paduan Suara yang menolak untuk mengembangkan kapasitasnya dan bertahan dalam kesempitannya lebih baik mundur.

[6] Kata “hymn” mempunyai arti yang sangat luas dan sulit untuk dispesifikasikan secara jelas. Misalnya, kata hymnos di Alkitab (e.g. Mat. 26:30) hampir pasti menyatakan jenis musik yang pasti berbeda dengan “hymn” yang hari ini kita pakai. Namun untuk artikel ini, mungkin cukup aman untuk menyatakan bahwa penggunaan kata “hymn” di sini mengacu pada tradisi musik jemaat dari Martin Luther dan para Reformator yang terus dikembangkan sampai pada hari ini.

Jethro Rachmadi

Mei 2011

20 tanggapan.

1. dewi dari jakarta berkata pada 8 May 2011:

pak Jethro jadi kesimpulannya mengapa kita menyanyikan hymne, dan mengapa kita tidak menyayikan pop atau jazz atau rock?

bagi saya, lagu adalah doa dan pemahaman kita akan Allah. apakah lagu itu seputar berkat? atau apakah lagu itu seputar salib? yang manakah Allah kita? dan apakah kita mengenal Allah yang sejati? iblis pun menjanjikan berkat-berkat, tapi Allah ingin lebih dikenal karena salibNya. kiranya lagu dan doa kita membawa kita lebih dekat ke salibNya, ke bawah kakiNya, yaitu kerendahan hati kita dan kemurahan Tuhan Yesus. Kita tidak usah menyuruh orang lain rendah hati, tapi menyuruh diri sendiri untuk rendah hati, sehingga orang lain nanti meneladani kita.

2. darwi dari jakarta berkata pada 9 May 2011:

Saudara Jethro Rachmadi, artikelnya muram sekali ya? Penuh dengan kekuatiran dan tidak ada jalan keluar. Dalam pemahaman saya kenapa kita tidak menggunakan musik Rock dll atau yg saya kategorikan musik duniawi adalah,pada hakekatnya Gereja menjadi sumber yg mempegaruhi atau mempelopori seni,pendidikan ,ekonomi dll dan tidak tepat menurut saya untuk megambil pola dari luar untuk megisi kedalam gereja. Yang seharusnya adalah seni,ekonomi,pendidikan yg terbaik bersumber dari Gereja dan efeknya mempegaruhi kehidupan sekitar. Terima kasih

3. Kudeng Sallata dari Makassar berkata pada 9 May 2011:

Menurut pengertian saya semua jenis musik itu adalah ciptaan Allah dan mengapa kita tidak gunakan untuk memuji dan memuliakan Dia? Didalam kitab Mazmur memberi tahu kita untuk menggunakan semua musik memuji dan memuliakanNya. Tidak hanya untuk berdoa tapi untuk memuji-muji Dia dengan musik yang ditiptakanNya itu terima kasih

4. wieyanto dari Jakarta berkata pada 4 June 2011:

Berbicara soal musik, maka kita semua pasti setuju bahwa musik tidak boleh hanya dilihat dari sudut pandang selera saja, tapi ada banyak aspek yang harus kita pelajari. Namun dalam forum ini, saya rasa akan lebih bijaksana bagi kita untuk tidak menenggelamkan diri dalam perdebatan yang terlalu rumit dan teknis dalam masalah musik, karena saya sendiri bukan ahlinya dan saya yakin banyak pembaca yang pengetahuan musiknya berbeda satu dengan yang lain, ada yang sangat ahli, setengah ahli, ada yang sekedar tahu, ada yang baru tahu, ada yang tidak tahu.Karena itu ada baiknya kita menyederhanakan masalah dengan berbicara menggunakan logika sederhana yang bisa diterima semua orang.Musik tidak beda dengan bidang-bidang keilmuan yang lain, yang mana pasti ada kriteria dan standar yang dipakai untuk menentukan baik tidaknya musik. Kalau untuk musik pop saja ada standar untuk baik buruknya, apalagi musik untuk Tuhan, pastilah semua setuju kalau kita memberi standar yang tertinggi dan terbaik. Saya setuju, semua aliran musik dan alat musik baik, tetapi baik yang bagaimana dan menurut ukuran siapa ? Sama halnya ketika kita membaca kalimat dalam Mazmur yang berbunyi : "..........................menggunakan semua musik untuk memuji dan memuliakanNya", maka yang pertama harus kita sepakati terlebih dulu adalah apa yang dimaksud dengan "semua musik" dan apa sajakah alat musik yang ada saat itu ? Apakah drum, gitar, organ dan piano sudah ada saat itu ? Dan dalam konteks apakah ayat itu sedang berbicara ? Semua pasti setuju, bahwa setiap manusia pasti ingin yang terbaik, tapi kita juga tidak boleh lupa bahwa yang baik bagi manusia belum tentu baik bagi Tuhan. Dan yang paling penting, yang kita harus ingat adalah otak dan pemikiran manusia sudah terkontaminasi oleh dosa, karenanya dalam menentukan baik dan buruk, standar yang dipakai adalah standar manusia berdosa. Oleh sebab itu, adalah bijaksana kalau sebelum membahas dan memperdebatkan musik dan alat musik mana yang boleh dan tidak boleh dipakai dalam gereja, kita terlebih dulu mempelajari, tidak hanya soal musik, tapi juga tentang banyak hal yang berkaitan. Karena jika kita hanya melihat dari satu aspek saja, pasti kita tidak akan menemukan jawaban yang memuaskan. Karena itu pengetahuan tentang musik, sejarah gereja, dan doktrin yang benar adalah wajib bagi kita, supaya setiap kesimpulan yang keluar dari kita adalah kesimpulan yang dihasilkan dari pemikiran yang mendalam dan komprehensip dengan bimbingan dan iluminasi dari Roh Kudus. Amin. SOLI DEO GLORIA

5. hencen dari jakarta berkata pada 27 June 2011:

Tuhan tidak mencari musik yg paling benar, tidak mencari doa yg paling benar,tidak mencari suara yg bagus, tapi Tuhan melihat dan mencari musik orang benar, doa orang benar, dan penyanyi yg hidupnya benar. Kenapa masalah musik dan alat musik sampai memisahkan kita org percaya? kalau mau paling benar,kenapa kita tidak menelusuri gereja mula mula dengan lagu dan alat musik apa mereka beribadah? dengan apakah Daud memuji muji Tuhan? JBu all

6. Dirjo H dari GRII Klp Gading berkata pada 28 June 2011:

Kami mencoba ikut menyampaikan pandangan pribadi tentang bermusik gerejani meskipun sebenarnya kami awam soal musik . sebagai manusia kita akan cenderung punya konsep tepat guna bagi usernya ; oleh sebab itu Pujian/lagu cenderung dengan memakai alat musik khasnya masing2 suku bangsa tsb. Bagi orang2 desa yang sederhana lagu diiringi pakai gamelan sdh cukup membawa berkat Rohani bagi mereka ; namun ingat pujian kita adalah untuk Tuhan yang maha Tinggi dan tentunya kita inginkan pula yang terbaik yang dipersembahkan bagi Tuhan.( Semangat Terbaik bagi Tuhan ) jika kita mampu memakai lagu2 dengan " kwalitas terbaik" setara Bethoven masihkah kita mau pilih sembarang lagu memuji Tuhan ? Perdebatan Type lagu/musik tidak akan pernah habis : namun bagi saya yang lebih utama adalah semangat persembahan terbaik bagi Tuhan saja.

7. suhardi dari jakarta berkata pada 5 July 2011:

Membaca tulisan pak Jethro, saya melihat adaanya suatu akar yang kuat dalam penjelasan mengapa memilih suatu aliran musik perlu mengerti kepada siapa kita memuji diantara sekian banyak aliran musik yang silih berganti suasana emosi, hati, jaman. Saya berlatar belakang GKI, dimana dulu saya pernah juga mengikuti lagu2 celebration era 90-an yang gegap gempita dengan slogan2 "kita umat pemenang", disisi yang lain penderitaan banyak dialami oleh org2 kristen dibelahan dunia yg lain, dan di indonesia sendiri karena iman kepada Yesus Kristus. Saat dulu pernah di grj saat ibadah dgn kidung jemaat dan ada lagu suplemen "Di depan Mata Yesus" lagu itu bukan lagu gegap gempita, tapi suatu lagu yg syairnya menelanjangi saya "how i am a sinner" lagu itu terus terkenang yg selalu mengingatkan kala sy merenung akan anugrah Tuhan akan hidup yg ngak layak sy dapatkan. Ada banyak lagu2 hymne yg saat dinyanyikan membuat hidup bergelora, dengan semangat yg menyala-nyala tanpa perlu iringan drum yg membuat jantung berdetak keras dan otak jadi selalu tegang akibat musik yang keras. mis: I rather have Jesus, It is Well, Allah benteng yg teguh dan lagu2 lain dalam semangat reformasi. Lagu2 yang selalu membangun diri dari nina bobo utk pemuasan emosi sesaat tapi melupakan kepada siapa kita memuji dan melalui pujian itu kitapun terbangun utk lebih arif dalam hidup dan memuliakan Tuhan. Suatu suasana teduh takkala memuji Tuhan dengan lagu2 yang tidak usang hingga usia lagu2 itu ratusan tahun tapi tetap mempunyai spirit yg tidak pernah pudar.

8. gomgom dari medan berkata pada 20 October 2011:

artikel dan semua pendapat diatas, sangat bagus,dan memberi pencerahan bagi yg paham,menurut saya kita harus kembali bahwa YESUS adalah pokok pujian penyembahan kita,serta firman TUHAN (alkitab )menjadi dasar dari kehidupan kristen. puji dan sembah lah TUHAN dengan segenap hati,jiwa,dan roh dan tubuhmu.tidak ada yg tersembunyi bagiNYA,apa yg menjadi dasar pujian atau apa yg menjadi dasar cara mu memuji TUHAN,kiranya didasarkan pada rasa takut dan taat agar yg kita lakukan itu berkenan bagi TUHAN. saya kira di akhir zaman ini kita sebaiknya saling menguatkan satu dengan yg lain tentu nya dengan motivasi kasih YESUS.dan TIDAK MEMBUAT CELAH DALAM KEHIDUPAN GERJA.tks

9. patara dari Medan berkata pada 20 October 2011:

Saya setuju dengan analisis bung Jethro. Sedikit share dari saya, saya seorang dari gereja injili (bukan GRII) namun secara pribadi saya dibentuk dalam akar teologi Reformed yang kuat.

Menurut saya, hampir semua alat musik baik untuk memuji Tuhan. namun ada syaratnya ketika dipakai dalam ibadah :

1. motivasi ( to God be the Glory)

2. cara memainkan alat musik ( ini yang cenderung berbahaya bagi pemusik, misalnya para drummer, karena cara bermain alat musik drum cenderung merangsang pemain drum untuk action di atas panggung, dan berkesan entertainment, apalagi ketika musiknya energik.

Menurut hemat saya, drum boleh dipakai dalam ibadah, namun alangkah baiknya drum-set nya disederhanakan, mungkin jadi mirip kumpulan perkusi timpani,cymbals. kemudian posisi drummernya jangan menghadap jemaat, tetapi sedikit serong menghadap altar, supaya ia ingat musiknya ditujukan kepada TUHAN yang ada dihadapannya. Ini juga berlaku untuk musik lainnya walau penekanan lebih banyak kepada drum. Ringkasnya : posisi pemusik pun harus menunjukkan penghormatan kepada Tuhan. (band. dgn cara bermain drummer, gitaris duniawi, dll yang lagi show)

3. Pemusik harus memainkan alat musik dengan benar sesuai jenis lagu. pernah di suatu gereja tertentu pemusik memainkan lagu 'Amazing grace' dengan corak pop kontemporer. Ini tidak tepat mengungkapkan maksud isi lagu tsb. Seharusnya ia dinyanyikan dengan corak hymn sebagaimana digubah oleh si mantan kapten kapal penjual budak,Jhon Newton. Demikin pula lagu "It is well" pernah saya dengar dibawakan dengan ala jazz. Saya menilai, mereka membawa lagu dng cara tsb sudah dipengaruhi kedagingan( spy musik nya enak sesuai seleranya / melodius di telinga dan nampak hebat). Padahal lagu "It is well" digubah oleh pengarangnya dengan airmata iman setelah kehilangan anak-anaknya dalam kecelakaan di laut. demikian jg, lagu "suci suci suci" harus dengan keagungan, bukan dengan beat dangdut.

Namun, saya menerima lagu kristen tidak hanya Hymn, banyak lagu rohani yang baik yang bercorak etnik atau kontemporer dengan syarat syair lagunya teologis alkitabiah dan iramanya pun menghormati Tuhan. Itu sebabnya saya tidak memasukkan jenis musik rock sebagai musik yang baik untuk ibadah.

trimakasih. to God be the Glory ( Fanny J Crosby).

10. ketrina tiwery dari ambon berkata pada 22 March 2012:

Mazmur 150: 1-5,1 Haleluya! Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat! 150:2 Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat! 150:3 Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi! 150:4 Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling! 150:5 Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang! 150:6 Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya! sangat jelas,BIARLAH SEMUA YANG BERNAFAS MEMUJI TUHAN, batu-batu saja akan dijadikan Tuhan untuk memujiNya apabila kita tidak mw memujiNya, apalagi jenis instrumen yang lain.... semua dijadikanNya untuk kemuliaan namaNya

11. Natan dari Bandung berkata pada 28 November 2012:

Tulisan pak Jetro sangat bagus tapi saya ingin mendapatkan kesimpulan dari pak Jetro mengapa Reformed memilih lagu2 hymn & menolak lagu2 pop yg banyak menggunakan drum?

Saya sendiri memang lebih suka lagu2 hymn tapi tidak punya argumen yg kuat.

Kalau pak Jetro pernah menulis artikel yg membahas hal tsb. bisa tolong di share.

Terima kasih.

12. TJ Situmorang dari Yogyakarta berkata pada 18 August 2013:

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah bertanya kepada Pak Tong mengapa memutuskan demikian (penggunaan alat musik klasik atau lagu hymne bukan pop band atau lagu pop). Selanjutnya mengkaji ulang alasan itu.

Pak Tong bukan Alkitab itu sendiri sehingga boleh saja ada pemahaman yang kurang tepat, terbatas atau pemahamannya benar tetapi oleh hikmat Tuhan menuntunnya untuk mengambil keputusan sedemikian. Kisah para rasul di Jerusalem yang mengambil keputusan untuk saudara-saudara di Antiokia yang berasal dari bangsa-bangsa lain adalah gambaran dari hikmat tersebut.

Secara pribadi saya tidak saja menemukan bahwa penggunaan alat musik drum bukan "tidak ada salahnya" tetapi "ada baiknya juga" (sampai saat ini GRII masih menerima natal tanggal 25 Desember dan Yesus disalib pada hari Jumat kan. Kesalahan dan tradisi yang tidak cukup "bernilai" untuk dirubah) Sekalipun drum, jazz & Blues bahkan rock punya kajian "negatip" tidakkah hasil karsa itu bisa digunakan untuk kemuliaan Tuhan? Bukankan segala pengetahuan adalah berasal dari Tuhan dan (bisa) disalahgunakan untuk iblis, keinginan daging? Atau adakah kita menganut bahwa "ada pengetahuan dan karsa yang berasal dari si Iblis sehingga kita sebutkan -produk kegelapan?

Kiranya memberi pencerahan dan pencerahan datang dari Roh Kudus

13. Samuel dari Bandung berkata pada 18 August 2013:

Saya berasal dari aliran bukan reformed jadi kalau musik ngga oke kalau ngga ada drumnya.

Tetapi setelah sekian lama ikut reformed saya merasakan lagu2 hymne lebih cocok dinyanyikan bersama-sama dibandingkan lagu-lagu rohani sekarang (band) yang lebih cocok untuk show.

Bagi saya lagu yang cocok untuk ibadah adalah lagu yang bisa dinyanyikan bersama-sama dengan seluruh sidang jemaat, dengan semangat walaupun tanpa ada alat musik. Jika suatu lagu sangat tergantung dengan suatu alat musik maka lagu ini menurut saya kurang cocok dinyanyikan di suatu congregation tetapi lebih cocok untuk show.

14. Billy dari Yogyakarta berkata pada 29 July 2014:

Menurut hemat saya, semua alat musik sejatinya dapat dipergunakan untuk ibadah. Dengan kendang, dengan kecapi, dengan rebana, dan dengan alat musik apa 'pun.

Setelah itu adalah dalam pemilihan lagu yang dinyanyikan. Hendaknyalah lagu yang dinyanyikan adalah lagu yang mencerminkan penyembahan & pengagungan kita kepada Tuhan. Karena hanyak sekali lagu-lagu kristiani modern yang asal bagus dinyanyikan sa'at ibadah namun liriknya terkesan terlalu berani. Misal: "'ku pandang jawajah-Mu dan berseru .....", lirik yang ambigu dengan banyak pertanya'an dan tafsiran.

Setelahnya dalam menyanyikan 'pun harus berhikmat & maestoso (dengan segenap hati segenap jiwa).

Dulu saya mendengar paduan suara, irama organ, bahkan ibadah dengan irama keroncong, bosan. Saya sempat menyenangi irama ibadah dengan alat musik kontemporer. Tetapi entah kenapa ada kekosongan dalam diri saya karena ada banyak lagu dinyanyikan seperti yang saya sebutkan diatas tadi, cenderung asal bagus & terlalu berani. Lantas, entah kenapa saya jadi jatuh hati dengan irama yang dulu saya sempat bosan. ====> pengalaman saya, tidak hendak mengejek.

Jadi kesimpulan saya disini adalah: - Pemilihan alat musik dalam ibadah adalah disesuaikan dengan denominasi gereja tersebut. - Pemusik & penyanyi (paduan suara, wl, singer) hendaknya mengutama hikmat & jangan menjadi ajang sok aksi "aku yang paling bisa/keren/dll". - Pemilihan lagu hendaknya yang menggugah jema'at untuk merendahkan diri, dan menyembah Tuhan dan lagu hendaknya juga tidak asal menarik tetapi yang benar-benar menimbulkan keagungan Tuhan. - Pengguna'an alat musik lagin diluar ibadah mingguan dapat disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi dan situasi.

15. yogi setiawan sitompul dari jambi berkata pada 2 October 2016:

saya sangat setuju penggunaan musik klasik di dalam gereja, tapi bukan karena saya anti menggunakan musik lain selain musik klasik di dalam gereja. menurut saya musik klasik tidak beda halnya dengan musik yang lain yaitu sama2 musik. apakah musik yang di pentaskan atau di putar itu baik untuk di dengar oleh orang kristen maupun orang non kristen bukan tergantung terhadap jenis musiknya, tetapi tergantung komposer yang menciptakan lagu tersebut. sebagai contoh musik dangdut mempunyai kesan yang buruk di masyarakat, tetapi bukan berarti kita sebagai orang kristen anti terhadap musik dangdut. bisa saja kita sebagai orang kristen mengadaptasi dan mengubah musik dangdut diciptakan untuk memuji Tuhan. bukankah sebelum ada kristen orang zaman dahulu memuji Tuhan dengan gendang, rebana, dan kecapi? tetapi mengapa saya sangat pro dengan musik klasik di gunakan di dalam gereja? karena musik klasik adalah musik yang berasal, diciptakan, dikembangka, oleh musisi-musisi gereja yang ditujukan untuk memuji Tuhan dan sudah menjadi budaya gerja selama berabad-abad. musik klasik mempunyai kesan megah, elegan dan musik klasik dapat mengekspresikan berbagai macam emosi manusia lebih baik dari pada jenis musik lain entah itu senang, sedih dll. menurut saya musik klasik bisa mengimbangi kesan keras, heroik yang ada di dalam musik rock lebih baik dari musik rock itu sendiri. bahkan banyak sekali musisi-musisi yang menggabungkan musik-musik kontemporer dengan musik klasik. sebut saja queen-bohemian rhapsody yang tersohor itu, yang musiknya menggabungkan musik rock dengan opera, atau bapak neoclassic yngwie malsmsteen dari swedia yang menggabungkan musik klasik dengan musik metal menjadi neo classic metal dan dia mengaku musiknya banyak terinspirasi dari J.S bach. X japan band metal asal jepang yang frontmannya yoshiki hayashi menggabung musik metal dengan musik orchestra. atau bee gees yang menggabungkan musik klasik dengan disco di lagunya night fever. dan masih banyak lagi musisi di luar sana yang sangat mengapresiasi musik klasik di gunakan untuk musik sekuler baik oleh musisi kristen maupun musisi non kristen. pertanyaannya bukan mengapa sebagai orang kristen kita menggunakan musik klasik sebagai musik yang di gunakan untuk mumuji dan menyembah Tuhan? tetapi mengapa kita yang seorang kristen tidak bisa mengapresiasi musik klasik yang adalah budaya dan bagian gereja kristen. mengapa orang diluar gereja lebih mengapresiasi musik klasik ketimbang orang gereja? mengapa kita justru mengambil musik yang bukan dari budaya kristen untuk digunakan sebagai musik untuk memuji dan menyembah Tuhan? apakah berdosa menyembah dan memuji tuhan dengan jenis musik lain? tidak sama sekali. tetapi dengan syarat kristen harus mengutamakan, memprioritaskan musik-musik klasik yang notabene menjadi budaya gereja. bayangkan orang cina yang keamerika-amerikaan, sudah tidak tahu bahasa cina, sudah kehilangan identitas budayanya. atau orang batak yang kejepang-jepangan, tidak tahu lagi bahasa batak, sudah kehilangan identitas budayanya. atau orang jawa yang keindia-indiaan, tidak tahu bahasa jawa, sudah kehilangan identitasnya, atau bangsa indonesia yang terkenal dengan kekayaan budayanya sudah tidak cinta lagi terhadap budayanya, kehilangan budayanya dan meninggalkannya karena mengadopsi budaya lain. sangat sedih bukan? bayangkan itu terjadi terhadap kristen. bayangkan musik klasik sudah hilang dari muka bumi dan orang kristen mengadopsi musik duniawi yang bukan berasal dari kristen. sangat sedih bukan? orang islam memiliki musiknya sendiri yang mempunyai bentuk dan cirikhasnya sendiri. orang budha memiliki musiknya sendiri yang mempunyai bentuk dan cirikhasnya sendiri. orang yahudi memiliki musiknya sendiri yang mempunyai bentuk dan cirikhasnya sendiri. dan orang kristen memiliki musiknya sendiri yang mempunyai bentuk dan cirikhasnya sendiri yang membedakan musik kristen dengan musik non kristen.

16. Budi asali dari Surabaya berkata pada 24 March 2017:

Reformed atau bukan Reformed tergantung pada ajaran dan sama sekali tak ada hubungannya dengan alat musik apa yang digunakan.

17. Esra Soru dari Kupang berkata pada 25 March 2017:

Setuju dengan Pdt. Budi Asali. Kalau mau strik, piano juga tidak ada dalam Alkitab. Kenapa digunakan? Kenapa tak pake saja kecapi, ceracap, gambus, dll?

18. Romeo Oscar dari Bandung berkata pada 23 July 2017:

Musik dan alat musik adalah ekspresi budaya. Bagi penyelera musik klasik silakan berselera. Tidak perlu memperalat alkitab utk memperoleh otoritas demi mendukung selera musik kebaktian anda lebih alkitabiah dan orang lain tidak.

19. Gerald Leonardo dari Jakarta berkata pada 9 August 2017:

Genre musik memberi warna pada dunia, begitu juga dalam musik gerejawi, selama itu pantas kenapa tidak, dan ukuran pantas atau tidak pantas juga relatif, contoh di Jamaica musik reagae memberi warna pada musik Gereja apakah itu salah? Bagaimana Gondang Batak? Lalu bagaimana dengan klasik, bukankah itu "budaya Eropa"? So.. apakah Asia tidak punya budaya Kristen? Tuhan melihat hati, bukan aliran musik.

20. charles dari jakarta berkata pada 14 August 2017:

saya masuk Kristen di gereja pentakosta Gereja Bethel Indonesia tahun 2000, saya akui musik praise & worship ( p & w) GBI cukup dinamis dan enak di dengar.

Ada Pendeta GBI yang pernah mengkritik GBI bahwa musik p & w bisa menyesatkan jemaat ditambah dengan aksi Worship Leadernya karena memainkan emosi jemaat lewat permainan musik dan kata-kata yang menunjukkan seakan-akan ada hadirat Tuhan sehingga banyak jemaat terbawa emosi sambil menangis dan merasa sudah dijamah oleh roh Kudus. Belum lagi kata-kata di lagu-lagunya yang tidak alkitabiah.

4 tahun ini baru saya sadari hal itu benar, emosi jemaat bisa dimainkan oleh permainan musik dan merasa dijamah Roh Kudus padahal itu hanya emosi dan sugesti.

beberapa tahun belakangan ini, saya lelah dengan pengajaran di GBI yang selalu bicara berkat , mujizat dan hal-hal materi, lalu saya dengar kotbah Pak Tong dan Pdt Billy Kristanto di youtube, kotbah beliau sangat memberkati saya, beda sekali dengan pengajaran di GBI

Saya ingin coba ibadah di GRII tapi hal yang mengganjal yaitu musik yang dipakai di GRII. pertanyaan saya : 1. apakah di GRII ada pujian yang memakai lagu-lagu kontemporer yang kata-katanya alkitabiah ? 2. saya pernah lihat ibadah GKY di youtube, lagu-lagunya kontemporer dan alkitabiah dan menggunakan piano. apa GRII ada ibadah seperti itu ?

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi yang telah menjangkau 17 kota di Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Allah menghendaki agar semua orang selamat bukan sebagian orang, 1 Timotius 2:4 yang menghendaki supaya semua orang...

Selengkapnya...

Apakah postmodern yang akan semakin berkembang kedepan harus Kita tolak sebagi orang Kristen? Karena mungkin saja Ada...

Selengkapnya...

Apakah postmodern yang akan semakin berkembang kedepan harus Kita tolak sebagi orang Kristen? Karena mungkin saja Ada...

Selengkapnya...

Bila ALLAH tidak mem-predstinasi maka semua manusia masuk neraka. Karena ALLAH mem-predestinasi maka ALLAH mengutus...

Selengkapnya...

Saya sangat diberkati artikel ini. Seharusnya orang kristian itu berbuah dan terus berbuah.Tuhan mmeberkati kita...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲