Artikel

Identitas Kristen

1 Petrus 2:9

Rasul Petrus di dalam ayat ini memberikan empat deskripsi tentang orang Kristen. Empat sebutan atau identitas ini mengontraskan orang Kristen dengan orang-orang yang tidak percaya yang tersandung oleh batu yang hidup, batu penjuru, yaitu Yesus Kristus (ayat 4 dan 7). Di dalam hal ini, Alkitab menyatakan kepada kita bahwa Kekristenan merupakan antitesis. Hanya ada dua kelompok orang di dunia ini, orang percaya dan orang tidak percaya. Orang Kristen beridentitas antitesis dari identitas orang-orang yang tersandung.

Keempat identitas orang Kristen ini dengan jelas mengambil gambaran umat Israel di dalam Perjanjian Lama. Orang-orang Kristen merupakan Israel sejati yang melanjutkan rencana Allah sejak semula. Orang Kristen merupakan penggenapan dari sejarah Israel sebagai bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, dan umat kepunyaan Allah sendiri. Inilah identitas kita sebagai orang Kristen.

Bangsa yang Terpilih

Orang Kristen adalah bangsa yang terpilih. Bangsa ini terdiri dari orang-orang yang dipilih Tuhan. Satu-satunya kriteria menjadi bagian dari bangsa ini adalah pemilihan Tuhan. Bangsa yang terpilih tidak memandang jenis ras, warna kulit, kedudukan sosial, maupun kualitas kerohanian seseorang, melainkan semata-mata hanya berdasarkan pemilihan Tuhan.

Sebelum dunia dijadikan, Allah telah melakukan pemilihan, penyeleksian dan penentuan. Di hadapan Dia yang mahatahu, berdirilah segenap keturunan Adam, dan dari antara mereka inilah Allah menghususkan dan mempredestinasikan sejumlah orang untuk “diangkat sebagai anak-Nya” mempredestinasikan mereka untuk “dijadikan serupa dengan gambaran Anak-Nya”, “menentukan” mereka untuk memperoleh hidup yang kekal.[1]

2Tes. 2:13b mengatakan, “Sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai.” Pemilihan ini tidak didasarkan kepada apa pun juga selain dari kerelaan kehendak-Nya (Ef. 1:3-5), dan berdasarkan kasih karunia-Nya sendiri (2Tim. 1:9). Pemilihan Allah didasarkan kepada diri Allah sendiri sebagai subjek pemilihan dan bukan karena objek pemilihan-Nya. Dengan ini kita menolak pandangan sinergisme yang melihat keselamatan sebagai kerjasama antara penawaran anugerah Allah dengan respons iman dari manusia. Theologi Reformed memegang pandangan monergisme yang melihat bahwa keselamatan adalah sepenuhnya karya anugerah Tuhan. Iman sebagai respons manusia pun merupakan anugerah Tuhan.

Dalam Perjanjian Lama, Tuhan memilih Israel sebagai bangsa pilihan-Nya bukan karena Israel memiliki kualitas tertentu tetapi karena Tuhan mengasihi Israel dan memegang sumpah yang telah diikrarkan-Nya (Ul. 7:7-8). Tuhan memilih Israel untuk melayani Dia dan membuat keselamatan yang daripada-Nya termasyhur (Mzm. 67:2). Selain sebagai hamba-Nya, Tuhan juga memanggil Israel sebagai anak sulung-Nya (Kel. 4:22), mempelai-Nya (Yeh. 16:6-14), dan sebagai biji mata-Nya (Ul. 32:10). Hanya karena kedaulatan kasih-Nya, Tuhan memberikan status tersebut kepada bangsa Israel.

Selain penggunaan kata 'bangsa' di dalam beberapa terjemahan bahasa Inggris, juga dipakai kata 'ras', yaitu: orang-orang yang berasal dari satu nenek moyang. Orang Yahudi melihat dirinya sebagai keturunan Abraham secara ras. Sedangkan orang Kristen melalui Kristus menjadi satu ras sebagai saudara. Kata yang sama dipakai di dalam Perjanjian Lama, yaitu di Yesaya 43:20-21 yang menunjuk kepada umat Israel. Gereja sebagai bangsa yang terpilih merupakan Israel sejati. Kata 'Gereja' dituliskan dengan kata 'ekklesia' (dalam Perjanjian Baru) yang memiliki arti serupa dengan kata 'qahal' (dalam Perjanjian Lama). Keduanya berasal dari satu turunan kata kerja yang berarti “dipanggil bersama-sama” dan menunjuk kepada satu kumpulan orang yang datang bersama-sama untuk satu tujuan.

More than any of the prophets that were before him, Christ addressed himself to the hearts of individual men. For the true Israel – the true people of the Kingdom – are not those who are Israelites by race, nor yet those who are of that elite group in Israel who know and keep an external law, but those individual men, however lowly and weak, who have in heart and deed signified their obedience to the calling of God.[2]

Gereja sudah dipilih dari kekekalan. Gereja merupakan anggota Kerajaan Allah. Karena itu kewarganegaraan kerajaan dunia ini bukanlah identitas ultimat kita. Gereja sebagai individual dari segala zaman merupakan satu komunitas yang sudah dibentuk dari kekekalan dan akan terus bersama-sama di dalam kekekalan. Inilah identitas orang Kristen yang pertama, yaitu: bangsa yang terpilih, umat Allah dalam kerajaan-Nya.

Imamat yang Rajani

Kata 'rajani' di sini menunjuk kepada satu dimensi kerajaan. Imamat rajani dikaitkan dengan kerajaan imam yang ditulis dalam Keluaran 19:6 di mana dalam kerajaan imam ada seorang raja. Dalam nubuat Zakaria 6:13, Kristus digambarkan sebagai seorang raja dan sekaligus imam yang duduk di atas takhta. Dalam ayat ini Petrus menggambarkan orang-orang Kristen sebagai imamat rajani, yang memiliki kedua status fungsional sebagai raja dan imam.

Di dalam Perjanjian Lama, jabatan imam merupakan perantara (mediator) antara umat Allah dengan Allah. Imam memiliki suatu keistimewaan di mana mereka bisa memasuki ruang suci bait Allah. Di sini kita melihat adanya suatu peran ganda yaitu memiliki suatu keistimewaan yang diturunkan untuk memimpin umat Allah (sebagai raja) dan menjadi perantara antara manusia dan Allah (sebagai imam). Imamat rajani bagi semua orang percaya berarti hilangnya batas keturunan secara fisik dalam keimaman (yaitu harus dari suku Lewi), dan yang kedua memberikan setiap orang Kristen status sebagai raja dan imam, suatu status yang begitu tinggi di dalam kehidupan orang Israel. Di dalam kerajaan Allah kita memerintah bersama-sama dengan Kristus dan menjadi pelayan anugerah Tuhan bagi orang lain. Bila dibandingkan dengan kehinaan kita sebagai orang berdosa dan seharusnya menjadi obyek murka Tuhan, bukankah status yang Tuhan berikan menjadi imam dan raja merupakan suatu kedudukan yang begitu terhormat? Tuhan bukan menjadikan kita budak yang tidak memiliki hak apa-apa di rumah-Nya, melainkan memberikan kita status dan hak sebagai anak-anak Allah.

Kematian Kristus sudah membelah tabir yang memisahkan ruang Maha Suci  (di mana hanya Imam Besar yang boleh memasukinya), karena itu semua orang Kristen mempunyai jalan masuk untuk menghadap Tuhan secara langsung. Orang Kristen memiliki hubungan langsung dengan Tuhan tanpa perantaraan imam.

Orang Kristen adalah imam bukan karena kita memakai jubah imam, tetapi karena kita berani datang kepada hadirat Tuhan karena Kristus; dan kita adalah raja bukan karena kita memakai mahkota, memiliki tanah kekuasaan, dan orang-orang yang tunduk kepada kita, melainkan karena kita adalah pemenang atas dosa, kematian, dan neraka di dalam Kristus.

So we conclude that we are all kings. Priests and kings are all spiritual names. And just as you are not called a Christian because you have much gold or wealth, but because you are built upon this stone and believe on Christ, so you are not called a priest because you wear a tonsure or long robe, but because you dare come into God’s presence. Likewise you are not a king because you wear a gold crown and have many lands an people subject to you, but because you are lord over all things, death, sin and hell.[3]

Status imam dan raja kita merupakan status yang kekal dan bukan dari dunia ini, melainkan pemberian Allah sejak semula. Pemilihan Allah dan pemberian status imamat rajani tidaklah bisa dipisahkan. Setiap orang Kristen memiliki status ini.

Kita dipanggil menjadi imam di hadapan Tuhan, demikianlah keseluruhan hidup kita adalah suatu pelayanan ibadah kita di hadapan Tuhan. Inilah salah satu identitas kita sebagai orang Kristen yaitu sebagai pelayan Tuhan. Sejalan dengan identitas sebagai pelayan Tuhan, setiap orang Kristen diberi karunia talenta untuk melayani sesuai dengan kehendak Tuhan.

Bangsa yang Kudus

Terminologi ini juga terdapat dalam Keluaran 19:6. Kata 'kudus' dalam bahasa Ibrani adalah 'qados' yang berarti dipisahkan. Umat Israel merupakan umat yang dipisahkan Tuhan untuk menyembah Tuhan. Orang Israel dipisahkan untuk berbeda dengan bangsa-bangsa lain, sepenuhnya mengikuti Tuhan di dalam beribadah, gaya hidup, melayani Tuhan, dan dengan kata lain, seluruh keberadaan hidupnya. Orang Kristen adalah orang yang dipilih dan dipisahkan Tuhan di dalam Kristus untuk melayani Tuhan. Kita dipisahkan untuk menjadi serupa dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Kita dipisahkan dari dunia untuk hidup kudus seperti Tuhan yang adalah kudus. Identitas orang Kristen dinyatakan melalui kekudusan hidupnya. Setiap orang Kristen yang sudah lahir baru akan membenci dosa, meninggalkan jalan hidupnya yang lama, dan mencintai kekudusan Tuhan. Seluruh hidupnya hanya dikuduskan untuk melakukan apa yang menjadi rencana dan kehendak Tuhan baginya.

Orang-orang yang ditebus Tuhan masuk ke dalam persekutuan di dalam Kristus (union with Christ). Melalui iman, setiap orang percaya mengalami pembenaran dan pengudusan di dalam persekutuan dengan Kristus. Calvin melihat pembenaran dan pengudusan sebagai dua dimensi dari satu aspek, atau dua sisi dari satu mata uang. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Setiap orang yang dipilih Tuhan mengalami pengudusan. Kita dikuduskan untuk dipisahkan dari dunia untuk menjadi alat kekudusan Tuhan di tengah-tengah dunia yang berdosa.

Our union with Jesus not only obliges us to keep a distance from the disposition and profane fashions of the men whose portion is in this earth, and to consecrate ourselves wholly for the Lord’s use in the study of holiness, but likewise it does really make believers a holy people.[4]

Gereja sebagai mempelai Kristus disucikan oleh Kristus seperti yang tertulis di dalam Efesus 5:25-27, “Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.” Bagaimana dengan hidup kita yang juga adalah Gereja? Sudahkah hidup kita menyatakan kita telah disucikan Kristus melalui kehidupan kita yang kudus di hadapan Tuhan?

Umat Kepunyaan Allah

Setiap orang yang dipilih Tuhan adalah orang-orang yang merupakan umat kepunyaan Allah. Allah memiliki mereka sepenuhnya. Tidak ada satu orang yang dapat mengabdi kepada (milik) dua tuan sekaligus (Mat. 6:24). Sekali menjadi milik Allah, maka mereka adalah milik Allah selamanya (jaminan iman orang Kristen, Roma 8:38-39). Orang Kristen adalah kepunyaan Allah karena mereka sudah dibeli dengan darah Yesus Kristus.

Umat Israel merupakan milik Tuhan. Imamat 26:12 mengatakan, “Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku.” Selain sebagai umat, Alkitab menggambarkan Israel sebagai istri-Nya (seperti kisah Hosea), kebun anggur-Nya, dan kawanan domba-Nya. Di Perjanjian Baru, Gereja disebut sebagai mempelai Kristus (milik Kristus). Gereja adalah ranting dari pokok anggur yaitu Kristus, tubuh Kristus, serta bait Allah yang adalah tempat berdiamnya Roh Kudus.

Di ayat yang ke-10, Petrus mengutip kitab Hosea, “Kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.” Gereja adalah orang-orang yang dulunya bukan milik kepunyaan Allah dan tidak dikasihani (tidak menerima belas kasihan/mercy). Gereja adalah milik kepunyaan Allah karena ia telah beroleh belas kasihan-Nya.

Allah adalah Allah yang pencemburu. Dia menuntut kesetiaan dari kepunyaan-Nya. Keluaran 20:5 mengatakan, “… Sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu....” Tuhan cemburu bukan dalam pengertian iri hati, melainkan karena kita menyerahkan apa yang menjadi hak Tuhan kepada yang lain (berhala). Pada saat loh batu yang baru diberikan, Tuhan berkata sekali lagi, “Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.” (Kel. 34:14). Kecemburuan Tuhan tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menyatakan kekudusan, keadilan, dan kebenaran-Nya, serta untuk menunjukkan kedaulatan-Nya terhadap penghukuman atas dosa dan penebusan umat pilihan-Nya.

For God’s ultimate objective, as the Bible declares it, is threefold – to vindicate his rule and righteousness by showing his sovereignty in judgment upon sin; to ransom and redeem his chosen people; and to be loved and praised by them for his glorious acts of love and self vindication.[5]

Tujuan Gereja

Di dalam ayat ini Petrus menyatakan tujuan Gereja, yaitu: membawa orang-orang yang hidup dalam kegelapan masuk ke dalam terang Tuhan yang ajaib dengan cara memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Tuhan. 'Perbuatan yang besar' dalam bahasa Yunaninya adalah 'aretas' yang artinya: memiliki aspek moral di dalam membawa keselamatan dan mengakibatkan penyembahan (praises) oleh orang-orang yang merespons keselamatan itu. Orang Kristen harus memberikan kesaksian bagaimana Tuhan sudah menarik kita dari kegelapan menuju terang. Hanya karena panggilan Tuhan kita bisa masuk ke dalam terang, dan sesungguhnya kita dahulu sama dengan orang-orang yang masih berada di dalam kegelapan. Mereka membutuhkan pemberita-pemberita Injil sebagai alat Tuhan memanggil mereka masuk ke dalam terang Tuhan yang ajaib.

Keempat identitas Gereja tidak memberi batas kepada perbedaan budaya, bahasa, suku/ras, pendidikan, dan lain sebagainya, tetapi kepada rencana dan kehendak Tuhan yang harus dinyatakan oleh setiap pribadi yang adalah Gereja di tengah-tengah dunia ini. Karena itu Gereja harus membawa identitasnya dan menjalankan tujuannya secara universal. Pemberitaan Injil adalah untuk semua orang dan ke segala tempat, tidak terbatas pada letak geografis maupun kualitas orang. Sudahkah kita secara pribadi menjalankan panggilan identitas kita sebagai Gereja? Kiranya Tuhan terus memampukan kita untuk berani dan rela menjalankannya. Soli Deo Gloria.

 

Chrisnah Ruston

Mahasiswi Institut Reformed Jakarta

 

Bibliography



[1] A.W. Pink, Kedaulatan Allah, hal. 54

[2] John Bright, The Kingdom of God, hal. 220

[3] Martin Luther, Commentary on Peter and Jude, hal. 104

[4] Alexander Nisbet, An Exposition of 1 & 2 Peter, hal. 80

[5] J.I. Packer, Knowing God, hal. 172

Chrisnah Ruston

Februari 2009

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Nama
Kota
Alamat imel
Pastikan alamat imel anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui imel.
 
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk KIN bagi Guru Sekolah Minggu dan Guru Pendidikan Agama Kristen yang telah diadakan pada tanggal 11-16 November 2014. Bersyukur untuk lebih dari 3.000 peserta yang telah menghadiri acara ini, kiranya api penginjilan yang telah dikobarkan terus membara.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Ditengah suasana Natal kita diingatkan untuk melihat dan mengingat dengan pasti pada kedatanganNya yang Pertama...

Selengkapnya...

Struktur dan pembagian al-quran. al-quran terdiri ats 114 bagian yg dikenal dgn nama suroh ( surat ) dan 6666...

Selengkapnya...

Samson memang memiliki karakter yang tidak taat, ketika ia menjadi hakim bagi bangsa Israel, dia juga mengambil...

Selengkapnya...

Terimakasih buat renungannya yang sangat memberkati saya sebagai bahan reference untuk share di big group nanti...

Selengkapnya...

samson dapat menjadi simbol iman ketaatan dan keberanian

Selengkapnya...

© 2010, 2014 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲