Artikel

Injil Sejati = Injil yang Utuh

Bicara mengenai Injil di dalam hidup manusia bukan berarti hanya bicara mengenai berita Injil seperti yang biasa didengungkan dalam KKR. Bicara mengenai Injil di dalam hidup manusia adalah bicara mengenai keseluruhan hidup yang sudah diubahkan oleh berita Injil dan dikembalikan kepada hidup sebagai seorang manusia secara utuh. Apakah artinya ini?

Manusia diciptakan sebagai Image of God dengan tujuan tunggal di dalam dunia ini yaitu untuk menjadi wakil Allah di tengah-tengah dunia ciptaan. Sebagai wakil Allah, manusia diberikan otoritas untuk menaklukkan semua ciptaan lainnya di dunia ini sesuai dengan perintah yang Tuhan berikan. Inilah yang dicatat di dalam kitab Kejadian, Allah memberi perintah kepada manusia untuk bertambah banyak dan memenuhi bumi lalu untuk berkuasa atas segala ciptaan Allah. Adam pun meresponi perintah/firman Tuhan ini dengan menjalankan tugasnya dengan tepat. Dengan demikian, Adam sedang menghadirkan Allah melalui respons dia terhadap firman Allah dengan setia dan taat sehingga seluruh ciptaan boleh takluk kepada Allah melalui Firman yang nyata dalam hidup Adam.

Setelah Fall, prinsip ‘menyatakan firman Allah’ ini tetap sama namun berubah sifat menjadi bersifat redemptive (menebus). Melihat pada prinsip yang sama seperti sebelum Fall, Injil tidak dapat hadir hanya dalam bentuk Injil yang sempit yaitu hanya sebatas berita Injil. Pengembalian semua manusia untuk takluk kepada Allah mengharuskan Injil hadir di dalam seluruh aspek kehidupan orang tersebut sehingga kembali hidup menjadi image of God yang utuh. Maka, membawa manusia seutuhnya untuk boleh takluk kepada Kristus harus dimulai dari pembawa Injil yang hidupnya sudah takluk terlebih dahulu pada Kristus. Di dalam pengertian ini, penginjilan tidak hanya sebatas ‘pemberitaan secara lisan’ tetapi juga kesaksian keseluruhan hidup yang takluk kepada Kristus. Inilah penginjilan yang sejati!

Maka, dalam konteks Fall, Injil harus dimulai dengan pesan yang jelas dari Allah yang menyatakan bahwa manusia sudah berdosa dan hanya dapat kembali kepada Allah hidup sebagai image of God melalui the only mediator yaitu Kristus. Tidak ada jalan lain yang dapat membawa manusia kembali kepada Allah selain yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Inilah berita Injil yang secara utuh harus dinyatakan di dalam dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa. Kristus adalah satu-satunya Mediator bagi manusia berdosa agar dapat kembali kepada Allah dalam segala aspek kehidupannya, tanpa terkecuali.

Mengapa Injil harus hadir dalam bentuk seperti ini? Karena memang begitulah sifat dari wahyu Allah sejak dari awalnya. Di dalam beberapa edisi terakhir, Pillar banyak membahas mengenai wahyu umum dan wahyu khusus dari Allah. Jika mau melihatnya dari sisi wahyu Allah, berita Injil yang adalah wahyu khusus dari Allah harus mendefinisikan manusia yang adalah wahyu umum Allah. Dalam konteks penginjilan berarti bagaimana wahyu Allah yang utuh di dalam hidup orang percaya diberitakan kepada orang yang belum percaya. Keberadaan Injillah yang mendefinisikan seseorang termasuk ‘orang percaya’ atau ‘bukan orang percaya’. Demikian juga, keberadaan Injil Allah yang mendefinisikan seseorang yang merupakan ‘orang percaya’ sebagai ‘taat’ atau ‘tidak taat’ dalam setiap segi kehidupannya yang harus meresponi Injil Allah.

Kehadiran Injil dalam keutuhannya inilah yang membuat setiap manusia tidak dapat berdalih bahwa Allah tidak menyatakan Diri-Nya kepadanya. Demikian juga kehadiran Injil dalam keutuhannya dalam diri seorang pemberita Injil membuat orang yang diinjili tidak akan dapat menghindar dan lari dari meresponi Injil, baik ‘bertobat dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat satu-satunya’ maupun ‘tetap menolak Injil yang diberitakan’. Tidak ada jalan lain daripada dua respons ini.

Dari sisi orang percaya, menghidupi Injil dalam keutuhannya merupakan suatu kesulitan yang kompleks, walaupun bukan tidak mungkin untuk dilakukan. Tuntutan akan hidup demikian harus dilihat sebagai anugerah Allah bagi manusia berdosa untuk kembali menghidupi panggilannya sebagai image of God, yakni mewakili Allah di dunia ini. Ketidaktaatan kita akan membuat dunia tidak dapat melihat Allah dalam diri kita yang seharusnya menyatakan Allah. Maka, kita harus belajar menghidupi hidup yang kembali menjalankan apa yang Allah perintahkan. Kita harus mempelajari firman Tuhan dengan baik dan menghidupinya di dalam hidup sehari-hari dan juga mengejar pengetahuan sedalam-dalamnya sebagai respons manusia yang utuh kepada wahyu yang utuh dari Allah. Inilah penginjilan yang utuh yang menyatakan respons terhadap wahyu yang utuh. Kiranya pengenalan akan Injil yang utuh seperti ini boleh dimengerti oleh setiap orang percaya dan khususnya boleh dilakukan sebagai gaya hidup yang penuh dengan penginjilan kepada semua orang di mana pun dan kapan pun dalam hidup kita.

 

Aries Chandra Kencana

Pemuda FIRES

Aries Chandra Kencana

November 2010

2 tanggapan.

1. Kudeng Sallata dari Makassar berkata pada 6 December 2010:

1. Dalam penginjilan sering saya bingung sendiri karena respon orang diinjili tidak jelas seperti yang disebutkan yaitu menerima atau menolak tapi abu-abu sehingga bagaimana kita menilai bahwa hasil penginjilan yang kita lakukan berhasil atau tidak. 2. Apakah ada pembiaran dari Tuhan terhadap adanya kristen sejati tetap bercampur dengan Kristen palsu, sebab kadang-kadang dalam pengambilan kebijakan sepertinya yang palsu yang banyak pegang peranan, apakah memang begitu?

2. Kelvin dari Bandung berkata pada 9 December 2010:

1. Tugas manusia (org Kristen) untuk menyebarkan injil, bukan membuat orang percaya, karena yang membuat org percaya adalah RK, jadi keberhasilan manusia diukur dari sejauh mana sudah menggenapkan kehendak Allah akan dirinya, baik itu dalam penginjilan ataupun hal-hal lainnya, dan BUKAN sekedar berdasarkan apa yg kelihatan mata, baik itu secara kuantitas maupun kualitas. Penginjilan adalah pengabaran injil, bukan membuat(memaksa) orang menerima injil, oleh sebab itu keberhasilan penginjilan bukan dilihat dari apakah seseorang yang diinjili mau menerima atau tidak. Respon manusia terhadap injil hanya ada 2, terima atau tidak, (tentu saja itu bukan kehendak bebas manusia (predestinasi)); "wilayah abu2" bisa jadi merupakan proses menuju jawaban final. Dan sekali lagi saya rasa fokus kita bukan di jawaban mereka tapi lebih kepada tugas kita sendiri.

2. ilalang dan gandum memang tumbuh bersama2 hingga waktuNya, baru akan dipisah, dan saya rasa tidak bisa 'segampang itu' men-judge mana yang asli mana yang palsu...

jika ada yg sesepuh yg lain mohon bimbingannya juga :)

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menurut saya artikel yg membingungkan...terakhir dinyatakan iman dan perbuatan baik tidak dapat dipisahkan.....awal...

Selengkapnya...

Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲