Artikel

Practicing Christian Worldview on Medical Practice

Dalam 1Kor 10:31, Paulus mengatakan “apapun yang engkau perbuat, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah”. Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa apapun yang kita kerjakan dalam setiap aspek hidup kita semuanya adalah untuk kemuliaan Tuhan, tanpa terkecuali. Baik itu pekerjaan rumah tangga, pekerjaan tukang sapu, pekerjaan kantor, apa saja, termasuk pekerjaan dalam bidang medis, semuanya harus dikerjakan untuk kemuliaan Tuhan. Bahkan makan minum pun Paulus katakan, semua itu untuk kemuliaan Tuhan. Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah dalam konteks kita sebagai tenaga medis, baik dokter atau mahasiswa kedokteran, atau perawat, dan lain sebagainya, bagaimana kita menerapkan firman Tuhan tersebut dalam pekerjaan kita? Apakah pekerjaan yang kita lakukan adalah pekerjaan yang memuliakan Tuhan?

Sebagai seorang Kristen yang sungguh-sungguh ingin hidup bagi Tuhan, seringkali kita merasa sudah memuliakan Tuhan ketika kita melayani Tuhan dalam persekutuan dan gereja. Cara kita memuliakan Tuhan adalah dengan menumpuk kegiatan rohani seperti pelayanan gereja, PI, dan studi Alkitab sebanyak-banyaknya di atas pekerjaan medis kita, atau mungkin bahkan kita dapat menggabungkannya dengan cara mengobati atau merawat pasien sambil memberitakan Injil kepadanya.

Apakah benar dengan cara demikian  kita sudah memuliakan Tuhan dalam hidup kita sebagai seorang tenaga medis? Mungkin sekali tidak. Lalu kita akan mencoba menyelesaikannya dengan cara menjalankan etika yang baik (baca: perbuatan baik seperti menolong orang yang tidak sanggup membayar dengan membebaskan biaya konsultasi) dalam melakukan pekerjaan tersebut. Sekali lagi, cara tersebut hanya menambahkan aksesoris di dalam usaha memuliakan Tuhan di atas pekerjaan kita, yang sebenarnya tidak pernah mengubah esensi dalam pekerjaan itu sendiri. Kita juga tidak pernah serius menggumulkannya apakah telah sesuai dengan kebenaran, baik dari teori medis maupun cara prakteknya. Kita lebih sering melihat pekerjaan yang kita lakukan tidak ada kaitannya dengan kehidupan spiritual. Demikian juga kehidupan spiritual kita tidak ada kaitannya dengan dunia kerja kita. Pekerjaan adalah pekerjaan. Pelayanan adalah pelayanan. Kita menganggap dua ”dunia” itu tidak bisa bertemu. Maka ketika kita bekerja, kita cenderung memakai cara dunia dalam menangani pasien dan kita anggap cara dunia itu pun adalah cara yang baik untuk menolong pasien. Cara pandang Kristen atau perspektif Alkitab baru kita pakai kalau itu berkaitan dengan pelayanan gerejawi kita. Walaupun kita sering mengatakan bahwa pekerjaan juga adalah pelayanan. Sesungguhnya kita tidak mengerti esensi pelayanan dalam pekerjaan kita karena pelayanan yang kita maksudkan bukanlah pelayanan yang sesuai dengan cara pandang Kristen. Hidup seperti demikian adalah hidup yang terpecah akibat cara pandang yang dualisme. Kita harus menyadari bahwa perspektif Alkitab harus diterapkan dalam segala aspek hidup kita, termasuk pekerjaan dalam bidang kedokteran.

Seorang filsuf dan dokter di zaman Yunani kuno yang bernama Hipokrates memperkenalkan konsep physis dalam kedokteran, yang mendasari segala teori tentang kesehatan, penyakit, dan akhirnya seluruh praktek kedokteran dalam dunia Barat. Teori ini terus dipakai hingga munculnya filsafat modern yang memandang tubuh sebagai mesin.[1] Konsep-konsep mengenai tubuh manusia ini akan mempengaruhi bagaimana seorang dokter berhadapan dengan pasien. Pada waktu kita tidak secara sadar membangun suatu perspektif yang Alkitabiah dalam melakukan pekerjaan, sebenarnya secara tidak sadar kita akan dengan mudahnya mengadopsi pemikiran atau filsafat dunia saat melakukan praktik kedokteran.

Untuk mengatasi cara pandang yang dualisme tersebut kita harus mengerti cara pandang yang integral dari wawasan dunia Kristen. Kita harus menyadari cakupan kosmik dari keseluruhan kisah Alkitab. Artinya Alkitab bukan hanya mengajar kita mengenai doa, baptisan, dan hidup bergereja, namun juga memberikan prinsip bagi seluruh aspek hidup kita. Alkitab memberikan prinsip bagaimana kita harus melihat dunia ciptaan termasuk ilmu kedokteran sebagai salah satu aspeknya. Sebagai orang Kristen, seharusnya wawasan dunia kita dibentuk dan diuji oleh Alkitab, bukan terpengaruh budaya di sekitar kita atau filsafat tertentu. Wawasan dunia yang Alkitabiah membawa kita melihat diri dan dunia ini dalam kerangka penciptaan, kejatuhan, dan penebusan. Wawasan ini yang harus menjadi kerangka bagi kita dalam berpikir tentang dan menilai akan dunia ini. Jika tidak demikian, maka sesungguhnya kita sudah terdominasi oleh wawasan dunia yang tidak Alkitabiah. Dalam pembahasan selanjutnya kita akan melihat bagaimana pengertian kosmik atau universal akan Penciptaan-Kejatuhan-Penebusan dapat memberikan perspektif yang Alkitabiah dalam pekerjaan kita sebagai tenaga medis.

Alkitab menyatakan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu, dan segala sesuatu yang diciptakan Allah termasuk manusia adalah baik adanya. Demikianlah hidup manusia berharga di hadapan Tuhan, oleh karena itu kesehatan manusia merupakan sesuatu yang berharga untuk kita pikirkan.[2] Tetapi hari ini ketika kita berbicara tentang kesehatan, maka seringkali hanya dikaitkan dengan tubuh jasmani saja. Padahal Allah menciptakan manusia dalam keunikannya yang memiliki tubuh dan roh, bukan tubuh saja.  Tubuh tanpa roh mati adanya, dan kita sulit membayangkan manusia yang tidak memiliki tubuh. Tidak seperti filsafat Yunani kuno yang melihat tubuh jasmani sebagai sesuatu yang jahat dan semu, Alkitab memberikan tempat yang signifikan kepada tubuh materi ini. Melalui tubuh materi ini, tujuan hidup yang Allah tetapkan bagi manusia dalam dunia, dapat dikerjakan dan digenapi dengan sempurna. Sakit penyakit dan kecacatan akan menghambat manusia mengerjakan dan menggenapi tujuan hidupnya di hadapan Allah.

Segala sakit penyakit manusia merupakan akibat dari kejatuhan Adam, yang membawa seluruh umat manusia dan seluruh ciptaan di bawah kutukan dosa. Di sinilah pentingnya kita mengerti cakupan universal Kejatuhan. Penyakit hadir di dunia semata-mata hanyalah akibat kejatuhan manusia. Penyakit merupakan akibat dosa meskipun penyakit seseorang tidak dapat dikatakan selalu merupakan hukuman atas dosa yang diperbuatnya. Maka, seorang dokter berurusan dengan efek dosa pada tubuh manusia. Karena tubuh manusia diciptakan sebagai alat untuk memuliakan Allah, maka tujuan tertinggi kedokteran Kristen bukanlah kenyamanan dan kesembuhan pasien. Tujuan tertingginya bukan berpusat pada pasien, namun berpusat pada Allah, yaitu memampukan manusia menggunakan tubuhnya untuk dapat memuliakan Allah. Seorang tenaga medis Kristen harus mampu melihat melampaui tubuh yang kelihatan, dan menempatkan Allah sebagai pusat dalam pekerjaan kedokteran. Maka keselamatan jiwa dalam darah Kristus, bukan hanya lebih penting dari pada kesehatan tubuh, namun juga dapat merupakan sumber kesembuhan atau pencegahan dari penyakit.[3]

Sebagaimana natur dosa adalah parasit pada ciptaan Allah yang baik, maka penyakit merupakan suatu parasit pada tubuh manusia. Tugas seorang dokter adalah menyingkirkan penyakit ini sehingga manusia dapat kembali bekerja memenuhi tugas panggilan yang ditetapkan Allah baginya. Untuk dapat mengerjakan hal ini, seorang dokter tentu saja ia sendiri harus mengerti panggilannya dan harus mengejar kompetensi yang tertinggi dalam bidangnya, serta harus berkompetensi membimbing atau memuridkan si pasien sehingga dia dapat bertumbuh dan mengenal panggilannya.

Selain dalam hal yang berurusan dengan pasien, efek kejatuhan juga menyebabkan ilmu kedokteran itu sendiri menjadi tercemar oleh dosa. Lingkup universal Kejatuhan dan Penebusan menyebabkan tidak ada wilayah netral dalam ciptaan yang tidak berada dalam peperangan perebutan kekuasaan. Dalam penebusan, segala ciptaan yang sudah terpengaruh dosa harus dikuduskan, dikembalikan kepada fungsi sebenarnya, termasuk dalam hal kesalahan berpikir. Dalam dunia kedokteran pun kesalahan berpikir harus dikuduskan dan dikembalikan kepada cara pemikiran yang benar. Segala aspek di dalam ciptaan harus mengalami pembaruan yang progresif. Penolakan terhadap dosa tidak menjadikan kita membuang seluruh struktur ciptaan melainkan membersihkan dan memperbarui struktur tersebut. Hal ini juga harus dikerjakan baik dalam pendidikan akademis kedokteran, sistem kesehatan, metode penelitian kesehatan, dan lain sebagainya. Kita tidak dapat menghindarkan diri dari sejarah dan tradisi yang membentuk segala sistem tersebut, namun kita harus dapat memisahkan apa yang baik untuk lebih dikembangkan, dan membuang apa yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Sebagaimana diperintahkan Paulus dalam Roma 12:9, bencilah kejahatan, dan berpeganglah pada yang baik.

Oleh karena itu dengan memahami konsep Penciptaan-Kejatuhan-Penebusan yang universal, dualisme dalam pemikiran kita teratasi serta memampukan kita mengetahui bagaimana seharusnya kita menjalankan panggilan kita dalam dunia medis secara benar. Namun demikian pembahasan singkat yang kami uraikan di atas demikian terbatas. Jika penebusan harus mencakup struktur dan arah ciptaan, yang kami bahas baru menyentuh arah ciptaan. Masih banyak pemikiran yang diperlukan untuk memikirkan konsep sehat, sakit, metode diagnosis, dan terapi yang sesuai dengan prinsip Alkitab. Kita perlu banyak bergumul tentang hal ini agar dalam dunia ini kita tidak memiliki hidup yang dualisme, yang melayani di persekutuan atau gereja dengan cara Alkitab, namun melakukan praktek kedokteran dengan cara yang tidak Alkitabiah.   

Akhirnya, untuk dapat memuliakan Tuhan dalam segala aspek hidup kita, tidak dapat kita lakukan tanpa mencintai dan mengerti firman Tuhan secara benar. Konsep wawasan dunia yang kita miliki harus terus diuji dan disinkronkan dengan Alkitab agar kita dapat berpikir dan bertindak semakin sesuai dengan kehendak Allah. Kita perlu menaklukkan diri di bawah Kristus terlebih dahulu untuk dapat menaklukan segala pikiran kita untuk taat kepada Kristus. Hanya dengan penaklukkan diri dan pikiran di bawah Kristus kita baru bisa menaklukkan dunia dan pikirannya untuk dikembalikan kepada Kristus. Soli Deo Gloria.

Dorothy

REDS – Med

Endnotes
[1] Bhikha R. Physis Comes in From the Cold. Journal of Natural Medicine. 2005; 20.
[2] Frame, J. M. Medical Ethics: Principles, Persons, and Problems. New Jersey: Presbyterian and Reformed Publishing Company, 1988. hlm. 21.
[3] Ibid, hlm. 24. 

Referensi

  1. Adams, J. E. The Biblical Perspective on the Mind Body Problem Part II. Journal of Biblical Ethics in Medicine. Didapatkan dari: http://www.bmei.org/jbem/volume7/num3/adams_the_biblical_perspective_on_the_mind_body_problem_part_2.php
  2. Pearcey, N. R. Total Truth. Illinois: Crossway, 2005.
  3. Wolters A. M. Creation Regained. 2nd ed. Grand Rapids: Eerdmans, 2005

Dorothy

Juni 2008

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk situasi keamanan dan politik di Indonesia, kiranya Tuhan berbelaskasihan kepada bangsa kita ini.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Shallom..., berdasarkan Yoh 10:30 dan Yoh 14:9 apakah Yesus itu Bapa yg disapa Yesus ketika Dia berdoa ?...

Selengkapnya...

Shallom... Terima kasih untuk renungan yang sangat memberkati. Kata-katanya tersusun dengan sangat bagus, saya sangat...

Selengkapnya...

Yth bpk Admin, 1. Kenapa umat Kristen harus memegang 2 kitab yaitu Taurat dan Injil. 2. Dalam memegang kedua...

Selengkapnya...

Saya sangat tertarik dengan ajaran reformed injili.. Setiap kali ada kegiatan di solo saya pasti harus bisa datang.....

Selengkapnya...

Terkadang kepahitan merupakan obat yg paling manjur untuk bertahan dalam menjalankan kehidupan sehari hari asalkan...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲