Ponder

Harta

Ada sebuah buku yang saya rekomendasikan untuk dibaca. Saya sudah mengajak sebagian murid-murid saya membacanya di saat belajar tentang lembaga ekonomi dalam kelas Sosiologi. Buku tersebut telah mengubah pandangan saya lebih lagi tentang harta dan buku tersebut juga telah mengubah pikiran para murid yang salah tentang harta. Di zaman yang sangat berorientasi pada kepemilikan dan materialisme, buku ini sangat mendorong untuk memikirkan apa sesungguhnya harta itu.

Buku tersebut berjudul “Prinsip Harta. Menyingkapkan rahasia memberi dengan sukacita” dan penulisnya adalah Randy Alcorn, pendiri Eternal Perspective Ministries (EPM). EPM adalah sebuah lembaga pelayanan yang mendorong umat Tuhan untuk melakukan investasi dalam segala hal yang bersifat kekal. Sebuah pelayanan praktis yang memerlukan dasar firman Tuhan yang benar.  

Salah satu kutipan yang menarik hati saya dalam buku tersebut diambil dari kalimat Matthew Henry. “Persiapan untuk hari terakhir kita, seharusnya kita lakukan setiap hari,” demikian bunyinya. Dengan kata lain, kita diingatkan bahwa adalah tidak mungkin membawa harta milik di hari kematian. Para Firaun Mesir Kuno telah mencoba melakukan hal itu. Yang terjadi kemudian adalah munculnya sebuah profesi baru yaitu perampok makam. Sebuah budaya Tionghoa yaitu membakar rumah-rumahan, uang-uangan, dan tiruan harta lainnya pada saat kremasi merupakan ekspresi kerinduan untuk membawa harta mereka saat meninggal. Apakah hal itu berhasil? Kita tentu tahu jawabannya. Tetapi di buku itu, Alcorn mengatakan kita dapat mengirimkan harta kita ke tempat yang kekal bukan pada hari kematian, melainkan saat sebelum kematian tiba.

Buku ini memaparkan 6 kunci prinsip harta yang perlu diketahui seorang Kristen. Untuk itu Anda dapat membeli buku ini dan membacanya sendiri karena buku sudah diterjemahkan dan dijual dengan harga murah. Singkatnya, buku ini mau mengajarkan bagaimana seharusnya sikap mental seorang Kristen terhadap harta. Bolehkah seorang Kristen mengumpulkan harta?

Yesus bukan hanya tidak melarang umat-Nya untuk mengumpulkan harta bagi diri mereka sendiri, bahkan Ia mendorong umat pilihan untuk mengumpulkan harta. Serius? Ya. Ingatkah Anda akan perintah Tuhan Yesus dalam Matius 6:20? “Kumpulkanlah bagimu harta di sorga.” Jadi masalahnya bukan mengumpulkan harta, tetapi di mana kita akan menaruh harta-harta kita. Oya, tentu saja Anda dan saya harus mengumpulkannya dengan cara yang jujur. Sudah seharusnya demikian, bukan?

Jika Tuhan kita memerintahkan kita untuk mengumpulkan harta di sorga, lalu mengapa sebagian besar harta kita masih kita investasikan untuk kesementaraan? Yesus mengatakan di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Jadi, di manakah gerangan orientasi hati kita yang sesungguhnya? Di sorgakah atau di dunia yang akan lenyap ini?

Ev. Maya Sianturi
Pembina Remaja GRII Pusat
Kepala SMAK Calvin

Ev. Maya Sianturi

Maret 2015

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

Terima kasih telah diingatkan bagaimana kasih Tuhan kepada kita, melalui reformasi yang dimotori Martin Luter dengan...

Selengkapnya...

Mohon maaf : Luther memanggil Copernicus sebagai “keledai/ orang bodoh yang mencari perhatian”, lengkapnya...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲