Ponder

Skandal Watergate dan Tanggung Jawab Moral

Tanggal 8 Agustus 1974 pukul 9 malam, Presiden Richard Nixon menyampaikan pidato pengunduran diri yang disiarkan melalui televisi secara nasional. Nixon menjadi presiden pertama dalam sejarah Amerika Serikat yang pernah mengundurkan diri dari jabatan kepresidenan. Mengapa Nixon melakukan hal itu? Skandal Watergate telah memaksa Nixon untuk memilih antara berhadapan dengan impeachment dari Kongres AS (kemungkinan akan dipaksa turun dari jabatannya) atau mengundurkan diri secara sukarela. Satu hal yang menarik dari pidato pengunduran diri tersebut adalah ia melakukan hal itu untuk kepentingan rakyat Amerika.

Skandal Watergate menjadi sebuah skandal politik yang besar di AS sebagai akibat pembobolan kantor pusat Partai Demokrat yang terdapat di kompleks perkantoran Watergate di Washington, D.C. Pembobolan tersebut bertujuan untuk memasang alat penyadap dan mencuri dokumen-dokumen penting yang ada. Peristiwa ini terjadi pada saat berlangsungnya kampanye pemilihan presiden yang juga merupakan pencalonan Nixon menjadi presiden untuk kedua kalinya. Lalu mengapa ‘hanya’ karena masalah tersebut Nixon harus turun dari jabatan kepresidenan? Jika Anda ingin mengetahui detail mengenai peristiwa ini, Google dapat memberitahukan referensinya. Atau Anda dapat menonton film lama yang apik berjudul All The President’s Men.

Hasil investigasi menunjukkan keterlibatan Presiden Nixon dalam peristiwa tersebut. Ini berarti Presiden Nixon ikut berbagian dalam sebuah tindakan kriminal (alias tindakan tidak bermoral) yang sangat tidak pantas bagi seorang pemimpin. Setelah mengundurkan diri, Nixon dapat diajukan ke meja hijau. Tetapi penggantinya, Presiden Gerald Ford memberikan pengampunan tak bersyarat, maka Nixon pun bebas. Akibatnya, di pilpres berikutnya, Ford tidak terpilih kembali sebagai Presiden AS.

Saat menuliskan kisah di atas, pengumuman hasil pilpres oleh KPU tinggal beberapa hari lagi. Saya sangat terkesan dengan penekanan kepada tanggung jawab moral seorang pemimpin yang pernah dituntut sedemikian tinggi oleh rakyat AS. Akankah rakyat Indonesia dan para pemimpinnya memiliki tuntutan seperti itu?

Nixon secara langsung atau tidak sedang menghalalkan segala cara agar terpilih kembali. Para wartawan Washington Post – di dalam anugerah Tuhan – membongkar kejahatan itu sebagai bagian tanggung jawab moral dari pers. Di Indonesia, selama masa pemilu, kita melihat hal-hal yang lebih menakutkan. Bahkan, melibatkan orang-orang yang menyebut diri mereka berpendidikan, terkemuka, atau beragama.

Rasul Paulus memang mengatakan di Roma 13:1-5 bahwa Allah yang telah menetapkan pemerintah yang ada. Tetapi orang-orang di pemerintahan berasal dari kalangan rakyat. Saat Anda dan saya sebagai WNI tidak ikut berbagian memperjuangkan keadilan dan kebenaran di dalam keseharian hidup kita, adakah hak kita menuntut pemerintah yang bermoral? Jadi, bagaimana sikap Anda melihat kenyataan yang ada sekarang ini di Indonesia? Membuang muka? Pasang muka datar? Atau Anda sungguh peduli dan meminta Tuhan memberikan hati yang berani untuk melakukan satu langkah kecil bagi Indonesia? Kiranya Tuhan membangunkan kesadaran moral untuk berkarya, bukan hanya mengeluh!

Ev. Maya Sianturi
Pembina Remaja GRII Pusat
Kepala SMAK Calvin

Ev. Maya Sianturi

Agustus 2014

1 tanggapan.

1. Charles dari Sabah berkata pada 14 September 2014:

Baru nampak

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

Terima kasih telah diingatkan bagaimana kasih Tuhan kepada kita, melalui reformasi yang dimotori Martin Luter dengan...

Selengkapnya...

Mohon maaf : Luther memanggil Copernicus sebagai “keledai/ orang bodoh yang mencari perhatian”, lengkapnya...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲