Ponder

The Thinker

Beberapa waktu yang lalu murid-murid kelas 12 mendapat tugas PKN, menganalisa sebuah artikel Ahmad Sidqi berjudul “Indonesia Tanpa Arah; Refleksi Kebangsaan Indonesia 2012”. Persoalan menarik yang diangkatnya ke permukaan adalah masalah kekritisan pemahaman visi dan misi Pancasila. Masalah bangsa yang mulai kehilangan gagasan pikiran yang berpijak pada ideologi Pancasila sehingga tak lagi memiliki arah. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah perlunya membangun pemikiran yang kritis.

Berpikir kritis. Kata itu berdengung lagi dalam kepala saya. Jangankan berpikir kritis, berpikir pun kita sulit bahkan malas. Maka jadilah kita bangsa yang tanpa pikiran, tanpa gagasan, tapa arah, tanpa visi. Pembaca yang budiman boleh saja menolak fakta ini. Tapi bukankah itu makin membuktikan opini di atas?

Waktu memikirkan soal berpikir, patung The Thinker hasil pahatan Rodin, muncul dalam benak. The Thinker adalah patung yang ditaruh di jalan masuk ke The Gates of Hell alias purgatori, yang didasarkan pada karya Dante, The Divine Comedy. Patung yang awalnya bernama The Poet, dimaksudkan sebagai representasi dari Dante, waktu ia menuliskan The Divine Comedy yang kontemplatif itu. Jadi, The Thinker aslinya adalah seseorang yang tubuhnya disiksa, dengan jiwa yang nyaris terkutuk; tetapi ia sekaligus juga adalah seseorang yang memiliki pikiran bebas, yang sedang larut dalam pemikiran yang dalam untuk melampui penderitaannya melalui syair yang diciptakannya. Waktu Rodin kemudian menciptakan figur tersebut lepas dari karya aslinya, patung tersebut kehilangan asosiasi dengan Dante dan akhirnya dikenal sebagai simbol pengetahuan. Sayang sekali! Mengapa?

Berpikir menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari menjadi manusia. Tetapi apa yang menjadi pikiran utama kita? Apa yang kita pikirkan lahir dari kepedulian kita, dari hati kita. Hukum yang terutama memerintahkan untuk mengasihi Tuhan dengan hati, pikiran, dan kekuatan. Tiga aspek ini tidak pernah dapat dipisahkan. Apakah dalam keseharian hidup, kita pernah berpikir seperti The Thinker? Berpikir tentang nasib akhir kita dan nasib orang lain? Atau kita terlalu sibuk dengan aktivitas sehingga tidak pernah berhenti untuk berpikir? Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk berpikir ...

Ev. Maya Sianturi
Pembina Remaja GRII Pusat
Kepala SMAK Calvin

Ev. Maya Sianturi

September 2013

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk rangkaian KKR yang dipimpin oleh Pdt. Dr. Stephen Tong di Malaysia yaitu Johor Bahru dan Muar pada tanggal 18-22 November 2019. Berdoa kiranya Roh Kudus memelihara iman dari setiap orang yang telah mendengarkan Injil dan merespons terhadap panggilan untuk menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat melalui rangkaian KKR ini.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Dengan cara yang sama, Roh Kudus akan menelanjangimu. Kalau engkau mengakui tuntunan tangan Roh Kudus yang gagah...

Selengkapnya...

Hidup sejati adalah kehidupan yg sebenarnya terjadi setelah kematian di Dunia ini. Sebab kehidupan di Dunia ini...

Selengkapnya...

Terima kasih renungan yg inspiratif. Kekristenan saat ini memang sdh jauh dari pesan injil, orang2 lebih mengejar...

Selengkapnya...

Tulisan yang baik dan mengingatkan kita sebagai manusia yang selalu mengejar hikmmat dunia dan ternyata semuanya...

Selengkapnya...

Diusia berapakah seseorang bisa pacaran? Melihat fenomena jaman sekrang, bayak remaja2 kristen atau anak2 sekolah,...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲