Judul: Mengetahui Kehendak Allah
Penulis: Pdt. Dr. Stephen Tong (Transkrip)
Penerbit: Momentum
Tebal: 215 halaman
Cetakan: Pertama, Januari 1999
“For the ways of the Lord are right, and the righteousness will walk in them but the transgressors will stumble in them.” – Hosea 14:9a
Seseorang pernah berkata kepada saya, “Kita ini selalu mengatakan mau mengetahui kehendak Allah tapi sebetulnya buat apa? Supaya kita tidak salah jalan dan rugi. Sebetulnya hanya untuk ketakutan kita, itulah motivasi kita.” Saya bisa aminkan hal ini. Pdt. Stephen Tong mengatakan dalam buku ini bahwa orang Kristen kalau mau mencari kehendak Tuhan umumnya tergolong pada dua hal: cari jodoh dan cari kerja. Jadi, kalau Anda mengharapkan ada petunjuk-petunjuk praktis dalam mencari jodoh atau kerja atau di mana tempat untuk buka toko, Anda akan sangat kecewa sehabis baca buku ini. Sebaliknya Anda akan sangat terberkati jika di dalam diri Anda sedalam-dalamnya, Anda ingin mencari tahu apa isi hati Allah, Anda ingin mencari apa kehendak Allah, entah itu “menguntungkan” diri Anda atau tidak.
Dalam prakata buku ini, Pak Tong mengutip Calvin, “Selain diri Allah sendiri, tidak ada yang lebih besar dari kehendak Allah.” Dan di dalam drama kosmis, terjadi konflik interest (keinginan) yang terus-menerus antara manusia sebagai makhluk yang punya kemampuan melawan Allah dengan Allah dan kehendak-Nya. Buku ini memberikan kita pengertian bagaimana kita dapat hidup harmonis dengan kehendak Allah yang kekal sehingga kita dapat dengan bijaksana menentukan langkah-langkah di dalam hidup kita.
Pak Tong pertama-tama bertanya apakah kehendak Allah bisa diketahui, melalui apa itu bisa diketahui, dan sampai sejauh mana. Berikutnya beliau menjelaskan kehendak Allah dari pelbagai aspek: alam semesta, bagaimana menjadi manusia sejati (posisi vertikal dan horisontal), dalam wahyu umum, kebudayaan manusia, penebusan Kristus, dan kaum pilihan. Kemudian, bagaimana mempunyai sukacita dan dukacita seturut kehendak Allah, dan terakhir barulah langkah-langkah praktis untuk mencari kehendak Allah, bagaimana menerapkan dan menggenapkan kehendak Allah.
Buku ini dibuka dengan kata-kata Rasul Paulus di Efesus, “Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Allah.” Dan dijelaskan bagaimana orang-orang yang intelektualnya tinggi tetapi membuat pernyataan-pernyataan atau argumen-argumen yang bodoh, self-defeating factor, dan jika betul-betul menjalankan pemikiran-pemikiran yang jauh dari kehendak Allah, hidup manusia pasti menjadi kacau. Itu disebabkan oleh karena mereka tidak mengerti Roma 11:36, seperti yang dikatakan Pak Tong dalam buku ini, “Segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia. Di sini kita melihat bahwa Dia adalah sumber, sasaran dan penopang dari segala sesuatu. Kalau orang Kristen mau mengerti tentang kehendak Allah sampai tuntas dan melalui sifat transenden Allah melihat segala sesuatu, maka kita tidak akan merasa sebagai sesuatu yang terhilang di tengah-tengah alam semesta. Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia.”
Beliau juga mengatakan mengapa di dalam dunia, kehendak Allah kelihatannya susah sekali terjadi padahal Roma 11:36 dengan gamblang mengatakannya, sehingga seharusnya tidak ada satu pun yang dapat menghalangi kehendak Allah. Demikianlah Pak Tong mengatakan, “Agustinus menemukan bagaimana cara mengetahui semua ini. Segala sesuatu yang dicipta oleh Tuhan menjalankan kehendak Tuhan, tapi justru manusialah yang sering tidak menjalankan kehendak Tuhan, karena itu manusia perlu bertobat. Allah tidak memanggil langit untuk bertobat. Sebab, manusialah satu-satunya makhluk yang diberi potensi untuk menjalankan kehendak Allah, justru melawan kehendak Allah.” Pak Tong menjelaskan, “Dalam satu bagian doa Bapa kami, Tuhan Yesus mengajarkan, ‘Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.’ Kalimat ini sangat penting. Kehendak Allah di dalam seluruh alam semesta dan di sorga tidak ada rintangan. Tetapi kehendak Allah di bumi seolah-olah sulit bisa dituntaskan dan karena itu tugas panggilan anak-anak Tuhan adalah menjalankan kehendak Allah, sebagaimana hamba-hamba Tuhan di sorga yang tidak merintangi kehendak Allah. Manusia terlalu biasa melawan kehendak Tuhan. Manusia begitu kecil, remeh, dan hina itu justru merupakan satu-satunya makhluk yang berani melawan Allah.”
“Menjadi orang Kristen berarti,” menurut Pak Tong di buku ini, “(1) Menjadi orang yang mengenal kehendak Tuhan melalui Kristus. Melalui Roh Kudus yang telah memberikan kepenuhan kepada Kristus, yang memungkinkan Dia hidup secara wajar dan menjadi teladan bagi kita, sehingga kita bisa berjalan di belakang Kristus. (2) Menerima kembali apa yang sudah terhilang di dalam Adam, yang kita dapatkan kembali di dalam Kristus. (3) Kita menjadi orang-orang yang berhak mengetahui isi hati Tuhan dan berjalan dalam kehendak Tuhan. (4) Menjadi manusia yang mengetahui di mana posisi di dalam alam semesta yang dicipta oleh Tuhan.”
Prof. James Houston pernah berkata, “Bukan saja kita sering salah mengerti, tetapi terkadang ketika kita mempertanyakan sesuatu saja, kita bertanya dengan pertanyaan yang salah. Orang-orang modern hanya bisa bertanya ‘how to’ (bagaimana).” Kita selalu bertanya, “Bagaimana caranya mengetahui kehendak Allah?” Sebetulnya pertanyaan itu bukan pertanyaan yang tepat untuk diajukan pertama kali. Pertanyaan pertama yang kita mesti ajukan adalah “Apa itu kehendak Allah?” Pengertian ini akan memberikan pemetaan di dalam pikiran kita dalam menentukan langkah-langkah praktis di dalam hidup kita, di dalam wilayah “bagaimana”.
Buku ini menjelaskan dan juga mempunyai outline untuk membuahkan pengertian yang demikian sehingga dari pengertian yang makro tersebut, membentuk prinsip-prinsip yang bisa menuntun kita di dalam detail-detail kehidupan kita sebagai manusia, bahkan sampai pada baju apa yang seharusnya kita beli dan kita pakai sebagai orang Kristen. Terkadang kita juga sangat terikat oleh tradisi-tradisi yang secara umum kelihatannya tidak jelek tapi sebetulnya tidak perlu. Dalam mengerti kehendak Allah inilah kita mengerti, terkadang betapa sedikit kita mengetahui kehendak Allah dan mengakibatkan kebebasan kita sebagai orang Kristen terikat karena ketidakmengertian kita. Tetapi di satu sisi lain yang menyedihkan adalah sering kebenaran itu sudah di depan muka kita dan kita tidak mau tunduk.
John Wesley pernah ditanya, “Jikalau besok Tuhan Yesus datang kembali, apa yang akan kamu lakukan?” Dia menjawab, “Aku tidak akan merubah satu pun jadwalku besok.” Agustinus pernah ditanya pertanyaan yang sama dan dia menjawab bahwa dia akan menanam padi. Begitu bahagia dan tidak tergoyahkan hidup mereka yang mengetahui kehendak Allah di dalam hidup mereka, dengan tenang mereka akan bertemu dengan Tuhan Yesus, walaupun hari itu adalah hari esok. Dan mereka melakukan persis hal yang sama walaupun Tuhan Yesus mungkin datangnya beratus-ratus tahun kemudian. Di dalam hidup mereka, yang ada hanyalah terus melakukan hal yang sesuai dengan kehendak Allah sampai pada akhirnya. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita hidup sinkron dengan kehendak Allah?
Yenty Rahardjo Apandi
Pemudi GRII Singapura